| Arsitek, dalam skema industri / Architects in the industrial scheme Reading nowadays phenomena in Indonesia
|
***
(Probo HIndarto)
| Arsitek, dalam skema industri / Architects in the industrial scheme Reading nowadays phenomena in Indonesia
|
***
(Probo HIndarto)
14/04/09 19:12
Surabaya (ANTARA News) – Pendidikan Profesi Arsitektur (PPAr) yang pertama di Indonesia, akhirnya dibuka ITS Surabaya mulai semester mendatang.
“Adanya PPAr menunjukkan gelar sarjana teknik saja tidak cukup, tapi membutuhkan sertifikat keahlian,” kata Rektor ITS Prof Ir Priyo Suprobo Ms PhD di Surabaya, Selasa.
Di sela-sela penandatangan MoU PPAr ITS dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) di auditorium Pasca Sarjana ITS, ia menyatakan kebanyakan arsitek saat ini tidak bersertifikat.
“Tidak cuma arsitek, tapi engineer yang tidak bersertifikat jumlahnya sangat banyak,” kata mantan Dekan FTSP ITS Surabaya itu.
Oleh karena itu, ia mengaku bangga bila jurusan arsitektur ITS dapat merealisasikan PPAr, karena pendidikan profesi bagi sarjana teknik selama ini masih sebatas wacana di kalangan Persatuan Insinyur Indonesia (PII).
“PII itu sudah berulang kali rapat membahas soal itu, tapi sampai sekarang tidak pernah terwujud,” katanya.
Didampingi Ketua IAI Pusat, Endy Sugiono, ia mengatakan kehadiran PPAr juga akan menjawab tantangan global dunia kerja saat ini.
Senada dengan itu, Ketua IAI Pusat, Endy Sugiono, menyatakan standar pendidikan “engineering” di dunia adalah lima tahun.
“Untuk Indonesia hanya berlaku sistem 144 SKS yang setara dengan empat tahun. Jadi, kalau disetarakan dengan pendidikan di luar negeri, kita ini masih kurang satu tahun,” katanya.
Dengan adanya PPAr itu, katanya, maka lulusan arsitek dapat setara dengan arsitek lulusan luar negeri.
“Pada akhir bulan April, kami akan membuat kesepakatan dengan 10 negara ASEAN tentang hal itu, sehingga sertifikat PPAr akan diakui di seluruh dunia. Mau bekerja di Singapura, bahkan Alaska ya sama,” katanya.
Secara teknis, PPAr akan ditempuh dalam kurun waktu satu tahun dengan enam mata kuliah, yaitu dua mata kuliah Studio Perancangan, Teori Arsitektur, Etika Arsitektur, Architectural Practice, serta Desain dan Teknologi.
“Lulusannya akan menyandang gelar kandidat arsitektur. Ada juga program magang selama dua tahun. Mereka akan ditempatkan untuk magang bekerja di usaha arsitek milik anggota IAI yang ditunjuk IAI pusat,” kata Ketua Jurusan Arsitektur, Ir. Purwanita Setijanti MSc PhD.
Setelah itu, katanya, mereka baru bisa menempuh ujian sertifikasi, dan jika lulus berhak menyandang gelar IAI.
“Keberadaan PPAr itu diharapkan dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya sebagai bekal untuk memasuki dunia kerja. Sekarang masih banyak arsitek yang praktek tanpa sertifikat. Di masa mendatang hal ini tidak akan terjadi lagi,” katanya.(*)
COPYRIGHT © 2009
DASH was founded in 1990 by former principal Jacqueline Hinchey-Sipes, who coined the famous school motto “Education by Design”. Over the past 15 years DASH has earned a reputation as one of Florida’s strongest public high schools, with the school often making Miami-Dade county’s highest marks on the FCAT (Florida Comprehensive Assessment Test) exam and consistently receiving an assessment grade of A by the state. DASH has been featured in Dwell magazine, Teen People Magazine (Cool School of the Month, May 2000), and the Miami Herald. Newsweek Magazine ranked DASH as the 33rd best public high school in the US in 2005 and the 60th best in 2006. Over 95% of DASH graduates continue on to college, with most students receiving scholarships from many of the nation’s top art and design programs. The school was twice named a Blue Ribbon School of Excellence, in 1994 and 1995[1]. Recently, DASH graduates have also been admitted to the Wharton School at the University of Pennsylvania, Dartmouth College, Cornell University, Massachusetts Institute of Technology, Cooper Union, Harvard University, Duke University, and Johns Hopkins University.

