[1.] Latar belakang [ Dominasi alumni pada PAB, ketidakberdayaan panitia PAB, termasuk dendam k e s u m a t angkatan, penghianatan pribadi, ketidakpedulian antar sesama civitas, dst ]
[2.] Tujuan penulisan [ Rekonstruksi moral, rekonsiliasi angkatan, transformasi karakter civitas, reformasi struktural, laporan jurnalistik, perubahan fundamental, pembenahan strategis, pembinaan taktis, kontribusi untuk kemajuan prodi Pendidikan Teknik Arsitektur UPI, nama baik UPI, nama baik pendidikan, nama baik teknik Arsitektur, dst ]
[3.] “ Sumber” [rumusan] “masalah”:
A. Kalaulah itu yang namanya PAB “Miing Version” berdampak pada pembentukan mental, “buktikan hasilnya disini Ing..!”
B. Grafik emosi tralala, teori dari mana eta teh Akang… (Resapi: wahai dirimu yang baik hati dan tidak pernah menginjak, menendang, dan menampar wajah ratusan mahasiswa)
C. Senioritas kebablasan, tidak terkendali, dan tidak ada yang mampu mengendalikannya (khususnya oknum alumni – umumnya semua angkatan melalui beberapa oknum pengekor oknum alumni) apakah penyebabnya?
[4.] Pendekatan masalah:
A. Psikologis [ penyakit mental dan kepribadian turun-temurun ]
B. Militer [ Udah frustasi ga bisa masuk TNI kali ya? Coba deh daftar sekali lagi, siapa tahu keterima... ]
C. Pendidikan [ Hmmm, begini toh cara mendidik teh... ]
D. Arsitektur [ Au - ah gelap dan gulita bgt tentang yg satu ini ]
E. Spiritual [ Kalau ada adzan, eta teh waktunya sholat - meng-Akbarkan Tuhan, bukan meng-Akbarkan birahi senioritas - sembari menginjak kepala mahasiswa yang menuntut ditegakkannya sholat Asar, dan merasa puas dipanggil "punten Akang..." oleh puluhan mahasiswa baru yang melintas, naudzubillah... tobat siah... ]
F. Hukum [ Hak Asasi Manusia ]
G. Politik [ Boleh lah ]
E. Ekonomi [ Seyogianya - dana tidak melulu harus dan hanya dihabiskan dalam tragedi tahunan mahasiswa baru - yang lebih merupakan representasi rantai (gelap) senioritas, tanpa DAMPAK dan hasil NYATA ]
F. Budaya [ Budaya mana eta teh, sunda yang lembut, jawa yang halus, batak yang tegas, atau? Budaya yang hanya ada dalam pikiran Anda sendiri? ]
G. Sosologi [ Whatever ]
[5.] Batasan Masalah: Tanpa Batas, bebas! BLOG SAYAH ini!
[6.] Teknik Penyusunan: Acak
I watch, analyze, reporting, publishing, and talking here (try to find any solution) membincangkan peristiwa demi peristiwa berikut yang melatar belakanginya.
[ Just try to START with a basic question ]
“Benarkah kiranya masalah ini akibat oknum alumni yang mengalami mental disorder?” Hingga mampu menciptakan situasi seperti psychological abuse, yang juga referred to emotional abuse yang merupakan abuse (tindakan sewenang-wenang) characterized by a person subjecting or exposing another to behavior that is psychologically harmful. It involves the willful infliction of mental or emotional anguish by threat, humiliation, or other verbal and non-verbal conduct. Sambungin aja bos kalo gak nyambung!
Mental health is a term used to describe either a level of cognitive or emotional well-being or an absence of a mental disorder. From perspectives of the discipline of positive psychology or holism mental health may include an individual’s ability to enjoy life and procure a balance between life activities and efforts to achieve psychological resilience.
Seperti ada akibat dari semacam persepsi yang dibangun secara bertahap, dan tanpa sadar menjadi kepribadian, dan mungkin akhirnya karakter atau tabiat. Hal ini membawa efek samping yang cukup luas dalam kehidupan pribadinya khusunya kepuasan/kesenangan/kegembiraan/resilience ketika memukuli mahasiswa baik secara psikologis maupun fisik.
Tingkat kesadaran dalam ranah persepsi ini membawa setidaknya dua hal: pertama sikap, kedua tindakan. Baik yang dibenarkan oleh mulutnya maupun kesadarannya secara umum. Tindakan mempengaruhi organisasi dan merealisasikan nafsunya menjadi andalan. Mahasiswa diberi skenario bayangan, padahal dia teh punya “grand scenario” dibalik itu semua. lapangan PAB dia kuasai, mendominasi situasi dengan gaya “one man show”. Lihat saja siapa yang paling diuntungkan dari semua fenomena ini. And you got the action lies within. Mudah bukan?
And then, berbicara masalah tingkat kesadaran dan persepsi:
Perception gives rise to two types of consciusness: phenomenal and psychological. Phenomenal consciousness is full of rich sensations that are hardly present when eyes are closed. Psychological consciousness is well researched and measured. It occurs half a second after a stimulus starts. If a weak stimulus lasts less, it is unlikely to be perceived. The capacity of psychological consciousness is also well measured. Depending on methods used the capacity ranges between seven and forty symbols or percepts at one time.
There are two basic theories of perception: Passive Perception (PP) and Active Perception (PA). The passive perception could be surmised as the following sequence of events: surrounding → input (senses) → processing (brain) → output (re-action). And the active perseption could be surmised as dynamic relationship between “description” (in the brain) ↔ senses ↔ surrounding.
So, baik secara fenomena maupun psikologis, persepsi pasif maupun aktif, kekerasan dalam PAB menurut saya telah distimulus oleh kepuasan pribadi atau golongan oknum yang kesurupan dan tidak bertanggung jawab. Semoga kedepan tidak ada yang pingsan, kesurupan, atau mungkin meninggal seperti di kampus lain. Saya pribadi dan pastinya orang tua mahasiswa tidak mungkin menginginkan kepala anaknya diinjak oleh orang lain. Kasus demi kasus bisa dengan mudah dibuktikan, ada puluhan mahasiswa sebagai saksi. Tuhan pun menyaksikan. Tulisan ini berfungsi mengingatkan saja, resiko dibalik tindakan-tindakan “dangkal” yang sering dilakukan dalam PAB.
