





Meninggalnya Dwiyanto Wisnugroho, seorang mahasiswa Geodesi ITB saat mengikuti orientasi studi pengenalan kampus (ospek) menyisakan duka mendung bagi dunia pendidikan. Kegiatan yang digelar Ikatan Mahasiswa Geodesi (IMG) ini sebetulnya termasuk ilegal karena sejak 1995 dilarang Kampus ITB. Mahasiswa baru ketika mengikuti kegiatan ospek (dipaksa) berjalan dari Dago menuju Desa Pagerwangi, Lembang. Nah, di tengah simpang siur penyebab meninggalnya korban, saya teringat buku Man Search for Meaning, yang ditulis Victor L Frankle untuk mengisahkan pengalaman pahit selama mendekam di kamp konsentrasi Auschwitz.
Kamp konsentrasi Auschwitz di Polandia dibangun Nazi pimpinan Adolf Hitler untuk mengonsentrasikan massa agar dapat dijadikan buruh kasar. Semenjak 1940-1945, Nazi menangkap setiap orang yang mengancam eksistensi Nazi dari seluruh penjuru Eropa untuk dibawa ke kamp kematian ini. Waktu itu, kamp konsentrasi Auschwitz mendapat julukan the death factory (pabrik pembantaian) karena dari bangunan ini terjadi proses pembantaian yang dilakukan secara efisien dan efektif layaknya kegiatan produksi di pabrik.
[ Kekerasan ]
Relasi antarmanusia mestinya berdasarkan atas pandangan membiarkan yang lain menjadi “si liyan” yang tidak bisa dikenali, didefinisikan, atau dimengerti sepenuhnya. Sebab, pemahaman memaksa atas yang lain mengakibatkan lahirnya penindasan. Inilah Emmanuel Levinas, hubungan manusia yang simetris, di mana hubungan dua insan atau lebih, terjadi timbal balik yang mendominasi antara satu individu dan individu lain.
Orang lain, dalam pemahamannya bukanlah dirinya dan sangat berbeda dengannya. Perbedaan itu lenyap, ketika seseorang berpikir bahwa ia dan orang lain adalah sama. Di dalam relasi simetris juga, seseorang bertanggung jawab atas eksistensi orang lain. Namun, tanggung jawab yang dipikulnya jauh lebih berat ketimbang hak dan kebebasannya untuk menjadi manusia merdeka dan bebas. Dengan tanggung jawab yang berat ini, individu atau mahasiswa tidak dapat memperlakukan diri setara dengan orang lain. Alhasil, terjadi hubungan dominan pada kegiatan ospek di setiap perguruan tinggi.
Misalnya, relasi mahasiswa baru dengan senior, dalam kasus ospek yang menelan korban jiwa, diselubungi praktik relasi subjek sadistis dan masokis. Mahasiswa baru posisinya bagai subjek masokis yang memahami kebebasan melalui kenikmatan didiskriminasi, (maaf) disiksa orang lain dan dikebiri kebebasannya. Sebab, dari dalam diri mahasiswa baru, realisasi kebebasan, otonomi maupun totalitasnya sebagai individu merdeka dikalahkan mahasiswa yang lebih senior. Sementara itu, mahasiswa senior sebagai seorang subjek sadistis bebas melakukan dominasi sampai pada tahap melakukan kekerasan kepada peserta.
Dalam praktik orientasi jurusan, mahasiswa senior lebih banyak mendominasi dengan melakukan kekerasan sebagai tanda superioritas. Kekerasan tersebut tidak hanya bersifat fisik. Tapi, bisa berupa melontarkan kata-kata kotor yang tidak sopan, merendahkan dan memberlakukan aturan ketat “berat sebelah” yang tidak boleh dilanggar peserta.
Hubungan dalam orientasi kampus, bagi Levinas, seharusnya setiap mahasiswa diperlakukan sama dengan melakukan relasi a-simetris. Dalam relasi ini, mahasiswa senior berbeda dengan mahasiswa junior, tidak setara dengannya, tetapi menyadari tanggung jawab etisnya. Dengan kesadaran ini, tanggung jawab tidak membebaninya, tapi kerelaan yang lahir dari kebebasannya membuat individu rela menyerahkan apa yang dimiliki bagi orang lain. Levinas, merumuskannya menjadi “saya-ada-untuk-yang-lain”.
Praktik ospek kalau mengadopsi gagasan Levinas berarti suatu kondisi, ketika seseorang memperlakukan orang lain lebih mulia dan terhormat melebihi apa yang dilakukan bagi diri sendiri. Itulah yang diistilahkan dalam Islam dengan “rahmatan lil-insaniyiin”, rahmat bagi seluruh umat manusia. Relasi “tuan-budak” di dalam kegiatan ospek mahasiswa, semestinya dikemas secara etis dengan memperlakukan manusia lain secara mulia dan terhormat. Jadi, eksistensi mahasiswa senior “ada-untuk-menjaga-kebebasan-mahasiswa lain” bukan “ada-untuk-mengeksploitasi-kebebasan-mahasiswa liyan”.
