Status Quo

???
Its time to move on!
<3

About these ads

30 thoughts on “Status Quo”

  1. Gambaran wajah yang kisruh mungkin tak se-kisruh yang anda kira, terlahir sebagai mhs arsitek UPI ku pikir masih lebih baik! daripada orang2 sebelum anda yang terlahir sebagai mhs Tekbang (2000 kebelakang) yang tak jelas kelaminnya, sipil atau kah arsitektur! jika tak mau di sebut banci…. untuk hal ini salut buat kawan2 yang bangga berjuang layaknya Oemar Bakrie atau bertarung di arena Teknik (duhai bapak guru kok nyasar ke proyek..)… syukurnya tak sedikit pula yang berhasil…. So, jangan sesali kelahiran mu disini tapi lakukan yang kamu bisa sekalipun menjadi tukang tembok yang terpuji ataupun guru honorer yang terhormat! asal jangan menambah daftar koruptor di negeri ini! Tulisan Anda ini sudah merupakan sebuah Movement!

  2. Hehe, iya juga sih, kedengarannya terlalu lebai kalau saya membayangkan ini sebagai sebuah prahara berdarah. Tapi, idealisme tetap harus terus diperjuangkan, dan setiap orang punya strategi yang berbeda. Maka, kata kunci yang harus mengiringi semangat ini adalah sampai di mana rasa syukur kita atas apa yang kita dapatkan, dan juga sebenarnya tergantung pembanding. Kita melihat ke bawah untuk bersyukur atas apa yang telah kita peroleh sambil melihat ke atas untuk tetap optimis – dengan tanpa melupakan realitas yang ada – dan sampai batas mana kerja keras dan kontribusi kita. Karena harapan itu masih ada, maka bangkitlah wahai pejuang – siapapun dan dimanapun, masalah kita adalah apa yang ada di hadapan kita hari ini.

    Saya sedang belajar untuk “tidak membaca” segala sesuatu yang terbukti tidak ada maknanya dan manfaatnya bagi Arsitektur apalagi mendiskreditkan dunia Pendidikan, dan berharap bisa mencampakkan apa yang seharusnya dicampakkan dengan melihat permasalahan dengan jernih, tidak tebang pilih, dan berusaha tegas menghakimi, walau saya bukan hakim.

  3. Jika anda masih aktif di kampus, maka sampaikanlah pemahaman anda pada angkatan muda agar mhs arsitektur upi pun masih terus untuk bergeliat untuk berpikir dan berbuat akan hari esok yang sudah seharusnya lebih baik. karena dalam kuliah itu dosen bukanlah satu2nya sumber ilmu.
    Dulu, kita sering ngobrol2 masalah ini di lorong KRIDAYA dengan acara Kopi Pagi nya dimana saat itu masih Rezim HMTB (Himpunan Mhs Teknik Bangunan).
    Salam buat temen-temen GAM (Gerakan Arsitektur Merdeka) dan salam perjuangan bwt KRIDAYA UPI. Sebuah upaya untuk menentang kredo Chairil Anwar, bahwa tak semuanya harus; “Sekali berarti sudah itu mati”……

  4. Salam perjuangan, awalnya saya kira saya sendiri, tapi ternyata banyak yang merasakan hal yang sama saat ini berkaitan dengan masalah ini, termasuk anda dan angkatan lama. Semoga kedepan ada follow up.

  5. Visi dan misi yang dimiliki UPI dan Jurusan PTA berbeda dengan universitas lain sehingga kita tidak bisa membandingkan antara jur PTA UPI dengan ITB, UNPAR, UGM, UNDIP dan lainnya. Dalam AD/ART UPI sangan jelas dinyatakan bahwa Tujuan Pendidikan di UPI adalah untuk menciptakan pendidik yang profesional di bidangnya.

    Misi yang dilaksanakan untuk pencapaian visi itu adalah dengan penguasaan pengetahuan pendidikan dan pengetahuan di bidangnya dalam hal ini Arsitektur. Tanpa penguasaan pengetahuan pendidikan, maka penyampaian value dan arsitektur hanya akan menjadi pembelajaran otodidak dan trial and error sehingga akan berjalan sangat lambat. Tanpa penguasaan pengetahuan arsitektur, maka pembelajaran di jurusan ini hanya akan menjadi suatu kebohongan dan di atas kertas saja. Sehingga untuk mencapai tujuan tadi diperlukan penguasaan yang integral keduanya.

    Dalam perjalanan/proses pendidikan, mahasiswa (mgkin dosen jg) yang tidak memahami visi dan misi UPI akan merasa sangat kebingungan dan merasa didaerah abu-abu. Hal ini diperparah dengan informasi dan diskusi dengan orang-orang yang tidak memahami visi dan misi itu.

    Jangan merasa Bingung Miftah, pahami dan renungkanlah visi dan misi tempat kita belajar. Sesungguhnya kita memiliki tempat dimana visi dan misinya jauh lebih baik dari univ lain jika kita bisa memahami visi dan melaksanakan misinya dengan baik.

    Pemahaman terhadap tujuan itu akan memberikan energi besar dan pencerahan agar kita bisa mengoptimalkan diri dalam meraih impian kita. Belajarlah tanpa tergantung sistem sambil tetap menghargai kurikulum dan fokuslah pada proses dan hasil sekaligus.

    Pengingkaran dan kekecewaan terhadap visi dan misi hanya akan membuat waktu-waktu kita sia-sia karena suka atau tidak kita adalah bagian dari institusi ini. Optimalkan apa yang kita miliki dan bersyukurlah akan apa yang kita miliki saat ini.

    Allahu Ma’anaa

  6. ooowh,, stupid edward was here.. his comment was very very unimportant..

    don’t 4get to watch my next movie ‘NEW MOON’

  7. Okay bro,, i really need those informations..
    Just keep on posting n nyubmiting..
    btw, who said that i will dring ur blood? i said human blood, not siluman blood.. wkwkwk..

    the day the earth stood still?
    what an amazing movie, but i prefer Twilight.. (Secara gtu pilem gw)
    wow, bella here 2..

    bella, please don’t get close 2 Jacob while i’m in italy, i heard that he is a wolf..
    take care Bella, gonna miss u..
    already miss u..
    OOT mode : always on

  8. sebetulnya wacana yang dilontarkan miftah sudah cukup lama menjadi hot topic mahasiswa jurusan teknik bangunan sejak kami sadar bahwa kami berdiri pada dua tiang yang sama kokoh dan sama agungnya untuk senantiasa dijunjung tinggi.. namun memang itulah yang ada saat dahulu hingga sekarang,, bahkan kami sebagai alumni tengah galau merasakan dampak yang begitu kuat di dunia kerja
    saya pikir memang harus ada sebuah pembaharuan yang sangat besar setelah kita memahami tentang visi dan misi universitas kita, tapi ada sebuah pesan yang harus saya lontarkan setelah membaca tulisan di blog kamu ini. tolong bantu kawan-kawan dan dosen-dosen kita tercinta untuk memahami visi dan misi universits kita tercinta, agar semua jelas….salam utuk semua

