Posts Tagged ‘Architecture Education

27
May
09

Architects in The Tndustrial Scheme

Arsitek, dalam skema industri / Architects in the industrial scheme 
Reading nowadays phenomena in Indonesia   

15 Juli 2007   

Akhir-akhir ini, terbaca dari banyak media arsitektur, ada suatu upaya untuk mendukung kecenderungan konsumerisme yang dipicu oleh daya beli masyarakat yang meningkat, sebagai hasil dari membaiknya ekonomi. Para investor bermunculan dalam bidang property dan merambah dunia arsitektur dengan memberikan dana untuk membangun bangunan-bangunan berskala besar, atau bangunan kecil berdana besar untuk mendukung tingkat gaya hidup tinggi dalam masyarakat. 

Recently, as being read from many architecture media in Indonesia, there is an effort to support the consumerism which is triggered by the rising economy. Investors come in to the property world and give fund to build big scale buildings, or big budget small buildings to support high life style level in the society.

Bangunan-bangunan megah semakin banyak muncul, menandakan sebuah era baru arsitektur teknologi tinggi, demi keinginan akan bangunan-bangunan terbesar, terbaik, terindah, terkuat. 

  Big buildings are rising, showing a new era of high technology architecture, for the will to posses the biggest, best, most beautiful and strongest buildings. 

Media arsitektur turut serta membangun peradaban baru sebagai akibat dari perbaikan ekonomi ini, dengan menempatkan arsitek sebagai jembatan dari keinginan kalangan ‘high class’ mewujudkan keinginan akan bangunan terbaik, terbesar, termahal dan terindah yang bisa diimpikan atau didapatkan. Kafe-kafe, restoran, longue, bar, hotel, apartemen, mall dan sebagainya muncul sebagai akibat dari gaya hidup sebagian masyarakat yang semakin modern.

Architecture media has the role of building new civilization as the rising economy, by placing architect as a bridge for ‘high class’ society to create the best, biggest, most expensive, and most beautiful buildings ever dreamed of got. Cafes, restaurants, bars, hotels, apartements, malls and others arise as the changing society into modernism (The native society in Indonesia is being introduced to life style that they were not own before globalization).

Sebuah kafe dan klub, tempat dimana banyak orang mencari pengalaman ruang berbeda dari biasanya, untuk mendapatkan kesenangan dan kesegaran baru. 

A cafe and club, where many people tries to find new experience to get fun and freshness from everyday activity.

Sebagian masyarakat yang telah memiliki kehiidupan finanial yang baik saat ini menghendaki lebih dari sekedar sebuah tempat, mereka menginginkan ‘tempat yang bermakna’, atau suatu muatan lebih akan sebuah tempat. Hal ini dijembatani para arsitek dan desainer dengan membuat dengan desain-desain yang segar dan dinamis, berjiwa muda seperti mereka yang menggunakan fasilitas-fasilitas tempat bersenang-senang. 

Part of the society has a well financial life lately, and they want something more than a place, they want a ‘meaningful place’, or a place with special value. This is recognized by architects and designers by making new and dinamic designs, with young spirit like they who use the building.

Tampaknya, kebutuhan untuk bersenang-senang menjadi tren yang makin besar dan tak terbendung, kecuali ada perubahan pola pikir masyarakat yang berkaitan dengan politik ekonomi. Tren ini, dapat segera terlihat dalam tahun-tahun mendatang secara merata meningkat di seluruh Indonesia, sebagaimana pertumbuhan tren yang terlihat sekarang telah cukup untuk memprediksikan tren kebutuhan bersenang-senang sebagai gaya hidup. Tren berada di kafe-kafe untuk bekerja, menemui klien atau sekedar ngobrol, mengeluarkan dana untuk bersenang-senang di tempat hiburan, akan segera berkembang menjadi industri terbesar yang menggerakkan arsitektur berperan lebih jauh. 

Seemly, the need to have fun has finally becoming a bigger trend, unless there’s a changing in society due to economical politics. This trend, will soon be clearer in years ahead in many parts in Indonesia. As the booming trend nowadays has been enough to predict that having fun will be a life style. The trends of being in cafes for work, meeting clients of just chatting, spending money for fun in entertainment places, will soon be developed as the biggest industry that moves architecture playing its further role.

