Kekerasan dalam Ospek

Sudah lama rasanya saya tidak nge-blog. Tiba-tiba hari ini dihujani bluffing spam yang tidak setuju/suka/tersinggung dengan tulisan saya (plus emosi yang berapi-api + menggunakan nama + email saya) – bisa di-trace IP adressnya. Satu kata, biasa. Namanya dunia maya, kadang setiap orang merasa bebas berpendapat dan marah-marah. Saya akui memang ada beberapa kalimat yang sangat panas – tapi itu tidak untuk dikomentari dengan kata-kata yang tidak senonoh. Anehnya tulisan itu saya buat 2 tahun lebih kebelakang, yang isinya pun saya hampir lupa, pertanyaan saya – kenapa tiba-tiba di minggu yang sama ada beberapa orang/ID komentar bersamaan? Sekarang (seluruh postingan + komentar yg keluar jalur) sudah saya delete, tapi filenya masih saya simpan, barangkali perlu untuk barang bukti. Tapi apa kemudian saya mundur? Saya justru termotivasi untuk membuka lebih luas dan dalam lagi wacana diskusi tentang ospek.

Well, Antara Ospek dan Kekerasan

Dalam dunia pendidikan, institusi mana yang tidak mengenal ospek? Saya sendiri belum paham asal usulnya. Untuk diketahui banyak sekali tulisan yang menyoal tentang ospek di blog lain, isinya sebagian besar sama – ketidaksetujuan dengan kekerasan dalam ospek, titik. Saya tidak menyinggung tentang pembinaan/orientasi/penerimaan anggota baru/dst, melainkan saya ingin fokus pada aspek “kekerasan” dalam kegiatan yang memiliki berbagai macam judul dan kemasan tersebut.

Dalam tulisannya yang berjudul Ospek dan Relasi “Tuan-Budak” Bang Sukron Abdillah berpendapat,

Relasi “tuan-budak” di dalam kegiatan ospek mahasiswa, semestinya dikemas secara etis dengan memperlakukan manusia lain secara mulia dan terhormat. Jadi, eksistensi mahasiswa senior “ada-untuk-menjaga-kebebasan-mahasiswa lain” bukan “ada-untuk-mengeksploitasi-kebebasan-mahasiswa liyan”.

Saya pikir perguruan tinggi sebagai pencetak tokoh publik, sudah semestinya memahami pencegahan kekerasan berkedok kaderisasi atau ospek secara lebih aktif dan kontinu. Termasuk mengatasi agar tidak terulang lagi korban jiwa yang diakibatkan kegiatan mahasiswa berbau perpeloncoan. Dalam ospek, rawan terjadi semacam pemusnahan kebebasan dan nyawa mahasiswa. Kampus, dalam perspektif saya, bukan lembaga yang menelurkan manusia budak nonesensial, bahkan bukan juga lembaga yang mencetak manusia bermental tuan yang biadab. Dari lembaga pendidikan tinggilah semestinya lahir sekelompok manusia beradab.

Karena Bang Sukron menulis dengan mengambil kasus ITB, kemudian tulisan di PR itu pun direspon oleh Bobby dalam tulisan berjudul “Meluruskan Paradigma Tentang Ospek”. Kasus ospek ketika itu adalah karena ulah oknum -bukan sistem,

Kegiatan ospek di Kampus ITB bukan menempatkan harkat manusia pada posisi yang berbeda sehingga dapat ditarik kesimpulan “Tuan dan Budak”.

Poin yang perlu digarisbawahi di sini adalah rencana ospek tidak dapat lepas dari sebuah kekeliruan dan risiko sama halnya dengan setiap aktivitas manusia lainnya. Kekeliruan dapat terjadi dengan disengaja maupun tidak disengaja. Akan tetapi, dalam konteks ospek ini kekeliruan dilakukan oleh oknum baik disengaja maupun tidak.

Setelah itu, Bang Syukron kembali menjawab tulisan Bobby di Blognya, Saya pribadi sangat setuju dengan opini berikut,

Sekarang publik bisa menilai, apakah dalam OS ataupun Ospek, dengan diganti penyebutan istilahnya sudah bersih dari praktik kekerasan? Ataukah masih terjadi? Perlu ditekankan bahwa kegiatan ospek tidak bisa tidak, saya katakan didalamnya rawan terjadi kekerasan terselubung. Itu terjadi apabila kekacauan paradigma dalam melaksanakan ospek terus dipelihara.