  9. post menuai prahara..wkwkwk..

    bo, itu kang syarip hidayat ketua HMTB jaman dahulu kah?
    haa..dah lama gak ktmu..

    stuju ma kang syarip, kyanya perlu dibantu bagi yang belum memahami visi dan misi prodi kita khususnya, seperti saya contohnya, ga ngerti2..heuheu..

    jadi..mohon bantuannya ya^^

  10. assalamualaikum,,,wr.wb
    mip,, punten saya ikut ngeriung…
    wah… ternyata rame nya…
    miphz pasti gak nyangka blog ini bakal ramai dikunjungi dosen, ex-ketua himpunan, ex-mahasiswa, ampe dikomentarin ama vampire (Edward,red).. ck…ck…ck…
    aza aza fighting miphz…
    suarakan apa yang bergemuruh di kepalamu…
    be brave n upright…
    speak the truth always, even it leads to your death…
    (kingdom of heaven script, red)
    udah ah mip, segitu ajah..
    nanti kapan-kapan sy komen lg..
    sy lg sibuk SPA sebenarnya,,, tp sy ngeliat Pak Usep disini jadi pengen bimbingan di blog ini..
    mip,mau tanya, kalau bimbingan lewat blog efektif gak yah???
    saya hoream ke kampus euy,, malu ma anak2 baru,angkatan kolot masih gentayangan…
    pengennya mah sy bimbingan n asistensi sambil selonjoran di kosan (via internet)
    hohoho…

  11. Ini ada tanggapan dari Bu Tutin:

    Saya sudah baca tulisan Anda. Saya sangat mengerti bagaimana kegelisahan
    teman-teman mahasiswa tentang arah kebijakan pendidikan UPI. Di satu sisi,
    UPI tidak ingin menanggalkan keunikannya sebagai universitas yang mempunyai
    spesialisasi dalam bidang pendidikan. Dan di sisi lain, ia juga ingin bisa
    bersaing di dunia profesional.

    Sebetulnya kalau menurut saya pribadi, pendidikan arsitektur bisa menjadi
    lahan yang sangat potensial. Persaingan di dunia profesional barangkali akan
    sangat berat karena lulusan kita berhadapan dengan lulusan dari universitas
    lain yang sudah lebih mapan pendidikannya. Kenapa kita tidak berjuang di
    celah yang lain saja? Sertifikasi arsitek, misalnya. Bidang ini sangat
    berkaitan dengan bidang pendidikan dan bisa menjadi salah satu produk
    andalan UPI, karena semua arsitek yang akan terjun di dunia profesional
    harus disaring lewat proses sertifikasi. Dengan D3-nya, UPI juga bisa
    menyasar ahli bangunan non-arsitek, sekaligus sertifikasinya, yang selama
    ini belum dipenuhi oleh perguruan tinggi lain. Barangkali yang perlu
    digalang dari sekarang adalah kerja keras agar praktek pendidikan di jurusan
    sesuai dengan arah yang ingin kita capai ini.

    Saya yakin Miftah dan teman-teman mempunyai kualitas yang tak kalah dengan
    lulusan dari perguruan tinggi lain. Memang dunia profesional seringkali
    membuat kita silau. Tapi seperti halnya berbisnis, di sini pun kita harus
    pandai-pandai mencari peluang.

    Saya akan sampaikan pemikiran ini ke dosen yang lain, barangkali bisa
    menjadi masukan untuk arah kebijakan jurusan sendiri. Terima kasih ya sudah
    membawa ini menjadi diskusi bersama. InshaAllah kita ambil hikmahnya,
    sebagai pengingat apakah kita sudah benar-benar berada di arah yang kita
    inginkan bersama.

  12. Assalamualaikum wr wb

    Sebagai mahasiswa Pendidikan Teknik Arsitektur UPI tingkat benar2 akhir yang tengah memperpanjang masa tahanan (baca:masa kuliah), izinkan saya sedikit berkomentar mengenai tulisan status quo ini…

    sejak saya memutuskan untuk memilih UPI sebagai universitas pilihan saya, saya sudah sedikit memiliki gambaran mengenai “what would i be..”

    kemudian yang menjadi permasalahan dalam diri saya adalah pertanyaan “Why would i be?” mengapa saya akhirnya memilih UPI?

    yang paling mendasar adalah masalah kapasitas saya yang mungkin sudah disesuaikan Tuhan untuk menjadi mahasiswa UPI.. pada saat itu saya memilih pasrah karena mungkin kapasitas saya hanya sampai di UPI..

    Sejak awal saya masuk UPI, saya yakin bahwa UPI adalah tempat yang sesuai yang telah Tuhan sediakan untuk saya, yang juga sesuai dengan kemampuan kondisi finansial saya (kebetulan UPI saat itu adalah PTN yang paling murah) Namun saya tetap merasa “kalah”, saya menyebutnya “Kalah pada LAP pertama”

    “kekalahan” itu, akhirnya memotivasi saya untuk memenangkan diri saya atas PTN lain semisal ITB, UGM, UI, etc…

    terpatri dalam pikiran saya sebuah paradigma yang dikenalkan seorang Dosen MKDU pemilik lebih dari 3 KTP, bahwa “Jika bukan UPI yang akan membesarkan nama kita, maka kita yang akan membesarkan nama UPI”

    by that time, i was thinking “He was so damn right!!!”
    jika boleh dengan sadis mengibaratkan UPI sebagai lumpur, maka berlian akan tetap menjadi sebuah berlian walaupun berada di dalam lumpur…

    tidak akan mengurangi nilainya..
    saya tidak bermaksud mengumpamakan UPI sebagai lumpur, hanya sedikit analogi biar terasa dramatis, atau malah jadinya lebay? hehehe.. saya serahkan kepada pembaca..

    IDEALISME ARSITEKTUR
    Secara pribadi dan disesuaikan dengan situasi kondisi waktu dan tempat, saya merasa tidak mendapatkan idealisme dalam berarsitektur dari manapun selain dari diri saya sendiri. mungkin Miphz bisa sedikit flashback, adakah kontributor utama yang menyalakan api idealisme arsitektur pada masa-masa kuliah kita selain diri kita sendiri?

    siapa pula sang penjaga api idealisme kita sehingga tetap menyala??
    adakah? apakah kita mendapatkannya semasa kita Mabim?
    PAB?
    Himpunan?
    Kuliah?

    kalau boleh sedikir berkeluh, kita hanya mendapat out-bond, susu arab, rolling makanan, dan Pilar!!! Pilar!!!! Pilar!!! ketika Mabim…

    PAB kita hanya menghasilkan merah di pipi dan hati, badan gatal2, pegal-pegal, dan sisi kemanusiaan kita yang terkikis setelah melihat pemandangan “Hitler” menginjak kepala seorang anak manusia yang tengah memperjuangkang hak dan kewajibannya untuk solat ashar..

