Sense of Value and Believe
“We’re not good at everything, we’re not good by ourselves,” says Simon Sinek at the 99% Conference. Our ability to build trust and relationships is the key to our survival as a race, and to thriving as ideamakers.
BIG’s Design Process
See what architect Bjarke Ingels has to say about the design process and the importance of print.
BIG‘s website: http://big.dk/
Architect Blog: off
Suported by:
Same click difrrent time. As a draughtsman or a architect assistant how many mouse clicks you have done for the rest of your life? As a newbie Architect, I think I have done more than a million 455.490 mouse clicks in less than three months.
For you to know before I started to get into this clicky lifestyle, I was a cute boy who lives in an environment that makes me look horrible. Something wich is very quickly maturing myself. Wow, wasn’t that tough anyway, I’m just an ordinary creature like any of you guys. Human, who have daily problem and love created by God. Even if I still believe in “love all, trust few, and hate no one” | quotes.
Well, 20 years ago architects drawing using manual drawing tools, and today’s young architects as my age using CAD – Computer Aided Design – because today’s all automatic and digital. Now I’m started to think and to feel that this life is created digitally by the God.
Whether what the next 20 years, because of the sophistication of technology growth – maybe everyone already does not require an architect to design his house because they could design a house with only 3 or 5 mouse clicks. Then I thought again, if 20 years in the future kids are able to design a reasonable house with 30 or 50 mouse clicks (although I don’t know whether the mouse is still used at that time), then an architect must be able to do that just by sneezing.
What I want to say is that the time will continue running, what that means – we have to keep growing going forward – when we are inspired by some great purpose, some extraordinary project, all our thoughts break their bonds – our mind transcends limitations, our consciousness expands in everydirection, and we find ourself in a new, great, and wonderful world ... to anyone who has stuck with me this far, is that I need to make the next twenty years about the amazing journey and not the destination. Just like all mankind, I need to be a better man and I won’t let something hitting my stride, except God. 20 years from now, I’ll be 35 45 years old – it means to leap a beautiful long timeline of history in life. So, arrogantly I just want to be a better human than any other mandkind on the planet, in the terms of jokes.
An architect is said to be a man who knows a very little about a great deal and keeps knowing less and less about more and more until he knows practically nothing about everything, whereas, on the other hand, an engineer is a man who knows a great deal about very little and who goes along knowing more and more about less and less until finally he knows practically everything about nothing. A contractor starts out knowing practically everything about everything, but ends up by knowing nothing about anything, due to his association with architects and engineers.
just saw my name there – thanks @letsblogoff
Whops, btw today is Indonesia Independence Day – I’m almost forget about it. Hope for better Indonesia too – in the next 20 years this country will get into 5 or maybe 10 big nations in the world. See ya.
“Everyone who got where he is has had to begin where he was.”
~ Robert Louis Stevenson~
Hopefully in next twenty years, I still continue my daily Architecture things.
Membidani Kreativitas Melalui Ruang Kota
Kompas – Minggu, 20 Desember 2009 | 03:17 WIB
M Ridwan Kamil
Pada suatu hari Minggu di Babakan Asih, sebuah kampung kota di Bandung, terlihat sekelompok anak remaja sedang berfoto dengan latar grafiti raksasa berwarna-warni. Gaya mereka sangat khas remaja zaman sekarang: kepala dimiringkan, mata dipicingkan, jari tangan membentuk huruf V, dan mulut sedikit dimajukan. Belasan jepretan foto pun diambil. Mereka ceria sekali.
Sebaliknya, di salah satu sudut kota di Kota Jakarta, seorang kakek yang berusia 70-an tahun terlihat duduk diam di rumahnya. Ia membaca koran lokal dan menonton siaran berita. ”Ini rutinitas saya yang membosankan,” keluhnya. Ia pun lanjut bercerita, tanpa bisa dihenti, tentang hobi masa mudanya jalan-jalan atau bersepeda menikmati kota. ”Itu dulu, sekarang saya takut. Takut terserempet mobil, macet, panas, dan ada rasa tidak aman keluar rumah sendirian,” ungkapnya dengan merengut.
Tidaklah heran jika Enrique Penelosa, mantan Wali Kota Bogota, mengungkapkan teori kecilnya. ”Kota yang baik adalah kota yang bisa merangsang warganya keluar rumah dengan sukarela dan ceria,” ujarnya.
Semakin banyak warga bergerak berinteraksi di ruang-ruang kota, baik kaya maupun miskin, itu mencirikan kota yang sehat. Sebaliknya, jika warga takut keluar rumah, khawatir macet, lebih senang menghabiskan waktu di mal, menikmati jalan-jalan selalu dengan mobil, itulah ciri-ciri kota sakit. yang stres dan sakit akan melahirkan generasi yang stres dan sakit. Pertanyaannya, sudah baik dan sehatkah kota kita?
Ruang publik, ruang inspiratif
Dalam konteks peradaban baru, yaitu peradaban berbasis ide atau kreativitas, keberadaan ruang-ruang kota yang positif pun sering terlupakan. Padahal, sejarah sudah membuktikan, ide-ide besar yang merevolusi dunia banyak lahir di ruang-ruang publik.