[ Lalu kita coba menilik sisi MILITER ]
Nanaonan iyeu teh, sejak kapan pulakah calon pendidik anak bangsa dilatih secara militer (baca: gaya militer banci) yang tidak jelas hasilnya. Mana, apa hasilnyah eta teh? “Secara” apa? Dari sudut pandang mana? Dari tekbanx hingga ptars UPI – belumlah terlihat itu ngefek pada kemajuan. Ada-ada aja.
Kalau pembinaan model begini teh harus ada kurikulumnya atau setidaknya teori seperti resosialisasi yang butuh waktu intensif dan bertahap, kesabaran, dan tentunya keikhlasan membina:
Resocialization is a sosiological concept dealing with the process of mentally and emotionally “re-training” a person so that he or she can operate in an environment other than that which he or she is accustomed to. Resocialization into a total institution involves a complete change of personality. Key examples include the process of resocializing new recruits into the military so that they can operate as soldiers (or, in other words, as members of a cohesive unit) and the reverse process, in which those who have become accustomed to such roles return to society after military discharge.
Nah, yang bikin aku ngakak itu, bahwa militer saja perlu waktu untuk membina mental “militer” hingga siap terjun dalam situasi baku tembak “hidup mulia atau mati syahid”. Yang begini nih, yang teruji secara psikologis. Nah PAB? Nanaonan ngebina mental dengan “mental disorder para oknum” dalam dua malam. Nista itu pemikiran. Tiada itu akan membuahkan hasil. Buang-buang duit, tenaga, dengan memanfaatkan pengorbanan para mahasiswa yang masih sedikit lugu.
[ And then PENDIDIKAN? ]
What a LD (Learning disabilitiy) sick is that? Why? Just check this out:
Plato
Date: 424/423 BC – 348/347 BC
Education would be holistic, including facts, skills, physical discipline, and music and art, which he considered the highest form of endeavour.
Aristotle
Date: 384 BC – 322 BC
All who have meditated on the art of governing mankind have been convinced that the fate of empires depends on the education of youth.
Avicenna
Date: 980 AD – 1037 AD
The empiricist theory of ‘tabula rasa’ was also developed by Ibn Sina. He argued that the “human intellect at birth is rather like a tabula rasa, a pure potentiality that is actualized through education and comes to know” and that knowledge is attained through “empirical familiarity with objects in this world from which one abstracts universal concepts” which is developed through a “syllogistic method of reasoning; observations lead to prepositional statements, which when compounded lead to further abstract concepts.”
He further argued that the intellect itself “possesses levels of development from the material intellect (al-‘aql al-hayulani), that potentiality that can acquire knowledge to the active intellect (al-‘aql al-fa‘il), the state of the human intellect in conjunction with the perfect source of knowledge.
Marshall Rosenberg
Date: 1934
While Rosenberg is most well known for his work with conflict resolution through his system of “life-serving” Nonviolent Communication (NVC), he has also made education reform a major component of his work.
Building on the ideas of Neil Postman, Riane Eisler, Walter Wink, Carl Rogers and others, Rosenberg’s contribution to this field involves reforming schools into “Life-Enriching” organizations, with the following characteristics:
- The people are empathically connected to what each is feeling and needing—-they do not blame themselves or let judgments implying wrongness obscure this connection to each other.
- The people are aware of the interdependent nature of their relationships and value the others’ needs being fulfilled equally to their own needs being fulfilled—-they know that their needs cannot be met at someone else’s expense.
- The people take care of themselves and each other with the sole intention of enriching their lives—they are not motivated by, nor do they use coercion in the form of guilt, shame, duty, obligation, fear of punishment, or hope for extrinsic rewards.
I didn’t find any theory of education talking about “abuse make us smarter or mentally developed…” really!
[ ARCHITECTURE ]
What kind of architecture education yang [ Penerimaan Anggota Baru ] Organisasi/himpunan/institusi/whatever -nya butuh penyiksaan? Tidakkah terbesit setitik ide di lautan yang luas untuk mengubah gaya turun temurun PAB itu?
[ SPIRITUAL ]
Dari Nawas bin Sam’an r.a. dari Nabi Muhammad saw., beliau bersabda, “Kebaikan adalah akhlak yang baik, sedangkan dosa adalah segala hal yang mengusik jiwamu dan engkau tidak suka jika orang lain melihatnya.” (HR. Muslim)
Dan dari Wabishah bin Ma’bad ra berkata, ‘Aku datang kepada Rasulullah saw., maka beliau bersabda, “Apakah engkau datang untuk ertanya tentang kebaikan?” Aku menjawab, “Benar, wahai Rasulullah.” Lalu beliau bersabda, “Mintalah fatwa kepada hatimu sendiri. Kebaikan adalah apa yang karenanya jiwa dan hati menjadi tentram. Dan dosa adalah apa yang mengusik jiwa dan meragukan hati, meskipun orang-orang memberikan fatwa kepadamu dan mereka membenarkannya.” (HR. Ahmad)
“… Dan tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan, dan janganlah kalian bertolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan …” (Al-Maidah: 2)
“Mengapa kalian memerintahkan orang lain untuk mengerjakan kebaikan, sedangkan kamu melupkan dirimu sendiri, padahal kalian membaca al-kitab, maka tidakkah kamu berfikir?” (Al-Baqarah: 44)
Akhlak yang baik merupakan refleksi dari keimanan seseorang kepada Allah swt. Oleh karenanya Rasulullah saw. mengatakan dalam salah satu haditsnya: Dari Abu Said Al-Khudri ra berkata, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, ‘Ada dua hal yang keduanya tidak mungkin terkumpul dalam diri seorang mu’min, yaitu bakhil dan akhlak yang buruk.’ (Turmudzi)
Akhlak yang baik merupakan bukti ketinggian keimanan seseorang. Semakin tinggi imannya maka akan semakin sempurna akhlaknya. Dalam hal ini, Rasulullah saw. mengemukakan: Dari Abu Hurairah ra berkata bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, ‘Sesempurna-sempurnanya keimanan seorang mu’min adalah yang terbaik akhlaknya.’ (Abu Daud)
Diantara cara yang cukup efektif dalam menekuni jalan yang baik adalah dengan cara berakhlak yang baik. Karena Allah akan memberikan jalan bagi akhlak yang baik.
“Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh”. (Al-A’raaf: 199)
“Hendaklah kamu menghubungkan tali silaturahim dengan orang yang justru berusaha memutuskannya, memberi kepada orang yang selalu berusaha menghalangi kebaikan itu datang kepadamu, serta bersedia mema’afkan terhadap orang yang mendzalimimu”.
Melihat reaksi kemarahan Umar yang hendak memukul Uyainah, Al-Hurr bin Qays yang mendampingi saudaranya Uyainah mengingatkan umar dengan ayat Makarimil Akhlak, “Ingatlah wahai Umar, Allah telah memerintahkan nabi-Nya agar mampu menahan amarah dan mema’afkan orang lain. Sungguh tindakan engkau termasuk prilaku orang-orang jahil”
Tidak satupun contoh dari Nabi ataupun redaksi AlQuran yang mengajarkan kekerasan kepada kita.
[ HUKUM ]
Pasal 28F UUD 1945 [ Buat Saya ini mah ]
Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.
Pasal 28I UUD 1945 [ Buat Mahasiswa Baru yang mau di PAB -in ]
Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apa pun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu.
Undang-Undang No. 39 Tahun 1999
Tentang : Hak Asasi Manusia
Pasal 23 Ayat 2 [ ini juga buat saya ah ]
Setiap orang bebas untuk mempunyai, mengeluarkan dan menyebarluaskan pendapat sesuai hati nuraninya, secara lisan dan atau tulisan melalui media cetak maupun elektonik dengan memperhatikan nilai-nilai agama, kesusilaan, ketertiban, kepentingan umum, dan keutuhan bangsa.
Pasal 30 [ Buat Semua ]
Setiap orang berhak atas rasa aman dan tenteram serta perlindungan terhadap ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu.
Pasal 33 Ayat 1 [ Buat Peserta PAB ]
Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan, penghukuman atau perlakuan yang kejam, tidak manusiawi, merendahkan derajat dan martabat kemanusiaannya.
Pasal 69 Ayat 1 [ Buat Oknum ]
Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain, moral, etika, dan tata tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Pasal 90 Ayat 1 [ Buat Persiapan ]
Setiap orang dan sekelompok orang yang memiliki alasan kuat bahwa hak asasinya telah dilanggar dapat mengajukan laporan dan pengaduan lisan atau tertulis pada Komnas HAM.
Pasal 95 [ Buat Persiapan ]
Apabila seseorang yang dipanggil tidak datang menghadap atau menolak memberikan keterangannya, Komnas HAM dapat meminta bantuan Ketua Pengadilan untuk pemenuhan panggilan secara paksa sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
[ POLITIK ]
Secaara umum defenisi politics: is the process by which groups of people make decisions.
Legitimate power, the power of the policeman or the referee, is the power given to an individual by a recognized authority to enforce standards of behavior. Legitimate power is similar to coercive power in that unacceptable behavior is punished by fine or penalty.
Referent power is bestowed upon individuals by virtue of accomplishment or attitude. Fulfillment of the desire to feel similar to a celebrity or a hero is the reward for obedience. This is an example of incentive power as one rewards oneself.
Expert power springs from education or experience. Following the lead of an expert is often rewarded with success. Note that expert power is conditional to circumstances (for example, if leaky pipes need to be repaired, a brain surgeon’s advice probably would not carry as much weight as a plumber’s).
Secara lejitimet dan referent sebenarnya alumni lemah dalam hal ini, karena fungsi alumni sebenarnya hanya sebagai pelengkap dan pengarah, bukan orientasi utama, dan semua maunya diikutin.
Secara expert boleh lah, karena kekuatan politik alumni itu turun-temurun adanya dan dilakukan dengan kurang bertanggungjawab dan menghormati dan menghargai keberadaan panitia secara umum. Tapi,
Teknik skenario habis menggorok leher dan menistakan adik angkatan, lalu sembunyi tangan, cuci tangan, dan memuja-muji dengan kata-kata manis semanis gula di akhir acara. Strategi lobi angkatan, mempengaruhi mahasiswa-mahasiswa yang masih polos, baik yang baru – maupun yang lama, baik panitia – maupun bukan panitia. Tapi jangan lupa, sepertinya dendam membara laksana api masih menempel di hati terdalam loh! Becareful! dan tidak ada yang mampu memadamkannya kecuali ada perubahan total, meminta maaf, dan tidak akan mengulangi hal serupa setiap tahun.
[ Ekonomi ]
The economy is the realised social system of production, exchange, distribution, and consumption of goods and services of a country or other area. A given economy is the end result of a process that involves its technological evolution, civilization’s history and social organization, as well as its geography, resource endowment, and ecology, among other factors. These factors give context, content, and set the conditions and parameters in which an economy functions.
Secara mendasar, rantai keuangan yang keluar masuk kas organisasi haruslah dipergunakan dengan mempertimbangkan efisiensi dan keuntungan optimal untuk tercapainya target demi target organisasi, dalam hal ini himpunan. Banyak faktor yang bisa dipakai untuk mengukur efektifitas penggunaan dana. Salah satunya, misalnya pertanyaan apakah PAB membawa dampak yang mampu mendorong mental mahasiswa baru untuk ber-himpunan dengan baik? Dan pada saat bersamaan ada (misal: indeks) efek positif (kontribusi) PAB untuk kemajuan prodi? dst.
[ Budaya ]
Secara antropologi – secara umum budaya di Indonesia itu dikenal ramah, sopan, santun, dst. Setidaknya begitulah kira-kira dalam iklan-iklan “Visit Indonesia” punya pemerintah.