    Kepengurusan himpunan? well,, saat itu tidak ada tuh KMA Kridaya,
    yang ada cuma HMTB (Himpunan Mahasiswa Teknik Bangunan,red).
    dan pada masa kepengurusan 2004, kepengurusannya didominasi SIPIL, from head to bureau dominated by Sipil.
    Jadi, di masa kepengurusan himpunan, saya pikir tidak ada pengaruhnya pada idealisme arsitektur kita.

    Kuliah? di masa kita… terutama di awal kuliah, dimana karakter kemahasiswaan kita mulai terbentuk, adakah idealisme arsitektur yang kita dapatkan?

    apakah para pendahulu dan penerus kita merasakan keadaan perkuliahan seperti yang kita rasakan 4,5 tahun kebelakang?
    saya dengan lantang berani berteriak:
    Tidak!
    No!!

    U guys don’t know how it feels to be us!!!
    U guys don’t know what it’s like…
    And i bet u guys don’t want 2 know about it..

    saya tidak ingin mendiskreditkan siapapun, maka jikapun ada dosen yang membaca tulisan saya ini, jangan segera merasa saya telah menganggap dosen tidak memberikan kontribusi apa-apa pada mahasiswanya.

    sekali lagi saya menekankan, ini hanya terjadi pada kita angkatan 2004…jadi silahkan untuk dosen yang membaca tulisan saya ini ber-flashback ria, where were you all when we stood up waiting for a hand to hold?

    beruntunglah masa-masa pahit kehilangan penunjuk arah itu hanya berlangsung pada freshman year saja, sekitar 1,5 tahun diawal kuliah kita. lalu penderitaan kita ternyata belum berakhir sampai disitu..pembaharuan kurikulum juga membuat idealisme arsitektur kita sedikit mengalami stroke ringan..tentu kita semua tahu bahwa kurikulum baru kita sangat timpang antara arsitektur dan pendidikan-nya… yeah we’ve lost our TA…lalu kita mendengar desas-desus SPA3 adalah penjelmaan baru dari TA..

    tapi kenyataannya yang saya alami biasa saja, sangat jauh dari TA..entah SPA3 yang sekarang atau yang akan datang seperti apa…benarkah akan benar2 seperti TA? kita menunggu kabar baiknya dari para dosen pengembang silabus SPA3 agar SPA3 benar2 dijadikan reinkarnasi TA..tapi…sepertinya SPA3 yang sekarang memang diplot seperti TA sih, kemarin2 saya lihat draft TOR SPA3 salah seorang teman saya yang mengontrak SPA3 (denger2 blog dia lagi ramai), di TOR itu tertulis poin-poin gambar2 yang harus dipenuhi, dan jumlahnya sangat banyak,,, jauh sangat dibanding SPA3 dahulu.. berarti sudah sedikit mengalami kemajuan… lalu katanya kuliahnya juga lebih organized..

    Good job 4 u all Lecturers…

    lalu Skripsi…
    hell to the yeah, lagi-lagi kita “dipecundangi” dan dilumpuhkan idealismenya dengan keharusan memilih judul bertemakan arsitektur namun harus di-combine dengan pendidikan. atau tema yang murni tentang pendidikan.

    menurut saya skripsi bertema kombinasi antara arsitektur dan pendidikan adalah tantangan yang sulit dan hanya membuat kita putus asa…

    Pengaruh Warna Terhadap Ketenangan Belajar…
    Pengaruh Pencahayaan Terhadap Proses KBM…
    Pengaruh Pengkondisian Udara Terhadap Motivasi Belajar…
    Pengaruh Material Lantai Terhadap Proses Belajar…
    Pengaruh Pengaturan Akustik Ruang Belajar Terhadap Semangat Belajar Siswa…

    bull to the s**t… it will take a lot of cost… expensive experiment…
    lagi-lagi kendala uang,,,

    akhirnya,, adakah yang memilih judul yang temanya menggabungkan antara Arsitektur dan Pendidikan??

    tulisan ngalor-ngidul pada bahasan idealisme arsitektur saya ini sekedar memberikan informasi, dan mencoba menganalisis mengapa kita (Ars-04) kehilangan atau hampir kehilangan idealisme arsitektur kita..

    toh pada akhirnya memang harus ada yang dikorbankan…kita relain aja jadi korban masa transisi…

    saya menyebut masa angkatan 2004 sebagai abad Es, atau Ice Age…
    yang kita semua tahu akan ada peradaban baru setelah peradaban Es..

    peradaban yang lebih baik…
    bangunan baru, jurusan baru, himpunan mahasiswa baru, kurikulum baru, kita harapkan akan mampu membawa arsitektur UPI kepada kemajuan yang kita semua cita-citakan…

    akhirnya, idealisme arsitektur yang kita (Ars’04) miliki sekarang adalah hasil dari perjuangan kita sendiri yang menyalakannya, dan menjaganya agar tetap menyala..

    We are the hero of our own Story…

    Yang mampu bertahan dan tak mudah menyerah kepada keadaan adalah yang akan tetap hidup kemudian menjadi seseorang yang kuat dan tangguh,,

    Sedangkan yang tidak mampu bertahan dengan keadaan kemudian pasrah, maka akan menjadi lemah lalu mati dalam keadaan tidak memiliki idealisme arsitektur yang kemudian miphz gambarkan dengan keadaan “alumni yang berkerja menjadi pegawai bank, ampe tukang roti…”

    Saya sangat senang dan terharu,,,

    Tepatnya senang dan terharu dalam penderiataan nasib tidak baik saya…

    Melihat bangunan FPTK yang megah berdiri paling depan di UPI,,
    Melihat para penerus kita angkatan2 muda yang masih fresh berkumpul berdiskusi di ruang berkumpul, mengadakan berbagai acara2 yang arsitektural… (malah denger2 sampai masuk BandungTV yah??? Yang tour artdeco ituh??? Nice work…)
    Melihat tiap dosen difasilitasi 1 ruangan khusus, yang sering dipakai asistensi…

    Melihat kantor jurusan yang dekat dengan ruang kelas,,, (Bayangkan, dulu kita harus mendaki gunung lewati lembah dulu kalau mau ke jurusan)

    Melihat Bu Neneng didampingi Bu Ane sehingga tugasnya menjadi tidak terlalu berat,,

    Terrasakah oleh kalian wahai para mahasiswa angkatan 2004 bahwa semenjak jurusan pindah ke gedung baru n semenjak ditemani Bu Ane, Bu Neneng jadi murah senyum n gak pernah marah-marah lagi?? Mungkin kalian pikir saya gapenting ngebahas Bu Neneng,,

    Atau jangan2 berfikir kalau saya diam2 menyukai Bu Neneng??
    Tidaaaaaaakkkkk….. segera jauhkan fikiran-fikiran kotor itu dari otak kalian.. heu2…

    Saya hanya menegaskan, bahwa kemajuan jurusan kita itu berdampak sampai ke Bu Neneng,,Akhir kata, mohon maaf kalau tulisan saya ribet dan menyimpang jauh dari thread ini…

    Saya hanya sekedar membahas idealisme arsitektur saja, yang saya khususkan dan konsentrasikan ke Angkatan saya, angkatan 2004… yang sebenarnya lucu-lucu, pemurah, dan rajin menabung.