Ide-ide kreatif banyak lahir dalam perbincangan hangat sambil menikmati kota. Kehangatan keluarga hadir di taman-taman kota. Stres warga kota menghilang dalam langkah-langkah ceria di keteduhan jalur pedestrian nan lebar. Perayaan kebudayaan membahana di lorong-lorong jalan kota. Dan, ide-ide besar pun umumnya lahir di ruang-ruang inspiratif. Ketika kita bicara ekonomi kreatif pun sering kali kita sibuk dengan strategi berjualan produk dan melakukan rangkaian studi ekonomi. Kita senang dengan statistik peluang ekonomi kreatif, bahkan kita pun mencanangkan tahun 2009 sebagai tahun kreatif Indonesia. Namun, kita melupakan aspek pendidikan sebagai mesin penghasil manusia-manusia kreatif. Kita lupa menyediakan ruang-ruang publik yang menginspirasi lahirnya ide-ide brilian.
Ibaratnya, kita senang memanen hasil berlimpah, tetapi malas berinvestasi pada proses lahirnya benih-benih atau bibit-bibit unggulnya. Indonesia adalah bangsa besar. Indonesia hanya akan maju jika masyarakatnya bergerak bersatu membentuk kekuatan masyarakat madani atau civil society.
Perubahan tidak datang melalui pemberian. Perubahan hanya datang jika kita menjemputnya. Dalam konteks kota, kolaborasi masyarakat madani sebagai roh dalam mengubah peradaban kota adalah kuncinya. Itulah kenapa di Bandung lahir Bandung Creative City Forum (BCCF) untuk mewadahi aspirasi lintas komunitas kreatif yang ingin meninggikan hajat hidup dan memperbaiki kota melalui ide-ide kreatif berbasis kolaborasi. Dalam konteks ruang kota, kreativitas warga banyak diekspresikan di ruang-ruang negatif kota yang terbengkalai.
Ruang-ruang kota sendiri terbagi menjadi beberapa jenis: ruas jalan, titik simpul (seperti taman, hutan kota, atau perempatan jalan), koridor sungai, ataupun tepian/batas (seperti pantai/danau). Ruang-ruang ini menjadi negatif karena mereka hadir secara fisik, tetapi terbengkalai dan kurang didesain dengan baik. Akibatnya, umumnya ruang negatif akan melahirkan aktivitas kota yang negatif.
Inisiatif warga
Di Bandung, inisiatif membuat ruang-ruang positif dilakukan warga dalam beragam bentuk. Dalam rangka Helar Festival, Taman Cikapayang diberi sentuhan empat boks besar yang membentuk kata DAGO secara menarik. Taman yang sebelumnya jarang didatangi warga, tiba-tiba menjadi magnet baru bagi warga atau tamu kota yang ingin berfoto di sana. Ide-ide revitalisasi untuk mengoptimalkan taman ini pun sudah diusulkan kepada pemerintah kota, hanya sampai saat ini belum terwujud.
Kolom-kolom beton penyangga jalan layang Pasupati dibungkus oleh boks yang menampilkan foto-foto historis Bandung tempo doeloe. Dengan cara ini, ruang negatif yang memanjang tersebut menjadi lebih menarik ketimbang grafiti vandalisme atau poster-poster politik yang mengganggu sebelumnya.
Di seberang Taman Cikapayang hadir pula kursi tembok yang mewakili ikon .bdg (dot bdg) yang sering kali dipergunakan warga Kota Bandung untuk duduk istirahat dan berfoto. Di sepanjang 600 meter kolong jalan layang Pasupati yang membelah dua kampung, kelompok mahasiswa arsitektur dan BCCF juga mengusulkan ragam ide pemanfaatan ruang di kolong ini. Untuk tempat olahraga, berkesenian, ruang kaki lima, pertanian kota, sampai ide temporer untuk galeri pameran dari botol bekas juga pernah diusulkan. Juga di sepanjang tembok 300 meter di Jalan Tamansari yang membatasi Kebun Binatang Bandung, kelompok mahasiswa Seni Rupa Institut Teknologi Bandung melalukan intervensi visual berupa mural warna-warni bertemakan fauna. Jalan yang dulunya gelap dan depresif, tiba-tiba mendapatkan suntikan energi positif baru melalui seni mural dan desain grafis.
Di sebuah kampung kota bernama Babakan Asih, masyarakat, atas dukungan dana dari swasta, Bakrieland, bahkan membeli sepetak lahan untuk dijadikan taman bermain anak. Saat ini taman tersebut masih dalam tahap konstruksi. Dua bulan sebelumnya, dinding-dinding yang suram dan hitam di kampung ini diwarnai dan dilukis secara kolosal yang melibatkan warga dan komunitas kreatif Bandung. Penduduk kampung pun sekarang terlihat lebih ceria dan optimistis dalam keseharian mereka. Itulah efek energi positif dari ruang-ruang kota yang inspiratif.
Demi anak cucu kita, mari kita bergerak. Mari kita lahirkan kota-kota yang sehat. Mari kita ciptakan ruang-ruang inspiratif. Mari kita selamatkan Indonesia melalui kreativitas. Mari kita berkolaborasi.