Dari 3 tulisan itu saya menemukan satu benang merah, adanya kekerasan (yang selalu ditutup-tutupi) dalam kegiatan ospek, di manapun, apapun institusi kampusnya. Relasi komunikatif sangat jarang dikedepankan dalam kegiatan ospek, akibatnya sering terjadi tindak kekerasan, terlepas dari persoalan pembinaan mental ataupun kalimat-kalimat klise yang lain.

Dalam tulisan saya yang sebelumnya, saya tidak berniat melakukan provokasi apapun, apalagi pencemaran nama baik. Adanya penyebutan nama, itu hanyalah keinginan saya untuk mengetahui bagaimana pendapat yang sebenarnya dari para Alumni TEKBANG UPI tentang PAB, titik. Kenapa saya ingin tahu? Karena saya merasa “pada waktu itu” ada tindak kekerasan yang menurut saya terjadi diluar batas, walaupun belum kebablasan. Koma, keinginan saya hanya satu, iya cuma satu hal, tidak ada kekerasan, titik. Tidak lebih.

Kembali ke soal kekerasan, ada tulisan menarik berjudul “Ospek dan Paradoks Idealisme Mahasiswa” di sini. Algaer mengutip teori yang sangat sempurna tentang ospek,

Dalam bukunya Pedagogi of The Oppressed (diindonesiakan dengan judul Pendidikan Kaum Tertindas, LP3ES, 1985) Freire mengingatkan bahwa dalam situasi penindasan, kaum tertindas melakukan identifikasi secara kontradiktif. Mereka mengidentifikasi dirinya sebagai mahluk yang terbenam, terhina, terlepas dan tercerabut dari kemanusiaannya. Adapun di hadapan mereka adalah kaum penindas yang berkuasa dengan harkat kemanusian yang sempurna.

Kaum tertindas sulit untuk menemukan citra diri di luar kontradiksi penindas-tertindas. Karena itu, bagi mereka, upaya pembebasan diri untuk mendapatkan harkat dan martabat kemanusiannya, adalah dengan menjadi manusia yang memiliki citra diri seperti yang mereka temukan dalam sosok para penindas. Teori  ini bisa menjelaskan mengapa seorang buruh yang diangkat menjadi mandor atas kawan-kawannya akan bertindak segalak dan sekasar majikannya, bahkan lebih. Atau dalam masa penjajahan Belanda dahulu, orang-orang pribumi yang diberi wewenang  oleh penjajah Belanda, yang di kenal sebagai londo ireng, seringkali malah bertindak lebih kejam dibandingkan Belanda itu sendiri.

Hal yang sama juga terjadi pada panitia Ospek. Yang paling dominan dalam kesadaran mahasiswa lama panitia Ospek tersebut adalah, Ospek merupakan arena terbaik untuk menampilkan citra dirinya sebagai penguasa. Citra diri itu mereka dapatkan, dahulu ketika mengikuti Ospek. Waktu itu, mereka sebagai pihak yang tertindas melakukan identifikasi bahwa alangkah enaknya, alangkah gagahnya, alangkah berkuasanya, alangkah bermartabatnya menjadi panitia Ospek.

Saya sangat kagum dengan Dekan Unisba yang langsung turun mengarahkan pelaksanaan Ospek Kampusnya. Bisa di lihat di sini, bahwa administrasi dan dosen kampus Unisba wajib terlibat dan langsung bertanggungjawab dalam setiap kegiatan ospek.

Karena ini zamannya Google, kita tinggal search gambar “ospek”, dan apa yang keluar? Ya, ada banyak sekali gambar, tapi sangat susah menemukan gambar/foto yang berkesan pembinaan postif. Dalam opini yang bernada serupa, banyak sekali tulisan seperti Ospek: Hal Terbodoh dalam Dunia Pendidikan atau kenapa Ospek harus Dihapuskan atau Kenapa Ospek harus Dilarang atau Ospek dan Militerisme dalam Kampus atau Ospek Legal atau Ilegal? atau Pelajaran dari Ospek: Saya Goblok atau Ospek Mahasiswa: Tradisi Balas Dendam atau Masih Jamankah Ospek dengan Kekerasan? atau Ospek, kenapa mesti Dilarang?