[ Pencegahan kekerasan ]
Saya pikir perguruan tinggi sebagai pencetak tokoh publik, sudah semestinya memahami pencegahan kekerasan berkedok kaderisasi atau ospek secara lebih aktif dan kontinu. Termasuk mengatasi agar tidak terulang lagi korban jiwa yang diakibatkan kegiatan mahasiswa berbau perpeloncoan. Dalam ospek, rawan terjadi semacam pemusnahan kebebasan dan nyawa mahasiswa. Kampus, dalam perspektif saya, bukan lembaga yang menelurkan manusia budak nonesensial, bahkan bukan juga lembaga yang mencetak manusia bermental tuan yang biadab. Dari lembaga pendidikan tinggilah semestinya lahir sekelompok manusia beradab.
Dalam bahasa lain, kampus tidak bisa dan tidak boleh disamakan dengan kamp pembantaian. Ya, lembaga perguruan tinggi bukan kampus pembantaian (the death university). Saya salut dengan pemecatan ketua jurusan oleh birokrat kampus ITB, karena ketegasan ini diharapkan ospek –sebelum dan setelah disetujui– bisa diawasi dan diarahkan kepada hal-hal positif. Utamanya, manipulasi dan kekerasan (baik simbolik maupun fisik) dapat dicegah secara efektif dan efisien.
Memang betul jika kegiatan ospek awal mulanya dilakukan perguruan tinggi dengan tujuan baik, yakni melatih kemandirian, menanamkan solidaritas, dan cara-cara belajar di perguruan tinggi. Akan tetapi, yang terjadi adalah sebaliknya, mahasiswa hasil godokan berubah menjadi mahasiswa tidak kritis, mandiri dalam melakukan kekerasan, tidak mementingkan orang banyak, dan prestasinya kian merosot. Dalam kasus kali ini, ada semacam kesalahan menerjemahkan metode pelaksanaan ospek di perguruan tinggi.
Misalnya, peserta ospek dituntut memeras tenaga sehingga kecapekan, kehabisan tenaga, napas, bahkan sampai menelan korban jiwa. Padahal metode pelaksanaan orientasi mahasiswa bisa dikemas dengan baik, misalnya, menyertakan permainan yang mengasyikkan. Outbound yang mengasyikkan adalah salah satu kegiatan yang bisa menumbuhkan kemandirian, kolektivisme, dan daya kritis mahasiswa. Dan, paling penting, outbound ini terlihat lebih manusiawi karena setelah selesai mengikuti orientasi, mahasiswa akan mendapatkan pengalaman berharga. Dengan metode ini juga setiap mahasiswa akan menjalin keakraban, keintiman, dan kemelakatan relasi antara satu sama lain, sehingga kedamaian tidak hanya basa-basi belaka. ***
Sumber: Harian Pikiran Rakyat, Selasa 17 Februari 2009
[ KLIK DISINI: LANJUTAN OPINI BELIAU TENTANG THE DEATH UNIVERSITY ]
[ JUGA: AGAR KEJADIAN SERUPA TIDAK TERULANGI KEMBALI DAN KEMBALI TERULANGI ]

Prove to me that u were an Architecture Student, because I don’t believe with your work!
Sir, it was day and night I’m
, but I can’t make sure with my capability,
skill, and
Please belive me, I can prove it! 
Please sir! Please! 
It’s Just like my friend who need money
to continue his life!
I donn’t wanna be like this! No… 
But I believe this isn’t me! 
And, uhm...
some day, lets everybody know who really u are, right!
Because life is just simple, we who always make it hard… 
[1.] Latar belakang [ Dominasi alumni pada PAB, ketidakberdayaan panitia PAB, termasuk dendam k e s u m a t angkatan, penghianatan pribadi, ketidakpedulian antar sesama civitas, dst ]
[2.] Tujuan penulisan [ Rekonstruksi moral, rekonsiliasi angkatan, transformasi karakter civitas, reformasi struktural, laporan jurnalistik, perubahan fundamental, pembenahan strategis, pembinaan taktis, kontribusi untuk kemajuan prodi Pendidikan Teknik Arsitektur UPI, nama baik UPI, nama baik pendidikan, nama baik teknik Arsitektur, dst ]
[3.] “ Sumber” [rumusan] “masalah”:
A. Kalaulah itu yang namanya PAB “Miing Version” berdampak pada pembentukan mental, “buktikan hasilnya disini Ing..!”
B. Grafik emosi tralala, teori dari mana eta teh Akang… (Resapi: wahai dirimu yang baik hati dan tidak pernah menginjak, menendang, dan menampar wajah ratusan mahasiswa)
C. Senioritas kebablasan, tidak terkendali, dan tidak ada yang mampu mengendalikannya (khususnya oknum alumni – umumnya semua angkatan melalui beberapa oknum pengekor oknum alumni) apakah penyebabnya?