The school features programs in Architecture/Interior Design, Entertainment Technology, Fashion Design, Industrial Design, and Visual Communications/Web Design. The curriculum includes a strong, four-year foundation in the fine arts, internships with local design firms, and dual-enrollment college-level design courses, such as performance art, taught by professors from local colleges as well as field professionals. Students take 8 courses a year (4 core classes, 2-3 art classes, and 1-2 electives) as opposed to the regular 6-course curriculum in most other Florida high schools.
Meninggalnya Dwiyanto Wisnugroho, seorang mahasiswa Geodesi ITB saat mengikuti orientasi studi pengenalan kampus (ospek) menyisakan duka mendung bagi dunia pendidikan. Kegiatan yang digelar Ikatan Mahasiswa Geodesi (IMG) ini sebetulnya termasuk ilegal karena sejak 1995 dilarang Kampus ITB. Mahasiswa baru ketika mengikuti kegiatan ospek (dipaksa) berjalan dari Dago menuju Desa Pagerwangi, Lembang. Nah, di tengah simpang siur penyebab meninggalnya korban, saya teringat buku Man Search for Meaning, yang ditulis Victor L Frankle untuk mengisahkan pengalaman pahit selama mendekam di kamp konsentrasi Auschwitz.
Kamp konsentrasi Auschwitz di Polandia dibangun Nazi pimpinan Adolf Hitler untuk mengonsentrasikan massa agar dapat dijadikan buruh kasar. Semenjak 1940-1945, Nazi menangkap setiap orang yang mengancam eksistensi Nazi dari seluruh penjuru Eropa untuk dibawa ke kamp kematian ini. Waktu itu, kamp konsentrasi Auschwitz mendapat julukan the death factory (pabrik pembantaian) karena dari bangunan ini terjadi proses pembantaian yang dilakukan secara efisien dan efektif layaknya kegiatan produksi di pabrik.
[ Kekerasan ]
Relasi antarmanusia mestinya berdasarkan atas pandangan membiarkan yang lain menjadi “si liyan” yang tidak bisa dikenali, didefinisikan, atau dimengerti sepenuhnya. Sebab, pemahaman memaksa atas yang lain mengakibatkan lahirnya penindasan. Inilah Emmanuel Levinas, hubungan manusia yang simetris, di mana hubungan dua insan atau lebih, terjadi timbal balik yang mendominasi antara satu individu dan individu lain.
Orang lain, dalam pemahamannya bukanlah dirinya dan sangat berbeda dengannya. Perbedaan itu lenyap, ketika seseorang berpikir bahwa ia dan orang lain adalah sama. Di dalam relasi simetris juga, seseorang bertanggung jawab atas eksistensi orang lain. Namun, tanggung jawab yang dipikulnya jauh lebih berat ketimbang hak dan kebebasannya untuk menjadi manusia merdeka dan bebas. Dengan tanggung jawab yang berat ini, individu atau mahasiswa tidak dapat memperlakukan diri setara dengan orang lain. Alhasil, terjadi hubungan dominan pada kegiatan ospek di setiap perguruan tinggi.
Misalnya, relasi mahasiswa baru dengan senior, dalam kasus ospek yang menelan korban jiwa, diselubungi praktik relasi subjek sadistis dan masokis. Mahasiswa baru posisinya bagai subjek masokis yang memahami kebebasan melalui kenikmatan didiskriminasi, (maaf) disiksa orang lain dan dikebiri kebebasannya. Sebab, dari dalam diri mahasiswa baru, realisasi kebebasan, otonomi maupun totalitasnya sebagai individu merdeka dikalahkan mahasiswa yang lebih senior. Sementara itu, mahasiswa senior sebagai seorang subjek sadistis bebas melakukan dominasi sampai pada tahap melakukan kekerasan kepada peserta.
Dalam praktik orientasi jurusan, mahasiswa senior lebih banyak mendominasi dengan melakukan kekerasan sebagai tanda superioritas. Kekerasan tersebut tidak hanya bersifat fisik. Tapi, bisa berupa melontarkan kata-kata kotor yang tidak sopan, merendahkan dan memberlakukan aturan ketat “berat sebelah” yang tidak boleh dilanggar peserta.