M Ridwan Kamil Arsitek dan pemerhati kota; Ketua Bandung Creative City Forum – BCCF
DAMPAK PERKEMBANGAN INDUSTRI TERHADAP ARSITEKTUR
ARSITEK telah dikenal dan dibicarakan manusia sejak dulu. Arsitektur mempunyai berbagai pendapat, pandangan dan pengertian. Louis I. Kahn mengatakan, “Arsitektur adalah pemikiran yang matang dalam pembentukan ruang. Pembaharuan arsitektur secara menerus adalah disebabkan perubahan konsep ruang”. Wlliam Wayne Caudill, mempunyai pendapat lain mengenai arsitektur, yakni “Bentuk dan ruang adalah bukan arsitektur. Arsitektur terjadi hanya bila seseorang sedang menikmati bentuk dan ruang tersebut”.
Biasanya manusia mengukur pentingnya sesuatu berdasarkan besarnya dan indahnya bangunan yang diperuntukkan bagi nilai itu. Kita akan teringat masa abad pertengahan, ketika itu bangunan yang merupakan harta seni paling agung adalah gereja dan katedral, sebab iman adalah harta yang tertinggi bagi masyarakat abad pertengahan.
Melihat obsesi dari perkembangan arsitektur dewasa ini, kan terlihat berbagai masalah yang begitu luas dan kompleks. Asitek merupakan perancang dari tempat manusia berdiam. Tapi tempat kediaman manusia bukanlah semata-mata gedung, jalan atau pun kota. Melainkan, terlebih-lebih, tempat kediaman ini adalah keseluruhan permukaan bumi yang terdiri dari udara, air dan tanah, karena sistem yang inilah, yaitu biosfir memiliki unsur-unsur dasar pendukung kehidupan manusia.
Henryk Skolimowski, pernah mengatakan di depan konggres Royal of British Architecture (RIBA), “if you do want to change architecture, you can not limit yourself to architecture, or start with architecture alone”. Akhirnya tujuan yang paling penting ialah “kualitas hidup”. Masing-masing subsistem sebelumnya dapat saja baik, namun jika akhir tujuan “nilai tambah” yang fisik material dan mental spiritual tidak menyebabkan meningkatnya kualitas hidup, maka seluruh upaya dapat dikatakan gagal. Christhoper Alexander dan Chrithoper Jones yang menekuni dan mengajar metodologi perancangan akhirnya juga tidak ingin terlalu menekankan metode-metode desain sebagai suatu proses yang kaku dan mekanistik, apalagi jika cara ini menjadi mitos bagi para arsitek perancang.
Jika tempat kediaman merupakan fungsi utama arsitektur, kita tidak akan berharap banyak tentang adanya pengembangan yang khusus selain tempat kediaman. Demikianlah telah kita lihat hal-hal yang berlawanan akan pengaruh lingkungan yang dibuat manusia terhadap perilaku penghuninya. Satu rancangan arsitektur dapat mempengaruhi pola komunikasi di antara orang-orang yang hidup dalam naungan arsitektural tertentu. Bahkan Osmond (1957) dan Sommer (1969) membedakan antara desain bangunan yang mendorong orang untuk berinteraksi (sociopetal) dan rancangan bangunan yang menyebabkan orang menghindari interaksi (sociofugal).
Arsitektur adalah suatu aktivitas integratif yang lebih dipusatkan pada hal mempengaruhi masa yang akan datang dari pada menjelaskan peristiwa di masa lampau. Tidak terdapat hukum-hukum arsitektur yang akan memungkinkan kita meramalkan kepusan bagi penghuni bangunan, dalam cara bagaimana bangunan-bangunan yang dibentuk dengan proporsi yang harmonis mempengaruhi kita. Bangunan-bangunan tersebut mempengaruhi indera estetika kita, menyebabkan kita dapat merasakan hal-hal yang baik atau sebaliknya.
Apakah manusia akan hidup lebih berbahagia dalam rumah berbentuk bola dari pada di dalam rumah yang umumnya berupa kubus? Ahli pahat dan perencana industri di Den Bosch Dries Kreijkamp, mengiyakan dan karena itu merencanakan rumah bolanya. Bila dilihat dari sudut sejarah, baru saja manusia tinggal di rumah-rumah berbentuk kubus, ingatlah iglo, tempat tinggal dalam gua dan banyak macam rumah gubuk. Dari sudut energetis, bola adalah bentuk yang menarik permukaan luar sedikit, sehingga tidak banyak kalori yang hilang dibandingkan dengan permukaan bagian dalam yang relatif banyak.
Pada sisi lain, Richard Buckmister Fuller merupakan perencana yang besar pengaruhnya, yang sebelum perang sudah bereksperimen dengan rumah logam ringan dan tahun 1959 mendirikan rumah kubah. Dengan melodi lagu “Home, home on the ranch where the deer and the antilope play” ia membuat lagu puja atas masa depan rimah bola prefab.
Bangunan pencakar langit bukan barang aneh lagi. Gedung-gedung megah bertingkat tinggi yang berselimut kaca, yang berdiri tegar seperti patok beton, sudah merupakan pemandangan biasa di banyak tempat di dunia ini. Di Jakarta saja kini sudah terdapat bangunan dengan 40 lantai.
