Archive for March, 2009

31
Mar
09

Elegance

anthurium_-_elegance

Elegance is the attribute of being unusually effective and simple. It is frequently used as a standard of tastefulness, particularly in the areas of visual design and decoration.

Some westerners associate elegance with simplicity and consistency of design, focusing on the main or basic features of an object, its dignified gracefulness, or restrained beauty of style.

Visual stimuli are frequently considered elegant if a small number of colors and stimuli are used.

Synonyms: classy

9848-2006-bmw-m6

Closed to simplicity and consistency of design

Elegance is about the gratuitous (serampangan, asal-asalan) — or, rather, avoiding the gratuitous.  It’s true that sometimes people disagree about which of two or more things is the “most elegant”, but this arises from underlying assumptions rather than any true subjectivity of the principle. Each of us has a set of operating assumptions, some greater than others. Where something conforms to one’s expectations and assumptions, it is seen to not lack in elegance in that manner. Someone that does not have the same underlying assumptions might see the same thing as atrociously inelegant, but having a different set of assumptions would overlook similarly subjective.

14371

“Simplicity is the ultimate sophistication.” — Leonardo da Vinci (1452–1519)

“Things should be made as simple as possible, but not simpler.” — Albert Einstein (1879–1955)

“Dream big, simple act.” – Miphz ;-)

31
Mar
09

COMPLEXITY IN SIMPLICITY

Apa yang terpikir oleh kita tentang Building the Elegance? Apa Elegance itu? Apa yang membentuk Elegance? Bagaimana proses terjadinya Elegance? Apa yang terlihat ketika Elegance terbentuk? Apakah Elegance berhubungan dengan estetika?

Adakah efek yang ditimbulkan ketika suatu objek Elegance hadir di tengah-tengah kita?

red-rose-bud-on-stem-f

Banyak pertanyaan-pertanyaan yang timbul ketika kita mendefinisikan Building the Elegance. Kita dapat menganalisa dari kata Building the Elegance. Building yang dimaksud disini menggambarkan suatu proses yang terjadi sehingga Elegance itu dapat terbentuk. Proses ini memiliki pengertian membangun atau mendirikan sebuah objek Elegance berdasarkan pada sebuah atau beberapa prinsip, syarat, dan peraturan. Ketika proses membangun itu terjadi maka terdapat peluang terjadinya proses penambahan pada objek tersebut.

Proses yang terjadi merupakan proses yang dinamis. Proses terjadi pada saat sebuah objek hadir sampai membentuk sesuatu yang Elegance. Proses tidak terhenti disatu titik tetapi terus berlanjut hingga objek Elegance tersebut bertumbuh dan berkembang. Proses ini mengandung nilai kontinuitas dan kesinambungan. Kontinuitas ini memiki ritme dan pola tertentu yang disesuaikan dengan space atau place dari keberadaan objek tersebut.

Elegance itu sendiri sering diartikan dengan objek yang memperlihatkan kehalusan, keanggunan, kesederhanaan, dan kemurnian. Elegance is the attribute of being unusually effective and simple. It is frequently used as a standard of tastefulness, particularly in the areas of visual design and decoration. Elegant things exhibit refined grace and dignified propriety.

Some westerners associate elegance with simplicity and consistency of design, focusing on the main or basic features of an object, its dignified gracefulness, or restrained beauty of style.

Others understand the word in an opulent light as in tasteful richness of design or ornamentation. ( Wikipedia ).

Bagaimana sebuah objek dapat disebut Elegance? In the everyday, Elegance is wholly subjective attribute. Whether we deem someone to be ‘ Elegant’ is entirely dependent on our own personal perception of their outward appearance. ( Manuel Delanda, AD Journal, hal : 18 ).

Elegance merupakan sesuatu yang sifatnya subjektif. Pengertian Elegance dapat berbeda antara satu orang dengan yang lainnya. Hal ini disebabkan persepsi manusia dalam menilai sebuah objek berbeda-beda. Elegance pertama kali terlihat dari fisik suatu benda, oleh karena itu penampakan luar dari sebuah objek Elegance sangat penting.

Elegance itu sendiri terbentuk oleh beberapa elemen yang saling berhubungan antara yang satu dengan yang lain. Elegance berhubungan dengan sebuah estetika yang dapat ditangkap oleh visual penglihatan kita dan dapat dirasakan secara emosional. Proses terjadinya Elegance didukung oleh faktor eksternal dan faktor internal yang saling berintegrasi satu sama lain.