[4.] Pendekatan masalah:
A. Psikologis [ penyakit mental dan kepribadian turun-temurun ]
B. Militer [ Udah frustasi ga bisa masuk TNI kali ya? Coba deh daftar sekali lagi, siapa tahu keterima... ]
C. Pendidikan [ Hmmm, begini toh cara mendidik teh... ]
D. Arsitektur [ Au - ah gelap dan gulita bgt tentang yg satu ini ]
E. Spiritual [ Kalau ada adzan, eta teh waktunya sholat - meng-Akbarkan Tuhan, bukan meng-Akbarkan birahi senioritas - sembari menginjak kepala mahasiswa yang menuntut ditegakkannya sholat Asar, dan merasa puas dipanggil "punten Akang..." oleh puluhan mahasiswa baru yang melintas, naudzubillah... tobat siah... ]
F. Hukum [ Hak Asasi Manusia ]
G. Politik [ Boleh lah ]
E. Ekonomi [ Seyogianya - dana tidak melulu harus dan hanya dihabiskan dalam tragedi tahunan mahasiswa baru - yang lebih merupakan representasi rantai (gelap) senioritas, tanpa DAMPAK dan hasil NYATA ]
F. Budaya [ Budaya mana eta teh, sunda yang lembut, jawa yang halus, batak yang tegas, atau? Budaya yang hanya ada dalam pikiran Anda sendiri? ]
G. Sosologi [ Whatever ]
[5.] Batasan Masalah: Tanpa Batas, bebas! BLOG SAYAH ini!
[6.] Teknik Penyusunan: Acak
I watch, analyze, reporting, publishing, and talking here (try to find any solution) membincangkan peristiwa demi peristiwa berikut yang melatar belakanginya.
[ Just try to START with a basic question ]
“Benarkah kiranya masalah ini akibat oknum alumni yang mengalami mental disorder?” Hingga mampu menciptakan situasi seperti psychological abuse, yang juga referred to emotional abuse yang merupakan abuse (tindakan sewenang-wenang) characterized by a person subjecting or exposing another to behavior that is psychologically harmful. It involves the willful infliction of mental or emotional anguish by threat, humiliation, or other verbal and non-verbal conduct. Sambungin aja bos kalo gak nyambung!
Mental health is a term used to describe either a level of cognitive or emotional well-being or an absence of a mental disorder. From perspectives of the discipline of positive psychology or holism mental health may include an individual’s ability to enjoy life and procure a balance between life activities and efforts to achieve psychological resilience.
Seperti ada akibat dari semacam persepsi yang dibangun secara bertahap, dan tanpa sadar menjadi kepribadian, dan mungkin akhirnya karakter atau tabiat. Hal ini membawa efek samping yang cukup luas dalam kehidupan pribadinya khusunya kepuasan/kesenangan/kegembiraan/resilience ketika memukuli mahasiswa baik secara psikologis maupun fisik.
Tingkat kesadaran dalam ranah persepsi ini membawa setidaknya dua hal: pertama sikap, kedua tindakan. Baik yang dibenarkan oleh mulutnya maupun kesadarannya secara umum. Tindakan mempengaruhi organisasi dan merealisasikan nafsunya menjadi andalan. Mahasiswa diberi skenario bayangan, padahal dia teh punya “grand scenario” dibalik itu semua. lapangan PAB dia kuasai, mendominasi situasi dengan gaya “one man show”. Lihat saja siapa yang paling diuntungkan dari semua fenomena ini. And you got the action lies within. Mudah bukan?
And then, berbicara masalah tingkat kesadaran dan persepsi:
Perception gives rise to two types of consciusness: phenomenal and psychological. Phenomenal consciousness is full of rich sensations that are hardly present when eyes are closed. Psychological consciousness is well researched and measured. It occurs half a second after a stimulus starts. If a weak stimulus lasts less, it is unlikely to be perceived. The capacity of psychological consciousness is also well measured. Depending on methods used the capacity ranges between seven and forty symbols or percepts at one time.
There are two basic theories of perception: Passive Perception (PP) and Active Perception (PA). The passive perception could be surmised as the following sequence of events: surrounding → input (senses) → processing (brain) → output (re-action). And the active perseption could be surmised as dynamic relationship between “description” (in the brain) ↔ senses ↔ surrounding.
