Archive Page 2

27
May
09

Architects in The Tndustrial Scheme

Arsitek, dalam skema industri / Architects in the industrial scheme 
Reading nowadays phenomena in Indonesia   

15 Juli 2007   

Akhir-akhir ini, terbaca dari banyak media arsitektur, ada suatu upaya untuk mendukung kecenderungan konsumerisme yang dipicu oleh daya beli masyarakat yang meningkat, sebagai hasil dari membaiknya ekonomi. Para investor bermunculan dalam bidang property dan merambah dunia arsitektur dengan memberikan dana untuk membangun bangunan-bangunan berskala besar, atau bangunan kecil berdana besar untuk mendukung tingkat gaya hidup tinggi dalam masyarakat. 

Recently, as being read from many architecture media in Indonesia, there is an effort to support the consumerism which is triggered by the rising economy. Investors come in to the property world and give fund to build big scale buildings, or big budget small buildings to support high life style level in the society.

Bangunan-bangunan megah semakin banyak muncul, menandakan sebuah era baru arsitektur teknologi tinggi, demi keinginan akan bangunan-bangunan terbesar, terbaik, terindah, terkuat. 

  Big buildings are rising, showing a new era of high technology architecture, for the will to posses the biggest, best, most beautiful and strongest buildings. 

Media arsitektur turut serta membangun peradaban baru sebagai akibat dari perbaikan ekonomi ini, dengan menempatkan arsitek sebagai jembatan dari keinginan kalangan ‘high class’ mewujudkan keinginan akan bangunan terbaik, terbesar, termahal dan terindah yang bisa diimpikan atau didapatkan. Kafe-kafe, restoran, longue, bar, hotel, apartemen, mall dan sebagainya muncul sebagai akibat dari gaya hidup sebagian masyarakat yang semakin modern.

Architecture media has the role of building new civilization as the rising economy, by placing architect as a bridge for ‘high class’ society to create the best, biggest, most expensive, and most beautiful buildings ever dreamed of got. Cafes, restaurants, bars, hotels, apartements, malls and others arise as the changing society into modernism (The native society in Indonesia is being introduced to life style that they were not own before globalization).

Sebuah kafe dan klub, tempat dimana banyak orang mencari pengalaman ruang berbeda dari biasanya, untuk mendapatkan kesenangan dan kesegaran baru. 

A cafe and club, where many people tries to find new experience to get fun and freshness from everyday activity.

Sebagian masyarakat yang telah memiliki kehiidupan finanial yang baik saat ini menghendaki lebih dari sekedar sebuah tempat, mereka menginginkan ‘tempat yang bermakna’, atau suatu muatan lebih akan sebuah tempat. Hal ini dijembatani para arsitek dan desainer dengan membuat dengan desain-desain yang segar dan dinamis, berjiwa muda seperti mereka yang menggunakan fasilitas-fasilitas tempat bersenang-senang. 

Part of the society has a well financial life lately, and they want something more than a place, they want a ‘meaningful place’, or a place with special value. This is recognized by architects and designers by making new and dinamic designs, with young spirit like they who use the building.

Tampaknya, kebutuhan untuk bersenang-senang menjadi tren yang makin besar dan tak terbendung, kecuali ada perubahan pola pikir masyarakat yang berkaitan dengan politik ekonomi. Tren ini, dapat segera terlihat dalam tahun-tahun mendatang secara merata meningkat di seluruh Indonesia, sebagaimana pertumbuhan tren yang terlihat sekarang telah cukup untuk memprediksikan tren kebutuhan bersenang-senang sebagai gaya hidup. Tren berada di kafe-kafe untuk bekerja, menemui klien atau sekedar ngobrol, mengeluarkan dana untuk bersenang-senang di tempat hiburan, akan segera berkembang menjadi industri terbesar yang menggerakkan arsitektur berperan lebih jauh. 

Seemly, the need to have fun has finally becoming a bigger trend, unless there’s a changing in society due to economical politics. This trend, will soon be clearer in years ahead in many parts in Indonesia. As the booming trend nowadays has been enough to predict that having fun will be a life style. The trends of being in cafes for work, meeting clients of just chatting, spending money for fun in entertainment places, will soon be developed as the biggest industry that moves architecture playing its further role.

