Analisis Sirkulasi Universitas Pendidikan Indonesia

Ini gambar foto udara UPI dari om Google Earth, maaf gambarnya kuarang jelas. Disitu pokoknya ada gambar sirkulasi, pengguna kampus sejati pasti mengerti lah.

Sirkulasinya itu lho!

Agak capek juga dibikin muter-muter oleh sistem sirkulasi yang model begini. Awalnya tidak ada masalah, memakai sistem akses keluar-masuk  dengan satu gerbang utama, baik pejalan kaki (mahasiswa, dosen, atau pegawai kampus yang naik angkutan umum), mobil, dan motor semuanya bisa secara resmi keluar masuk kampus lewat itu main gate “tanda panah warna merah yang di bawah” yang ada biru-birunya dikit.

Tapi bayangkan, sekarang para pengendara motor yang jumlahnya kira-kira 1/3 total jumlah mahasiswa harus lewat atas (BNI UPI) dengan tantangan sedikit kemacetan karena berhadapan dengan traffic supir angkutan dan terminal Ledeng.

Berbicara masalah kedisiplinan, penegakan peraturan, maupun peraturan itu sendiri, idealnya setiap pengguna fasilitas kampus baik mahasiswa, dosen, satpam, karyawan kampus mulai rektor sampai pegawai BAAK, semuanya harus mampu membaca selain keamanan juga kenyamanan bersama.

Villa Isola, Bandung
Image via Wikipedia

 

Selain itu, UPI juga kebetulan memiliki (ditempati) salah satu bangunan bersejarah yang merupakan landmark kota Bandung, Isola itu namanya. Bikinan Schoemaker. Malu dong, kalau cucunya Shoemaker datang ke UPI diam-diam naik ojek, eh lalu dimarahin satpam karena gak boleh lewat depan, “Woi, bule! motor lewat atas!” kata kang Security (Satpam), jawab bule, “Saya mau sholat dulu di itu masjid ITC, eh Al-Furqan…pak, masa saya harus lewat atas, jauh dong!”

UPI

Seperti inilah jauhnya, hampir 7 kali lipat. Posisi dari A (Gerlong/Jl.Setiabudi) ke B (FPTK/ITC) yang biasanya bisa ditempuh dengan jarak 70-100 meter (lewat gerbang utama) – bulatan warna merah, kini harus ditempuh dengan jarak setengah kilo meter lebih (motor: lewat gerbang atas) – bulatan warna biru. Jadi pemilik motor harus menempuh itu bulatan biru, melalui traffic jalan Setiabudi + terminal, lalu bulatan kuning (pertigaan PKM), dan bulatan merah (gerbang milik mobil), baru sampai di FPTK/masjid ITC.

Sistem sirkulasi ini, selain sedikit mempengaruhi nilai ekonomi “lokasi” BNI UPI juga membuat pusing dan gerah orang-orang yang memiliki kepekaan spasial, seni tata ruang, arsitektural, maupun perspektif-perspektif kenyamanan yang lain. Khusunya pengguna kendaraan roda dua.

Tentang “keamanan”, selain berhubungan dengan sistem sirkulasi juga berkaitan dengan kenyamanan. Alasan “tingginya tingkat pencurian motor” juga harus diikuti dengan peningkatan disiplin semua pihak, juga kenyamanan yang berpihak ke semua pihak. Jadi, formalitas pemerikasaan STNK tidak hanya menjadi rutinitas hangat-hangat bulan pertama, dan selanjutnya bebas.

Masih banyak ide di kepala ini, tapi saya masih perlu data-data untuk menuliskannya. Seperti tragedi rutin gedung Gymnasium yang dua tahun sekali secara periodik disulap jadi pasar kaget. Sehingga suasana sakral wisudawan dan wisudawati terganggu dengan “area komersial kaget” yang tidak teratur itu. Menurut saya sih insiden komersial/pameran sih sah-sah saja dimana saja, asal ditempatkan pada tempatnya dan tidak ada pihak yang dirugikan, sesuai dengan peraturan/kebijakan, dan atau tidak mengganggu kenyamanan, ketertiban, dan keindahan ruang publik. Dan jangan sampai ini ada hubungannnya dengan disorientasi pendidikan (tanpa sadar tersuntik budaya materialisme/komersialisasi yang melampaui batas). Karena idealnya, saran saya pasar kaget itu diganti dengan pameran pendidikan, beasiswa S2/S3,  Pameran SMU/SMK, pameran buku, dst, boleh lah ada pameran makanan dan atau jam tangan/oleh-oleh, tapi disediakan tempat yang nyaman buat pedagang – hingga tidak mengganggu/merusak kenyamanan visual. Juga tulisan tentang ketersediaan ruang terbuka publik di UPI, tentang wacana masterplan kampus UPI, dsb.

Campus master plan, as development and zoning reference, has been an importance guideline for educational structure and infra-structure development. It means that any related campus development should comply with the campus master plan.

Finally, doa saya untuk segera terwujudnya sistem “sirkulasi baru” itu, sekaligus rencana realisasi proyek “The New Gate” hasil tender itu bisa mengobati rasa penasaran banyak orang. I love my campus at all!

Indonesia Luas Lho!

Indonesia luas lho, dan kalau mau di bandingkan dengan “the boxes outside” beserta milayaran jumlah desain dan perancangan yang sudah ada, masa kita tidak bisa mengambil pelajaran.

Coba kita jalan-jalan sedikit keluar dari kotak persepsi kita, siap?