Culture generally refers to patterns of human activity and the symbolic structures that give such activities significance and importance.
Budaya barbarian saya kira sudah kikis di dunia modern saat ini, hanya sebagian pengikut dan penerusnya perlu diperhatikan, karena mungkin budaya mereka sesekali memang perlu diapresiasi (untuk membendung dampak yang lebih luas).
Dalam PAB? Adakah hubungannya dengan budaya? Apakah aktifitas kekerasan memiliki nilai signifikan hingga perlu dipertahankan? Setidaknya dalam “budaya” pendidikan?
[ Sosiologi ]
Benarkah secara kelompok sosial, bahwa mahasiswa “baru” harus melewati premanisme yang sistematis?
The principle of dependence:
the more dependent a person is on a group, the more likely they are to conform to group “norms”. This means that if a group means a lot to a person, they will be more likely to do what it is that the group wants them to.
Apakah yang jumlahnya besar selalu berkuasa? Belum tentu dan tergantung pembandingnya. Sekumpulan kambing akan berlarian karena satu ekor harimau. Tapi, ini hanya terjadi dunia hewan.
Principle of visibility:
The principle of visibility refers to the extent that the behavior of group members can be observed by other members of the group. The higher the observation rate of a group is, the more likely the members of that group will follow the group’s norms.
Semakin terlihat, maka semakin mudah untuk mengikuti, diikuti, atau dihipnotis (secara verbal: jago nego), hingga kelompok (psikososial) mahasiswa dapat dengan mudah dipengaruhi oleh alumni.
Group and networks:
In every society people belong to groups, such as businesses, families, athletic groups, or neighborhoods. The structure inside of these groups mirrors that of the whole society. There are networks and ties between groups as well as inside of each of the groups that create social order.
Some people belong to more than one group, which sometimes causes conflict. The individual may encounter a situation in which he or she has to choose one group over the another. Many who have studied these groups believe that it is necessary to have ties between groups to strengthen the society as a whole and to promote pride within each group. Others believe that it is best to have stronger ties within a group so that social norms and values are reinforced.
Begitu juga dengan mahasiswa, pasti berkelompok sosial. Ada yang ustadz, kutu perpus, tukang gaul, tukang dugem, hobi motor, suka ngerjain tugas, grup (maaf) begundal, grombolan preman, ahli demo, sampai kelompok2 yang spesifik seperti 2 orang soulmate seperjuangan, dst.
Nah, alumni yang mengendalikan PAB? pasti terlebih dahulu masuk ke lingkungan yang setipe di kelompok sosial mahasiswa. Dan, niat mereka (oknum) itu bisa dengan mudah disuntikkan, dan berlanjutlah premanisme turun temurun itu.
Values and norms:
Values can be defined as “internal criteria for evaluation”. Values are also split into two categories, there are individual values, which pertains to something that we think has worth and then there are social values. Social values are our desires modified according to ethical principles or according to the group we associate with: friends, family, or co-workers. Norms tell us what people ought to do in a given situation. Unlike values, norms are enforced externally – or outside of oneself. A society as a whole determines norms, and they can be passed down from generation to generation.
Dan nilai-nilai yang tertanam dalam diri seseorang sangat besar pengaruhnya terhadap “apa yang akan dia lakukan”, termasuk norma sosial yang berlaku akan membatasi “apa yang akan dia lakukan”. Semakin lemah norma, semakin kuat dan bebas seseorang dengan nilai “jahat”-nya merusak dan bahkan membuat seolah norma hilang atau tidak lagi berfungsi.
Power and authority:
Maka, dua hal ini juga berpengaruh, kekuatan dan otoritas. Jika memang dia punya kekuatan, maka seharusnya panitia PAB sang pemilik otoritas, harus lebih bisa menunjukkan taringnya dalam mengendalikan situasi-situasi yang tidak diinginkan.
Benarkah secara kelompok sosial, bahwa mahasiswa “baru” harus melewati premanisme yang sistematis?
[ Akhir Kata ]
Kalau kita ambil analogi denah-tampak-potongan atau utilitas-venustas-firmitas atau fungsi-estetika-struktur, maka sepertinya selama PAB dikendalikan oleh “oknum the outsider” maka,
Fungsi mendasar PAB entah seperti apa dalam AD/ART, hipotesis saya: sebagai salah satu rangkaian orientasi mahasiswa, tidak dan tidak akan membawa hasil signifikan, atau mungkin sia-sia, bahkan mungkin percuma, selama PAB old style masih berlangsung seperti ini.
Estetika – citra bangunan PAB sebagai salah satu proses pra-edukasi perguruan tinggi akan mampu mencoreng nama UPI pada akhirnya, jika ada kasus spesifik nantinya yang di “blow up”. Btw, Metro TV biro Bandung sudah dibuka loh. Soalnya Saya teh suka Metro TV pisan.
Struktur – kekuatan KRIDAYA yang bisa dibilang masih bayi akan lumpuh seketika saat – itu oknum, datang lagi di the NEXT PAB. Hihi, takut ah. Silahkan yang mau curhat disini, kita cari solusinya bareng-bareng, OK.
Saya berlindung kepada-Nya dari kesia-siaan menulis! Amin. Maaf jika ada salah tulis. Eh ketikan.
Wassalamualaikum wr wb



















![[ Miphz ]](http://feeds.feedburner.com/Miphz.2.gif)



hahaha…
ditulis juga mip,,,
untung latarbelakang penulisannya bukan karna gw nyinggung PAB di tulisan “Status Quo” itu tea..
jangan bawa-bawa gw yah,, jangan juga bilang inspired by me..
coz, emang lu dah lama pengen nulis ini kan…?
so,,,
well,,,
hm.. komen apa yah…
ok, here it is:
MENTALLY TREATMENT
menurut gw, pembinaan mental buat MaRu itu perlu, gak cuma di military.
tentunya tanpa kekerasan fisik yang -full body contact- (naon deui ieu frase nyambung pisan)
disatu sisi, kalo gak kita “kerasin”, maru jadi ngelunjak, gak sopan, lembek kayak peuyeum.
tapi di sisi yang lainnya, kalo pembinaan yang over teuing malah jadi ngerusak mental, parno, n menyimpan dendam menahun (hayo..siapa yang dendam ma senior???). coz in case, kondisi mental tiap manusia kan beda-beda, jadi kondisi mental Maru JPTA tuh beragam, lain lagi dengan kondisi mental orang2 yang masuk AKABRI yang udah bisa dipastikan siap akan segala perlakuan mental maupun fisik.
kalo menurut gw sih sesuain aja porsinya, pembinaan mental-nya jangan overdosis, dan yang pasti tanpa kekerasan fisik.