Catatan pribadi Probo Hindarto
Siapa arsitek yang mampu membuat perubahan? 
Arsitek yang mampu membuat perubahan adalah arsitek yang berada dalam jalur dimana ia dapat bebas berkreasi. Arsitek yang berada dalam skema industri seringkali agak susah mendapatkan kebebasan untuk mewujudkan sebuah idealisme. Tentunya hal ini kembali kepada situasi dan kondisi dimana seorang arsitek dihadapkan, serta tingkat nilai ideal dari seorang arsitek, tentunya.

Private notes from Probo Hindarto
Who is the architect, able to make change?
Architect who can make change is the architect in someway he has the freedom of creation. Architect in the industrial scheme will find it a little bit hard to find the freedom to realize an idealism. This of course related to the situation and condition where an architect is faced to, and the level of his idealism.

Gaya hidup yang meningkat, seiring bertumbuhnya ekonomi, menjadikan kebutuhan baru yang membawa konsekuensi baru; tren sebagai gaya hidup.
Rising life style, as the growing economy, making new needs that bring new consequences; trend as a life style.

Secara tidak langsung, arsitek juga memegang peranan penting dalam menghadirkan opini dalam masyarakat, melalui komentar-komentar yang ditulis media. Arsitek merupakan pihak yang didengarkan bila berkata tentang tren, bangunan yang baik, dan sebagainya. Namun melihat evolusi yang terjadi, arsitek cukup banyak yang tidak dapat membendung arus minat masyarakat (terutama kalangan ‘high class’) terhadap tren yang muncul di masyarakat. Arsitek seringkali terpaksa berbicara dalam bahasa yang dapat dipahami oleh awam, demikian pula saat berkarya. 

Architects have a role in to shape the public opinion, by comments in media. Architects are one side being listened when talking about trends, good buildings, etc. But seeing the happening evolution, many architects do not have enough power to ban the flow of intentions for trends in society (especially in high class society). Architects are sometimes forced to speak in a language can be understood by public, also when designing.

Seringkali juga, arsitek masuk dalam skema besar industri dan mendukung keberadaan suatu tren, terlepas dari nilai-nilai yang dibawa sebuah tren, agar ia tetap survive dalam industri ini. Hal ini bisa dipahami sebagai evolusi pemikiran agar ia tetap hidup dalam cabang-cabang finansial yang tumbuh dari arus besar industri property. Wacana yang tumbuh adalah dalam rangka mendukung seluruh sistem industri property. 

Oftenly, architects got in to big industrial scheme and support the presence of a trend, aside of the questionable values of a trend, to survive in the industry. This can be understood as thinking evolution to survive in the financial part that grows in the mainstream of property industry. The paradigma that grows is in order to support the whole system of property industry. 

Tampaknya menguntungkan semua pihak bukan? Investor dan pembeli mendapat keinginannya, arsitek mendapatkan untung, meskipun dalam beberapa sudut, skema ini bisa memberikan ’side effect’ dari proses industri. Sebagai contoh; penggusuran, penebangan pohon-pohon, penghilangan identitas arsitektur lokal, dan sebagainya. Side effect dari pembangunan yang cukup menyedihkan adalah hilangnya potensi sumber daya alam karena eksploitasi manusia. Selain itu side effect lain juga cukup banyak, misalnya sistem sosial dalam masyarakat sedikit terganggu karena superioritas segolongan manusia.

It seems to benefit every side, doesn’t it? Investors and buyers have what they want, architects have their profit too, even though in one perspective, this scheme can bring a ’side effect’ of industrial process. For example; the damage of natural resources, lack of local architecture identity, social problems, and many others. One side effect from building developments is the loss of natural potentials because of exploitations. 

Skema ‘keuntungan semua pihak’/ The ‘benefit for all’ scheme
Dalam dunia evolusi beberapa mamalia, terutama yang bekerja secara berkelompok untuk mendapatkan makanan, misalnya seperti monyet, sebuah grup mamalia ini akan saling bahu membahu untuk bekerja mendapatkan makanan bersama. Arsitek dalam hal ini bisa berada dalam posisi mendukung tujuan kelompok, dimana tujuan kelompok tidak lain adalah keuntungan finansial. 

In some mammals evolution, especially those that work in groups to get food, like monkeys, this mammal group will work together to find food. Architect in this manner can be in position of supporting the will of a group, to get financial profit.