So, baik secara fenomena maupun psikologis, persepsi pasif maupun aktif, kekerasan dalam PAB menurut saya telah distimulus oleh kepuasan pribadi atau golongan oknum yang kesurupan dan tidak bertanggung jawab. Semoga kedepan tidak ada yang pingsan, kesurupan, atau mungkin meninggal seperti di kampus lain. Saya pribadi dan pastinya orang tua mahasiswa tidak mungkin menginginkan kepala anaknya diinjak oleh orang lain. Kasus demi kasus bisa dengan mudah dibuktikan, ada puluhan mahasiswa sebagai saksi. Tuhan pun menyaksikan. Tulisan ini berfungsi mengingatkan saja, resiko dibalik tindakan-tindakan “dangkal” yang sering dilakukan dalam PAB.
[ Lalu kita coba menilik sisi MILITER ]
Nanaonan iyeu teh, sejak kapan pulakah calon pendidik anak bangsa dilatih secara militer (baca: gaya militer banci) yang tidak jelas hasilnya. Mana, apa hasilnyah eta teh? “Secara” apa? Dari sudut pandang mana? Dari tekbanx hingga ptars UPI – belumlah terlihat itu ngefek pada kemajuan. Ada-ada aja.
Kalau pembinaan model begini teh harus ada kurikulumnya atau setidaknya teori seperti resosialisasi yang butuh waktu intensif dan bertahap, kesabaran, dan tentunya keikhlasan membina:
Resocialization is a sosiological concept dealing with the process of mentally and emotionally “re-training” a person so that he or she can operate in an environment other than that which he or she is accustomed to. Resocialization into a total institution involves a complete change of personality. Key examples include the process of resocializing new recruits into the military so that they can operate as soldiers (or, in other words, as members of a cohesive unit) and the reverse process, in which those who have become accustomed to such roles return to society after military discharge.
Nah, yang bikin aku ngakak itu, bahwa militer saja perlu waktu untuk membina mental “militer” hingga siap terjun dalam situasi baku tembak “hidup mulia atau mati syahid”. Yang begini nih, yang teruji secara psikologis. Nah PAB? Nanaonan ngebina mental dengan “mental disorder para oknum” dalam dua malam. Nista itu pemikiran. Tiada itu akan membuahkan hasil. Buang-buang duit, tenaga, dengan memanfaatkan pengorbanan para mahasiswa yang masih sedikit lugu.
[ And then PENDIDIKAN? ]
What a LD (Learning disabilitiy) sick is that? Why? Just check this out:
Plato
Date: 424/423 BC – 348/347 BC
Education would be holistic, including facts, skills, physical discipline, and music and art, which he considered the highest form of endeavour.
Aristotle
Date: 384 BC – 322 BC
All who have meditated on the art of governing mankind have been convinced that the fate of empires depends on the education of youth.
Avicenna
Date: 980 AD – 1037 AD
The empiricist theory of ‘tabula rasa’ was also developed by Ibn Sina. He argued that the “human intellect at birth is rather like a tabula rasa, a pure potentiality that is actualized through education and comes to know” and that knowledge is attained through “empirical familiarity with objects in this world from which one abstracts universal concepts” which is developed through a “syllogistic method of reasoning; observations lead to prepositional statements, which when compounded lead to further abstract concepts.”
He further argued that the intellect itself “possesses levels of development from the material intellect (al-‘aql al-hayulani), that potentiality that can acquire knowledge to the active intellect (al-‘aql al-fa‘il), the state of the human intellect in conjunction with the perfect source of knowledge.
Marshall Rosenberg
Date: 1934
While Rosenberg is most well known for his work with conflict resolution through his system of “life-serving” Nonviolent Communication (NVC), he has also made education reform a major component of his work.
Building on the ideas of Neil Postman, Riane Eisler, Walter Wink, Carl Rogers and others, Rosenberg’s contribution to this field involves reforming schools into “Life-Enriching” organizations, with the following characteristics:
- The people are empathically connected to what each is feeling and needing—-they do not blame themselves or let judgments implying wrongness obscure this connection to each other.
- The people are aware of the interdependent nature of their relationships and value the others’ needs being fulfilled equally to their own needs being fulfilled—-they know that their needs cannot be met at someone else’s expense.
- The people take care of themselves and each other with the sole intention of enriching their lives—they are not motivated by, nor do they use coercion in the form of guilt, shame, duty, obligation, fear of punishment, or hope for extrinsic rewards.
I didn’t find any theory of education talking about “abuse make us smarter or mentally developed…” really!
[ ARCHITECTURE ]
What kind of architecture education yang [ Penerimaan Anggota Baru ] Organisasi/himpunan/institusi/whatever -nya butuh penyiksaan? Tidakkah terbesit setitik ide di lautan yang luas untuk mengubah gaya turun temurun PAB itu?