Hubungan dalam orientasi kampus, bagi Levinas, seharusnya setiap mahasiswa diperlakukan sama dengan melakukan relasi a-simetris. Dalam relasi ini, mahasiswa senior berbeda dengan mahasiswa junior, tidak setara dengannya, tetapi menyadari tanggung jawab etisnya. Dengan kesadaran ini, tanggung jawab tidak membebaninya, tapi kerelaan yang lahir dari kebebasannya membuat individu rela menyerahkan apa yang dimiliki bagi orang lain. Levinas, merumuskannya menjadi “saya-ada-untuk-yang-lain”.
Praktik ospek kalau mengadopsi gagasan Levinas berarti suatu kondisi, ketika seseorang memperlakukan orang lain lebih mulia dan terhormat melebihi apa yang dilakukan bagi diri sendiri. Itulah yang diistilahkan dalam Islam dengan “rahmatan lil-insaniyiin”, rahmat bagi seluruh umat manusia. Relasi “tuan-budak” di dalam kegiatan ospek mahasiswa, semestinya dikemas secara etis dengan memperlakukan manusia lain secara mulia dan terhormat. Jadi, eksistensi mahasiswa senior “ada-untuk-menjaga-kebebasan-mahasiswa lain” bukan “ada-untuk-mengeksploitasi-kebebasan-mahasiswa liyan”.
[ Pencegahan kekerasan ]
Saya pikir perguruan tinggi sebagai pencetak tokoh publik, sudah semestinya memahami pencegahan kekerasan berkedok kaderisasi atau ospek secara lebih aktif dan kontinu. Termasuk mengatasi agar tidak terulang lagi korban jiwa yang diakibatkan kegiatan mahasiswa berbau perpeloncoan. Dalam ospek, rawan terjadi semacam pemusnahan kebebasan dan nyawa mahasiswa. Kampus, dalam perspektif saya, bukan lembaga yang menelurkan manusia budak nonesensial, bahkan bukan juga lembaga yang mencetak manusia bermental tuan yang biadab. Dari lembaga pendidikan tinggilah semestinya lahir sekelompok manusia beradab.
Dalam bahasa lain, kampus tidak bisa dan tidak boleh disamakan dengan kamp pembantaian. Ya, lembaga perguruan tinggi bukan kampus pembantaian (the death university). Saya salut dengan pemecatan ketua jurusan oleh birokrat kampus ITB, karena ketegasan ini diharapkan ospek –sebelum dan setelah disetujui– bisa diawasi dan diarahkan kepada hal-hal positif. Utamanya, manipulasi dan kekerasan (baik simbolik maupun fisik) dapat dicegah secara efektif dan efisien.
Memang betul jika kegiatan ospek awal mulanya dilakukan perguruan tinggi dengan tujuan baik, yakni melatih kemandirian, menanamkan solidaritas, dan cara-cara belajar di perguruan tinggi. Akan tetapi, yang terjadi adalah sebaliknya, mahasiswa hasil godokan berubah menjadi mahasiswa tidak kritis, mandiri dalam melakukan kekerasan, tidak mementingkan orang banyak, dan prestasinya kian merosot. Dalam kasus kali ini, ada semacam kesalahan menerjemahkan metode pelaksanaan ospek di perguruan tinggi.
Misalnya, peserta ospek dituntut memeras tenaga sehingga kecapekan, kehabisan tenaga, napas, bahkan sampai menelan korban jiwa. Padahal metode pelaksanaan orientasi mahasiswa bisa dikemas dengan baik, misalnya, menyertakan permainan yang mengasyikkan. Outbound yang mengasyikkan adalah salah satu kegiatan yang bisa menumbuhkan kemandirian, kolektivisme, dan daya kritis mahasiswa. Dan, paling penting, outbound ini terlihat lebih manusiawi karena setelah selesai mengikuti orientasi, mahasiswa akan mendapatkan pengalaman berharga. Dengan metode ini juga setiap mahasiswa akan menjalin keakraban, keintiman, dan kemelakatan relasi antara satu sama lain, sehingga kedamaian tidak hanya basa-basi belaka. ***
Sumber: Harian Pikiran Rakyat, Selasa 17 Februari 2009
[ KLIK DISINI: LANJUTAN OPINI BELIAU TENTANG THE DEATH UNIVERSITY ]
[ JUGA: AGAR KEJADIAN SERUPA TIDAK TERULANGI KEMBALI DAN KEMBALI TERULANGI ]
Pikiran Rakyat – 20 Februari 2009
Oleh: Bobby Rahman
Tulisan ini dibuat untuk menanggapi opini yang ditulis Bung Sukron Abdilah berjudul “Ospek dan Relasi Tuan-Budak” (“PR”, 17/2). Bung Sukron menganalogikan kampus ITB sebagai kampus pembantaian (the death university). Saya menggunakan sapaan Bung untuk mengingatkan sapaan para pejuang kepada kerabat sesama pejuang. Seperti Soekarno disapa Bung Karno.