Tentu saja tidak ada yang dapat menyangkal bahwa hal-hal dalam tertentu teknologi modern mencapai sukses yang gemilang. Sudah barang tentu, industri bangunan yang diproduksi besar-besaran itu merupakan suatu keunggulan teknologi tetapi Cuma sampai batas tertentu. Garis pemisah antara sukses dan kegagalan, adalah pintu pabrik. Selama industri dari seluruh komponen bangunan sedang dibuat, ia merupakan sukses teknologis. Berbagai bagian dirancang, dibentuk, dipasang-pasangkan dan seluruh perangkaian berhasil. Namun sekali bangunan tersebut ditancapkan di bumi, munculah berbagai macam persoalan, sesuaikah dengan alam lingkungannya, berapa besar pengaruh partikel-pertikel dinding-dinding asbes di dalam paru-paru penghuninya? Bagaimana dampak psikologis terhadap penghuni? Seberapa jauh sumbangan terhadap nilai arsitekturnya?, dan sebagainya.
Bila kita ingin berhasil sebagai penghuni dunia yang semakin berubah akibat teknologi dan industri, kita perlu untuk menilai kembali sikap kita terhadap dunia arsitektur yang dijamah oleh teknologi. Paradigma universal dari keberadaan industri haruslah menjadi kaidah filosofis yang melandasi penciptaan, penerapan dan penggunaannya. Le Coubusier dalam bukunya Versun architecture 1923) mengatakan, “industry (is) overwhelming us like a flood which rools on toward it’s destined end”. Perkembangan industri bangunan perlu pengendalian yang tepat dan teratur. Kalau kita lihat industri bangunan saat ini, barangkali memang hanya sebuah teladan dari sebuah mbisi pembangunan. Industri tersebut meluas dengan kerangka terpecah-pecah, investasi modal rendah dan sebagainya. Industri bangunan memang dihargai dan tidak ditentang, tetapi arahnya yang secara bertahap menggerogoti segala keindahan asli yang telah dianugerahkan alam kepada kita, ituah yang menjadi soal.
Kejujuran adalah bagian dari arsitektur, yang dapat dirasakan dan mengandung makna. Arsitektur timbul di dalam suatu konteks yang sangat luas meliputi, sosial, lingkungan, ekonomi, perilaku dan sebagainya. Arsitektur membantu kita memperdalam dan menjelaskan gagasan-gagasan baru dan menempatkannya dengan kokoh dalam cara yang paling mendasar dalam pikiran manusia. Pada industri bangunan kecenderungan logis menyusup ke setiap bidang kegiatan manusia termasuk di dalamnya pekerjaan, kesenangan, kebudayaan dn komunitas tentunya. Industri sendiri sebenarnya, adalah suatu istilah yang dapat diartikan sangat luas, yaitu semua kegiatan manusia untuk melengkapi segala barang kebutuhan yang diinginkan dan diperlukannya.
Bagaimanapun juga, kita tidak bisa menipu dengan “selera tiruan” dan “seler buatan” terhadap alam, lingkungan dan arsitektur kita, pengalaman yang penuh arti akan hilang dan kemampuan menghargai yang asli nantinya akan berkurang. Apakah akan mengisi sebuah taman yang baru dengan isi serba artifisial, beberapa tumbuhan dan bunga plastik ditempatkan di sana atas nama “mencintai alam”? Untuk hal semacam ini, Charles Reich dalam Greening of America mencela “pemiskinan secara subtitusi”, ini merupakan eksploatasi industri pada hampir seluruh nilai manusia.
Demikianlah bangunan-bangunan dapat dipahami ditinjau dari segi bagaimana industri bangunan tersebut berkaitan dengan manusia dan wadah-wadah alamiahnya, dan bagaimana hubungan-hubungan ini dapat berubah akibat kebudayaan dan perjalanan waktu. Seluruh faktor-faktor yang saling berkaitan inilah yang dapat menjelaskan wujud suatu hasil industri bangunan yang baik. Karena bagaimanapun merupakan kelembagaan dan dasar dari perwujudan kebudayaan. Kita dapat bertanya tentang tujuan industrialisasi, tidak hanya menciptakan industri bangunan saja, tetapi juga untuk memerangi keterbelakangan dan kemiskinan dalam menuju masyarakat adil dan makmur.
Tulisan ini telah dimuat dalam harian Suara Indonesia tanggal 28 Agustus 1986
Architecture Quotes
Architecture is a continuing dialogue between generations which creates an environment across time.
- Vincent Scully -
Why can’t we have those curves and arches that express feeling in design? What is wrong with them? Why has everything got to be vertical, straight, unbending, only at right angles – and functional?
- Charles, Prince of Wales -
To be an architect is to possess an individual voice speaking a generally understood language of form.
- Robert A. M. Stern -
The materials of city planning are sky, space, trees, steel and cement in that order and in that hierarchy.
- Le Corbusier -
Buildings should be good neighbours.
- Paul Thiry -
Pictures deface walls oftener than they decorate them.
- Frank Lloyd Wright -
Life is rich, always changing, always challenging, and we architects have the task of transmitting into wood, concrete, glass and steel, of transforming human aspirations into habitable and meaningful space.
- Arthur Erickson -
Architecture is the will of an epoch translated into space.