    Wassalamualaikum wr wb

  13. alhamdulillah…akhirnya blog ini dibaca banyak orang.
    thanks buat miftah yang sudah menyediakan tempat.
    URLmu ini aku link ke milis dosen :)
    mudah2n bermanfaat.
    thanks for join in JPTA-UPI@yahoogroups.com
    sementara quo-nya terjawab kan?
    don’t give up. ok!

  14. Yup ;-) secara lisan dan tulisan mungkin (sebagian) sudah terjawab Bu, dan mungkin sudah lama sebelum saya menulis ini, harapan saya dan teman-teman, nanti semoga bertahap bisa menjadi solid plans of action – kemudian list of action – lalu step by step by action… dan semuanya dibarengi semangat seluruh civitas untuk memperjuangkan JPTA, tidak berlebihan kan Bu kalau saya membayangkan dan menginginkan JPTA sebagai organisasi yang solid dan menjadi jurusan pelopor untuk menerbangkan nama baik UPI…atau paling tidak ya…FPTK dulu (bagi yang membayangkan perjuangan ini akan sia-sia). Kita sudah punya beberapa doktor, dan calon doktor andalan kita — Bu Tutin, PhD — dan Saya yakin seyakin yakinnya (gaya Bung Karno, red) nanti UPI akan semakin pesat berkembang. Tentunya perjuangan ini ndak ringan dan sederhana dan tentunya butuh bantuan, kerjasama, termasuk pengorbanan dan keterlibatan semua pihak… (Internal JPTA, eksternal JPTA, jurusan lain, kampus lain, alumni, mhs, dosen dan atau kontributor-kontributor lain yang berjuang di belakang layar) Just let us being a katalisator…

    Kita (saya, teman-teman, Ibu, dan dosen-dosen yg lain) bersama-sama terus mengusahakannya. Salah satunya mungkin: Saya harus menjadi mahasiswa yang bener (kuliahnya, tidak malas, membangun semangat pribadi, juga membangunkan semangat dan optimisme teman-teman, dkk) hehehe… Cause, I belive seekecil apapun kontribusi kita – itu akan berdampak pada perubahan yang besar… ;-)

  15. @ Deri, gud job bro… (Hancock: wkwkwkwk) What a beautiful argument! You did it! Cool…

    Deri says: [ Sejak awal saya masuk UPI, saya yakin bahwa UPI adalah tempat yang sesuai yang telah Tuhan sediakan untuk saya, yang juga sesuai dengan kemampuan kondisi finansial saya (kebetulan UPI saat itu adalah PTN yang paling murah) Namun saya tetap merasa “kalah”, saya menyebutnya “Kalah pada LAP pertama” ]

    Alhamdulillah, kalo sayah sih waktu itu perlu kira-kira 2 tahun untuk menerima kenyataan ini…hiks hiks (sinetron style: on) But, today is today, today is the day, its the D-Day… realitas tetaplah realitas, the hope – its just hope. But I believe, our hope can change the rality, even maybe we dont being the part of its nice reality in the next years. But, just do something, right?

    Deri says: [ kalau boleh sedikir berkeluh, kita hanya mendapat out-bond, susu arab, rolling makanan, dan Pilar!!! Pilar!!!! Pilar!!! ketika Mabim… ]

    You know guys, I were developing a big writing to kick those (banci) military PAB. Just Check it out on on next issues.

    Btw, I love this cool quote: “Jika bukan UPI yang akan membesarkan nama kita, maka kita yang akan membesarkan nama UPI” Semoga ini bukan sekedar penyanjung dan obat penenang buat kita dari Mr Kama. Hmmm, I but like those quote – serius! Emang bener, karena kita sudah menjadi bagian integral dengan UPI. Whatever it takes, we must do our best!

    Again, you were right about the most dominant wich shaping and developing our idealism here were ourselves. But, today — we’ve lost our goal… its going likes no where. Its hurt man… Im hurt with dis, ugh… Im hurt, im hurt, im hurt… ihihihihi… but we still optimist right?

    Arghhhhhhhhhhhhh…. U guys don’t know how it feels to be us!!!
    U guys don’t know what it’s like…
    And i bet u guys don’t want 2 know about it.. what a pitty of us! Be Strong!!! We’ll finish dis…ASAP

    Btw, you know what… I were just thinking about, disordered superhero philosophy (Hancock: The anarchist superhero, red) — sometimes we’re being STRONG when we’re not close to the something/object/subject we love (in dis case: JPTA) — And we will be able to make a reflection and then get back to help it somethings… did you roger that?

    Eh Der, sayah (padahal mah gw, red) sedang menyanyi bet on it + gotta go my own ways, inspired jg ternyatah…buath semangat-semangatan, apalagih dis quote:

    How will I know if there’s a path worth taking?
    Should I question every move I make?
    With all I’ve lost my heart is breaking
    I don’t wanna make the same mistake

    I wanna make it right, that is the way
    To turn my life around, today is the day

    I’m not gonna stop
    Not gonna stop ’til I get my shot

  16. Lebaynya tulisan gw…
    gw sih apa adanya mip,, mudah2an gak cuma apa adanya,tapi juga ada apanya… ??!@#$!@$@#$?E??
    udah ah, gw gawe dulu…
    udah jam9,,
    tar gw mampir lagi deh,, (Mampir adalah kata kerja dari Vampir,Opo mene iki…????)