Dampak dari tujuan koloni melalui sistem yang digerakkan kapital sebenarnya sangatlah mengagumkan, dari sisi manusia sebagai mahluk kecil yang melihat raksasa-raksasa bangunan hasil pembangunan. Tingkat kesenangan mendapatkan atau menikmati bangunan dalam skala, proporsi, wujud yang hadir itu barangkali setara dengan kesenangan nenek moyang kita menemukan gua terbesar, terindah dan terbaik untuk menaungi hari-harinya didunia. Namun kita berharap, apa yang dikembangkan saat ini akan mengarah pada kehidupan yang stabil dan seimbang, dari segala sisi, baik sisi humanisme, sosial dan budaya. 

The impact of colonial purpose in a capital funded system is actually really amazing, from the side of human seeing giant buildings. The level of ‘fun’ to get or enjoy building in such a scale, proportion, and reality that presence might be of the enjoyment of when our ancestors found the biggest, most beautiful and best caves. But we hope, what we develop until now will point to a more stable and harmonious life, in every side of our lives.  

Bagaimana industri membantu arsitek membuat perubahan? / How Could industry help architect to make change?
Industri selain dapat digunakan untuk mempermudah kehidupan manusia dalam membangun dan berkarya, juga dapat digunakan sebagai jalan membuat perubahan. Kita semua tahu bahwa industri memiliki dampak baik dan buruk. Kabar baiknya, dampak baik dapat digunakan dan terus dipupuk sebagai media pembangun masyarakat lebih maju, lebih bertoleransi, dan sebagainya.

Industry, is something to make our lives easier, and also a way to make change. We all know that industry has good and bad impacts. The good news is, the good side can be used and developed as a media to develop higher level society, more tolerable, etc.

Industri menyediakan bahan-bahan bangunan dan material yang lebih mudah didapatkan, lebih bersih, lebih banyak pilihan dan inovasi. Industri ini memungkinkan arsitek mengaplikasikan bahan material baru sebagai jalan menemukan pembaharuan dalam arsitektur. Dalam hal ini, hanya cara pandang industrialisme yang menjadi cara pandang baru meninggalkan yang lama (pelestarian), namun dari sisi pembaharuan ‘alat dan bahan’ dalam membangun, industri menyediakan sangat banyak pilihan. Karena itu industri tidak harus bertentangan dengan apapun bila ditempatkan dalam skema yang mendukung idealisme. 

Industry supply building materials which is not only easier to get, but also cleaner, and have more choices and innovations. Industry makes it able for architect to apply new building materials as a way to find new architecture. In this manner, industry is a new way to leave the old. New ‘tools and materials’ in building supply more choices. That is why industry doesn’t have to contradict anything as long as it is placed in a scheme to support an idealism.

11122

Cihampelas walk, the green mall

Dalam contoh Cihampelas Walk dalam website ini, industrialisme ketika bergandengan dengan ideal eco-architecture, dapat membawa perubahan pada cara pandang konvensional tentang sebuah mall, menjadi lebih hijau, lebih berwawasan lingkungan, dan lebih manusiawi tentunya. 

One example in this website is Cihampelas Walk, when industry helps eco-architecture, can bring changes in conventional thoughts about malls, becoming greener, more environmentally friendly, and more humanity, of course.

***

(Probo HIndarto)

 

24
Apr
09

Dibuka Pendidikan Profesi Arsitektur Pertamax di Indonesia

14/04/09 19:12

Surabaya (ANTARA News) – Pendidikan Profesi Arsitektur (PPAr) yang pertama di Indonesia, akhirnya dibuka ITS Surabaya mulai semester mendatang.

“Adanya PPAr menunjukkan gelar sarjana teknik saja tidak cukup, tapi membutuhkan sertifikat keahlian,” kata Rektor ITS Prof Ir Priyo Suprobo Ms PhD di Surabaya, Selasa.

Di sela-sela penandatangan MoU PPAr ITS dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) di auditorium Pasca Sarjana ITS, ia menyatakan kebanyakan arsitek saat ini tidak bersertifikat.

“Tidak cuma arsitek, tapi engineer yang tidak bersertifikat jumlahnya sangat banyak,” kata mantan Dekan FTSP ITS Surabaya itu.

