Crime Forensic Result of PAB ARS UPI

lanjut disini diskusinya

atau ke sini untuk mengetahui pandangan saya tentang ospek


37 thoughts on “Crime Forensic Result of PAB ARS UPI”

  1. hahaha…
    ditulis juga mip,,,
    untung latarbelakang penulisannya bukan karna gw nyinggung PAB di tulisan “Status Quo” itu tea..
    jangan bawa-bawa gw yah,, jangan juga bilang inspired by me..
    coz, emang lu dah lama pengen nulis ini kan…?
    so,,,
    well,,,
    hm.. komen apa yah…
    ok, here it is:

    MENTALLY TREATMENT
    menurut gw, pembinaan mental buat MaRu itu perlu, gak cuma di military.
    tentunya tanpa kekerasan fisik yang -full body contact- (naon deui ieu frase nyambung pisan)
    disatu sisi, kalo gak kita “kerasin”, maru jadi ngelunjak, gak sopan, lembek kayak peuyeum.
    tapi di sisi yang lainnya, kalo pembinaan yang over teuing malah jadi ngerusak mental, parno, n menyimpan dendam menahun (hayo..siapa yang dendam ma senior???). coz in case, kondisi mental tiap manusia kan beda-beda, jadi kondisi mental Maru JPTA tuh beragam, lain lagi dengan kondisi mental orang2 yang masuk AKABRI yang udah bisa dipastikan siap akan segala perlakuan mental maupun fisik.
    kalo menurut gw sih sesuain aja porsinya, pembinaan mental-nya jangan overdosis, dan yang pasti tanpa kekerasan fisik.

    GRAFIK EMOSI
    Sekedar have fun, kayaknya agar acara pelantikan lebih semarak dan lebih “menggigit”, kayaknya perlu juga ada permainan grafik emosi..
    tujuannya ya agar mereka (Maru,red) siap dan terbiasa akan segala perlakuan yang akan menerpa mereka dalam perkuliahan, asistensi, bimbingan, seminar, sidang, atau lebih jauh lagi persiapan buat bertemu berbagai jenis karakter manusia yang akan mereka temui di dunia nyata, agar mereka siap n “used to” dengan kerasnya kehidupan.
    jadi, gw setuju-setuju aja ada permainan grafik emosi.
    lagian, grafik emosi itu udah ada dari dulu di acara-acara himpunan kita, LDKM misalnya, inget gak waktu teh nitih nangis-nangis n kang sarip marah-marah di acara puncak LDKM kita??
    kayaknya bubulshitan kayak gitu emang udah jadi budaya, n i think it’s fine n fun..
    (jadi inget film The Recruit, si Colin Farrel dari awal ampe akhir film itu dikibulin mulu ama si alpachino, “Everything is a test” “What u see, what u hear, nothing as what it seems”)
    sekali lagi, maenin emosinya kagak perlu pake acara gampar-gamparan, nyuntrungin kepala cewek, apalagi ampe ada acara nyeburin orang ke danau yang kondisi danaunya dalam sebulan terakhir udah menelan 4 nyawa…
    Norak, old-skul banget, n feodal pisan…
    gak ngotak banget gituloh…

    SENIOR VS PANITIA
    Teteup, dari dulu kasusnya sama..
    setiap PAB selalu terulang, Senior minta porsi lebih n ngacak-ngacak konsep.
    mentang2 yang di”tua”kan.. merasa lebih tua? merasa udah tua?
    ya harusnya kalo ngerasa tua, diem aja di rumah, jagain istri dan anak..
    kagak ada kerjaan amat tiap tahun attend di acara PAB.
    bagu sih participate, care ma himpunan.. tapi kan gak perlu ampe menggebu-gebu gitu.
    Dosen aja gak ikut campur lebih jauh, padahal wewenang mereka (secara institusional) lumayan besar buat “ikut campur”,walaupun status dosen-dosen itu hanya sebagai pengawas, yang di peraturan himpunan mungkin tidak memiliki hak suara. terlebih lagi, secara legalitas, acara PAB ini ternyata tidak mendapatkan izin dari pihak Universitas (gw gak tau detailnya, kalo gak salah acara PAB gak boleh dilakukan diluar kampus).