Sebelumnya, sekali lagi saya mohon maaf kepada beberapa pihak yang tersinggung. Saya sudah mendapat kabar dari beberapa angkatan maru, termasuk yang menjadi panitia PAB. Bahwa kekerasan dalam PAB UPI sudah tidak ada. Tapi, saya tetap akan terus pantau perkembangannya. Cheers.

Akhir kata, mari terus kita bangun KMA – Keluarga Mahasiswa Kridaya UPI, semoga bisa menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warohmah, amin.

Wallahua’lam.

15 thoughts on “Kekerasan dalam Ospek”

  1. mari kita duduk bersama untuk berfikir siapa yg perlu disalahkan..ingat adiku tidak ada yg lbh menyakitkan selain dikucilkan orang2..dan blog anda sdh membetuk pola fikir teman2 menjadi benci alumi, berfikirlah sblm berbuat..krn setiap perbuatan ada akibatnya..terimalah segala konsekwensinya..hanya selalu sekedar mengingatkan ketika kamu menunjuk seseorang hanya 1 jari tertuju pada orang itu dan 4 jari yg lain itu tertuju pada dirimu sendiri..jd tau kan maknanya, hati2lah sblm melakukan perbuatan..bs2 senjata itu jd bumerang bwt dirimu sendiri..

  2. Pasca spek yang saya alami 7 x 356 hari yang lalu, membuat saya reaktif pada 2 x 356 hari yang lalu – kekesalan itu benar-benar tumpah, dan sebenarnya saya hanya ingin menunjuk pada kekerasan, bukan alumni – apalagi institusi. Hari ini, saya meminta maaf atas tulisan sebelumnya jika terjadi salah persepsi hingga beberapa alumni jadi merasa dibenci, hari ini, saya akan duduk bersama …

  3. Pingback: Diskusi PAB «
  4. tunggu tulisan saya “Crime Forensic on Miftah Arif Articel’s” saya menjawab indikasi kiriminal dalam artikel miftah arif. dan saya menyatakan siap bertanggungjawab untuk menjawab semua komentar yang masuk dari siapapun.

  5. udah komentarnya kemana-mana,emosional pula..aduh akang2 yg tercinta ini nampak tidak dewasa..

  6. Sedikit beropini saja. *ngomong kalem*
    Saya Deri, teman satu angkatan Miftah. Gak pinter secara akademis maupun organisasi. Juga gak terkenal/dikenal, jadi punteun kalo pada gak kenal. Tapi saya ngikutin penuh acara-acara himpunan lho. Dari mulai Stadium General, Mabim, LDKM, sampai PAB. Jadi bisa dibilang tahu betul seperti apa isi SG, Mabim, LDKM dan PAB (2004).

    Dimulai dari Stadium General
    Hari kedua saja sudah ada tampar-tamparan.
    Anak-anak orang, dari berbagai daerah, dengan kondisi mental yang beragam, merantau ke Bandung untuk menimba ilmu. Tapi di awal perjumpaan malah disuguhi drama ala reality show transTV. Bedanya kekerasannya nyata. Tampar ya tampar betulan. Tendang ya tendang sungguhan. Itu yang terjadi di Stadium General. Kalau tidak salah, ketika itu alumni tidak boleh hadir di acara SG dan kehadiran mereka tidak ada di rundown acara SG. (Correct Me If I’m Wrong).

    Mabim
    Masa Bimbingan ini cukup rileks dan menghibur, juga edukatif. Intinya: Positif!

    LDKM
    Tujuan utamanya mungkin untuk melatih kepemimpinan dengan pengenalan Sidang dan lain-lain. Di acara ini tetap ada kekerasan, siram kopi ke wajah Pimpinan Sidang dan Sembunyiin palu yang khas dan selalu diulang setiap tahunnya. Kalo pola pembinaan dan pelatihan sidang diselenggarakan dengan metode seperti ini, mungkin sidang DPR/MPR nanti akan lebih barbar lagi. Berkelahi, tonjok-tonjokan, siram kopi. Ruang sidang mungkin gak beda kaya arena wrestling atau warung kopi. Hahahaha

    PAB
    Sama seperti yang miftah dan angkatan 2004 lainnya alami. Kepala teman kami diinjak ketika usul minta waktu untuk solat ashar.Cukup lama lho diijaknya. Menurut saya, itu gak manusiawi apapun alasannya. No excuse lah, hohohohooo. Kemudian ya “tampar-tampar pisang” berlangsung lebih serius, lebih sering, dan tentunya lebih maknyus.