Oleh karena itu, ia mengaku bangga bila jurusan arsitektur ITS dapat merealisasikan PPAr, karena pendidikan profesi bagi sarjana teknik selama ini masih sebatas wacana di kalangan Persatuan Insinyur Indonesia (PII).

“PII itu sudah berulang kali rapat membahas soal itu, tapi sampai sekarang tidak pernah terwujud,” katanya.

Didampingi Ketua IAI Pusat, Endy Sugiono, ia mengatakan kehadiran PPAr juga akan menjawab tantangan global dunia kerja saat ini.

Senada dengan itu, Ketua IAI Pusat, Endy Sugiono, menyatakan standar pendidikan “engineering” di dunia adalah lima tahun.

“Untuk Indonesia hanya berlaku sistem 144 SKS yang setara dengan empat tahun. Jadi, kalau disetarakan dengan pendidikan di luar negeri, kita ini masih kurang satu tahun,” katanya.

Dengan adanya PPAr itu, katanya, maka lulusan arsitek dapat setara dengan arsitek lulusan luar negeri.

“Pada akhir bulan April, kami akan membuat kesepakatan dengan 10 negara ASEAN tentang hal itu, sehingga sertifikat PPAr akan diakui di seluruh dunia. Mau bekerja di Singapura, bahkan Alaska ya sama,” katanya.

Secara teknis, PPAr akan ditempuh dalam kurun waktu satu tahun dengan enam mata kuliah, yaitu dua mata kuliah Studio Perancangan, Teori Arsitektur, Etika Arsitektur, Architectural Practice, serta Desain dan Teknologi.

“Lulusannya akan menyandang gelar kandidat arsitektur. Ada juga program magang selama dua tahun. Mereka akan ditempatkan untuk magang bekerja di usaha arsitek milik anggota IAI yang ditunjuk IAI pusat,” kata Ketua Jurusan Arsitektur, Ir. Purwanita Setijanti MSc PhD.

Setelah itu, katanya, mereka baru bisa menempuh ujian sertifikasi, dan jika lulus berhak menyandang gelar IAI.

“Keberadaan PPAr itu diharapkan dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya sebagai bekal untuk memasuki dunia kerja. Sekarang masih banyak arsitek yang praktek tanpa sertifikat. Di masa mendatang hal ini tidak akan terjadi lagi,” katanya.(*)

COPYRIGHT © 2009

12
Apr
09

DASH – Architecure Senior High

DASH was founded in 1990 by former principal Jacqueline Hinchey-Sipes, who coined the famous school motto “Education by Design”. Over the past 15 years DASH has earned a reputation as one of Florida’s strongest public high schools, with the school often making Miami-Dade county’s highest marks on the FCAT (Florida Comprehensive Assessment Test) exam and consistently receiving an assessment grade of A by the state. DASH has been featured in Dwell magazine, Teen People Magazine (Cool School of the Month, May 2000), and the Miami Herald. Newsweek Magazine ranked DASH as the 33rd best public high school in the US in 2005 and the 60th best in 2006. Over 95% of DASH graduates continue on to college, with most students receiving scholarships from many of the nation’s top art and design programs. The school was twice named a Blue Ribbon School of Excellence, in 1994 and 1995[1]. Recently, DASH graduates have also been admitted to the Wharton School at the University of Pennsylvania, Dartmouth College, Cornell University, Massachusetts Institute of Technology, Cooper Union, Harvard University, Duke University, and Johns Hopkins University.

dash

The school features programs in Architecture/Interior Design, Entertainment Technology, Fashion Design, Industrial Design, and Visual Communications/Web Design. The curriculum includes a strong, four-year foundation in the fine arts, internships with local design firms, and dual-enrollment college-level design courses, such as performance art, taught by professors from local colleges as well as field professionals. Students take 8 courses a year (4 core classes, 2-3 art classes, and 1-2 electives) as opposed to the regular 6-course curriculum in most other Florida high schools.