Catatan pribadi Probo Hindarto
Siapa arsitek yang mampu membuat perubahan? 
Arsitek yang mampu membuat perubahan adalah arsitek yang berada dalam jalur dimana ia dapat bebas berkreasi. Arsitek yang berada dalam skema industri seringkali agak susah mendapatkan kebebasan untuk mewujudkan sebuah idealisme. Tentunya hal ini kembali kepada situasi dan kondisi dimana seorang arsitek dihadapkan, serta tingkat nilai ideal dari seorang arsitek, tentunya.

Private notes from Probo Hindarto
Who is the architect, able to make change?
Architect who can make change is the architect in someway he has the freedom of creation. Architect in the industrial scheme will find it a little bit hard to find the freedom to realize an idealism. This of course related to the situation and condition where an architect is faced to, and the level of his idealism.

Gaya hidup yang meningkat, seiring bertumbuhnya ekonomi, menjadikan kebutuhan baru yang membawa konsekuensi baru; tren sebagai gaya hidup.
Rising life style, as the growing economy, making new needs that bring new consequences; trend as a life style.

Secara tidak langsung, arsitek juga memegang peranan penting dalam menghadirkan opini dalam masyarakat, melalui komentar-komentar yang ditulis media. Arsitek merupakan pihak yang didengarkan bila berkata tentang tren, bangunan yang baik, dan sebagainya. Namun melihat evolusi yang terjadi, arsitek cukup banyak yang tidak dapat membendung arus minat masyarakat (terutama kalangan ‘high class’) terhadap tren yang muncul di masyarakat. Arsitek seringkali terpaksa berbicara dalam bahasa yang dapat dipahami oleh awam, demikian pula saat berkarya. 

Architects have a role in to shape the public opinion, by comments in media. Architects are one side being listened when talking about trends, good buildings, etc. But seeing the happening evolution, many architects do not have enough power to ban the flow of intentions for trends in society (especially in high class society). Architects are sometimes forced to speak in a language can be understood by public, also when designing.

Seringkali juga, arsitek masuk dalam skema besar industri dan mendukung keberadaan suatu tren, terlepas dari nilai-nilai yang dibawa sebuah tren, agar ia tetap survive dalam industri ini. Hal ini bisa dipahami sebagai evolusi pemikiran agar ia tetap hidup dalam cabang-cabang finansial yang tumbuh dari arus besar industri property. Wacana yang tumbuh adalah dalam rangka mendukung seluruh sistem industri property. 

Oftenly, architects got in to big industrial scheme and support the presence of a trend, aside of the questionable values of a trend, to survive in the industry. This can be understood as thinking evolution to survive in the financial part that grows in the mainstream of property industry. The paradigma that grows is in order to support the whole system of property industry. 

Tampaknya menguntungkan semua pihak bukan? Investor dan pembeli mendapat keinginannya, arsitek mendapatkan untung, meskipun dalam beberapa sudut, skema ini bisa memberikan ’side effect’ dari proses industri. Sebagai contoh; penggusuran, penebangan pohon-pohon, penghilangan identitas arsitektur lokal, dan sebagainya. Side effect dari pembangunan yang cukup menyedihkan adalah hilangnya potensi sumber daya alam karena eksploitasi manusia. Selain itu side effect lain juga cukup banyak, misalnya sistem sosial dalam masyarakat sedikit terganggu karena superioritas segolongan manusia.

It seems to benefit every side, doesn’t it? Investors and buyers have what they want, architects have their profit too, even though in one perspective, this scheme can bring a ’side effect’ of industrial process. For example; the damage of natural resources, lack of local architecture identity, social problems, and many others. One side effect from building developments is the loss of natural potentials because of exploitations. 

Skema ‘keuntungan semua pihak’/ The ‘benefit for all’ scheme
Dalam dunia evolusi beberapa mamalia, terutama yang bekerja secara berkelompok untuk mendapatkan makanan, misalnya seperti monyet, sebuah grup mamalia ini akan saling bahu membahu untuk bekerja mendapatkan makanan bersama. Arsitek dalam hal ini bisa berada dalam posisi mendukung tujuan kelompok, dimana tujuan kelompok tidak lain adalah keuntungan finansial. 

In some mammals evolution, especially those that work in groups to get food, like monkeys, this mammal group will work together to find food. Architect in this manner can be in position of supporting the will of a group, to get financial profit.