Jika menyimak apa yang disampaikan Bung Sukron dalam opininya, ia mengambil sudut pandang kampus pembantaian dengan menyamakan analoginya dengan buku Man Search For Meaning karangan Victor L. Frankle. Buku tersebut merupakan sebuah fakta sejarah dari kamp konsentrasi Nazi bernama Auschwitz. Menurut hemat saya, penyamaan atau penganalogian itu merupakan hal yang keliru. Kesenjangan fakta antara kondisi yang terjadi di ITB atau kampus-kampus lain dan buku tersebut amat jauh. Hal demikian hanya akan menimbulkan kekhawatiran yang berlebihan dari seluruh pihak yang terkait dengan institusi pendidikan baik civitas academica, orang tua, dan masyarakat karena menerima informasi yang tidak lengkap dan tepat. Jika institusi pendidikan saja tidak dipercaya, mana lagi yang bisa kita percaya untuk mengembangkan daya saing dan karakter manusia Indonesia?
[ Klarifikasi ]
Kita mengenal ospek sebagai orientasi studi pengenalan kampus. Di ITB, ospek sudah mengalami transformasi nama dan esensi menjadi OS atau orientasi studi dan sekarang menjadi kaderisasi. Nama dan konotasi kaderisasi lebih ringan diterima oleh masyarakat dan sebagai bentuk komitmen mahasiswa untuk mengubah citra OS di masa lalu. Ospek ITB dapat dibagi menjadi dua, ospek kampus dan OS jurusan atau program studi.
Kenyataan saat ini, transformasi yang dilakukan kawan-kawan benar-benar mengedepankan komitmen untuk menjadi mahasiswa seutuhnya yang memiliki kesiapan mental dan intelektual. Apabila terjadi sesuatu seperti saat ini ada kemungkinan akibat human error atau akibat ulah oknum tertentu. Tidak dapat dimungkiri ada oknum yang memanfaatkan ospek sebagai ajang senang-senang semata tanpa tujuan, itu yang dulu dikenal dengan perpeloncoan. Akan tetapi, saat ini perpeloncoan telah dihapuskan dengan mengembalikan kepada tujuan kegiatan ospek itu sendiri. Maka, kami menyebutnya sebagai tragedi.
Kejomplangan antara fakta yang terjadi di ITB dan kutipan dari buku Man Search for Meaning bisa dilihat dari korban yang jatuh. Korban yang jatuh karena kasus ospek merupakan sebuah hal yang dapat dikatakan tidak disengaja. Akan tetapi, apa yang terjadi di dalam buku tersebut merupakan sebuah hal yang sudah terstruktur dengan baik dengan kata lain memang sengaja dihilangkan nyawanya. Jadi, sungguh hal yang berlebihan jika menyamakan kedua hal tersebut. Apalagi pada kesimpulan akhirnya dengan mengatakan bahwa kampus ITB merupakan kampus pembantaian (the death university). Sungguh jauh dari kenyataan. Membayangkan ungkapan tersebut membuat orang menjadi merinding. Lembaga atau institusi pendidikan disamakan dengan lembaga pembantaian.
Kegiatan ospek di Kampus ITB bukan menempatkan harkat manusia pada posisi yang berbeda sehingga dapat ditarik kesimpulan “Tuan dan Budak”. Ospek yang keras dan long march yang dilakukan merupakan sebuah metode untuk mencapai tujuan tertentu. Tujuan yang ingin dicapai oleh organisasi kemahasiswaan berbeda dan cenderung sifatnya normatif dan memiliki karakteristik insan akademis. Hal ini berbeda sekali dengan apa yang telah diungkapkan oleh Bung Sukron. Poin yang perlu digarisbawahi di sini adalah rencana ospek tidak dapat lepas dari sebuah kekeliruan dan risiko sama halnya dengan setiap aktivitas manusia lainnya. Kekeliruan dapat terjadi dengan disengaja maupun tidak disengaja. Akan tetapi, dalam konteks ospek ini kekeliruan dilakukan oleh oknum baik disengaja maupun tidak.