[ HERE ]

25
Feb
09

OSPEK DAN RELASI “TUAN-BUDAK”

Oleh: Sukran Abdilah

Meninggalnya Dwiyanto Wisnugroho, seorang mahasiswa Geodesi ITB saat mengikuti orientasi studi pengenalan kampus (ospek) menyisakan duka mendung bagi dunia pendidikan. Kegiatan yang digelar Ikatan Mahasiswa Geodesi (IMG) ini sebetulnya termasuk ilegal karena sejak 1995 dilarang Kampus ITB. Mahasiswa baru ketika mengikuti kegiatan ospek (dipaksa) berjalan dari Dago menuju Desa Pagerwangi, Lembang. Nah, di tengah simpang siur penyebab meninggalnya korban, saya teringat buku Man Search for Meaning, yang ditulis Victor L Frankle untuk mengisahkan pengalaman pahit selama mendekam di kamp konsentrasi Auschwitz.

Kamp konsentrasi Auschwitz di Polandia dibangun Nazi pimpinan Adolf Hitler untuk mengonsentrasikan massa agar dapat dijadikan buruh kasar. Semenjak 1940-1945, Nazi menangkap setiap orang yang mengancam eksistensi Nazi dari seluruh penjuru Eropa untuk dibawa ke kamp kematian ini. Waktu itu, kamp konsentrasi Auschwitz mendapat julukan the death factory (pabrik pembantaian) karena dari bangunan ini terjadi proses pembantaian yang dilakukan secara efisien dan efektif layaknya kegiatan produksi di pabrik.

[ Kekerasan ]

Relasi antarmanusia mestinya berdasarkan atas pandangan membiarkan yang lain menjadi “si liyan” yang tidak bisa dikenali, didefinisikan, atau dimengerti sepenuhnya. Sebab, pemahaman memaksa atas yang lain mengakibatkan lahirnya penindasan. Inilah Emmanuel Levinas, hubungan manusia yang simetris, di mana hubungan dua insan atau lebih, terjadi timbal balik yang mendominasi antara satu individu dan individu lain.

Orang lain, dalam pemahamannya bukanlah dirinya dan sangat berbeda dengannya. Perbedaan itu lenyap, ketika seseorang berpikir bahwa ia dan orang lain adalah sama. Di dalam relasi simetris juga, seseorang bertanggung jawab atas eksistensi orang lain. Namun, tanggung jawab yang dipikulnya jauh lebih berat ketimbang hak dan kebebasannya untuk menjadi manusia merdeka dan bebas. Dengan tanggung jawab yang berat ini, individu atau mahasiswa tidak dapat memperlakukan diri setara dengan orang lain. Alhasil, terjadi hubungan dominan pada kegiatan ospek di setiap perguruan tinggi.

Misalnya, relasi mahasiswa baru dengan senior, dalam kasus ospek yang menelan korban jiwa, diselubungi praktik relasi subjek sadistis dan masokis. Mahasiswa baru posisinya bagai subjek masokis yang memahami kebebasan melalui kenikmatan didiskriminasi, (maaf) disiksa orang lain dan dikebiri kebebasannya. Sebab, dari dalam diri mahasiswa baru, realisasi kebebasan, otonomi maupun totalitasnya sebagai individu merdeka dikalahkan mahasiswa yang lebih senior. Sementara itu, mahasiswa senior sebagai seorang subjek sadistis bebas melakukan dominasi sampai pada tahap melakukan kekerasan kepada peserta.

Dalam praktik orientasi jurusan, mahasiswa senior lebih banyak mendominasi dengan melakukan kekerasan sebagai tanda superioritas. Kekerasan tersebut tidak hanya bersifat fisik. Tapi, bisa berupa melontarkan kata-kata kotor yang tidak sopan, merendahkan dan memberlakukan aturan ketat “berat sebelah” yang tidak boleh dilanggar peserta.

Hubungan dalam orientasi kampus, bagi Levinas, seharusnya setiap mahasiswa diperlakukan sama dengan melakukan relasi a-simetris. Dalam relasi ini, mahasiswa senior berbeda dengan mahasiswa junior, tidak setara dengannya, tetapi menyadari tanggung jawab etisnya. Dengan kesadaran ini, tanggung jawab tidak membebaninya, tapi kerelaan yang lahir dari kebebasannya membuat individu rela menyerahkan apa yang dimiliki bagi orang lain. Levinas, merumuskannya menjadi “saya-ada-untuk-yang-lain”.