    btw btc bcw,
    lu seneng bgt ma OST itu,,,
    ampe bela-belain n edward-edwardin ke Pasteur buat minta lagu itu,
    padahal kan tetangga lu juga punya…

    udah,,,,
    gotta go…

  17. Ikut Nimbung….
    jika kita coba petakan, dalam hal ini kita harus bisa membedakan mana yang menjadi “api” dari permasalahan ini serta “asap” dari permasalahan ini, tentunya permasalahn ini tidak akan timbul secara tiba-tiba,tentunya ada hal-hal yang melatar belakanginya….
    idealnya kita semua paham “api” dari permasalah ini, harapannya ketika “api”nya telah kita padampak maka kemungkinan asapnyapun akan hilang dengan sendirinya….
    pemahaman visi dan misi Universitas serta JPTA menurut saya menjadi hal yang kita sadari bersama sebagai titik awal dari mana kita akan berangkat…
    bagi temen2 mahasiswa baru, yang memulai dunia baru dengan status mahasiswa JPTA, tentunya wajar bila bingung ihwal Idealisme pendidikan dan idealisme arsitektur yang ada di JPTA, karna memang keduanya ada di sini, tentunya harus ada bagian dari JPTA (Baik itu mahasiswa, Pimpinan JPTA, Alumni dan tentunya para dosen ) yang membantu temen2 mahasiswa baru memahami hal ini, ini merupakan kuliah awal bagi temen2 sebelum memulai perkuliahan panjang yang akan mereka hadapi…..
    setiap mahasiswa baru memiliki Visi misi individu, ketika mereka memutuskan untuk kuliah di JPTA, disinilah harus ada sebuah proses pengsinergian antara Visi misi lembaga dengan visi misi individu sehingga ada sebuah Visi misi bersama yang nantinya jadi titik awal untuk untuk memulai kegiatan selama menempuh pendidikan. dan hal ini harus DIPAHAMI BERSAMA.
    Mudah-mudahan kedepannya kita semua bisa menyadari akan pentingnya hal ini agar mahasiswa JPTA selanjutnya tidak mengalami hal ini dimasa yang akan datang…….
    keterlibatan seluruh staekholder JPTA mutlak harus ada demi terciptanya sebuah pemahaman bersama atas hal ini….
    terima kasih…

    “Pemahaman terhadap tujuan itu akan memberikan energi besar dan pencerahan agar kita bisa mengoptimalkan diri dalam meraih impian kita

  18. Janad, Kumaha kabar SPA2, SPA3 n skripsi ente??
    hahaha…
    tangguh pisan, look… UPI has made a tuff product like u…
    salut ah buat kang janat,,,
    sing kiat nya nat,,

    heloow miph,,,
    gw dah posting tuh di “Crime Forensic Result”
    dasar…seperti biasa, judul postingan eluh sangat dramatik dengan episentrum yang maksimum, sehingga menghasilkan azimut bercabang yang mampu membiaskan spektrum pada emulsi efek tindal dari cara berfikir manusia…
    (kok alis luh berkerut gitu miph? gausah dipikirin, otak profesor aja kagak bakal ngerti ama apa yang gw omongin ini…)

  19. Assalamualaikum wr wb, teman-teman ini ada penerangan dari dosen kita tercinta, Pak Barli, semoga bisa menjadi pencerahan ya… [ NB: Pak saya minta izin di posting disini ya… ]

    Perdebatan tentang visi dan misi jurusan Pendidikan Teknik Arsitektur di kalangan mahasiswa dan (juga) dosen, tampaknya tidak lebih memperjelas pengertian yang terbentuk. Persoalannya, diskusi lebih banyak diwarnai “common sense” dan tanpa pijakan referensi historis, sosiologis, dan akademis, sehingga seperti “pajenggut-jenggut jeung nu gundul”. Untuk itu, saya coba memberi sedikit kontribusi, mudah-mudahan semua stakeholder dapat menangkap sosok utuh dari visi, misi, dan eksistensi Jurusan Pendidikan Teknik Arsitektur FPTK UPI.

    Kelahiran Jurusan Teknik Arsitektur (tanpa Pendidikan) di Fakultas Keguruan Ilmu Teknik (FKIT) IKIP Bandung lebih dari 50 tahun lalu, memang tampak lebih menyerupai “kecelakaan sejarah”. Kurikulum yang didesain dan pengajaran calon guru STM Bangunan di FKIT yang dilaksanakan oleh dosen-dosen ITB waktu itu, hampir tidak ada bedanya dengan pendidikan calon insinyur/arsitek dengan gelar BA (sarjana muda) dan Drs (sarjana). Gelar Drs barangkali masih lebih dapat diterima oleh pasar industri konstruksi waktu itu, sebab setidaknya sama dengan gelar sarjana desain interior dari senirupa ITB misalnya.

    Citra sekaligus stigma dan substansi pendidikan semacam itu terus berlanjut sampai implementasi kurikulum dengan sistem SKS tahun 1984 dan 1993 ketika FKIT berubah menjadi FPTK, Jurusan Teknik Arsitektur menjadi Jurusan Pendidikan Teknik Bangunan, dan IKIP Bandung berubah menjadi UPI. Jurusan ini dan juga jurusan lainnya di FPTK tidak pernah menemukan identitas yang jelas. Di satu sisi, batasan jumlah SKS dan masa studi (8 semester) menjadi indikator kualitas, di sisi lain beban kurikulum sangat berat, dengan asumsi lulusan dapat menjadi tenaga pendidik dan juga tenaga ahli teknik (insinyur), tapi dengan gelar Sarjana Pendidikan (SPd). Terlebih lagi dengan diintrodusirnya konsep wider mandate, dengan tiga fleksibilitas; horisontal, vertikal, dan eksternal. Dengan konsep ini, kurikulum harus melahirkan lulusan yang memiliki kemampuan mengajar bangunan di SMK dan diklat industri, mengajar ketrampilan di SMP dan SMA, dan tenaga ahli teknik (insinyur/arsitek) di industri konstruksi. Luar biasa! Sementara perluasan mandat itupun hanya klaim internal, sebab di lapangan kerja, tetap saja lulusan kesulitan memposisikan diri.

    Tampaknya beban sejarah semacam itu yang terus menggayuti mahasiswa (yang tentu memperoleh turunan informasi dari para seniornya), dan juga dosen-dosen (yunior) yang samar-samar menangkap fenomena yang terjadi. Padahal, sekarang, dengan kurikulum (tahun 2000?), di dalam wadah universitas, konsepnya bukan lagi wider mandate, tapi multi mandate. Artinya, kurikulum pendidikan, pembelajaran, dan visi program studi jelas diarahkan pada satu sasaran. Dengan demikian tidak ada lagi persoalan beban kurikulum dan ketidakjelasan identitas. Program studi Pendidikan Teknik Arsitektur dengan gelar SPd, diarahkan untuk menghasilkan Tenaga Pendidik di SMK, Instruktur di diklat industri, dan (mungkin) konsultan pemberdayaan masyarakat. Bahwa kenyataannya nanti mereka bekerja tidak sebagai Tenaga Pendidik/Instruktur, tidak harus menjadi persoalan. D3 Teknik Arsitektur Perumahan (Amd) diarahkan untuk menghasilkan tenaga ahli menengah dalam bidang industri perumahan, dan prodi Teknik Arsitektur dengan gelar ST (kalau nanti dibuka dan boleh dibuka tergantung proposal dan kesiapan kita) diarahkan untuk menghasilkan tenaga ahli (insinyur/arsitek) di industri konstruksi.