Kita coba mengetengahkan persoalan ini dilihat dari sudut pandang perubahan. Saat ini, kalau boleh dikatakan, metode ospek di ITB sudah sangat jauh berubah dibandingkan ketika tahun 2004. Tahun 2004 dapat dikatakan sebagai mata rantai terakhir ospek dengan metode lama. Metode lama adalah sebuah bentuk perlawanan terhadap sikap represif dan otoriter pemerintah terhadap rakyat sehingga masyarakat dan mahasiswa sebagai insan akademis membutuhkan perlawanan baik secara intelektual maupun fisik. Dalam hal ini, mahasiswa menempatkan diri sebagai masyarakat, yaitu masyarakat intelektual. Akan tetapi, di dalam iklim demokrasi yang terpantau seperti saat ini, metode ospek berubah. Karena pada dasarnya metode ospek mengikuti tujuan yang ingin dicapai. Tujuan yang akan dicapai dikembalikan kepada organisasi yang memiliki visi dan kebutuhan kepada peran mahasiswa, salah satunya adalah Tri Darma Perguruan Tinggi. Tujuan normatif organisasi kemahasiswaan saat ini lebih kepada peningkatan daya saing melalui kompetensi dan pengabdian masyarakat.
Kita bisa saja berdebat dalam hal bahwa metode tersebut tidak manusiawi. Tetapi dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah metode mengikuti tujuan. Dalam kondisi ekstrem, seperti peperangan fisik, metode tersebut dapat digunakan dan oleh institusi yang tepat. Bukan berarti organisasi kemahasiswaan tidak berhak, tetapi apakah hal tersebut relevan dengan kondisi saat ini dan kebutuhannya?
[ Penutup]
Tulisan ini bukan ingin membenarkan kesalahan yang terjadi. Bukan pula melepaskan tanggung jawab pihak yang seharusnya bertanggung jawab. Tulisan ini untuk meluruskan dan mencegah keresahan masyarakat akibat informasi yang tidak utuh dan tepat.
Semoga tragedi yang menimpa saudara kami, Dwiyanto Wisnugroho mahasiswa Geodesi ITB, merupakan tragedi terakhir sekaligus menutup catatan hitam dari kegiatan mahasiswa. Ke depannya, kita harus percaya bahwa mahasiswa adalah insan akademis, adalah insan intelektual yang mampu menempatkan diri sebagai orang yang memiliki tanggung jawab memanfaatkan keilmuannya untuk hal yang produktif menghasilkan karya besar untuk bangsa ini.
Harapan besar juga disampaikan kepada seluruh masyarakat dan civitas academica ITB bahwa permasalahan ini harus ditempatkan pada posisi yang proporsional tidak memukul rata kepada setiap kegiatan mahasiswa. Yang perlu diberikan kepada mahasiswa adalah kepercayaan. Dari kepercayaan tersebut, akan timbul kedewasaan untuk bersikap dan mempertanggungjawabkan sikapnya tersebut. Maju terus mahasiswa Indonesia. Teringat kata-kata Soekarno, “Berikan aku sepuluh orang pemuda maka aku akan mengubah dunia.” Sedemikian besarnya potensi mahasiswa atau seorang pemuda. ***
Penulis, mantan Sekjen OS-KM ITB 2006, Menteri Dinamisasi Kampus Kabinet KM ITB 2008/2009.
[ Penulis: juga alumni SMA Pesantren Unggul AL-BAYAN - Sukabumi
Mantab Bob! Hehehe ] Tottaly I’m proud of you bro! ![]()
Important Note: Semoga KMA Kridaya UPI bisa mengambil pelajaran sesegera mungkin serta berperan lebih aktif untuk melakukan perubahan dalam kegiatan-kegiatan ospek di waktu yang akan datang! [ AGAR YANG SEPERTI INI TIDAK TERULANG DAN TERULANG LAGI DAN LAGI ]
Propaganda Rules! Speak the truth always, even if it leads you to your death! ![]()
[ Recent Comments ]