[ SPIRITUAL ]
Dari Nawas bin Sam’an r.a. dari Nabi Muhammad saw., beliau bersabda, “Kebaikan adalah akhlak yang baik, sedangkan dosa adalah segala hal yang mengusik jiwamu dan engkau tidak suka jika orang lain melihatnya.” (HR. Muslim)
Dan dari Wabishah bin Ma’bad ra berkata, ‘Aku datang kepada Rasulullah saw., maka beliau bersabda, “Apakah engkau datang untuk ertanya tentang kebaikan?” Aku menjawab, “Benar, wahai Rasulullah.” Lalu beliau bersabda, “Mintalah fatwa kepada hatimu sendiri. Kebaikan adalah apa yang karenanya jiwa dan hati menjadi tentram. Dan dosa adalah apa yang mengusik jiwa dan meragukan hati, meskipun orang-orang memberikan fatwa kepadamu dan mereka membenarkannya.” (HR. Ahmad)
“… Dan tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan, dan janganlah kalian bertolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan …” (Al-Maidah: 2)
“Mengapa kalian memerintahkan orang lain untuk mengerjakan kebaikan, sedangkan kamu melupkan dirimu sendiri, padahal kalian membaca al-kitab, maka tidakkah kamu berfikir?” (Al-Baqarah: 44)
Akhlak yang baik merupakan refleksi dari keimanan seseorang kepada Allah swt. Oleh karenanya Rasulullah saw. mengatakan dalam salah satu haditsnya: Dari Abu Said Al-Khudri ra berkata, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, ‘Ada dua hal yang keduanya tidak mungkin terkumpul dalam diri seorang mu’min, yaitu bakhil dan akhlak yang buruk.’ (Turmudzi)
Akhlak yang baik merupakan bukti ketinggian keimanan seseorang. Semakin tinggi imannya maka akan semakin sempurna akhlaknya. Dalam hal ini, Rasulullah saw. mengemukakan: Dari Abu Hurairah ra berkata bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, ‘Sesempurna-sempurnanya keimanan seorang mu’min adalah yang terbaik akhlaknya.’ (Abu Daud)
Diantara cara yang cukup efektif dalam menekuni jalan yang baik adalah dengan cara berakhlak yang baik. Karena Allah akan memberikan jalan bagi akhlak yang baik.
“Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh”. (Al-A’raaf: 199)
“Hendaklah kamu menghubungkan tali silaturahim dengan orang yang justru berusaha memutuskannya, memberi kepada orang yang selalu berusaha menghalangi kebaikan itu datang kepadamu, serta bersedia mema’afkan terhadap orang yang mendzalimimu”.
Melihat reaksi kemarahan Umar yang hendak memukul Uyainah, Al-Hurr bin Qays yang mendampingi saudaranya Uyainah mengingatkan umar dengan ayat Makarimil Akhlak, “Ingatlah wahai Umar, Allah telah memerintahkan nabi-Nya agar mampu menahan amarah dan mema’afkan orang lain. Sungguh tindakan engkau termasuk prilaku orang-orang jahil”
Tidak satupun contoh dari Nabi ataupun redaksi AlQuran yang mengajarkan kekerasan kepada kita.
[ HUKUM ]
Pasal 28F UUD 1945 [ Buat Saya ini mah ]
Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.
Pasal 28I UUD 1945 [ Buat Mahasiswa Baru yang mau di PAB -in ]
Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apa pun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu.
Undang-Undang No. 39 Tahun 1999
Tentang : Hak Asasi Manusia
Pasal 23 Ayat 2 [ ini juga buat saya ah ]
Setiap orang bebas untuk mempunyai, mengeluarkan dan menyebarluaskan pendapat sesuai hati nuraninya, secara lisan dan atau tulisan melalui media cetak maupun elektonik dengan memperhatikan nilai-nilai agama, kesusilaan, ketertiban, kepentingan umum, dan keutuhan bangsa.
Pasal 30 [ Buat Semua ]
Setiap orang berhak atas rasa aman dan tenteram serta perlindungan terhadap ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu.
Pasal 33 Ayat 1 [ Buat Peserta PAB ]
Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan, penghukuman atau perlakuan yang kejam, tidak manusiawi, merendahkan derajat dan martabat kemanusiaannya.
Pasal 69 Ayat 1 [ Buat Oknum ]
Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain, moral, etika, dan tata tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Pasal 90 Ayat 1 [ Buat Persiapan ]
Setiap orang dan sekelompok orang yang memiliki alasan kuat bahwa hak asasinya telah dilanggar dapat mengajukan laporan dan pengaduan lisan atau tertulis pada Komnas HAM.