    So, agak mengherankan juga, jika mahasiswa (dan juga sebagian) dosen, masih mengharapkan dan memberi bekal ”mimpi-mimpi” menjadi Arsitek dari prodi pendidikan teknik arsitektur dengan gelar SPd. Ya sampai kapan pun tidak akan pernah ketemu, dan hanya akan menjadi ”Sysipus” yang malang. Oleh sebab itu, sudah saatnya perdebatan diakhiri, sembari memberi pengertian yang ”lurus” kepada mahasiswa. Disamping itu, dengan konsep pendidikan tenaga kependidikan yang concurent, bukan saja tugas Dosen PBM tapi juga seluruh dosen untuk memberi bekal bagaimana mengajar cara mengajar Teknik Arsitektur, dan bukan hanya mengajar bagaimana mendesain arsitektur. Jika mau menjadi Arsitek, masuklah nanti ke prodi Teknik Arsitektur (ST) – kalau sudah dibuka.

    Tentang kesempatan kerja (bahwa sedikit sekali lulusan diangkat PNS guru bangunan), siapapun yang faham sedikit tentang ekonomi akan tahu bahwa tidak ada satupun program studi dan perguruan tinggi yang dapat menjamin lulusannya dapat langsung bekerja dan bekerja sesuai dengan bidangnya, kecuali pendidikan kedinasan. Terlebih lagi, di Indonesia, hampir tidak nyambung antara perencanaan tenaga kerja dengan pertumbuhan ekonomi. Hanya STPDN atau AKABRI yang barangkali bisa menjamin lulusannya langsung menjadi lurah atau TNI. Idealnya, pendidikan guru juga adalah pendidikan kedinasan, tapi faktanya tidak demikian. Bahkan tolong di cek, apakah sebagian besar lulusan Arsitektur ITB menjadi Arsitek profesional? Saya kira tidak, paling banyak mungkin 20%, selebihnya menjadi bankir, detailer obat, artis, kontraktor, politisi, mungkin juga guru, dan wirausahawan lainnya.

    Kenyataan itu dipahami oleh pemerintah dan pengusaha seperti Ciputra, karena fakta jumlah wirausahawan di Indonesia kurang dari 4%. Oleh sebab itu, justru sekarang sedang didorong agar lulusan pendidikan (termasuk pendidikan Tenaga Pendidikan), untuk tidak semata-mata menjadi pegawai negeri tetapi menjadi para pengusaha. Dengan tumbuhnya para pengusaha baru, akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan penyediaan kesempatan kerja baru.

    Sarjana Pendidikan (Teknik Arsitektur), meski secara qua tujuan diarahkan menjadi tenaga pendidik dan instruktur (sekali lagi, bukan menjadi Arsitek, kecuali usaha dan takdir membawanya), tetapi mereka memiliki bekal lengkap sebagai calon wirausahawan. Mereka dibekali psikologi dan sosiologi pendidikan (untuk berkomunikasi dan mempengaruhi orang), kemampuan riset (untuk melakukan survei), kemampuan mengajar (untuk presentasi ide dan produk), kreatifitas desain (untuk melakukan inovasi), dll. So, tinggal keberanian untuk memperhitungkan resiko.

    Tentang sertifikasi, yang diusulkan bu Tutin, saya juga akan coba memberi pandangan. Bahwa konsepnya harus tetap berpijak pada multi mandate dan linieritas. Jadi yang akan dibuka seharusnya bukan Pendidikan Profesi Arsitek (kecuali nanti jika kita sudah punya S1 Teknik Arsitektur), tetapi Pendidikan Profesi Guru. Dengan anggaran pendidikan 20% dari APBN dan APBD, tingkat kesejahteraan guru (dengan kenaikan gaji dan tunjangan profesi) dan martabat guru semakin meningkat. Artinya profesi Guru akan semakin menarik. Terlebih qua Undang-undang, perguruan tinggi Non LPTK dapat membuka program studi Pendidikan, dan juga lulusannya dapat menjadi Guru dengan menempuh Pendidikan Profesi Guru. Faktanya, perguruan tinggi non LPTK (seperti ITB misalnya) sudah membuka program studi Pendidikan Guru Fisika Di sisi lain, kebijakan peningkatan proporsi jumlah siswa SMK : SMA yaitu 70 : 30, juga akan mendorong perluasan kesempatan kerja Guru SMK. Hal ini seharusnya semakin mendorong arah pembukaan Pendidikan Profesi Guru, dengan syarat prodi S1 Pendidikan Teknik Arsitektur harus terakreditasi A lebih dulu. So, jangan ”moro heulang bari ngalepaskeun bajing”. Kalau tidak, jangan-jangan Pendidikan Profesi Guru Kejuruan bukan ada di UPI tapi di UNPAD atau ITB?

    Tentang sertifikasi profesi untuk lulusan D3, saya setuju, dan nanti didiskusikan lebih lanjut.

    Salam kompak,
    MSB.

  20. hahaha…ketinggalan hot topic lagi gw..padahal boomingnya udah minggu2 kemaren…basi deh…
    dapet sms dari bang miph kayanya urgent n kisruh neh mpe dosen ikutan sgala..tapi seru juga tuh…biarin mereka pada melek semelek2nya..pada nganga selebar2nya(mulut maksud gw!!)…biar pada mikir juga bahwa selama ni kita juga ga tidur dan dinina bo2-kan ma judgement2 mereka…
    but overall kontroversi ini menarik juga mpe c bang herman aja ikut nyerocos..ho3 bravo 4 u miph…