Praktik ospek kalau mengadopsi gagasan Levinas berarti suatu kondisi, ketika seseorang memperlakukan orang lain lebih mulia dan terhormat melebihi apa yang dilakukan bagi diri sendiri. Itulah yang diistilahkan dalam Islam dengan “rahmatan lil-insaniyiin”, rahmat bagi seluruh umat manusia. Relasi “tuan-budak” di dalam kegiatan ospek mahasiswa, semestinya dikemas secara etis dengan memperlakukan manusia lain secara mulia dan terhormat. Jadi, eksistensi mahasiswa senior “ada-untuk-menjaga-kebebasan-mahasiswa lain” bukan “ada-untuk-mengeksploitasi-kebebasan-mahasiswa liyan”.

[ Pencegahan kekerasan ]

Saya pikir perguruan tinggi sebagai pencetak tokoh publik, sudah semestinya memahami pencegahan kekerasan berkedok kaderisasi atau ospek secara lebih aktif dan kontinu. Termasuk mengatasi agar tidak terulang lagi korban jiwa yang diakibatkan kegiatan mahasiswa berbau perpeloncoan. Dalam ospek, rawan terjadi semacam pemusnahan kebebasan dan nyawa mahasiswa. Kampus, dalam perspektif saya, bukan lembaga yang menelurkan manusia budak nonesensial, bahkan bukan juga lembaga yang mencetak manusia bermental tuan yang biadab. Dari lembaga pendidikan tinggilah semestinya lahir sekelompok manusia beradab.

Dalam bahasa lain, kampus tidak bisa dan tidak boleh disamakan dengan kamp pembantaian. Ya, lembaga perguruan tinggi bukan kampus pembantaian (the death university). Saya salut dengan pemecatan ketua jurusan oleh birokrat kampus ITB, karena ketegasan ini diharapkan ospek –sebelum dan setelah disetujui– bisa diawasi dan diarahkan kepada hal-hal positif. Utamanya, manipulasi dan kekerasan (baik simbolik maupun fisik) dapat dicegah secara efektif dan efisien.

Memang betul jika kegiatan ospek awal mulanya dilakukan perguruan tinggi dengan tujuan baik, yakni melatih kemandirian, menanamkan solidaritas, dan cara-cara belajar di perguruan tinggi. Akan tetapi, yang terjadi adalah sebaliknya, mahasiswa hasil godokan berubah menjadi mahasiswa tidak kritis, mandiri dalam melakukan kekerasan, tidak mementingkan orang banyak, dan prestasinya kian merosot. Dalam kasus kali ini, ada semacam kesalahan menerjemahkan metode pelaksanaan ospek di perguruan tinggi.

Misalnya, peserta ospek dituntut memeras tenaga sehingga kecapekan, kehabisan tenaga, napas, bahkan sampai menelan korban jiwa. Padahal metode pelaksanaan orientasi mahasiswa bisa dikemas dengan baik, misalnya, menyertakan permainan yang mengasyikkan. Outbound yang mengasyikkan adalah salah satu kegiatan yang bisa menumbuhkan kemandirian, kolektivisme, dan daya kritis mahasiswa. Dan, paling penting, outbound ini terlihat lebih manusiawi karena setelah selesai mengikuti orientasi, mahasiswa akan mendapatkan pengalaman berharga. Dengan metode ini juga setiap mahasiswa akan menjalin keakraban, keintiman, dan kemelakatan relasi antara satu sama lain, sehingga kedamaian tidak hanya basa-basi belaka. ***


Penulis: Editor lepas DAR!Mizan, aktivis Ikatan Mahsiaswa Muhammadiyah Jawa Barat, alumnus Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung.

Sumber: Harian Pikiran Rakyat, Selasa 17 Februari 2009

[ KLIK DISINI: LANJUTAN OPINI BELIAU TENTANG THE DEATH UNIVERSITY ] ;-)

[ JUGA: AGAR KEJADIAN SERUPA TIDAK TERULANGI KEMBALI DAN KEMBALI TERULANGI ]

25
Feb
09

Meluruskan Paradigma tentang Ospek

Pikiran Rakyat – 20 Februari 2009

Oleh: Bobby Rahman

Tulisan ini dibuat untuk menanggapi opini yang ditulis Bung Sukron Abdilah berjudul “Ospek dan Relasi Tuan-Budak” (“PR”, 17/2). Bung Sukron menganalogikan kampus ITB sebagai kampus pembantaian (the death university). Saya menggunakan sapaan Bung untuk mengingatkan sapaan para pejuang kepada kerabat sesama pejuang. Seperti Soekarno disapa Bung Karno.