Dampak dari tujuan koloni melalui sistem yang digerakkan kapital sebenarnya sangatlah mengagumkan, dari sisi manusia sebagai mahluk kecil yang melihat raksasa-raksasa bangunan hasil pembangunan. Tingkat kesenangan mendapatkan atau menikmati bangunan dalam skala, proporsi, wujud yang hadir itu barangkali setara dengan kesenangan nenek moyang kita menemukan gua terbesar, terindah dan terbaik untuk menaungi hari-harinya didunia. Namun kita berharap, apa yang dikembangkan saat ini akan mengarah pada kehidupan yang stabil dan seimbang, dari segala sisi, baik sisi humanisme, sosial dan budaya. 

The impact of colonial purpose in a capital funded system is actually really amazing, from the side of human seeing giant buildings. The level of ‘fun’ to get or enjoy building in such a scale, proportion, and reality that presence might be of the enjoyment of when our ancestors found the biggest, most beautiful and best caves. But we hope, what we develop until now will point to a more stable and harmonious life, in every side of our lives.  

Bagaimana industri membantu arsitek membuat perubahan? / How Could industry help architect to make change?
Industri selain dapat digunakan untuk mempermudah kehidupan manusia dalam membangun dan berkarya, juga dapat digunakan sebagai jalan membuat perubahan. Kita semua tahu bahwa industri memiliki dampak baik dan buruk. Kabar baiknya, dampak baik dapat digunakan dan terus dipupuk sebagai media pembangun masyarakat lebih maju, lebih bertoleransi, dan sebagainya.

Industry, is something to make our lives easier, and also a way to make change. We all know that industry has good and bad impacts. The good news is, the good side can be used and developed as a media to develop higher level society, more tolerable, etc.

Industri menyediakan bahan-bahan bangunan dan material yang lebih mudah didapatkan, lebih bersih, lebih banyak pilihan dan inovasi. Industri ini memungkinkan arsitek mengaplikasikan bahan material baru sebagai jalan menemukan pembaharuan dalam arsitektur. Dalam hal ini, hanya cara pandang industrialisme yang menjadi cara pandang baru meninggalkan yang lama (pelestarian), namun dari sisi pembaharuan ‘alat dan bahan’ dalam membangun, industri menyediakan sangat banyak pilihan. Karena itu industri tidak harus bertentangan dengan apapun bila ditempatkan dalam skema yang mendukung idealisme. 

Industry supply building materials which is not only easier to get, but also cleaner, and have more choices and innovations. Industry makes it able for architect to apply new building materials as a way to find new architecture. In this manner, industry is a new way to leave the old. New ‘tools and materials’ in building supply more choices. That is why industry doesn’t have to contradict anything as long as it is placed in a scheme to support an idealism.

11122

Cihampelas walk, the green mall

Dalam contoh Cihampelas Walk dalam website ini, industrialisme ketika bergandengan dengan ideal eco-architecture, dapat membawa perubahan pada cara pandang konvensional tentang sebuah mall, menjadi lebih hijau, lebih berwawasan lingkungan, dan lebih manusiawi tentunya. 

One example in this website is Cihampelas Walk, when industry helps eco-architecture, can bring changes in conventional thoughts about malls, becoming greener, more environmentally friendly, and more humanity, of course.

***

(Probo HIndarto)

 

27
May
09

DAMPAK PERKEMBANGAN INDUSTRI TERHADAP ARSITEKTUR

ARSITEK telah dikenal dan dibicarakan manusia sejak dulu. Arsitektur mempunyai berbagai pendapat, pandangan dan pengertian. Louis I. Kahn mengatakan, “Arsitektur adalah pemikiran yang matang dalam pembentukan ruang. Pembaharuan arsitektur secara menerus adalah disebabkan perubahan konsep ruang”. Wlliam Wayne Caudill, mempunyai pendapat lain mengenai arsitektur, yakni “Bentuk dan ruang adalah bukan arsitektur. Arsitektur terjadi hanya bila seseorang sedang menikmati bentuk dan ruang tersebut”.

Biasanya manusia mengukur pentingnya sesuatu berdasarkan besarnya dan indahnya bangunan yang diperuntukkan bagi nilai itu. Kita akan teringat masa abad pertengahan, ketika itu bangunan yang merupakan harta seni paling agung adalah gereja dan katedral, sebab iman adalah harta yang tertinggi bagi masyarakat abad pertengahan.