- Mies van der Rohe -
When you look on one of your contemporary ‘good copies’ of historical remains, ask yourself the question: Not what style, but in what civilization is this building? And the absurdity, vulgarity, anachronism and solecism of the modern structure will be revealed to you in a most startling fashion.
- Louis H. Sullivan -
No architecture can be truly noble which is not imperfect.
- John Ruskin -
Society needs a good image of itself. That is the job of the architect.
- Walter Gropius -
Architecture begins when you place two bricks carefully together.
- Mies van der Rohe -
An arch never sleeps.
- Hindu proverb -
The reality of the building does not consist in the roof and walls,
but in the space within to be lived in.
- Lao-Tzu -
Good architecture lets nature in.
- Mario Pei -
Architecture should be dedicated to keeping the outside out and the inside in.
- Leonard Baskin -
Early in life I had to choose between arrogance and hypocritical humility. I chose honest arrogance and have seen no occasion to change.
- Frank Lloyd Wright -
No house should ever be on a hill, or on anything. It should be of the hill. Hill and house should live together, each the happier for the other.
- Frank Lloyd Wright -
How can we expect our students to become bold and fearless in thought and action if we encase them in sentimental shrines feigning a culture which has long since disappeared?
- Walter Gropius -
Architecture is space structured to serve man and to move him.
- Etienne Gaboury -
Always design a thing by considering it in its next larger context – a chair in a room, a room in a house, a house in an environment, an environment in a city plan.
- Eero Saarinen -
In speculative buildings, which is most of our business, there are really only three chances to make architecture: the lobby or entrance sequence, the top and the elevator cab.
- Chao-Ming Wu -
A house is a machine for living.
- Buckminster Fuller -
A doctor can bury his mistakes, but an architect can only advise his clients to plant vines.
- Frank Lloyd Wright -
Genius is personal, decided by fate, but it expresses itself by means of system. There is no work of art without system.
- Le Corbusier -
COMPLEXITY IN SIMPLICITY
Apa yang terpikir oleh kita tentang Building the Elegance? Apa Elegance itu? Apa yang membentuk Elegance? Bagaimana proses terjadinya Elegance? Apa yang terlihat ketika Elegance terbentuk? Apakah Elegance berhubungan dengan estetika?
Adakah efek yang ditimbulkan ketika suatu objek Elegance hadir di tengah-tengah kita?

Banyak pertanyaan-pertanyaan yang timbul ketika kita mendefinisikan Building the Elegance. Kita dapat menganalisa dari kata Building the Elegance. Building yang dimaksud disini menggambarkan suatu proses yang terjadi sehingga Elegance itu dapat terbentuk. Proses ini memiliki pengertian membangun atau mendirikan sebuah objek Elegance berdasarkan pada sebuah atau beberapa prinsip, syarat, dan peraturan. Ketika proses membangun itu terjadi maka terdapat peluang terjadinya proses penambahan pada objek tersebut.
Proses yang terjadi merupakan proses yang dinamis. Proses terjadi pada saat sebuah objek hadir sampai membentuk sesuatu yang Elegance. Proses tidak terhenti disatu titik tetapi terus berlanjut hingga objek Elegance tersebut bertumbuh dan berkembang. Proses ini mengandung nilai kontinuitas dan kesinambungan. Kontinuitas ini memiki ritme dan pola tertentu yang disesuaikan dengan space atau place dari keberadaan objek tersebut.
Elegance itu sendiri sering diartikan dengan objek yang memperlihatkan kehalusan, keanggunan, kesederhanaan, dan kemurnian. Elegance is the attribute of being unusually effective and simple. It is frequently used as a standard of tastefulness, particularly in the areas of visual design and decoration. Elegant things exhibit refined grace and dignified propriety.
Some westerners associate elegance with simplicity and consistency of design, focusing on the main or basic features of an object, its dignified gracefulness, or restrained beauty of style.
Others understand the word in an opulent light as in tasteful richness of design or ornamentation. ( Wikipedia ).
Bagaimana sebuah objek dapat disebut Elegance? In the everyday, Elegance is wholly subjective attribute. Whether we deem someone to be ‘ Elegant’ is entirely dependent on our own personal perception of their outward appearance. ( Manuel Delanda, AD Journal, hal : 18 ).
Elegance merupakan sesuatu yang sifatnya subjektif. Pengertian Elegance dapat berbeda antara satu orang dengan yang lainnya. Hal ini disebabkan persepsi manusia dalam menilai sebuah objek berbeda-beda. Elegance pertama kali terlihat dari fisik suatu benda, oleh karena itu penampakan luar dari sebuah objek Elegance sangat penting.
Elegance itu sendiri terbentuk oleh beberapa elemen yang saling berhubungan antara yang satu dengan yang lain. Elegance berhubungan dengan sebuah estetika yang dapat ditangkap oleh visual penglihatan kita dan dapat dirasakan secara emosional. Proses terjadinya Elegance didukung oleh faktor eksternal dan faktor internal yang saling berintegrasi satu sama lain.