Elegance harus bisa mengatasi segala hambatan yang datang dari faktor eksternal. Ketika hambatan itu datang, maka hambatan itu akan menjadi sebuah masalah yang kompleks. Elegance harus bisa mencari solusi untuk masalah yang kompleks itu. Ketika suatu solusi didapatkan dengan mengubah hambatan negatif menjadi sesuatu yang bersifat positif, maka solusi itu disebut solusi Elegance. We also talk about an elegant solution to complex problem. In fact only if the problem is complex and difficult does the solution deserve the attribute ‘elegant’. While simplistic solutions are pseudo-solutions, the elegant solution is marked by an economy of means by which it conquers complexity and resolves ( unnecessary ). ( Patrick Schumacher, AD Journal, hal:30 )

Ketika sebuah Elegance terbentuk maka kita bisa melihat kehadirannya sebagai suatu yang positif. Kehadirannya dapat meminimalisir nilai-nilai negatif yang ada pada sebuah space atau place. Kita dapat melihat sebuah keunikan dari kehadiran Elegance di sebuah space atau place. Ada sebuah cerita yang menggambarkan keunikan dari Elegance itu sendiri.

[] taken from: everydayarchitecture.wordpress.com []

31
Mar
09

Kapan ya bisa presentasi kayak gini di Dubai?

dsc_7294

31
Mar
09

Awaken the Giant Spirit Within

Karya seorang arsitek sering kali diidentikan sebagai sebuah massa bangunan yang dirancang dengan indah oleh seorang arsitek. Di dalam pandangan ini, arsitektur dilihat sebagai sebuah hasil atau produk atau tujuan akhir dari perancangan itu sendiri. Namun, apa yang saya pelajari dan pahami dari kegiatan yang dilaksanakan oleh Education Care Unit di sebuah Sekolah Dasar yaitu SDN 03 Guntur di Jalan Halimun, Jakarta Pusat, Sabtu, 13 Desember 2008, lalu, sungguh mengubah pandangan saya tentang karya arsitektur. Sebuah karya arsitektur yang berkelanjutan (sustainable architecture).

Apa yang dikerjakan oleh Education Care Unit (ECU) yang diprakarsai oleh dosen-dosen saya di Fakultas Teknik, Jurusan Arsitektur, Universitas Indonesia yaitu Bpk.Yandi Andri Yatmo PhD, Ibu Paramita Atmodiwirjo PhD dan Bpk. Didi Pramujadi, bukanlah merancang sebuah massa bangunan yang mereka sebut ’sustainable’. Mereka membangkitkan kesadaran dan merancang pola pikir anak-anak tentang kepedulian terhadap lingkungan mereka sendiri. Disini arsitektur bukan menjadi sebuah produk akhir, namun menjadi sebuah instrumen.

Isu-isu lingkungan lingkungan seperti kerusakan hutan, laut,energi, sampah, polusi dan lainnya hingga isu pemanasan global menjadi hal yang sangat diperbincangkan di berbagai kalangan di dunia. Hal ini bukan hanya terjadi di kalangan pemerhati lingkungan saja, namun juga mereka yang bergelut di lingkup arsitektur bahkan hingga kepala negara di hampir seluruh dunia. Peran arsitek untuk mengurangi dampak kerusakan lingkungan, selama ini, melalui desain-desain bangunan ramah lingkungan, zero waste, green building atau apa pun namanya, memang patut kita puji, terlebih apabila arsitektur dipandang hanya sebagai sebuah tujuan. Namun yang menjadi permasalahan utama saat ini dan masa depan, jauh lebih besar dari itu, yaitu semangat (spirit) dan kesadaran masyarakat akan pentingnya kepedulian terhadap lingkungan serta implementasinya. Dari titik inilah kemudian arsitektur dan segala ilmu dengan teknik yang ada di dalamnya dapat masuk ke masyarakat dan akan sangat berperan dalam mengurangi degradasi lingkungan, bukan sebagai sebuah tujuan, namun sebagai sebuah proses dan instrumen.