Pasal 95 [ Buat Persiapan ]
Apabila seseorang yang dipanggil tidak datang menghadap atau menolak memberikan keterangannya, Komnas HAM dapat meminta bantuan Ketua Pengadilan untuk pemenuhan panggilan secara paksa sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
[ POLITIK ]
Secaara umum defenisi politics: is the process by which groups of people make decisions.
Legitimate power, the power of the policeman or the referee, is the power given to an individual by a recognized authority to enforce standards of behavior. Legitimate power is similar to coercive power in that unacceptable behavior is punished by fine or penalty.
Referent power is bestowed upon individuals by virtue of accomplishment or attitude. Fulfillment of the desire to feel similar to a celebrity or a hero is the reward for obedience. This is an example of incentive power as one rewards oneself.
Expert power springs from education or experience. Following the lead of an expert is often rewarded with success. Note that expert power is conditional to circumstances (for example, if leaky pipes need to be repaired, a brain surgeon’s advice probably would not carry as much weight as a plumber’s).
Secara lejitimet dan referent sebenarnya alumni lemah dalam hal ini, karena fungsi alumni sebenarnya hanya sebagai pelengkap dan pengarah, bukan orientasi utama, dan semua maunya diikutin.
Secara expert boleh lah, karena kekuatan politik alumni itu turun-temurun adanya dan dilakukan dengan kurang bertanggungjawab dan menghormati dan menghargai keberadaan panitia secara umum. Tapi,
Teknik skenario habis menggorok leher dan menistakan adik angkatan, lalu sembunyi tangan, cuci tangan, dan memuja-muji dengan kata-kata manis semanis gula di akhir acara. Strategi lobi angkatan, mempengaruhi mahasiswa-mahasiswa yang masih polos, baik yang baru – maupun yang lama, baik panitia – maupun bukan panitia. Tapi jangan lupa, sepertinya dendam membara laksana api masih menempel di hati terdalam loh! Becareful! dan tidak ada yang mampu memadamkannya kecuali ada perubahan total, meminta maaf, dan tidak akan mengulangi hal serupa setiap tahun.
[ Ekonomi ]
The economy is the realised social system of production, exchange, distribution, and consumption of goods and services of a country or other area. A given economy is the end result of a process that involves its technological evolution, civilization’s history and social organization, as well as its geography, resource endowment, and ecology, among other factors. These factors give context, content, and set the conditions and parameters in which an economy functions.
Secara mendasar, rantai keuangan yang keluar masuk kas organisasi haruslah dipergunakan dengan mempertimbangkan efisiensi dan keuntungan optimal untuk tercapainya target demi target organisasi, dalam hal ini himpunan. Banyak faktor yang bisa dipakai untuk mengukur efektifitas penggunaan dana. Salah satunya, misalnya pertanyaan apakah PAB membawa dampak yang mampu mendorong mental mahasiswa baru untuk ber-himpunan dengan baik? Dan pada saat bersamaan ada (misal: indeks) efek positif (kontribusi) PAB untuk kemajuan prodi? dst.
[ Budaya ]
Secara antropologi – secara umum budaya di Indonesia itu dikenal ramah, sopan, santun, dst. Setidaknya begitulah kira-kira dalam iklan-iklan “Visit Indonesia” punya pemerintah.
Culture generally refers to patterns of human activity and the symbolic structures that give such activities significance and importance.
Budaya barbarian saya kira sudah kikis di dunia modern saat ini, hanya sebagian pengikut dan penerusnya perlu diperhatikan, karena mungkin budaya mereka sesekali memang perlu diapresiasi (untuk membendung dampak yang lebih luas).
Dalam PAB? Adakah hubungannya dengan budaya? Apakah aktifitas kekerasan memiliki nilai signifikan hingga perlu dipertahankan? Setidaknya dalam “budaya” pendidikan?
[ Sosiologi ]
Benarkah secara kelompok sosial, bahwa mahasiswa “baru” harus melewati premanisme yang sistematis?
The principle of dependence:
the more dependent a person is on a group, the more likely they are to conform to group “norms”. This means that if a group means a lot to a person, they will be more likely to do what it is that the group wants them to.
Apakah yang jumlahnya besar selalu berkuasa? Belum tentu dan tergantung pembandingnya. Sekumpulan kambing akan berlarian karena satu ekor harimau. Tapi, ini hanya terjadi dunia hewan.
Principle of visibility:
The principle of visibility refers to the extent that the behavior of group members can be observed by other members of the group. The higher the observation rate of a group is, the more likely the members of that group will follow the group’s norms.
Semakin terlihat, maka semakin mudah untuk mengikuti, diikuti, atau dihipnotis (secara verbal: jago nego), hingga kelompok (psikososial) mahasiswa dapat dengan mudah dipengaruhi oleh alumni.