Elegance harus bisa mengatasi segala hambatan yang datang dari faktor eksternal. Ketika hambatan itu datang, maka hambatan itu akan menjadi sebuah masalah yang kompleks. Elegance harus bisa mencari solusi untuk masalah yang kompleks itu. Ketika suatu solusi didapatkan dengan mengubah hambatan negatif menjadi sesuatu yang bersifat positif, maka solusi itu disebut solusi Elegance. We also talk about an elegant solution to complex problem. In fact only if the problem is complex and difficult does the solution deserve the attribute ‘elegant’. While simplistic solutions are pseudo-solutions, the elegant solution is marked by an economy of means by which it conquers complexity and resolves ( unnecessary ). ( Patrick Schumacher, AD Journal, hal:30 )
Ketika sebuah Elegance terbentuk maka kita bisa melihat kehadirannya sebagai suatu yang positif. Kehadirannya dapat meminimalisir nilai-nilai negatif yang ada pada sebuah space atau place. Kita dapat melihat sebuah keunikan dari kehadiran Elegance di sebuah space atau place. Ada sebuah cerita yang menggambarkan keunikan dari Elegance itu sendiri.
Awaken the Giant Spirit Within
Karya seorang arsitek sering kali diidentikan sebagai sebuah massa bangunan yang dirancang dengan indah oleh seorang arsitek. Di dalam pandangan ini, arsitektur dilihat sebagai sebuah hasil atau produk atau tujuan akhir dari perancangan itu sendiri. Namun, apa yang saya pelajari dan pahami dari kegiatan yang dilaksanakan oleh Education Care Unit di sebuah Sekolah Dasar yaitu SDN 03 Guntur di Jalan Halimun, Jakarta Pusat, Sabtu, 13 Desember 2008, lalu, sungguh mengubah pandangan saya tentang karya arsitektur. Sebuah karya arsitektur yang berkelanjutan (sustainable architecture).
Apa yang dikerjakan oleh Education Care Unit (ECU) yang diprakarsai oleh dosen-dosen saya di Fakultas Teknik, Jurusan Arsitektur, Universitas Indonesia yaitu Bpk.Yandi Andri Yatmo PhD, Ibu Paramita Atmodiwirjo PhD dan Bpk. Didi Pramujadi, bukanlah merancang sebuah massa bangunan yang mereka sebut ’sustainable’. Mereka membangkitkan kesadaran dan merancang pola pikir anak-anak tentang kepedulian terhadap lingkungan mereka sendiri. Disini arsitektur bukan menjadi sebuah produk akhir, namun menjadi sebuah instrumen.
Isu-isu lingkungan lingkungan seperti kerusakan hutan, laut,energi, sampah, polusi dan lainnya hingga isu pemanasan global menjadi hal yang sangat diperbincangkan di berbagai kalangan di dunia. Hal ini bukan hanya terjadi di kalangan pemerhati lingkungan saja, namun juga mereka yang bergelut di lingkup arsitektur bahkan hingga kepala negara di hampir seluruh dunia. Peran arsitek untuk mengurangi dampak kerusakan lingkungan, selama ini, melalui desain-desain bangunan ramah lingkungan, zero waste, green building atau apa pun namanya, memang patut kita puji, terlebih apabila arsitektur dipandang hanya sebagai sebuah tujuan. Namun yang menjadi permasalahan utama saat ini dan masa depan, jauh lebih besar dari itu, yaitu semangat (spirit) dan kesadaran masyarakat akan pentingnya kepedulian terhadap lingkungan serta implementasinya. Dari titik inilah kemudian arsitektur dan segala ilmu dengan teknik yang ada di dalamnya dapat masuk ke masyarakat dan akan sangat berperan dalam mengurangi degradasi lingkungan, bukan sebagai sebuah tujuan, namun sebagai sebuah proses dan instrumen.
Di Indonesia, buruknya mutu pendidikan menjadi faktor paling kuat yang menyebabkan minimnya semangat kepedulian dan respons terhadap lingkungannya. Kurangnya pengetahuan menjadi alasan klasik saat menilai perilaku masyarakat perkotaan di Indonesia yang masih dinilai primitif bagi negara-negara maju dunia. Membuang sampah ke sungai, menimbun sampah plastik di dalam tanah dan sebagainya, merupakan contoh nyata yang dekat dengan keseharian kita. Mereka yang mengetahui bahwa perilaku diatas merupakan jalan keluar yang kurang tepat pun sering kali tidak tahu harus berbuat apa. Hal ini agaknya membuktikan bahwa pendidikan yang diterima oleh masyarakat kita, sebagian besar belum menekankan semangat untuk menerapkan dan mengembangkan pengetahuan itu sendiri. Kurangnya kreasi, inovasi dan semangat berproduksi membuat pendidikan bahkan tidak mampu menciptakan sumber daya manusia yang mandiri.
Pendidikan yang berlangsung satu arah yaitu dari atas (otoritas guru) ke bawah (anak didik) bisa jadi merupakan penyebabnya. Sistem pendidikan seperti ini memang terlihat lazim di sekolah-sekolah di Indonesia, terutama pada tingkatan Sekolah Dasar. Padahal sistem pendidikan seperti ini hanya akan menjadikan siswa didik sebagai penerima ilmu yang diberikan oleh sang guru. Sering kali bahkan sang guru salah dalam menyampaikan ilmunya sehingga terjadi salah persepsi diantara siswa didik. Lebih parahnya lagi, ilmu yang yang disampaikan oleh guru acap kali dianggap sebagai harga mati yang kemudian mempengaruhi penilaian jawaban mereka saat ujian sekolah.