GRAFIK EMOSI
Sekedar have fun, kayaknya agar acara pelantikan lebih semarak dan lebih “menggigit”, kayaknya perlu juga ada permainan grafik emosi..
tujuannya ya agar mereka (Maru,red) siap dan terbiasa akan segala perlakuan yang akan menerpa mereka dalam perkuliahan, asistensi, bimbingan, seminar, sidang, atau lebih jauh lagi persiapan buat bertemu berbagai jenis karakter manusia yang akan mereka temui di dunia nyata, agar mereka siap n “used to” dengan kerasnya kehidupan.
jadi, gw setuju-setuju aja ada permainan grafik emosi.
lagian, grafik emosi itu udah ada dari dulu di acara-acara himpunan kita, LDKM misalnya, inget gak waktu teh nitih nangis-nangis n kang sarip marah-marah di acara puncak LDKM kita??
kayaknya bubulshitan kayak gitu emang udah jadi budaya, n i think it’s fine n fun..
(jadi inget film The Recruit, si Colin Farrel dari awal ampe akhir film itu dikibulin mulu ama si alpachino, “Everything is a test” “What u see, what u hear, nothing as what it seems”)
sekali lagi, maenin emosinya kagak perlu pake acara gampar-gamparan, nyuntrungin kepala cewek, apalagi ampe ada acara nyeburin orang ke danau yang kondisi danaunya dalam sebulan terakhir udah menelan 4 nyawa…
Norak, old-skul banget, n feodal pisan…
gak ngotak banget gituloh…
SENIOR VS PANITIA
Teteup, dari dulu kasusnya sama..
setiap PAB selalu terulang, Senior minta porsi lebih n ngacak-ngacak konsep.
mentang2 yang di”tua”kan.. merasa lebih tua? merasa udah tua?
ya harusnya kalo ngerasa tua, diem aja di rumah, jagain istri dan anak..
kagak ada kerjaan amat tiap tahun attend di acara PAB.
bagu sih participate, care ma himpunan.. tapi kan gak perlu ampe menggebu-gebu gitu.
Dosen aja gak ikut campur lebih jauh, padahal wewenang mereka (secara institusional) lumayan besar buat “ikut campur”,walaupun status dosen-dosen itu hanya sebagai pengawas, yang di peraturan himpunan mungkin tidak memiliki hak suara. terlebih lagi, secara legalitas, acara PAB ini ternyata tidak mendapatkan izin dari pihak Universitas (gw gak tau detailnya, kalo gak salah acara PAB gak boleh dilakukan diluar kampus).
KESIMPULAN
Ada baiknya dikaji ulang batasan yang boleh atau tidak boleh dilakukan dalam acara PAB ini.
(susunan kalimat yang aneh, ga apa2 lah..Blog temen gw ini).
terus, peraturan yang udah dibuat jangan seenaknya dilanggar. kalo ga boleh maen fisik, yaudah ga boleh aja… jangan nyolong2 kesempatan di ujung acara ketika grafik emosi mencapai puncaknya. gak konsisten pisan. gak punya cara laen apa buat ningkatin grafik emosi orang?
akhirnya, itu semua hanyalah pendapat gw doang,
)
seorang anak manusia yang telah menjalani segala birokrasi dan prosedur untuk menjadi anggota Himpunan yang kini telah mati (HMTB,red), yang sebenarnya belum mati juga sih, cuma ganti nama mungkin… ibarat minum air dari gelas bekas minyak yang gelasnya belum dicuci pake sunlight..
tetep aja airnya “hinyai” (Hinyai: bahasa sunda untuk menjelaskan keadan air yang bercampur minyak, Oxford dictionary 8′th Edition
akhir kata, Cucilah gelas anda dengan Sunlight,,, bersih bersinar…Sunlight!!!
Setuju, kita bawa ke mahkamah konstitusi, peraturan seperti apa yang paling ideal.
Yang penting fungsi dan tujuan kegiatan semacam itu harus dipetakan dengan kongkrit, kegiatan apa ini teh, siapa pelaksananya ini teh, dimana pelaksanaannya ini teh, kapan ini teh dilaksanakan, dan kenapa, alasan apa yang paling MENDASARI hingga kegiatan ini teh menjadi penting untuk dilaksanakan, hasil apa yang akan dicapai, alat ukur keberhasilannya apa saja. (misalnya: kepuasan pribadikah, kesenangan golongankah, atau sesuatu yang sangat idealis seperti: kegiatan PAB diharapkan membentuk mental dengan sempurna layaknya seorang pejuang hingga JPTA menjadi jurusan dengan mahasiswa yang berdisiplin tinggi, bermental baja, berkreativitas, dan memiliki kekuatan inovasi dan atau semangat perjuangan “kependidikan” yang hebat) dst.
Entahlah, ku tak tahu apakah telah terjadi pergeseran tujuan atau memang sejak tekbang berdiri sudah ada yang seperti ini.