Group and networks:
In every society people belong to groups, such as businesses, families, athletic groups, or neighborhoods. The structure inside of these groups mirrors that of the whole society. There are networks and ties between groups as well as inside of each of the groups that create social order.
Some people belong to more than one group, which sometimes causes conflict. The individual may encounter a situation in which he or she has to choose one group over the another. Many who have studied these groups believe that it is necessary to have ties between groups to strengthen the society as a whole and to promote pride within each group. Others believe that it is best to have stronger ties within a group so that social norms and values are reinforced.
Begitu juga dengan mahasiswa, pasti berkelompok sosial. Ada yang ustadz, kutu perpus, tukang gaul, tukang dugem, hobi motor, suka ngerjain tugas, grup (maaf) begundal, grombolan preman, ahli demo, sampai kelompok2 yang spesifik seperti 2 orang soulmate seperjuangan, dst.
Nah, alumni yang mengendalikan PAB? pasti terlebih dahulu masuk ke lingkungan yang setipe di kelompok sosial mahasiswa. Dan, niat mereka (oknum) itu bisa dengan mudah disuntikkan, dan berlanjutlah premanisme turun temurun itu.
Values and norms:
Values can be defined as “internal criteria for evaluation”. Values are also split into two categories, there are individual values, which pertains to something that we think has worth and then there are social values. Social values are our desires modified according to ethical principles or according to the group we associate with: friends, family, or co-workers. Norms tell us what people ought to do in a given situation. Unlike values, norms are enforced externally – or outside of oneself. A society as a whole determines norms, and they can be passed down from generation to generation.
Dan nilai-nilai yang tertanam dalam diri seseorang sangat besar pengaruhnya terhadap “apa yang akan dia lakukan”, termasuk norma sosial yang berlaku akan membatasi “apa yang akan dia lakukan”. Semakin lemah norma, semakin kuat dan bebas seseorang dengan nilai “jahat”-nya merusak dan bahkan membuat seolah norma hilang atau tidak lagi berfungsi.
Power and authority:
Maka, dua hal ini juga berpengaruh, kekuatan dan otoritas. Jika memang dia punya kekuatan, maka seharusnya panitia PAB sang pemilik otoritas, harus lebih bisa menunjukkan taringnya dalam mengendalikan situasi-situasi yang tidak diinginkan.
Benarkah secara kelompok sosial, bahwa mahasiswa “baru” harus melewati premanisme yang sistematis?
[ Akhir Kata ]
Kalau kita ambil analogi denah-tampak-potongan atau utilitas-venustas-firmitas atau fungsi-estetika-struktur, maka sepertinya selama PAB dikendalikan oleh “oknum the outsider” maka,
Fungsi mendasar PAB entah seperti apa dalam AD/ART, hipotesis saya: sebagai salah satu rangkaian orientasi mahasiswa, tidak dan tidak akan membawa hasil signifikan, atau mungkin sia-sia, bahkan mungkin percuma, selama PAB old style masih berlangsung seperti ini.
Estetika – citra bangunan PAB sebagai salah satu proses pra-edukasi perguruan tinggi akan mampu mencoreng nama UPI pada akhirnya, jika ada kasus spesifik nantinya yang di “blow up”. Btw, Metro TV biro Bandung sudah dibuka loh. Soalnya Saya teh suka Metro TV pisan.
Struktur – kekuatan KRIDAYA yang bisa dibilang masih bayi akan lumpuh seketika saat – itu oknum, datang lagi di the NEXT PAB. Hihi, takut ah. Silahkan yang mau curhat disini, kita cari solusinya bareng-bareng, OK.
Saya berlindung kepada-Nya dari kesia-siaan menulis! Amin. Maaf jika ada salah tulis. Eh ketikan.
Wassalamualaikum wr wb
Ini gambar foto udara UPI dari om Google Earth, maaf gambarnya kuarang jelas. Disitu pokoknya ada gambar sirkulasi, pengguna kampus sejati pasti mengerti lah.

Sebelumnya sekali lagi maaf kalau lagi-lagi kritikan, soalnya hobi saya ya kalau nggak mengkritik pasti menghakimi.
Agak capek juga dibikin muter-muter oleh sistem sirkulasi yang model begini. Awalnya tidak ada masalah, memakai sistem akses keluar-masuk dengan satu gerbang utama, baik pejalan kaki (mahasiswa, dosen, atau pegawai kampus yang naik angkutan umum), mobil, dan motor semuanya bisa secara resmi keluar masuk kampus lewat itu main gate “tanda panah warna merah yang di bawah” yang ada biru-birunya dikit.
Tapi bayangkan, sekarang para pengendara motor yang jumlahnya kira-kira 1/3 total jumlah mahasiswa harus lewat atas (BNI UPI) dengan tantangan sedikit kemacetan karena berhadapan dengan traffic supir angkutan dan terminal Ledeng.