Sistem pendidikan semacam itu telah membuat anak-anak kehilangan kekritisan dan kreativitasnya, karena mereka takut salah. Mereka menjadi sangat bergantung pada ‘guru’, menunggu perintah, menunggu untuk diberitahu, disediakan, atau dengan kata lain, ‘disuapi’ sesuatu yang mereka tidak benar-benar mengerti. Padahal, kreativitas tidak datang dari sesuatu yang serba pasti, ia datang karena adanya kebebasan, keingintahuan, proses berbuat, dan tidak takut salah.
Pendidikan di tingkat sekolah dasar sering kali juga kurang tepat dalam menyampaikan konsep-konsep pemikiran dalam hubungannya dengan masalah sehari-hari. Sebagai contoh, ketika saya dulu duduk di bangku sekolah dasar, apa yang selalu dikatakan oleh guru adalah bahwa kita harus ‘membuang sampah pada tempatnya (tong sampah)’. Mengapa? Karena jika tidak akan menyebabkan kotor, banjir, penyakit, bau busuk dan sebagai macamnya. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana jika tong sampah (’tempatnya’ sampah) tidak ada. Anak-anak biasanya akan terus mencari dan ketika mereka putus asa, tempat apa pun akan menjadi ‘tempatnya’. Penyampaian pola berpikir terhadap penyelesaian masalah pada anak-anak sekolah dasar yang sering kali kurang tuntas telah membuatnya mudah sekali tergantikan oleh pola berpikir praktis. Alasan membuang sampah sembarangan sebagai penyebab banjir, akan menjadi omong kosong bagi anak-anak ketika hal itu tidak juga terjadi padahal mereka melakukannya setiap hari.
Dengan latar belakang inilah saya melihat hadirnya ECU dengan konsep pendidikan yang membangkitkan dan mengembangkan semangat kreativitas, kekritisan dan proaktivitas yang berkelanjutan sebagai sebuah inovasi dalam paradigma pendidikan. Dengan berbekal pengetahuan arsitektur yang telah saya dapatkan selama kuliah dan dengan pengarahan dosen, saya ikut merasakan sendiri metode baru pendidikan yang berupaya untuk menggali lagi semangat belajar, berkreasi dan berpendapat pada anak-anak kelas 4 SDN 03 Guntur. Saat itu, tim ECU membuat semacam lokakarya dengan tema rumah dan lingkungan yang sehat, saya menjadi salah satu fasilitatornya.
Kegiatan diawali dengan perkenalan antara pembimbing dengan anak-anak yang dibagi ke dalam beberapa kelompok berisi delapan anak, dengan satu sampai dua pembimbing di dalamnya. Perkenalan ini hal kecil, namun sangat penting. Di tahap inilah pembimbing (fasilitator) dengan anak-anak mulai saling membangun kepercayaan dan semangat mereka dalam melaksanakan pembelajaran ini. Tanpa keyakinan dan saling percaya, pembelajaran ini hanya akan menjadi formalitas semata.
Perkenalan kemudian berlanjut dengan diskusi di dalam masing-masing kelompok yang sebenarnya lebih menyerupai sharing, menceritakan mengenai keadaan rumah mereka. Ada yang panas, pengap, ada yang gelap, ada yang selalu bersih karena rajin membersihkan rumah dan sebagainya. Mereka juga tak segan-segan bertanya kepada saya mengenai kondisi rumah saya saat ini dan hal ini membuat saya yakin bahwa mereka adalah anak-anak yang cukup proaktif, sehingga akan lebih mudah bagi saya untuk membimbing mereka.
Kegiatan saling bercerita itu kemudian dipandu dengan sebuah lembar isian yang di dalamnya terdapat pertanyaan-pertanyaan seputar keadaan rumah mereka terkait dengan rumah sehat. Dalam mengisinya, mereka tak perlu saling menyontek, mereka hanya perlu menceritakan sebanyak yang mereka mau, sebaik yang mereka tahu, dan dengan bahasa mereka sendiri. Bahkan jika mereka kehilangan inspirasi dalam menjawabnya, mereka bisa bertanya kepada kami pembimbingnya agar dapat menggali lagi pengetahuan dan cerita mereka. Disini, mereka lah yang berkepentingan, mereka lah yang ingin tahu dan ingin mencari sebanyak mungkin jawaban. Kita memberikan mereka ‘ruang’ seolah mereka lah yang paling mengerti tentang lingkungan mereka sendiri, dan dengan mempercayai mereka, kita juga akan dengan mudah mendapatkan kepercayaan.
Hal kemudian berubah menjadi agak sulit pada saat diskusi ini mencapai tahap yang lebih lanjut yaitu pemetaan pikiran: menemukan alasan atau penyebab dari setiap masalah dan kemudian mencari solusinya. Misalnya, masalah ruang kamar yang panas / pengap, penyebabnya karena tidak ada atau kurangnya ventilasi, solusinya seperti yang disepakati para anggota kelompok ialah dengan membuat atau memperbanyak ventilasi, memakai kipas angin atau AC. Disini anak-anak mulai terlihat kesulitan dalam mencari keterkaitan sebuah masalah dengan penyebab dan penyelesaiannya. Mereka mulai banyak sekali bertanya karena kurang yakin dengan pemikirannya meskipun ternyata pemikiran mereka sangat masuk akal dan nyata. Mungkin ini adalah akibat dari sistem pendidikan yang serba satu sumber, satu pemikiran, satu kalimat dan satu gaya bahasa tadi.