Alternatif ide, selain ide mentok old school itu antara lain: Kalau gambaran PAB itu berfungsi semacam training and development atau self development, yang seperti di semua perusahaan besar melakukannya. Misal dengan pelatihan berkala, rutin, dan konsisten sebulan sekali atau seminggu sekali atau bebaslah tergantung kondisi, kita bikin rutinitas misal mendatangkan arsitek, IAI, atau persatuan guru tekbang se bandung, atau alumni UPI yang sudah sukses, mungkin humas Adikarya, direktur x, atau apapun, pelatihan fisik dan mental memang perlu dan harus, dan seharusnya rutin, terprogram, tidak setahun sekali, banyak juga fasilitas yang menyediakan hal ini. Dana? Ah, ini masalah kreativitas dan link saja. Kemping? Pelatihan kepemimpinan, pelatihan manajemen, seminar beasiswa, seminar ini, seminar itu, training motivasi, dll, mendatangkan dosen tamu, dll semua itu bisa dilakukan. Masalah pengelunjakan, itu bisa diantisipasi dengan sikap, contoh, cara bergaul, berkomunikasi, dll, dalam rangkaian waktu bertahun2 kuliah, tidak dalam waktu 2 malam, dengan melakukan “tekanan mental” yang lebih sering berlebihan.
Perlu diingat sejumlah kampus lain sudah menghentikan budaya seperti ini, karena memang tidak efektif dan bertolak belakang dengan budaya pendidikan. Bahkan di ITB ada ancaman DO buat oknum mahasiswa yang terbukti melakukan kekerasan dalam masa orientasi mahasiswa. Disana kalau gak salah ada istilah “swasta” or alumni versus panitia…
Tiada yang lebih puitis selain bicara tentang kebenaran (Gie)
mahasiswa sebagai agen of change harus bisa membuat sesuatu yang baru keluar dari kekacaun yang ada, membuat sebuah perubahan atas segala hal yang dianggap tidak pantas, dengan semangat idealisme yang tinggi mahasiswa bisa ciptakan sebuah perubahan besar, banyak yang mesti mahasiswa ubah…..banyak peer yang ditinggalkan orang-orang sebelum kita…….itu jadi tugas kita semua …………sebagi mahasiswa
sebelumnya mohon maaf kepada temen2 KMA Kridaya serta panitia PAB saya tidak bisa mengikuti PAB, tapi alhambulillah temen2 dari angkatan saya bisa meluangkan waktunya untuk datang, dan saya mendapat beberapa review dari hasil PAB tersebut dari beberapa teman angkatan yang jelasnya tertuang dalam blog ini……
Semangat perubahan organisasi mahasiswa tekbang (HMTB) menuju Keluarga mahasiswa Arsitektur Kridaya (KMA KRIDAYA) dilatar belakangi oleh sebuah keinginan untuk mereformasi Budaya HMTB, yang hanya melaksanakan rutinitas yang biasa dilakukan oleh kepengurusan-kepengurusan sebelumnya, tanpa mau berfikir ulang mengenai, manfaat, efektifitas, efisiensi, serta kebutuahn dari para anggotanya.(versi Saya.Red)
ketika KMA Kridaya sekarang hadir harapannya KMA Kridaya saat ini bisa berubah, bisa tampil beda, dan berinovasi membuat yang baru, jangan hanya terpaku kepada sesuatu yang telah biasa terjadi, harus dipikir ulang dan direnungkan kembali, agar sertiap apa yang dilakukan tidak keluar dari apa yang diinginkan oleh angggotanya, (Sebagai Pemilik)
PAB yang dilakuakn saat ini apakah ini memang produk dari KMA Kridaya saat ini? ataukah hanya warisan budaya? itu yang harus dipahami, oleh kita semua sebagai WARGA KMA KRIDAYA.tidak salah jika memang budayanya bagus tapi jika tidak mari kita pikir ulang…
saya sepakat kepada tulisan teman saya diatas yang mencoba memberikan feedbeck dari kegiatan PAB saat ini, apa dan bagaimana manfaatnya apakah tujuan dari diadakanya PAB tercapai ? dan tentunya ditanyakan kepada Maru sebagai Konsumennya.
kita coba buka mata, dunia ini luas HIMA itu banyak, coba kita study banding kepada himpunan lain bagaimana proses kaderisasi disanan mungkin ada yang lebih baik, lebih efektif, lebih terasa manfaatnya, minim negatifnya, dan tentunya lebih murah…..dari sudut pandang EKONOMI saya memandang lebih (COZ KADER KOPERASI)…..kita bisa manfaatkan dana yang segitu banyaknya untuk kegiatan PAB, untuk kegiatan lain yang lebih terasa manfaatnya oleh mahasiswa…… bikin seminar nasional terntang arsitektur misalnya ? panitianya dari mahasiswa baru…… Pengurus himpunan,mahasiswa angkatn atas, serta dosen dan JPTA arahkan mereka membikin acara yang sekretif mungkin, sebaik mungkin yang bisa mengangkat nama JPTA, dan UPI ke kancah nasional, kita alihkan point2 yang ingin dicapai memalui PAB melalui panitia ini, saya pikir lebih rasional, dan lebih intelektual…….dan aspek yang ingin dicapainya lebih megang ke leluruh aspek masalah yang diungkap( Psikologis, Militer (kalo saya lebih senang dengan Aspek ProFesional), Pendidikan, Arsitektur Spiritual, Hukum, Politik, Ekonomi,Budaya,Sosologi)jika acaranya sukses tidak menutup kemungkinan panitia (MAru) mendapat keuntungan berupa materil, bukankah saat ini kita perlu untuk mengenbangkan jiwa entrepterneur dikalangan mahasiswa agar tidak ada lagi sarjana yang bisanya mencari kerja dan membebani pemerintah dengan lapangan kerja.
mungkin itu yang bisa disampaikan
Semoga Semangat Berubah menuju lebih baik selalu tertanam dalam diri kita…..amin
Ada tambahan contoh kasus, bahwa kemarin-kemarin di ITB ada seorang ketua himpunan yang di culik dan dipukuli, hilang dari peredaran selama 8 hari, dan akhirnya ditemukan di Tasikmalaya dalam keadaan linglung…Silahkan cek isu ini ke mahasiswa planologi ITB.
Analisis yang berkembang, bahwa kejadian itu pada masa ospek, dan kalau di ITB ospek teh pas tingkat dua. Nah, di mungkinkan ada mahasiswa yang menggunakan kekuatan “mafia” nya di luar kampus untuk membalas aksi panitia ospek yang dinilai kelewatan.