Melihat obsesi dari perkembangan arsitektur dewasa ini, kan terlihat berbagai masalah yang begitu luas dan kompleks. Asitek merupakan perancang dari tempat manusia berdiam. Tapi tempat kediaman manusia bukanlah semata-mata gedung, jalan atau pun kota. Melainkan, terlebih-lebih, tempat kediaman ini adalah keseluruhan permukaan bumi yang terdiri dari udara, air dan tanah, karena sistem yang inilah, yaitu biosfir memiliki unsur-unsur dasar pendukung kehidupan manusia.
Henryk Skolimowski, pernah mengatakan di depan konggres Royal of British Architecture (RIBA), “if you do want to change architecture, you can not limit yourself to architecture, or start with architecture alone”. Akhirnya tujuan yang paling penting ialah “kualitas hidup”. Masing-masing subsistem sebelumnya dapat saja baik, namun jika akhir tujuan “nilai tambah” yang fisik material dan mental spiritual tidak menyebabkan meningkatnya kualitas hidup, maka seluruh upaya dapat dikatakan gagal. Christhoper Alexander dan Chrithoper Jones yang menekuni dan mengajar metodologi perancangan akhirnya juga tidak ingin terlalu menekankan metode-metode desain sebagai suatu proses yang kaku dan mekanistik, apalagi jika cara ini menjadi mitos bagi para arsitek perancang.

Jika tempat kediaman merupakan fungsi utama arsitektur, kita tidak akan berharap banyak tentang adanya pengembangan yang khusus selain tempat kediaman. Demikianlah telah kita lihat hal-hal yang berlawanan akan pengaruh lingkungan yang dibuat manusia terhadap perilaku penghuninya. Satu rancangan arsitektur dapat mempengaruhi pola komunikasi di antara orang-orang yang hidup dalam naungan arsitektural tertentu. Bahkan Osmond (1957) dan Sommer (1969) membedakan antara desain bangunan yang mendorong orang untuk berinteraksi (sociopetal) dan rancangan bangunan yang menyebabkan orang menghindari interaksi (sociofugal).

Arsitektur adalah suatu aktivitas integratif yang lebih dipusatkan pada hal mempengaruhi masa yang akan datang dari pada menjelaskan peristiwa di masa lampau. Tidak terdapat hukum-hukum arsitektur yang akan memungkinkan kita meramalkan kepusan bagi penghuni bangunan, dalam cara bagaimana bangunan-bangunan yang dibentuk dengan proporsi yang harmonis mempengaruhi kita. Bangunan-bangunan tersebut mempengaruhi indera estetika kita, menyebabkan kita dapat merasakan hal-hal yang baik atau sebaliknya.
Apakah manusia akan hidup lebih berbahagia dalam rumah berbentuk bola dari pada di dalam rumah yang umumnya berupa kubus? Ahli pahat dan perencana industri di Den Bosch Dries Kreijkamp, mengiyakan dan karena itu merencanakan rumah bolanya. Bila dilihat dari sudut sejarah, baru saja manusia tinggal di rumah-rumah berbentuk kubus, ingatlah iglo, tempat tinggal dalam gua dan banyak macam rumah gubuk. Dari sudut energetis, bola adalah bentuk yang menarik permukaan luar sedikit, sehingga tidak banyak kalori yang hilang dibandingkan dengan permukaan bagian dalam yang relatif banyak.

Pada sisi lain, Richard Buckmister Fuller merupakan perencana yang besar pengaruhnya, yang sebelum perang sudah bereksperimen dengan rumah logam ringan dan tahun 1959 mendirikan rumah kubah. Dengan melodi lagu “Home, home on the ranch where the deer and the antilope play” ia membuat lagu puja atas masa depan rimah bola prefab.