Di Indonesia, buruknya mutu pendidikan menjadi faktor paling kuat yang menyebabkan minimnya semangat kepedulian dan respons terhadap lingkungannya. Kurangnya pengetahuan menjadi alasan klasik saat menilai perilaku masyarakat perkotaan di Indonesia yang masih dinilai primitif bagi negara-negara maju dunia. Membuang sampah ke sungai, menimbun sampah plastik di dalam tanah dan sebagainya, merupakan contoh nyata yang dekat dengan keseharian kita. Mereka yang mengetahui bahwa  perilaku diatas merupakan jalan keluar yang kurang tepat pun sering kali tidak tahu harus berbuat apa. Hal ini agaknya membuktikan bahwa pendidikan yang diterima oleh masyarakat kita, sebagian besar belum menekankan semangat untuk menerapkan dan mengembangkan pengetahuan itu sendiri. Kurangnya kreasi, inovasi dan semangat berproduksi membuat pendidikan bahkan tidak mampu menciptakan sumber daya manusia yang mandiri.

Pendidikan yang berlangsung satu arah yaitu dari atas (otoritas guru) ke bawah (anak didik) bisa jadi merupakan penyebabnya. Sistem pendidikan seperti ini memang terlihat lazim di sekolah-sekolah di Indonesia, terutama pada tingkatan Sekolah Dasar. Padahal sistem pendidikan seperti ini hanya akan menjadikan siswa didik sebagai penerima ilmu yang diberikan oleh sang guru. Sering kali bahkan sang guru salah dalam menyampaikan ilmunya sehingga terjadi salah persepsi diantara siswa didik. Lebih parahnya lagi, ilmu yang yang disampaikan oleh guru acap kali dianggap sebagai harga mati yang kemudian mempengaruhi penilaian jawaban mereka saat ujian sekolah.

Sistem pendidikan semacam itu telah membuat anak-anak kehilangan kekritisan dan kreativitasnya, karena mereka takut salah. Mereka menjadi sangat bergantung pada ‘guru’, menunggu perintah, menunggu untuk diberitahu, disediakan, atau dengan kata lain, ‘disuapi’ sesuatu yang mereka tidak benar-benar mengerti. Padahal, kreativitas tidak datang dari sesuatu yang serba pasti, ia datang karena adanya kebebasan, keingintahuan, proses berbuat, dan tidak takut salah.

Pendidikan di tingkat sekolah dasar sering kali juga kurang tepat dalam menyampaikan konsep-konsep pemikiran dalam hubungannya dengan masalah sehari-hari. Sebagai contoh, ketika saya dulu duduk di bangku sekolah dasar, apa yang selalu dikatakan oleh guru adalah bahwa kita harus ‘membuang sampah pada tempatnya (tong sampah)’. Mengapa? Karena jika tidak akan menyebabkan kotor, banjir, penyakit, bau busuk dan sebagai macamnya. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana jika tong sampah (’tempatnya’ sampah) tidak ada. Anak-anak biasanya akan terus mencari dan ketika mereka putus asa, tempat apa pun akan menjadi ‘tempatnya’. Penyampaian pola berpikir terhadap penyelesaian masalah pada anak-anak sekolah dasar yang sering kali kurang tuntas telah membuatnya mudah sekali tergantikan oleh pola berpikir praktis. Alasan membuang sampah sembarangan sebagai penyebab banjir, akan menjadi omong kosong bagi anak-anak ketika hal itu tidak juga terjadi padahal mereka melakukannya setiap hari.

Dengan latar belakang inilah saya melihat hadirnya ECU dengan konsep pendidikan yang membangkitkan dan mengembangkan semangat kreativitas, kekritisan dan proaktivitas yang berkelanjutan sebagai sebuah inovasi dalam paradigma pendidikan. Dengan berbekal pengetahuan arsitektur yang telah saya dapatkan selama kuliah dan dengan pengarahan dosen, saya ikut merasakan sendiri metode baru pendidikan yang berupaya untuk menggali lagi semangat belajar, berkreasi dan berpendapat pada anak-anak kelas 4 SDN 03 Guntur. Saat itu, tim ECU membuat semacam lokakarya dengan tema rumah dan lingkungan yang sehat, saya menjadi salah satu fasilitatornya.

Kegiatan diawali dengan perkenalan antara pembimbing dengan anak-anak yang dibagi ke dalam beberapa kelompok berisi delapan anak, dengan satu sampai dua pembimbing di dalamnya. Perkenalan ini hal kecil, namun sangat penting. Di tahap inilah pembimbing (fasilitator) dengan anak-anak mulai saling membangun kepercayaan dan semangat mereka dalam melaksanakan pembelajaran ini. Tanpa keyakinan dan saling percaya, pembelajaran ini hanya akan menjadi formalitas semata.