    Jadi, ya, memang ada kekerasan di PAB dan acara lainnya. Walaupun levelnya masih ringan. Setidaknya saya masih menyaksikan itu hingga PAB angkatan 2008 kemaren. Entah sekarang masih ada atau tidak (Mudah-mudahan udah gak ada). Di acara PAB 2008 kemarin saja, salah satu ide alumni tuh nyeburin peserta/panitia ke danau. Tapi setelah diberitahu bahwa danau itu sudah/pernah merenggut nyawa orang, akhirnya urung. (CMIIW again).

    Usul saya sih, ya gak perlu ada maen fisik aja lah.
    Ga ada manfaatnya kok. Yang ada malah menimbulkan kebencian bahkan dendam.
    Saya yakin, Akang-akang & Teteh-teteh senior/alumni yang terhormat akan jauh lebih senang melihat adik-adiknya fun, pintar, kritis dan respectful , ketimbang baeud (cemberut, -red) dan menyimpan kebencian menahun.
    Segitu aja. Thanks. :)

  7. Wah.. Tulisan yang sangat bagus dan menarik (sangat mendukung!!). Aku pengen baca tulisan sebelumnya (yang katanya dikritik keras) tapi ga nemu linknya. Kalo boleh.. Minta linknya ya..

    OSPEK di Indonesia kalo menurutku secara tidak langsung sama dengan memperbolehkan dan pengajaran kekerasan yang bisa mengarah pada Bullying. Waktu masih sekolah di Indonesia kerasa banget tiap pagi dibentakin tanpa alasan apapun (dengan alasan supaya kita kritis tapi waktu kita defense yang ada malah dikatain gak menghormati — ????). Dari yang aku baca, kalau ampe ada senior yang naruh kaki di kepala.. That’s actually a human rights violation. They’re no longer respecting their juniors as human but more as slaves. People may think that this is a tradition and this is what things are supposed to be. Imagine your children who are the one treated like that.. What if they experience something worse (and probably killed or became mentally unstable?). Aku dulu punya temen yang ampe tertekannya sama ospek dia kudu dirawat di RS selama seminggu.

    I hope more people will read this and make a change.. Some people has.. There are no more violence in their OSPEK (verbal or physical). I hope you can be the one who can change this barbaric “tradition”

    Please keep writing..

    Salam kenal,
    Irma – Den Haag

  8. Saya setuju jika orang bilang Ospek harus dihapuskan dari sistem pendidikan di indonesia, kenapa praktek bullying oleh para senior yang terkesan haus akan kekuasaan harus di tradisikan?
    Merupakan suatu kesalahan besar jika ini terus terjadi ke depannya, kenapa juga senior terkesan menjunjung tinggi nilai arogansi, dan merusak kebebasan mahasiswa walau hanya dalam beberapa hari?
    Bagaimana jika saya bilang kalau ketahanan mental atau kejiwaan semmua orang itu berbeda-beda?
    Kenapa orang yang mau pintar harus melalui hal hal yang membuat mereka merasa was was dan mungkin malah ada perasaan takut untuk belajar di universitas atau sekolah itu? Bukankah itu membuat mereka merasa tidak fokus?
    Kadang senior juga mencari-cari kesalahan para mahasiswa baru terlihat hanya ingin menghukum mereka walau sekecil apapun kesalahan yang mereka buat.
    Haruskah sifat arogan, keras, barbar, memanfaatkan kekuasaan, ditanamkan pada para generasi baru?
    Tanpa kita sadari generasi yang terdahulu telah merusak generasi berikutnya, dan generasi telah yang rusak itu akan lebih merusak generasi selanjutnya lagi, dan akan terus begitu…

    Illegalkan Ospek!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s