Bangunan pencakar langit bukan barang aneh lagi. Gedung-gedung megah bertingkat tinggi yang berselimut kaca, yang berdiri tegar seperti patok beton, sudah merupakan pemandangan biasa di banyak tempat di dunia ini. Di Jakarta saja kini sudah terdapat bangunan dengan 40 lantai.
Tentu saja tidak ada yang dapat menyangkal bahwa hal-hal dalam tertentu teknologi modern mencapai sukses yang gemilang. Sudah barang tentu, industri bangunan yang diproduksi besar-besaran itu merupakan suatu keunggulan teknologi tetapi Cuma sampai batas tertentu. Garis pemisah antara sukses dan kegagalan, adalah pintu pabrik. Selama industri dari seluruh komponen bangunan sedang dibuat, ia merupakan sukses teknologis. Berbagai bagian dirancang, dibentuk, dipasang-pasangkan dan seluruh perangkaian berhasil. Namun sekali bangunan tersebut ditancapkan di bumi, munculah berbagai macam persoalan, sesuaikah dengan alam lingkungannya, berapa besar pengaruh partikel-pertikel dinding-dinding asbes di dalam paru-paru penghuninya? Bagaimana dampak psikologis terhadap penghuni? Seberapa jauh sumbangan terhadap nilai arsitekturnya?, dan sebagainya.

Bila kita ingin berhasil sebagai penghuni dunia yang semakin berubah akibat teknologi dan industri, kita perlu untuk menilai kembali sikap kita terhadap dunia arsitektur yang dijamah oleh teknologi. Paradigma universal dari keberadaan industri haruslah menjadi kaidah filosofis yang melandasi penciptaan, penerapan dan penggunaannya. Le Coubusier dalam bukunya Versun architecture 1923) mengatakan, “industry (is) overwhelming us like a flood which rools on toward it’s destined end”. Perkembangan industri bangunan perlu pengendalian yang tepat dan teratur. Kalau kita lihat industri bangunan saat ini, barangkali memang hanya sebuah teladan dari sebuah mbisi pembangunan. Industri tersebut meluas dengan kerangka terpecah-pecah, investasi modal rendah dan sebagainya. Industri bangunan memang dihargai dan tidak ditentang, tetapi arahnya yang secara bertahap menggerogoti segala keindahan asli yang telah dianugerahkan alam kepada kita, ituah yang menjadi soal.

Kejujuran adalah bagian dari arsitektur, yang dapat dirasakan dan mengandung makna. Arsitektur timbul di dalam suatu konteks yang sangat luas meliputi, sosial, lingkungan, ekonomi, perilaku dan sebagainya. Arsitektur membantu kita memperdalam dan menjelaskan gagasan-gagasan baru dan menempatkannya dengan kokoh dalam cara yang paling mendasar dalam pikiran manusia. Pada industri bangunan kecenderungan logis menyusup ke setiap bidang kegiatan manusia termasuk di dalamnya pekerjaan, kesenangan, kebudayaan dn komunitas tentunya. Industri sendiri sebenarnya, adalah suatu istilah yang dapat diartikan sangat luas, yaitu semua kegiatan manusia untuk melengkapi segala barang kebutuhan yang diinginkan dan diperlukannya.

Bagaimanapun juga, kita tidak bisa menipu dengan “selera tiruan” dan “seler buatan” terhadap alam, lingkungan dan arsitektur kita, pengalaman yang penuh arti akan hilang dan kemampuan menghargai yang asli nantinya akan berkurang. Apakah akan mengisi sebuah taman yang baru dengan isi serba artifisial, beberapa tumbuhan dan bunga plastik ditempatkan di sana atas nama “mencintai alam”? Untuk hal semacam ini, Charles Reich dalam Greening of America mencela “pemiskinan secara subtitusi”, ini merupakan eksploatasi industri pada hampir seluruh nilai manusia.

Demikianlah bangunan-bangunan dapat dipahami ditinjau dari segi bagaimana industri bangunan tersebut berkaitan dengan manusia dan wadah-wadah alamiahnya, dan bagaimana hubungan-hubungan ini dapat berubah akibat kebudayaan dan perjalanan waktu. Seluruh faktor-faktor yang saling berkaitan inilah yang dapat menjelaskan wujud suatu hasil industri bangunan yang baik. Karena bagaimanapun merupakan kelembagaan dan dasar dari perwujudan kebudayaan. Kita dapat bertanya tentang tujuan industrialisasi, tidak hanya menciptakan industri bangunan saja, tetapi juga untuk memerangi keterbelakangan dan kemiskinan dalam menuju masyarakat adil dan makmur.