    sbg alumni(cie..cie..lagaknya..) yang udah sedikit ngerasain pait-getirnya berstatus dan bercap LULUSAN ARSITEKTUR UPI..gw sebel juga bahwa dunia di luar sini ga NGEUH kita eksis…status abu2 yang ga jelas terus terang aja jadi nilai minus prusahaan2 untuk merekrut qt2…klo pun mu jadi guru perbandingan antara jumlah SMK dan lulusan yang ga sebanding tetep aja bikin jiper.
    klo baca2 tulisan dosen2 di atas sebenernya tnt visi-misi upi itu mo nyetak lulusan yang model apa sih?? klo emang iya pengen nyiptain sesuatu yang beda dari univ lain yang terletak dalam hal pendidikan,,mbo yah sistem kaya apa yang mo dilaksanain?? walhasil dari slama gw kul ko perbaharuan nya ga begitu kentara.emang sih anak2 baru sekarang jauh lebih baik dapet materi n fasilitas dari zaman kita dulu.
    buat gw klo emang upi dalam hal ini prodi ars pengen mencetak lulusan yang handal dalam pendidikan,,coba deh toong bantu tanamkan juga hal ini sama mahasiswa sehingga mereka ga kebingungan tar klo lulus jadi apa dan gimana..klo maslah kurikulum emang lama dan butuh proses knapa engga mencoba dari sisi lain. (gw khusus ngomong tnt lulusan aja yah..)misalkan ada program kerjasama antara prodi/univ dengan lembaga yg bisa diajak kerjasama bwt nyalurin lulusannya…misal ma depdiknas,,lembaga pelatihan,,ato mungkin klo bisa ma perusahaan2…istilah kerennya sediain bursa kerja kek…paling ngga itu ngebantu mereka bwt ngebangun link.urusan diterima ato ngga itu tergantung kemampuan dan rizki masing2…
    coba liat deh bursa kerja di ITB,UNPAR…ju2r waktu gw dateng kesana atmosfir nya kerasa seru bgt.tau ga ga ada satu pun anak upi yang gw temuin di sana(klo ada juga cm 0,….%…hix3 kasian bgt.
    walopun univ kita sistem dan kurikulumnya ga bisa dibandingin ma univ laen(kt p usep),,tapi tetep aja dunia luar itu selalu membandingkan dan menuntut lebih….

    curhat aja nih ya..perbandingan ditempat kerja ma kampus ilmu yg gw dapet cuma dikiiiittt bgt.padahal perasaan gw ga males2 bgt nginput ilmu pas kul…jiper jg.so bwt temen2 gw yg blom pada lulus siapin aja deh mental buat kluar entar…welcome to d jungle.jangan ngerasa seneng deh udah kelar kul..tentuin pilihan dari sekarang,,so nanti ga akan nyesel !!! banyakin bedoa juga…ho3…jadi panjang lebar nih…

    eh miphz lu kena somasi dari dosen ga nulis artikel gini???ha3

  21. Ini salah satu tulisan saya buat artikel majalah KMA (ga tau terbitnya kapan :) saya sarikan intinya. Maaf kalo kepanjangan, ini sekedar mata lain seorang eks mahasiswa murni Teknik Arsitektur memandang JPTA yang kemudian bergabung dalam dinamika quo (versi mahasiswa :)
    SELAMAT MEMBACA—————————————————————————

    Salah satu jurusan yang ada di UPI adalah Jurusan Pendidikan Teknik Arsitektur (JPTA) di bawah naungan Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan (FPTK) tentunya juga ikut menjunjung misi serta tujuan diberdirikannya UPI, yang secara inti menyiapkan tenaga pendidik profesional dan tenaga profesional lainnya. Ini artinya, dengan model wider mandate lulusan JPTA UPI memiliki peluang lebih dibandingkan dengan lulusan perguruan tinggi lainnya

    Tidak bisa dipungkiri, peserta didik merupakan “klien” dari seorang pendidik, mereka memiliki latar belakang yang beragam ketika masuk dalam sistem JPTA UPI, katakanlah sebagian besar terbagi menjadi tiga, yaitu :
    1. Mahasiswa yang memahami misi dan tujuan JPTA UPI sehingga tahu betul kemana arah yang dituju, ini adalah mahasiswa yang memiliki cita-cita sebagai pendidik
    2. Mahasiswa yang kurang memahami misi dan tujuan JPTA UPI dan menganggap PTA (Pendidikan Teknik Arsitektur) tidak berbeda dengan TA (Teknik Arsitektur)
    3. Mahasiswa yang sekedar berorientasi pada kuliah, tanpa memperhatikan bidang studi yang dipilih
    Keberagaman latar belakang ini menimbulkan dinamika dalam PBM, yang merupakan faktor internal dari peserta didik. Beberapa dinamika yang muncul ini kemudian menimbulkan kesan adanya status quo dalam tubuh JPTA UPI. Wider mandate kemudian dirasakan sebagai suatu yang dipaksakan atau lebih jelasnya lagi sebagai hal yang setengah-setengah.

    Berbagai pendapat dan komentar kemudian muncul yang pada kesimpulannya mempertanyakan kejelasan arah JPTA UPI. Dalam sudut pandang idealisme arsitektur, bisa dipahami sebagai bentuk kekurangpuasan atau lebih jelas sebagi kekecewaan mahasiswa terhadap JPTA UPI. Kurang puas atau kecewa itu amat sangat manusiawi, terlebih bagi mahasiswa dengan latar belakang pada poin ke-2 di atas yang secara umum kurang mengindahkan misi dan tujuan UPI. Pemahaman sepihak makna dari Pendidikan Teknik Arsitektur (PTA) ini menimbulkan kesan bias yang condong terhadap Teknik Arsitektur (murni), dan lebih jauh menumbuhkan pengharapan kesepadanan PTA dan TA. Apakah pengharapan tersebut salah ? tidak, hanya kurang tepat.

    Wider mandate JPTA UPI memiliki konsekuensi kurikulum yang mengakomodir untuk output pendidikan sebagai tenaga pendidik profesional sekaligus tenaga profesional. Konsekuensi ini salah satunya mempertimbangkan waktu tempuh studi sehingga tingkat kompetensi antara PTA dan TA memiliki perbedaan. Sebenarnya perbedaan itu sudah pasti akan terjadi, mengingat misi dan tujuan awal antara PTA dan TA ini memiliki perbedaan yang signifikan. Tingkat kompetensi inilah yang kemudian secara alamiah, tidak disadari oleh beberapa mahasiswa menuntut kesepadanan antara output PTA dan TA.

    Secara kasat mata, apabila membaca ke-13 butir kompetensi dasar UIA (Union of International Architects) yang diadopsi oleh IAI (Ikatan Arsitek Indonesia) bisa dikatakan output PTA hasil kurikulum JPTA sudah mampu memenuhi kompetensi tersebut. Tetapi lebih jauh, bagaimana tingkat kedalaman atau penguasaan kompetensi tersebut ? Apakah hanya sebatas mengetahui (permukaan/kulit luar) atau mampu merapkan ke-13 butir kompetensi tersebut dalam bentuk aplikasi nyata ?

    Secara lugas, harus diakui bahwa dengan kurikulum berbeda pasti akan menghasilkan output dengan kompetensi yang berbeda pula. Sekarang, tinggal bagaimana menyikapi kondisi yang ada. Mengoptimalkan diri dengan sistem yang ada atau tanpa tergantung sistem sambil tetap menghargai kurikulum dan fokuslah pada proses dan hasil sekaligus

    Secara analogi, ibarat seorang penumpang ingin ke Cicaheum, tetapi dari Ledeng mengambil rute Ledeng-Kelapa, apakah bisa sampai ke Cicaheum ? bisa, tetapi harus menyambung angkutan lagi jurusan Kelapa – Cicaheum. Sungguh beda, jika dari awal penumpang tersebut menaiki rute Ledeng-Cicaheum. Apa makna analogi ini ? bahwa kesepadanan akan kompetensi antara PTA dan TA memiliki konsekuensi akan waktu dan tenaga bahkan biaya yang ekstra bagi mahasiswa PTA.
    Jadi di sini, harus dipahami secara bijak makna pendidikan teknik arsitektur terhadap kompetensi dasar arsitek, karena dalam bidang konstruksi, makna perencana, pelaksana dan pengawas memiliki tingkat kompetensi yang berbeda-beda pula.