Berbicara masalah kedisiplinan, penegakan peraturan, maupun peraturan itu sendiri, idealnya setiap pengguna fasilitas kampus baik mahasiswa, dosen, satpam, karyawan kampus mulai rektor sampai pegawai BAAK, semuanya harus mampu membaca selain keamanan juga kenyamanan bersama.

Selain itu, UPI juga kebetulan memiliki (ditempati) salah satu bangunan bersejarah yang merupakan landmark kota Bandung, Isola itu namanya. Bikinan Schoemaker. Malu dong, kalau cucunya Shoemaker datang ke UPI diam-diam naik ojek, eh lalu dimarahin satpam karena gak boleh lewat depan, “Woi, bule! motor lewat atas!” kata kang Security (Satpam), jawab bule, “Saya mau sholat dulu di itu masjid ITC, eh Al-Furqan…pak, masa saya harus lewat atas, jauh dong!”

Seperti inilah jauhnya, hampir 7 kali lipat. Posisi dari A (Gerlong/Jl.Setiabudi) ke B (FPTK/ITC) yang biasanya bisa ditempuh dengan jarak 70-100 meter (lewat gerbang utama) – bulatan warna merah, kini harus ditempuh dengan jarak setengah kilo meter lebih (motor: lewat gerbang atas) – bulatan warna biru. Jadi pemilik motor harus menempuh itu bulatan biru, melalui traffic jalan Setiabudi + terminal, lalu bulatan kuning (pertigaan PKM), dan bulatan merah (gerbang milik mobil), baru sampai di FPTK/masjid ITC.
Sistem sirkulasi ini, selain sedikit mempengaruhi nilai ekonomi “lokasi” BNI UPI juga membuat pusing dan gerah orang-orang yang memiliki kepekaan spasial, seni tata ruang, arsitektural, maupun perspektif-perspektif kenyamanan yang lain. Khusunya pengguna kendaraan roda dua.
Tentang “keamanan”, selain berhubungan dengan sistem sirkulasi juga berkaitan dengan kenyamanan. Alasan “tingginya tingkat pencurian motor” juga harus diikuti dengan peningkatan disiplin semua pihak, juga kenyamanan yang berpihak ke semua pihak. Jadi, formalitas pemerikasaan STNK tidak hanya menjadi rutinitas hangat-hangat bulan pertama, dan selanjutnya bebas.
Masih banyak ide di kepala ini, tapi saya masih perlu data-data untuk menuliskannya. Seperti tragedi rutin gedung Gymnasium yang dua tahun sekali secara periodik disulap jadi pasar kaget. Sehingga suasana sakral wisudawan dan wisudawati terganggu dengan “area komersial kaget” yang tidak teratur itu. Menurut saya sih insiden komersial/pameran sih sah-sah saja dimana saja, asal ditempatkan pada tempatnya dan tidak ada pihak yang dirugikan, sesuai dengan peraturan/kebijakan, dan atau tidak mengganggu kenyamanan, ketertiban, dan keindahan ruang publik. Dan jangan sampai ini ada hubungannnya dengan disorientasi pendidikan (tanpa sadar tersuntik budaya materialisme/komersialisasi yang melampaui batas). Karena idealnya, saran saya pasar kaget itu diganti dengan pameran pendidikan, beasiswa S2/S3, Pameran SMU/SMK, pameran buku, dst, boleh lah ada pameran makanan dan atau jam tangan/oleh-oleh, tapi disediakan tempat yang nyaman buat pedagang – hingga tidak mengganggu/merusak kenyamanan visual. Juga tulisan tentang ketersediaan ruang terbuka publik di UPI, tentang wacana masterplan kampus UPI, dsb.
Campus master plan, as development and zoning reference, has been an importance guideline for educational structure and infra-structure development. It means that any related campus development should comply with the campus master plan.
Finally, doa saya untuk segera terwujudnya sistem “sirkulasi baru” itu, sekaligus rencana realisasi proyek “The New Gate” hasil tender itu bisa mengobati rasa penasaran banyak orang. I love my campus at all!

Indonesia luas lho, dan kalau mau di bandingkan dengan “the boxes outside” beserta milayaran jumlah desain dan perancangan yang sudah ada, masa kita tidak bisa mengambil pelajaran.
Coba kita jalan-jalan sedikit keluar dari kotak persepsi kita, siap?
This is Bandung:

And this is some where else outside, panggil aja dengan Hongkong:

Now let we travel to Dubai:

And then going to one of Google office site (just wanna say thanks – they has making us travelled – virtually – even not phisically):
And the “the second finally” just lets yourself thinking outside the box!
[ Because this world today are being a little village! ]

[ Recent Comments ]