Tulisan ini telah dimuat dalam harian Suara Indonesia tanggal 28 Agustus 1986

27
May
09

TIPS MEMILIH JASA KONTRAKTOR

UNTUK memilih kontraktor, Anda tentu tak bisa langsung asal pilih. Ada baiknya, Anda memilih kontraktor yang benar-benar profesional. Jangan tergiur dengan harga murah. Sebab, bisa jadi, kontraktor itu menurunkan kualitas bangunan agar bisa menekan harga. Anda tak mau kan, bila rumah impian tiba-tiba retak dan malah bisa roboh.

Departemen Pekerjaan Umum mencatat, masyarakat masih terbiasa memilih jasa kontraktor hanya berdasarkan biaya. Akibatnya, banyak orang kecewa karena bangunan rumah tak bertahan lama.

Kepala Badan Pembinaan Konstruksi Bangunan dan Sumber Daya Manusia Departemen Pekerjaan Umum Iwan Nursyiwan bilang, masyarakat sebaiknya memilih jasa kontraktor yang memiliki sertifikat.

Sebab, sesuai Undang-undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi, badan usaha ini harus mendapatkan sertifikat dari Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi. Melalui sertifikat ini, Anda bisa melihat kualitas tenaga ahli yang bekerja di perusahaan kontraktor, peralatan, modal hingga pengalaman sang kontraktor.

Sampai saat ini, Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi mencatat, ada 98.000 usaha jasa kontraktor, 6.000 Usaha Jasa Konsultan, 22.000 tenaga ahli, dan puluhan ribu tenaga terampil dibidang konstruksi yang telah memiliki sertifikat.

Setali tiga uang, dalam catatan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) banyak orang merasa tertipu dan mengadu ke YLKI soal kualitas bangunan buatan kontraktor. “Karena tergolong usaha yang mudah berdiri, banyak orang membuat perusahaan kontraktor,” ujar Sudaryatmo, anggota Pengurus Harian YLKI. Makanya, konsumen harus berani menanyakan sertifikat ke kontraktor. “Itu adalah hak konsumen. Kalau profesional, mereka harus menunjukan,” tegas Sudaryatmo.

Menurut Sudaryatmo, konsumen dapat mengajukan tuntutan kompensasi bila pembangunan rumahtidak sesuai dengan kontrak yang disepakati dengan kontraktor. 

Agar tak terjerembab, selain sertifikat, pastikan Anda bertanya tentang ketepatan jadwal pembangunan, waktu yang dibutuhkan per hari, pengamanan, bahan bangunan, sampai jumlah orang yang bakal bekerja dalam pembangunan rumah. Anda juga wajib bertanya soal biaya ekstra yang harus Anda keluarkan. Ada baiknya, Anda juga meneliti pengalaman kontraktor tentang proyek yang telah mereka kerjakan.

Menurut Sudaryatmo, kompetensi perusahaan dan tenaga ahli perusahaan itu juga tampak pada berbagai karya yang mereka hasilkan. “Lebih baik lagi kalau Anda bisa mencari second opinion,” katanya.

 

Edy Can

dari : kontan-harian.com

25
May
09

Nyaya Health

PROJECT DESCRIPTION:

This proposal aims to act not only like a mere physical entity, but a total investment program that has a potential to help the people of the region to cope with their problems, from the money flow processes up to post-construction consequences. That is why also project management concepts were shown in the presentation board. The proposal endeavors to select the best option to help the people of the region be a part of the construction process both to fulfill the public participation, and the financially horizontal distribution in order to bring a humble but important economic vitality to the region. In order to achieve these goals, the building materials have to be gathered from the closest radius. And materials were decided according to the local capabilities of Sanfe Bagar. Vernacular building techniques are intended to be promoted. However that does not mean that non-professional workers are not welcome, vice versa, the construction process aims to make people, particularly the women to take advantage of their construction experiences after the construction to add an income to their poor households. By having a large and local labor, possible alienation feeling is aimed to be avoided, as the builders will be the users themselves. The proposal even humbly have advices to Nyaya Health, since it is known that the health problems are caused by economical problems (lead to emigration) so Nyaya Health can upgrade the economical sustainability of the local people by letting them to gain new skills in the construction process and after…This participation can upgrade the social sustainability, which will hopefully result in a better relationship between the Nyaya complex and the local people. To conclude the social-economical aspect, the proposal mainly aspires to boost up the self-confidence, self-appreciation of the local people by a rational self-production. In addition the wages are thought to be relatively low in the region that makes the whole management concept economically profitable. This conception has its reflections in architectural composition, like the upwards movement which tries to promote dynamism and framing the familiar scenery which intends to let the local people appreciate the beauty of their own country. Also the courtyard plan, accentuates the user-centeredness. 