Jika menyimak apa yang disampaikan Bung Sukron dalam opininya, ia mengambil sudut pandang kampus pembantaian dengan menyamakan analoginya dengan buku Man Search For Meaning karangan Victor L. Frankle. Buku tersebut merupakan sebuah fakta sejarah dari kamp konsentrasi Nazi bernama Auschwitz. Menurut hemat saya, penyamaan atau penganalogian itu merupakan hal yang keliru. Kesenjangan fakta antara kondisi yang terjadi di ITB atau kampus-kampus lain dan buku tersebut amat jauh. Hal demikian hanya akan menimbulkan kekhawatiran yang berlebihan dari seluruh pihak yang terkait dengan institusi pendidikan baik civitas academica, orang tua, dan masyarakat karena menerima informasi yang tidak lengkap dan tepat. Jika institusi pendidikan saja tidak dipercaya, mana lagi yang bisa kita percaya untuk mengembangkan daya saing dan karakter manusia Indonesia?

[ Klarifikasi ]

Kita mengenal ospek sebagai orientasi studi pengenalan kampus. Di ITB, ospek sudah mengalami transformasi nama dan esensi menjadi OS atau orientasi studi dan sekarang menjadi kaderisasi. Nama dan konotasi kaderisasi lebih ringan diterima oleh masyarakat dan sebagai bentuk komitmen mahasiswa untuk mengubah citra OS di masa lalu. Ospek ITB dapat dibagi menjadi dua, ospek kampus dan OS jurusan atau program studi.

Kenyataan saat ini, transformasi yang dilakukan kawan-kawan benar-benar mengedepankan komitmen untuk menjadi mahasiswa seutuhnya yang memiliki kesiapan mental dan intelektual. Apabila terjadi sesuatu seperti saat ini ada kemungkinan akibat human error atau akibat ulah oknum tertentu. Tidak dapat dimungkiri ada oknum yang memanfaatkan ospek sebagai ajang senang-senang semata tanpa tujuan, itu yang dulu dikenal dengan perpeloncoan. Akan tetapi, saat ini perpeloncoan telah dihapuskan dengan mengembalikan kepada tujuan kegiatan ospek itu sendiri. Maka, kami menyebutnya sebagai tragedi.

Kejomplangan antara fakta yang terjadi di ITB dan kutipan dari buku Man Search for Meaning bisa dilihat dari korban yang jatuh. Korban yang jatuh karena kasus ospek merupakan sebuah hal yang dapat dikatakan tidak disengaja. Akan tetapi, apa yang terjadi di dalam buku tersebut merupakan sebuah hal yang sudah terstruktur dengan baik dengan kata lain memang sengaja dihilangkan nyawanya. Jadi, sungguh hal yang berlebihan jika menyamakan kedua hal tersebut. Apalagi pada kesimpulan akhirnya dengan mengatakan bahwa kampus ITB merupakan kampus pembantaian (the death university). Sungguh jauh dari kenyataan. Membayangkan ungkapan tersebut membuat orang menjadi merinding. Lembaga atau institusi pendidikan disamakan dengan lembaga pembantaian.

Kegiatan ospek di Kampus ITB bukan menempatkan harkat manusia pada posisi yang berbeda sehingga dapat ditarik kesimpulan “Tuan dan Budak”. Ospek yang keras dan long march yang dilakukan merupakan sebuah metode untuk mencapai tujuan tertentu. Tujuan yang ingin dicapai oleh organisasi kemahasiswaan berbeda dan cenderung sifatnya normatif dan memiliki karakteristik insan akademis. Hal ini berbeda sekali dengan apa yang telah diungkapkan oleh Bung Sukron. Poin yang perlu digarisbawahi di sini adalah rencana ospek tidak dapat lepas dari sebuah kekeliruan dan risiko sama halnya dengan setiap aktivitas manusia lainnya. Kekeliruan dapat terjadi dengan disengaja maupun tidak disengaja. Akan tetapi, dalam konteks ospek ini kekeliruan dilakukan oleh oknum baik disengaja maupun tidak.