    Jadi kembali lagi ke peserta didik sebagai “klien” pendidik. Jika tidak tertarik pada ranah kependidikan dengan output sebagai pendidik, harus mulai memasang strategi, dengan sistem yang ada seperti sekarang ini, jika ingin mendalami bidang perencanaan dan perancangan, siapkan bekal yang lebih (seperti penumpang angkot Ledeng – Kelapa yang ingin ke Cicaheum di atas), tetapi dunia arsitektur tidak melulu mengenai perencanaan dan perancangan, apalagi dunia konstruksi masih ada celah yang terbuka lebar bagi para output PTA yang berdasarkan peneltian (skripsi) keterserapan lulusan JPTA UPI di dunia konstruksi sekitar 60-70% . Jadi di sini bisa disimpulkan bahwa Pendidikan Teknik Arsitektur tetap memiliki peranan penting dalam dunia konstruksi.

  22. sebagai alumni dari jurusan pendidikan teknik bangunan, kami hanya berpikir bagaimana bisa survival, eksis, kalo perlu mendominasi. Tetap semangat …. salam perkenalan dari Knabketsalapanopat (alumni tekbnang 94)

  23. Salam kenal jg… + salam hangat dari semua supporter dan inspirator blog ini, khususnya 2004. Kan sama-sama ada angka opat-nya… hehehe ;-)

    Ditunggu ide, masukan, dan advice-nya ya buat JPTA (transformasi dari P.TEKBANG menjadi P.T.Arsitektur) ;-)

    Mungkin ada celah kilatan pemikiran (yang tidak terpikirkan) yang bisa jadi sangat berharga buat kita semua.

    Wassalamualaikum. ;-)

  24. Sebagai Alumni Saya tidak merasa Malu Bahwa Saya adalah S.Pd dengan Latar Pendidikan Teknik Bangunan dengan Program Studi Arsitektur walaupun dalam Ijazah Kami tertulis jelas Jurusan Teknik Bangunan Prodi Teknik Bangunan…
    Pendidikan Teknik Bangunan yang Sekarang telah berubah menjadi Pendidikan Teknik Sipil dan Pendidikan Teknik Arsitektur adalah lebih beruntung daripada kalian sebelumnya…
    kami angkatan 98 waktu itu mengalami beberapakali perubahan bahkan SKS kami pun banyak sekali ada mata kuliah yang telah lulus dihilangkan dan yang baru ditambahkan hingga kami lulus dengan beragam SKS saya sampai 166 sks bahkan sobat saya ada yang mencapai 188 SKS…coba anda bayangkan betapa lamanya kami kuliah disana….sehingga otomatis kami hampir 80% lulus dengan masa kuliah 7 tahun “edankah?”
    Tapi Alhamdulillah angkatan kami yang pada 7 Tahun lulusnya terserap didunia kerja… pada jasa konsultan,kontraktor, pendidik, pemda dan lainnya….
    intinya bukan masalah kita lulusan dengan SPd tapi kemauan kita untuk bersaing dengan positif dan ikatan alumni lah yang lebih banyak menentukan disini…jika kalian bekerja dan ada lowongan ditempat kalian informasikan lebih dahulu ke teman kalian….
    kalau kita telaah justru kita benar2 punya keunggulan yang lain seperti yang diungkapkan oleh Pa Barli (thanks pa pernah ngebimbing kami) kita gak akan pernah kikuk bila kita bicara di depan orang banyak itu slah satunya dan metode bimbingan yang gila ga pernah acc sampai sepuluh kali apalagi kalo ke pa dadang ahdiat wah…sekarang ama esok udah lain lagi lusanya lain lagi …tapi itu bikin mental kita siap dalam menghadapi tantangan dunia kerja sehingga dalam tugas apapun kami siap melaksanakannnya…
    udah aja dulu dah….LIeur….
    Intinya Jangan Pernah Bingung dengan Jurusanmu Tapi Tekadkan Kamu BISA….

  25. Tuan2, Nyonya2… maaf beta ikut nimbrung…, optimis , pesimis…tersirat atas tulisan2 sebelumnya.., hanya ingin komentar klo kita2 mo berkiprah didunia non pendidikan (karena lowongan menjadi guru/dosen tdk sebanding dgn lulusan) dan kita mo kerja di dunia konstruksi (eq: Konsultan, Kontraktor..dan sejenisnya), maka sebaiknya kita harus sekolah lagi …(nglajutin), sehingga kita dapet gelar tambahan ST, MT dan sejenisnya…, baru dah nama kita bisa dipakai..(bukan hanya behind the screen)… nah kayaknya gitu dulu dah…., mudah2an komentar ini nyambung dengan tulisan2 teman2 lain yang menurutku mumet membacanya…
    salam..

  26. u tell me… hahah… salam dari teknologi pendidikan UNJ.
    anyway… bravo for ur courage in developing critical mind ;)

  27. salam arsitektur,
    cukup menarik pembicaraan pada blog ini di ikuti untuk mencari solusi, tentunya dengan harapan bahwa semakin banyak kepala semakin mudah masalah ini terselesaikan, JIka di urut menurut saya solusinya Bisa pada Institusi dan bisa pada kita sendiri, jika secara institusi mahasisiswa sudah di doktrin dengan kurikulum yang ada untuk mencapai visi yang di inginkan oleh institusi itu, maka sebagai mahasisiwa ada baiknya utuk melihat apakah visi tersebut sesuai dengan yang di harapakan, jika sesuai apa preseden yang bisa kita lihat dari hasil kurikulum tersebut????
    mungkin saya kurang berkompeten untuk membahas secara institusi

    balik pada diri kita, caranya sejauh mana kita ingin tahu tentang arsitektur itu sendiri, bukalah pikiran kita seluas-luasnya, jangan batasi kita dengan berbagai macam batasan, jangan pernah sombong bahwa kita lebih tau tentang desain sebuah bangunan pendidikan misalnya, dan jadilah kreativ dengan segala keterbatasan dan kelebihan yang kita miliki, dan mulai lah bersristektur dari hal yang kecil dan kita kan temua kemana kita kan menjadi, Arsitek, engineer, atau guru .

Comments are closed.