Physical features of the proposal are in fact totally in collaboration with the socio-economic and psychological sustainability since a physically sustainable architectural entity may positively affect the feeling of independency of its users. Physical sustainability has been given extreme importance and it is the main form giver. The roofs are inclined to meet perpendicularly with the summer sun which will heat up the roof and the large opening directed towards the north elevations will let the warm and exhaust air heated by the roof outside, this movement will cause a drift of cooler air from the lower levels ending in an air circulation in hot days. So actually solar power is used passively for air circulation which will provide cooling by evaporation on human skin. Also the wooden panels that are filled with straw insulation promise an extra space when the northern roofs are opened in hot days. In countries with hot climates, people sleep on their flat roofs, but here in summer days heavy monsoon rain prevents both flat roofs and the sleeps that could be done on them. So these mobile wooden panels promise a place to relax (particularly for staff quarters) with a strong air circulation without being effected by rain. Also driving rain is not a problem as the local dominant wind is known to blow from the south from which the panel-platforms are protected by inclined roofs towards north. Also wind is not directly let in to protect the desired air circulation based on air density, but the wind assists this circulation as the wind from south to north creates negative air pressure zones in the north facades which will end in even better air drift. Towers and stage al together forms a dynamic portal to the complex. The stage takes advantage of the courtyard as a gathering space and turns into a mini public square. The shorter tower houses a small storage for the stage and is the main place for internet connection equipment whatever technology is selected. The tall tower stores the monsoon rain water. With its roof panel shut, it also creates an air circulation and helps the water cool down. So in summer days the complex can have its cool water with potential power of the tower, so no extra plumbing engines are required. Counseling rooms are put near the portal for easy access, on the contrary the staff quarters are placed on the north of the courtyard for a better privacy but not isolation. The southern walls of the staff quarters are suitable for exhibitions for public and training reasons. These southern walls have mobile eaves to imprison the absorbed solar energy during winter days in order to take advantage of it at winter nights, as thermal mass. The building materials are:

1. Natural Stone for foundations

2. Adobe bricks for both structural and non-structural walls 

3. Wood for beams spanning 3 meters (larger sections for beams of the eaves and two exceptional wooden trusses of the meeting hall)

4. Twig+straw+reed matting panels for mobile units with insulation

5. Reed matting for groundcover. 

6. Slate for roof cover.

In case these materials cannot be produced, all of them can be altered with industrial materials like r.c. or concrete or baked bricks for adobe walls, metal roofing for slate, however in such an alteration all the social approach concepts will be harmed.

[ ] 

25
May
09

SHADED VILLAGE

 

PROJECT DESCRIPTION:

SHADED VILLAGE

How to create a production and technology complex in the middle of a rainforest? How to create a factory in a sustainable way? How to minimize the impact of a 1300 sqm unit while respecting and protecting a unique environment and biodiversity?

The Shaded Village project aims to integrate the traditions and culture of the indigenous community with the Fair-trade market needs in an environmentally responsible, profitable and healthy complex deep into the Ecuadorian Amazon.

In doing so, the Shaded Village project combines the advantages of a single building strategy (overall shading system/energy producer) with a more village-like strategy (local typologies, flexibility, ease of construction).

In terms of sustainability, the design of the Shaded Village intends to increase natural ventilation and use of alternative energies such as PV systems, biomass combustion (from cocoa waste), micro-hydro system, and waste/pure vegetable oil generator.

SITE PLAN

The complex is planned at the southern edge of the site to integrate a maximum of existing vegetation into it, while reducing the road access impact on the most level area.

The orientation of the buildings is totally dictated by the cardinal points to lower the interior solar gains and favor a natural N-S cross ventilation of the units. The N-S spacing in-between units is also regulated by Mahoney’s theory to maximize natural ventilation.