Kita coba mengetengahkan persoalan ini dilihat dari sudut pandang perubahan. Saat ini, kalau boleh dikatakan, metode ospek di ITB sudah sangat jauh berubah dibandingkan ketika tahun 2004. Tahun 2004 dapat dikatakan sebagai mata rantai terakhir ospek dengan metode lama. Metode lama adalah sebuah bentuk perlawanan terhadap sikap represif dan otoriter pemerintah terhadap rakyat sehingga masyarakat dan mahasiswa sebagai insan akademis membutuhkan perlawanan baik secara intelektual maupun fisik. Dalam hal ini, mahasiswa menempatkan diri sebagai masyarakat, yaitu masyarakat intelektual. Akan tetapi, di dalam iklim demokrasi yang terpantau seperti saat ini, metode ospek berubah. Karena pada dasarnya metode ospek mengikuti tujuan yang ingin dicapai. Tujuan yang akan dicapai dikembalikan kepada organisasi yang memiliki visi dan kebutuhan kepada peran mahasiswa, salah satunya adalah Tri Darma Perguruan Tinggi. Tujuan normatif organisasi kemahasiswaan saat ini lebih kepada peningkatan daya saing melalui kompetensi dan pengabdian masyarakat.

Kita bisa saja berdebat dalam hal bahwa metode tersebut tidak manusiawi. Tetapi dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah metode mengikuti tujuan. Dalam kondisi ekstrem, seperti peperangan fisik, metode tersebut dapat digunakan dan oleh institusi yang tepat. Bukan berarti organisasi kemahasiswaan tidak berhak, tetapi apakah hal tersebut relevan dengan kondisi saat ini dan kebutuhannya?

[ Penutup]

Tulisan ini bukan ingin membenarkan kesalahan yang terjadi. Bukan pula melepaskan tanggung jawab pihak yang seharusnya bertanggung jawab. Tulisan ini untuk meluruskan dan mencegah keresahan masyarakat akibat informasi yang tidak utuh dan tepat.

Semoga tragedi yang menimpa saudara kami, Dwiyanto Wisnugroho mahasiswa Geodesi ITB, merupakan tragedi terakhir sekaligus menutup catatan hitam dari kegiatan mahasiswa. Ke depannya, kita harus percaya bahwa mahasiswa adalah insan akademis, adalah insan intelektual yang mampu menempatkan diri sebagai orang yang memiliki tanggung jawab memanfaatkan keilmuannya untuk hal yang produktif menghasilkan karya besar untuk bangsa ini.

Harapan besar juga disampaikan kepada seluruh masyarakat dan civitas academica ITB bahwa permasalahan ini harus ditempatkan pada posisi yang proporsional tidak memukul rata kepada setiap kegiatan mahasiswa. Yang perlu diberikan kepada mahasiswa adalah kepercayaan. Dari kepercayaan tersebut, akan timbul kedewasaan untuk bersikap dan mempertanggungjawabkan sikapnya tersebut. Maju terus mahasiswa Indonesia. Teringat kata-kata Soekarno, “Berikan aku sepuluh orang pemuda maka aku akan mengubah dunia.” Sedemikian besarnya potensi mahasiswa atau seorang pemuda. ***

Penulis, mantan Sekjen OS-KM ITB 2006, Menteri Dinamisasi Kampus Kabinet KM ITB 2008/2009.

[ Penulis: juga alumni SMA Pesantren Unggul AL-BAYAN - Sukabumi ;-) Mantab Bob! Hehehe ] Tottaly I’m proud of you bro! ;-)

Important Note: Semoga KMA Kridaya UPI bisa mengambil pelajaran sesegera mungkin serta berperan lebih aktif untuk melakukan perubahan dalam kegiatan-kegiatan ospek di waktu yang akan datang! [ AGAR YANG SEPERTI INI TIDAK TERULANG DAN TERULANG LAGI DAN LAGI ]

Propaganda Rules! Speak the truth always, even if it leads you to your death! ;-)




[ I s s u e s C a l e n d a r ]

November 2009
M T W T F S S
« Oct    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Blog Stats

  • 19,115 hits

[ClassroomDesignChallenge]

[v i s i t o r s t r a c k e r]


My blog is worth $564.54.
How much is your blog worth?

Click to view my Personality Profile page
Watch videos at Vodpod and other videos from this collection.