Di akhir bagian yang disebut pemetaan pikiran tadi, anak-anak akhirnya dapat melihat hubungan yang ada, mengelilingi sebuah masalah yang sebelumnya mereka temukan sendiri di lingkungan dan rumah mereka. Mereka akhirnya tidak lagi melihat sebuah masalah yang hanya dapat diidentifikasi, namun kini mereka tahu apa yang dapat mereka lakukan dengan melihat pada penyebab dari permasalahan itu sendiri.
Setelah proses pemetaan pikiran selesai, anak-anak terlihat seolah-olah telah melakukan sebuah upaya yang baik, sebuah jawaban / pengetahuan yang sudah cukup untuk mengakhiri pertemuan pagi itu. Mereka pun bertanya, ” Habis ini kita ngapain, kak? Sudah selesai ya?”. Saya pun menjawab mereka,” Belum. Ada yang lebih seru!”. kegiatan selanjutnya ialah siswa diajak membuat sebuah maket kompleks perumahan yang sehat sesuai dengan hasil diskusi tadi.
Berbeda dengan proses diskusi dan pemetaan pemikiran yang agak sulit, proses pembuatan maket ini disambut antusias para siswa. Suasana gaduh yang muncul selama proses diskusi kini berubah menjadi keasyikan tersendiri, membuat sebuah rumah sehat impian. Mereka sibuk dalam aktivitas dan imajinasinya masing-masing, selain tentunya memasukan apa yang telah mereka pelajari dalam diskusi. Disini anak-anak diberikan kebebasan berimajinasi dan sekaligus menerapkan pengetahuannya sehingga mereka dapat memiliki sense of belonging terhadap apa yang mereka buat.
Dengan bahan yang sederhana mereka sibuk menggunting, mengelem, dan menyusun karton dan kertas yang dibagikan. Mereka meminta bahan terbaik pada kami sebagai bahan membuat rumah mereka. Mereka kemudian menggambarkan jendela-jendela dan ventilasi pada rumah yang berukuran 5×10 cm dan tinggi 5 cm tersebut. Pohon-pohon sebagai elemen penghijauan dibuat deangan kertas krep atau daun-daun dari halaman sekolah mereka.
Maket dibuat dengan sederhana, namun sesuai dengan pemahaman dan imajinasi anak-anak. Hal ini dimaksudkan agar maket tidak dibuat sebagai produk prakarya semata, namun lebih memiliki makna dan cerita. Di sini, sama seperti arsitektur, model bukan hadir sebagai tujuan atau produk akhir, namun hanya sebagai instrumen untuk mencapai tujuan yaitu merangsang semangat dan kreativitas anak-anak terhadap pengelolaan lingkungan di sekitarnya.
Proses berikutnya tak kalah penting yaitu membuat refleksi dari kegiatan yang telah dilakukan pagi itu. Disini mereka diminta untuk menyampaikan kembali apa yang telah mereka kerjakan dan apa yang mereka pelajari. Bagian ini sangat penting untuk melihat bagaimana anak-anak menyerap pembelajaran yang telah diberikan kepada mereka.
Pembelajaran seperti yang dilaksanakan oleh ECU ini dapat menjadi cara lain bagi mereka yang memiliki pengetahuan di bidang arsitektur khususnya untuk membantu mengurangi permasalahan degradasi lingkungan yang terjadi semakin parah beberapa dekade terakhir ini. Hal ini bukan terjadi karena buruknya kualitas lingkung bangun, karena hal itu hanya lah sebagian dari akibat. Permasalahan yang sesungguhnya adalah kurangnya kepedulian manusia terhadap alam yang selama ini mereka ‘eksploitasi’. Arsitek harus dapat berperan lebih, bukan hanya sebagai ‘pembantu’ (membantu klien yang peduli terhadap lingkungan), namun justru sebagai pembangun semangat (spirit) dan kepedulian terhadap lingkungan itu sendiri di tengah-tengah masyarakat, terutama anak-anak sebagai generasi penerus dunia.
Hidup dan lingkungan yang lebih baik adalah dambaan bagi hampir 3 miliar penduduk dunia. Mereka semua mempunyai spirit untuk mewujudkan itu. Spirit menjadi begitu penting karena ia menjadi kekuatan raksasa bagi hadirnya sebuah perubahan. Namun ketika harapan semakin menjauh dari kenyataan, spirit pun dapat perlahan menghilang. Disaat kondisi seperti ini, besar harapan perubahan bertumpu pada generasi mendatang, sebagai pembawa perubahan. Pada esensinya proses pembelajaran altrnatif ini berusaha untuk membangkitkan spirit dan memberikan pemahaman sejak dini tentang pengelolaan lingkungan yang baik dengan cara yang menyenangkan. Spirit dan pemikiran yang sudah tertanam dengan kuat diharapkan akan terus terbawa dan dikembangkan, hingga kemudian pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan dapat terealisasi.