Perkenalan kemudian berlanjut dengan diskusi di dalam masing-masing kelompok yang sebenarnya lebih menyerupai sharing, menceritakan mengenai keadaan rumah mereka. Ada yang panas, pengap, ada yang gelap, ada yang selalu bersih karena rajin membersihkan rumah dan sebagainya. Mereka juga tak segan-segan bertanya kepada saya mengenai kondisi rumah saya saat ini dan hal ini membuat saya yakin bahwa mereka adalah anak-anak yang cukup proaktif, sehingga akan lebih mudah bagi saya untuk membimbing mereka.

Kegiatan saling bercerita itu kemudian dipandu dengan sebuah lembar isian yang di dalamnya terdapat pertanyaan-pertanyaan seputar keadaan rumah mereka terkait dengan rumah sehat. Dalam mengisinya, mereka tak perlu saling menyontek, mereka hanya perlu menceritakan sebanyak yang mereka mau, sebaik yang mereka tahu, dan dengan bahasa mereka sendiri. Bahkan jika mereka kehilangan inspirasi dalam menjawabnya, mereka bisa bertanya kepada kami pembimbingnya agar dapat menggali lagi pengetahuan dan cerita mereka. Disini, mereka lah yang berkepentingan, mereka lah yang ingin tahu dan ingin mencari sebanyak mungkin jawaban. Kita memberikan mereka ‘ruang’ seolah mereka lah yang paling mengerti tentang lingkungan mereka sendiri, dan dengan mempercayai mereka, kita juga akan dengan mudah mendapatkan kepercayaan.

Hal kemudian berubah menjadi agak sulit pada saat diskusi ini mencapai tahap yang lebih lanjut yaitu pemetaan pikiran: menemukan alasan atau penyebab dari setiap masalah dan kemudian mencari solusinya. Misalnya, masalah ruang kamar yang panas / pengap, penyebabnya karena tidak ada atau kurangnya ventilasi, solusinya seperti yang disepakati para anggota kelompok ialah dengan membuat atau memperbanyak ventilasi, memakai kipas angin atau AC. Disini anak-anak mulai terlihat kesulitan dalam mencari keterkaitan sebuah masalah dengan penyebab dan penyelesaiannya. Mereka mulai banyak sekali bertanya karena kurang yakin dengan pemikirannya meskipun ternyata pemikiran mereka sangat masuk akal dan nyata. Mungkin ini adalah akibat dari sistem pendidikan yang serba satu sumber, satu pemikiran, satu kalimat dan satu gaya bahasa tadi.

Di akhir bagian yang disebut pemetaan pikiran tadi, anak-anak akhirnya dapat melihat hubungan yang ada, mengelilingi sebuah masalah yang sebelumnya mereka temukan sendiri di lingkungan dan rumah mereka. Mereka akhirnya tidak lagi melihat sebuah masalah yang hanya dapat diidentifikasi, namun kini mereka tahu apa yang dapat mereka lakukan dengan melihat pada penyebab dari permasalahan itu sendiri.

Setelah proses pemetaan pikiran selesai, anak-anak terlihat seolah-olah telah melakukan sebuah upaya yang baik, sebuah jawaban / pengetahuan yang sudah cukup untuk mengakhiri pertemuan pagi itu. Mereka pun bertanya, ” Habis ini kita ngapain, kak? Sudah selesai ya?”. Saya pun menjawab mereka,” Belum. Ada yang lebih seru!”. kegiatan selanjutnya ialah siswa diajak membuat sebuah maket kompleks perumahan yang sehat sesuai dengan hasil diskusi tadi.

Berbeda dengan proses diskusi dan pemetaan pemikiran yang agak sulit, proses pembuatan maket ini disambut antusias para siswa. Suasana gaduh yang muncul selama proses diskusi kini berubah menjadi keasyikan tersendiri, membuat sebuah rumah sehat impian. Mereka sibuk dalam aktivitas dan imajinasinya masing-masing, selain tentunya memasukan apa yang telah mereka pelajari dalam diskusi. Disini anak-anak diberikan kebebasan berimajinasi dan sekaligus menerapkan pengetahuannya sehingga mereka dapat memiliki sense of belonging terhadap apa yang mereka buat.

Dengan bahan yang sederhana mereka sibuk menggunting, mengelem, dan menyusun karton dan kertas yang dibagikan. Mereka meminta bahan terbaik pada kami sebagai bahan membuat rumah mereka. Mereka kemudian menggambarkan jendela-jendela dan ventilasi pada rumah yang berukuran 5×10 cm dan tinggi 5 cm tersebut. Pohon-pohon sebagai elemen penghijauan dibuat deangan kertas krep atau daun-daun dari halaman sekolah mereka.

