FATWA SEBUAH KARYA ARSITEKTUR

Dia menjadi bagian manusia, diakui sebagai salah satu bidang ilmu, ditinjau sebagai salah satu bentuk disiplin seni, dan secara spesifik juga diterjemahkan sebagai “space for living”.

Pencarian manusia terhadap dimensi ruang yang berisikan titik, garis, dan bidang dan juga warna telah sekian lama membentuk sistem yang bergerak secara dinamis dan saling terhubung satu sama lain, saling melengkapi, menambah, mengurangi, mengadisi, menyubstraksi, berurutan, tahap demi tahap, membangun teori, mendekonstruksi teori, merancang, menghancurkan, merencanakan, mengorganissasikan, membuka, memfiltrasi, mentransformasi, merekonstruksi, dan menjembatani peluang terbentuknya suatu nilai kreativitas dengan takaran tertentu dan melalui sudut pandang yang sangat relatif.

Jauh di dasar langit terdapat serangkai karya, dia melakukan pendekatan terhadap penyerahan diri. Dia bersaksi bahwa Ia merupakan batas akhir dari fenomena Arsitektur. Sejatinya, Ia merupakan “salah satu bagian  penting dari  esensi sejarah dunia estetika” yang akan membawa sebuah pencerahan atas ketidakbermaknaan Arsitektur – yang berangsur tanpa sadar tengah menuju kehampaan atau titik jenuh pada nilai-nilai dasar Arsitektur itu sendiri.

Langkahnya sangat sederhana, setapak demi setapak, bertemu dengan berbagai faktor, gejala, dan permasalahan Arsitektur kemudian mengapresiasinya dengan ikhlas hingga Ia mampu menyerahkan jiwanya. Karena esensi sejarah sejatinya terus berulang seperti garis melingkar, berputar pada porosnya, hanya berganti subjek dan objek yang mengelilingi lingkaran itu. Inti ceritanya sama-sama membentuk suatu benang merah yang me-repetisi nilai-nilai dasar kehidupan.

Karya itu merasakan dirinya tidak pantas menerima rintihan-rintihan isyarat tanpa kepercayaan. Ia selalu mengatakan bahwa sesungguhnya dirinyalah bangunan terakhir itu. Ia tidak mampu mempresentasikan bangunan itu karena ia tahu bahwa sesungguhnya ada bagian dari dirinya yang mengkhianatinya, tidak mempercayainya, tidak memedulikannya, merasa tidak bertanggung jawab, dan tentu saja berpura-pura  dan bersembunyi dibalik “ketidaktahuan” atau menggunakan standar alasan lupa dan atau putaran roda kata-kata maaf tanpa ruh.

Hingga pada akhirnya, harapan akan kesejatian Arsitektur itu semakin bertautan, bersinergi, dan termanifestasikan dengan seluruh nilai universal yang berlaku di semesta sesuai garis ketetapan Ilahi.

Miphz, Saturday, September 16, 2006, 11:48 PM

Edited: 12 November 2008, 15 November 2008

2 thoughts on “FATWA SEBUAH KARYA ARSITEKTUR”

  1. pada kenyataannya, seringkali terjadinya perkosaan terhadap arsitektur…
    arsitektur dimata masyarakat awam tidak lebih dari sekedar produk bangunan, tampak menjadi hal yang dilebih-lebihkan tanpa mendekati makna sebenarnya, denah hanyalah sebuah tatanan untuk memenuhi hasrat dari pemilik, tanpa mempedulikan faktor fungsional yang sebenarnya…
    ahh…
    sampai kapan ini akan terjadi?

  2. Hmmm, mungkin sampai ketika suatu saat manusia itu menemukan titik balik, titik jenuh, kekosongan, perenungan, kehampaan, ketidakpunyaan tempat berpijak, kehilangan arah dan tujuan mendasar dari kehidupannya, dst.

    Karena secara fundamental, tindakan “perkosaan” yang ia lakukan itu terjadi karena ia telah bergerak menjauh dari value system yang telah menjadi sunnatullah. Whatever.

    Maka, masih tersisakah argumentasi tentang faktor paling mendasar dari karya arsitektur selain “getting closed to the ridha of Allah Swt?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s