This is Bandung:

bandung-1467-km-eyeview

Bandung

And this is some where else outside, panggil aja dengan Hongkong:

hongkong-1156-km-eyeview

Hongkong

Now let we travel to Dubai:

dubai-6149-km-eyeview

Dubai

And then going to one of Google office site (just wanna say thanks – they has making us travelled – virtually – even not phisically):

google-office-565-km-eyeview

And the “the second finally” just lets yourself thinking outside the box!

[  Because this world today are being a little village!  ]

outside-the-box

11 thoughts on “Analisis Sirkulasi Universitas Pendidikan Indonesia”

  1. ya ampyun..kampus kita tercinta..
    lol..baru tau klo ojek udah ga bboleh lewat depan..

    udah, naik angkot aja atuh..wkwkwk..

  2. ku pikir, cuman saya aja yang ngedumel masalah ini.
    kadang…saya juga ga abis pikir, kenapa musti ngambil barang kumel kucel bekas beratus2 tangan di pintu gerbang, yang kalo ilang tu barang kita bisa ngeles ke pak satpam “ilang pak! dan baiii..” kenapa ga pake stiker yang bayar langganan aja, kalo mahasiswa bisalah include SPP/sumbgn pendidikan. BAYAR de satpam buat ngatur parkir yang kaco balo dan jaga keamanan. katanya seminggu 5motor hilang di UPI, brati sehari 1biji ilang. GOD!!!!
    omigot….please deh…mudah2n para pengambil kebijakan itu baca blog ini.
    keep criticizing…!! Don’t give up, walo cape de🙂

  3. @ichazutto, iye tuh pokoknya yang beroda dua, pake mesin, dan ada STNK-nya harus masuk merangkak-rangkak lewat gerbang atas. Kecuali motornya dinaikin ke mobil pick up, hehe. Capek deh masyarakat motor UPI dibikin lieur. Ud gt ga ad jaminan motor aman, selain dgn kewaspadaan pribadi.

  4. @mita (Bu Betha), tulisan ini ndak asal muncul jg sih bu, tp ad yg melatarbelakanginya, yaitu komentar2 yg senada atas perlakuan yg berkesan tidak adil kpd pengendara motor. Saya sih cuman iseng berperan sbg penyalur aspirasi lewat tulisan ini. Pemicunya, saya pernah debat sedikit kusir dgn pak satpam bbrp bulan lalu. Hehe…

    Yah, kalau mau pake sistem seperti punya Sun Parking yg ada di mall2 itu kayaqnya bagus jg, tp hrs ada demo dulu dari BEM, “Hapuskan komersialisasi pendidikan!” :-p

    Isu-isunya sih ini sistem sirkulasi sementara. Soalnya lg ad rencana de-masterplan-isasi total atas masterplan UPI yg abu-abu ini. Tp, sepertinya dana pinjaman dari IDB sudah tipis kayaknya- jd nunggu SPP/deposito SPP deh sepertinya…..

  5. Dengan kondisi sekarang, melihat luas lahan yg terbatas. Kita harus peka dan sedikit serius jg membaca masterplan UPI. Kalau kita berkaca ke tetangga jauh, ITB dgn rasio motor-mobil lebih kurang 50:50, maka seiring pertumbuhan ekonomi (nantinya), bisa jadi mahasiswa UPI yg bawa mobil berjumlah 20-30% di tahun 2030. Dan kampus qt akan macet total. Walau data ini ngarang, tapi menurut saya masih dalam batas logis, selama industri transportasi, sistem transportasi, dan alat transportasi umum/masal di Bandung khususnya tdk ad perubahan yg signifikan di tahun 2030. Krn mungkin saja minyak bumi sudah habis, ada revolusi teknologi transportasi, dan atau di Bandung sudah ada monorail atau subway. Amin. Walau saya sudah jadi kakek2 nanti (itu jg kalo ada umur). Jadi ada baiknya ini juga jadi agenda serius qt. Khususnya pejabat kampus.

    Hehe, dari parkiran kampus sampai sistem transportasi – jadi kita harus cari solusi. Tuh kan jd pantun!

  6. duh,, ko jd pusing gni ya lht peta nya..
    wn pengen ke upi bdg nieh..
    tp gk tau jalan..
    mau daftar um upi..
    [^_^thank,, paling gk ad bayangn dikit..

  7. @Honey, masuk aja gapapa kok pasti diterima, kalo ada masalah sama satpam lapor aja kesini, okei

    @Winy, wah bener mau UM? Selamat berjuang ya, insyAllah pasti diterima kok, hehe

  8. It’s actually a awesome and valuable part of information. I’m happy that you just distributed this convenient information here.. jtxairt You need to keep us informed such as this. Many thanks revealing.

  9. Tapi sih sebenernya, untuk mobilitas kendaraan mahasiswa, masih lebih enak di UPI, dibanding di ITB. Meskipun motor cuma dikasih akses lewat gerbang atas, at least, di UPI mahasiswa boleh keluar masuk pake motor/mobil. Kalau di ITB, yang boleh berkeliaran/keluar masuk kampus, cuma motor dan mobil dosen & staf akademiknya aja. Motor dan mobil mahasiswa, gak boleh berkeliaran masuk ke kampus ITB. Jadi ya mau gak mau mahasiswa mah harus nikreh, alias naek kaki (jalan kaki), hehehe. Dan di ITB juga gerbang depan/utama khusus untuk mobil. Motor masuk dari gerbang samping dan belakang. Mungkin untuk ketertiban mungkin ya.. Mungkin lebih baik lagi kalau di antara gedung FPTK UPI dan jalan setiabudi itu dikasih gerbang kecil, buat akses masuk motor mungkin ya, enaknya. hoho. Tapi analisis yang baik🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s