Maket dibuat dengan sederhana, namun sesuai dengan pemahaman dan imajinasi anak-anak. Hal ini dimaksudkan agar maket tidak dibuat sebagai produk prakarya semata, namun lebih memiliki makna dan cerita. Di sini, sama seperti arsitektur, model bukan hadir sebagai tujuan atau produk akhir, namun hanya sebagai instrumen untuk mencapai tujuan yaitu merangsang semangat dan kreativitas anak-anak terhadap pengelolaan lingkungan di sekitarnya.

Proses berikutnya tak kalah penting yaitu membuat refleksi dari kegiatan yang telah dilakukan pagi itu. Disini mereka diminta untuk menyampaikan kembali apa yang telah mereka kerjakan dan apa yang mereka pelajari. Bagian ini sangat penting untuk melihat bagaimana anak-anak menyerap pembelajaran yang telah diberikan kepada mereka.

Pembelajaran seperti yang dilaksanakan oleh ECU ini dapat menjadi cara lain bagi mereka yang memiliki pengetahuan di bidang arsitektur khususnya untuk membantu mengurangi permasalahan degradasi lingkungan yang terjadi semakin parah beberapa dekade terakhir ini. Hal ini bukan terjadi karena buruknya kualitas lingkung bangun, karena hal itu hanya lah sebagian dari akibat. Permasalahan yang sesungguhnya adalah kurangnya kepedulian manusia terhadap alam yang selama ini mereka ‘eksploitasi’. Arsitek harus dapat berperan lebih, bukan hanya sebagai ‘pembantu’ (membantu klien yang peduli terhadap lingkungan), namun justru sebagai pembangun semangat (spirit) dan kepedulian terhadap lingkungan itu sendiri di tengah-tengah masyarakat, terutama anak-anak sebagai generasi penerus dunia.

Hidup dan lingkungan yang lebih baik adalah dambaan bagi hampir 3 miliar penduduk dunia. Mereka semua mempunyai spirit untuk mewujudkan itu. Spirit menjadi begitu penting karena ia menjadi kekuatan raksasa bagi hadirnya sebuah perubahan. Namun ketika harapan semakin menjauh dari kenyataan, spirit pun dapat perlahan menghilang. Disaat kondisi seperti ini, besar harapan perubahan bertumpu pada generasi mendatang, sebagai pembawa perubahan. Pada esensinya proses pembelajaran altrnatif ini berusaha untuk membangkitkan spirit dan memberikan pemahaman sejak dini tentang pengelolaan lingkungan yang baik dengan cara yang menyenangkan. Spirit dan pemikiran yang sudah tertanam dengan kuat diharapkan akan terus terbawa dan dikembangkan, hingga kemudian pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan dapat terealisasi.

[] taken from: everydayarchitecture.wordpress.com []

31
Mar
09

11th International Bauhaus – Colloquium 2009

1263879734_architecture-in-the-age-of-empire

By Sebastian J — Filed under: Events , Bauhaus, Germany

On April 2-5, architectural theoreticians from around the globe will be coming to Weimar to debate the political and ethical challenges of globalization and how architecture responds to them.

In three plenary sessions 23 renowned international scientists will present their viewpoints. Among those invited are Philip Ursprung (Universität Zürich), M. Christine Boyer (Princeton University), Wolfgang Pehnt (Universität Bochum), Stanford Anderson (MIT), Philipp Oswalt (Stiftung Bauhaus Dessau) and Bill Hillier (University College London). The mornings are reserved for five workshops with a total of thirty presentations. The organizers wish to promote successful dialogue between established scientists and emerging scholars with this format.

The Bauhaus Colloquia, held in regular intervals since 1976, are the oldest and most esteemed conferences on architectural theory in the German-speaking world. Organized by the Chair of Theory and History of Modern Architecture at the Bauhaus-Universität Weimar, the colloquium is directed by Prof. Dr. Kari Jormakka and Prof. Dr. Gerd Zimmermann.

Opening Lectures on April 2, 2009, 10 a.m. at Bauhaus-Universität Weimar, Audimax, Steubenstraße 6, 99423 Weimar.

[ For more information, full program and registration, click here ]

[ Fiuh, berasa jadi arsitek lagi euy... ]




[ I s s u e s C a l e n d a r ]

March 2009
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Blog Stats

  • 20,469 hits

[v i s i t o r s t r a c k e r]


My blog is worth $564.54.
How much is your blog worth?

Click to view my Personality Profile page
Watch videos at Vodpod and other videos from this collection.