Nah???
miph..seperti biasa, datanya lengkap dan akurat..
jadi inget PAB dulu, direndem (emang cucian..) di danau yg ga jelas, padahal banyak kecebong, mana diriku wktu itu lagi datang bulan..heuheu..jijay bgt ya..T_T..
nampaknya ya ini teh, pengaruh alumni yg terlalu besar, padahal alumni jaman antah berantah (baca: miing dkk..) itu eksis klo ada acara “pembantaian” doang.. panitia nya teh suka ga bisa mengendalikan alumni yg sudah bertindak diluar batas, wong senior, mana berani juga..
Sebaiknya acara PAB dihentikan saja/diganti dengan yg lebih ng-ARSITEK..
heuheu..so iyey pisan..
yu ah..semangat bwt yg masih muda2..
hmm…ketinggalan berita hot nih gw tampaknya….dari kasus tentang prodi mpe PAB yang slalu sama betaon-taon….
PAB..PAB..Pendidikan-Aksi Brutal,,,ho3 bener ga???dan kasusnya tiap taun slalu sama..ada Miing CS yang sok tua dan kuasa..walopun gw ga pernah ngikut PAB..atw cm liat maru dikerjain doang tapi kayanya gw nasteung aja klo tiap taun Miing CS slalu ngekor2 mulu…gada kerjaan laen apa tuh orang?? kontribusi dy sbg alumni sama kampus tuh jadinya cuma buat nyiksain anak baru doang??? what a foolish job…
buat gw pendidikan mental bukan cuma disiksa dan ngerasain penderitaan2 para alumni zaman heubeul bwt dibebanin ma anak baru…pendidikan mental dibawah tekanan kaya zaman orba gitu udah ga mempan dipake anak sekarang…yang ada malah dendam yang membara yang berakhir dalam acara bermuram – durja(naon sih)…harusnya ada cara lebih efektif dalam bentuk simulasi2 laen daripada pendidikan model mi;iter gitu…emang kita wamil apah??? trus di luar dunia kampus emang berguna?yang ada malah mencetak preman2 cap kecoa model miing dkk…nyiksa orang ko yah bangga…sableng!
gimana seh…katanya upi religius,beradab,,,,tapi praktek kekerasan masih merajalele…he3!kalo gitu mah laporin ajah ma polisi bilang ada praktek kdrt…ho3.ga ada perubahan sampe kapanpun klo orang2nya(dalam hal ini alumni dan senior) klo masih punya pikiran yang ortodoks..kapan lengser coba rezim Hitler n Lenin versi Miing CS klo qt ga reformasi?????
well its need hard work….
wassalam wr.wb
Bismillah…
Hm…makin rame aja blog nya kang
PAB…’Pembantaian’ Anggota Baru?Beruntung saya lahir di tengah-tengah proses ‘perceraian’ Sipil & Arsitektur, sehingga bisa bergabung di himpunan tanpa harus melewati proses ‘pembantaian’ tersebut. Tapi, walau belum pernah menjadi peserta PAB, saya pernah bergabung dalam kepanitian PAB ‘perdana’ KMA KRIDAYA.
Jujur saja awalnya saya malas untuk bergabung di kepanitiaan tsb. Saya fikir pastilah kemasan acaranya gitu-gitu aja…seputar bentakan, tamparan, dan makian di session awal, lalu guyonan dan senyum serta kata-kata manis di session berikutnya. Kalau diibaratkan himpunan sebagai restoran, kayaknya gak bakalan laku tu restoran….tiap hari selalu menyajikan satu ‘menu’ yang sama, di LDKM… di PAB… Tapi, ada semacam perasaan bersalah sebagai anggota keluarga KRIDAYA, jika saya justru ‘lari’ dan membiarkan ‘awan hitam’ kembali menaungi rumah ini (KMA). Saya mencoba memandang KMA KRIDAYA sebagai sebuah ‘dunia’ baru yang siap tuk membangun ‘peradaban’ yang baru pula.
Walhasil…PAB maru angkatan’07 usai, dan lagi-lagi!!! maru dibekali oleh-oleh yang sama dari tahun ke tahun….senior yang tersenyum lebar sementara dihadapannya puluhan maru dengan wajah-wajah ‘menghawatirkan’,tamparan, pukulan,….seolah PAB menjadi ajang pesta pora ’srigala haus darah’. Tak hanya itu, hal yang paling mengecewakan adalah sulitnya melaksanakan sholat tepat waktu (udah mah harus sholat dengan pakaian kotor, ngaret pula sholat-nya…. Masya Allah…)padahal salah satu tema PAB waktu itu mengangkat tema religious.Meskipun sudah berusaha mengingatkan panitia lain, tapi…akh sudahlah…pada akhirnya saya cuma bisa menangis lahir-batin. Mudah-mudahan Allah mengampuni karna tidak mampu berbuat banyak saat itu…Astaghfirullah…
Hm…mungkin itu cuma sedikit pengungkapan kekesalan yang sampai saat ini belum juga hilang. Saya harap kedepannya KMA KRIDAYA mampu belajar dari “umat-umat” himpunan terdahulu, sehingga tidak mengulang kesalahan yang sama, sistem kaderisasi yang sama (kalau boleh dibilang ‘kuno’). saya rasa hanya omong kosong saja jika kita enggan menghilangkan ‘premanisme’ dalam sistem kaderisasi kita dengan alasan mahasiswa baru nantinya ‘nglunjak’, and bla…bla…bla…
Jika kita mengharapkan perlakuan ’selayaknya’ dari para junior, tak usah pake kekerasan segala. itu mah pinter-pinter kita aja untuk ‘mengemas diri’, meng-Up grade otak dan keahlian hingga pada akhirnya, tanpa diminta para junior pun akan menghormati & menghargai para senior-nya, tul gak?!