The implantation and typology of the buildings (perpendicular to the slope, and “lifted” from the ground) let the water run down the mountain to the river to the east.

BUILDING PLAN

Planned like a one-road village at the southern edge of the site, the complex is organized along a main path thought of as a main communication link. That link is part of a walk on the rest of the site, where organic gardens are developed. Plugged onto the path, all closed functions are allocated within several covered units built in traditional materials. The spacing in-between is wide enough to house public external spaces, such as picnic area, handcraft market, botanic gardens.

The design minimizes site disturbance by preserving existing relief and natural vegetation. The landscape design supports biodiversity and preserves natural habitats.

BUILDING ELEVATIONS

Unlike a one-building operation, such a fragmented ‘village-like’ organization does not only provide a regional look to the complex and a maximized contact with the environment while increasing natural ventilation, but also offers a useful flexibility in terms of adaptability to ground differences, easiness in building process and potential future extension.

To increase natural ventilation’s efficiency, the whole complex is covered by an overall efficient shading system made of bamboo and solar panels producing energy. This feature will help to maintain an enjoyable condition for workers and visitors, as well as those who view the complex from the overlooking surroundings.

SUSTAINABILITY – VENTILATION

The over-present concern about increase of natural ventilation is evidently encouraged to cool the different spaces and to avoid as much as possible the use of air conditioning systems. This operation has a double advantage: to lower operating costs and to obtain a more efficient sustainability. To achieve this, a specific design (roof/shading system) observable mainly in section has been implemented into the Kallari Association project.

SUSTAINABILITY – ENERGY

Definitely aiming for an autonomous energy strategy, the Shaded Village project has to adopt an hybrid solar system (PV system (photovoltaic) to produce electricity and Solar water heater systems to heat water), combined with one or several of those other possible techniques (to be developed in a future phase):

- Biomass fermentation/combustion (from the cocoa waste; via gasifier system)

- Micro-hydro power turbines or generator (from the river) 

- Waste / Pure Vegetable Oil generator (from industry / agricultural gardens)

Although probably being the most exciting technique for the Kallari Association project, the biomass combustion from cocoa waste is not yet operable. Nevertheless, learning from former experiences of controlled biomass combustion in remote communities in the Amazon basin, a specific project for a chocolate production community could be developed potentially in collaboration with the CDEAM – Federal University of Amazon (Brazil) (cf Dr. Ruben Souza). They have recently been in charge of some sustainable developments of Amazon remote communities living from the production of cupuacu and açai pulps (fruits from the Amazon). In that scope of work, they developed autonomous energy systems using the cupuacu and açai waste to produce electricity.

In addition to those energy supplier systems, a sustainable vision should be integrated within the operating management of the complex, by using, for instance, solar or high efficiency cookers, fluorescent lights (rather than incandescent), etc.

SUSTAINABILITY – WATER

A sustainable water system is achieved by: 

- collecting the rain water via the roofs design, in a central gutter, and then stored in a cistern (or pond at ground level)

- biological treatment (beds of plants and aquaria) that eliminate nutrients and bacteria and convert greywater and/or sewage into clear water (biological system as opposed to septic tank with biofilter combined to a tiled leach field)

- re-use of greywater to flush toilets

- storm water drainage system managed through buildings implantation/typology and landscaping as opposed to piping. The implantation and typology of the buildings (perpendicular to the slope, and “lifted” from the ground) let the water run down the mountain to the river to the east.

SATELLITE HUBS

The other concerns that were prevailing for the main complex are also implemented in the design of the satellite hubs: maximized natural ventilation, shading, energy autonomy (PV system), flexibility and ease of construction (or transportation) with local materials and labor.

The dimensions and the autonomous design of those standalone devices allows them to be transported and placed in every remote area.

MATERIALS

Main materials used in the Shaded Village project:
No VOC building products are used. The complex is built out of recycled (glass, tiles, painting) or sustainable – local building materials (bamboo, thatch and wood) using local labor to realize the design.

 [ ]




[ I s s u e s C a l e n d a r ]

November 2009
M T W T F S S
« Oct    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Blog Stats

  • 19,528 hits

[ClassroomDesignChallenge]

[v i s i t o r s t r a c k e r]


My blog is worth $564.54.
How much is your blog worth?

Click to view my Personality Profile page
Watch videos at Vodpod and other videos from this collection.