“Tidak ada sesuatu yg paling di sesali para penghuni syurga, kecuali atas satu saat yang pernah dilewati di dunia yang tidak mereka gunakan untuk mengingat ALLAH di didalamnya” (HR. Thabrani )
For all…mari berjuang untuk perubahan. Ingatlah bahwa setiap langkah kita akan dipertanggungjawabkan pada akhirnya, tentunya kita tak mau menyesal di penghujung jalan kita bukan?!
Mari saling mengingatkan, bahu membahu berikan ‘pendidikan’ terbaik bagi para junior hingga kita mampu mencetak generasi yang lebih baik,para ‘arsitek peradaban’, yang mampu mengeluarkan kita dari ‘zaman kegelapan’ (minadzhulumatin ila nuur)
Maaf kalau ada perkataan yang keliru, yang gak berkenan di hati…
Wassalam
Alhamdulillah, akhirnya ada respon dari adik angkatan, ini pisan yang ditunggu-tunggu. Semoga kita semua diberi kekuatan untuk meyuarakan kebenaran, menghabisi ketidakadilan, memperjuangkan sesuatu yang ideal, menjunjung langit tepat dimana kita berpijak, dan bekerja, mengisi aktifitas layaknya seorang mahasiswa yang benar-benar mahasiswa, dengan cara mahasiswa.
Monggo, silahkan, mangga, blog ini terbuka buat seluruh mahasiswa JPTA, dan seluruh mahasiswa JPTA diundang untuk berdiskusi di sini. Jangan pernah ragu menyuarakan kejanggalan dihatimu, ketidaksesuaian dihadapanmu, sesuatu yang tampak mengganggumu, dalam proses perkuliahan dari A-z. Kita coba cari jalan keluar. Karena kata orang bijak, masa depanmu adalah “apa yang kau kerjakan hari ini”. Dan teori berkehidupan yang paling mendasar sesuai dengan pesan Nabi, “Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini“
91 kang hendri
[ 93 kang miing ]
94 kang momod
95 kang ehan
96 kang denny boy
97 kang bronki
pak fauzi 95
pak nur 96
Ini beberapa info angkatan “tokoh” UPI
tolong jelaskan secara explisit apa maksud tokoh dan angkatan2 itu miphz…
biar kita tahu peran2 mereka, dan berada di kubu mana mereka…
hohohohohohohohohohohohohohoho…
kok upi masih ada budaya barbar… udah nggak jaman tuh
HAhahahaha….ternyata Miing dkk masih hidup….
aku gak pernah ikut PAB dari dulu juga walaupun ditakut-takuti ga bakalan punya temen atau bahkan ga bakalan diakui sebagai anak Tekbang waktu itu (nah cara kaya gini biasanya yang dipake Senior untuk junior terpaksa ikutan PAB)….karna saya tau acara tu bakal jadi acara pembantaian (soalnya dari registrasi terus OSpek Fakultas dan LKDM aja saya dah dapet lebih dari 5o tamparan)…
nyata nya teman saya tetap banyak dan panggilan anak Tekbang tetap saya miliki (taun berikutnya saya bisa jadi panitia PAB, dan hampir tiap tahun saya ikuti juga)….
nah sebetulnya Panitialah yang bertanggung jawab atas penyiksaan yang terjadi jangan salahkan senior karena ga semua senior seperti itu, Panitia harus bisa menjaga supaya ga terjadi penyiksaan2 seperti itu lagi, tapi bagaimana caranya ya?
coba berikan porsi yang cukup buat mereka sebagai pemateri mungkin, atau adain acara buat mereka reuni di PAB tuh kalo perlu bikin panitia penerimaan alumni di PAB, kumpulin mereka/isolasi aja sekalian wahahaha (soalnya yang saya tau mereka datang untuk reuni dan senang2)….,pokoknya jangan sampai tuh mereka ngejamah kegiatan PAB kalian kalo masalah dana minta aja ke mereka toh saya yakin mereka udah pada punya uang kok…
gitu aja dah salam buat semua adik angkatan…
[ http://dhimaskasep.wordpress.com/2009/02/09/meninggalnya-mahasiswa-itb-saat-ospek-tantangan-bagi-km-itb-ke-depan/#comment-5473 ]
[ http://dwinanto.wordpress.com/2009/02/09/meninggalnya-mahasiswa-itb/ ]
- Haruskah kasus seperti ini kembali terjadi akibat kekerasan yang dibayangi senioritas?
- Bisakah kita menggunakan kekuatan intelektualitas jauh lebih besar dari pada kekuatan fisik untuk membentuk mentalitas?
Selama tidak ada perubahan, maka tunggu saja kasus berikutnya, ini masalah budaya dan kebiasaan, jadi cara menyelesaikannya adalah dengan budaya dan kebiasaan baru, tidak cukup hanya dengan satu atau dua orang yang perlu masuk dan mendekam di balik teralis – maka masalah ini akan selesai – tapi harus ada gerakan bersama dan semua pihak terkait bekerja sama, dengan satu visi, perubahan budaya barbarian klasik menjadi budaya pembinaan mental yang baru.
@Deri, tokoh2 itu hanya beberapa orang yang kita kenal dari beberapa angkatan senior, berkaitan dengan data-data intelijen kita, masih banyak kemungkinan analisis yang layak menjadi prioritas
Sejauh ini baru Mr.X itu yang dinilai sangat terkait dengan kasus ini… Kita lihat saja perkembangan kasusnya…
@muxonated Iya nih, budaya bar-bar, pemikiran bar-bar, sikap bar-bar, perilaku bar-bar, dkk masih ada saja di sekitar kita…
@Someone From Tekbang’98
Wah, terimakasih ya sudah menanggapi, semoga para alumni yang lain juga bisa berperan nih untuk membimbing adik angkatannya menuju harapan ospek yang lebih baik. semua ini kita lakukan untuk kepentingan bersama, membangun sebuah institusi yang solid, agar dunia dosen, mahasiswa, serta alumni bisa terintegrasi dalam sebuah ikatan iklim TEKBANG yang indah, edukatif, ilmiah, dan tentu saja religius.
Efeknya jika ini bisa terlaksana? Perbaikan dan peningkatan citra serta pengakuan pihak eksternal UPI atas JPTA/Tekbang akan semakin baik.