    KESIMPULAN
    Ada baiknya dikaji ulang batasan yang boleh atau tidak boleh dilakukan dalam acara PAB ini.
    (susunan kalimat yang aneh, ga apa2 lah..Blog temen gw ini).
    terus, peraturan yang udah dibuat jangan seenaknya dilanggar. kalo ga boleh maen fisik, yaudah ga boleh aja… jangan nyolong2 kesempatan di ujung acara ketika grafik emosi mencapai puncaknya. gak konsisten pisan. gak punya cara laen apa buat ningkatin grafik emosi orang?

    akhirnya, itu semua hanyalah pendapat gw doang,
    seorang anak manusia yang telah menjalani segala birokrasi dan prosedur untuk menjadi anggota Himpunan yang kini telah mati (HMTB,red), yang sebenarnya belum mati juga sih, cuma ganti nama mungkin… ibarat minum air dari gelas bekas minyak yang gelasnya belum dicuci pake sunlight..
    tetep aja airnya “hinyai” (Hinyai: bahasa sunda untuk menjelaskan keadan air yang bercampur minyak, Oxford dictionary 8’th Edition :D)
    akhir kata, Cucilah gelas anda dengan Sunlight,,, bersih bersinar…Sunlight!!!

  2. Setuju, kita bawa ke mahkamah konstitusi, peraturan seperti apa yang paling ideal.

    Yang penting fungsi dan tujuan kegiatan semacam itu harus dipetakan dengan kongkrit, kegiatan apa ini teh, siapa pelaksananya ini teh, dimana pelaksanaannya ini teh, kapan ini teh dilaksanakan, dan kenapa, alasan apa yang paling MENDASARI hingga kegiatan ini teh menjadi penting untuk dilaksanakan, hasil apa yang akan dicapai, alat ukur keberhasilannya apa saja. (misalnya: kepuasan pribadikah, kesenangan golongankah, atau sesuatu yang sangat idealis seperti: kegiatan PAB diharapkan membentuk mental dengan sempurna layaknya seorang pejuang hingga JPTA menjadi jurusan dengan mahasiswa yang berdisiplin tinggi, bermental baja, berkreativitas, dan memiliki kekuatan inovasi dan atau semangat perjuangan “kependidikan” yang hebat) dst.

    Entahlah, ku tak tahu apakah telah terjadi pergeseran tujuan atau memang sejak tekbang berdiri sudah ada yang seperti ini.

    Alternatif ide, selain ide mentok old school itu antara lain: Kalau gambaran PAB itu berfungsi semacam training and development atau self development, yang seperti di semua perusahaan besar melakukannya. Misal dengan pelatihan berkala, rutin, dan konsisten sebulan sekali atau seminggu sekali atau bebaslah tergantung kondisi, kita bikin rutinitas misal mendatangkan arsitek, IAI, atau persatuan guru tekbang se bandung, atau alumni UPI yang sudah sukses, mungkin humas Adikarya, direktur x, atau apapun, pelatihan fisik dan mental memang perlu dan harus, dan seharusnya rutin, terprogram, tidak setahun sekali, banyak juga fasilitas yang menyediakan hal ini. Dana? Ah, ini masalah kreativitas dan link saja. Kemping? Pelatihan kepemimpinan, pelatihan manajemen, seminar beasiswa, seminar ini, seminar itu, training motivasi, dll, mendatangkan dosen tamu, dll semua itu bisa dilakukan. Masalah pengelunjakan, itu bisa diantisipasi dengan sikap, contoh, cara bergaul, berkomunikasi, dll, dalam rangkaian waktu bertahun2 kuliah, tidak dalam waktu 2 malam, dengan melakukan “tekanan mental” yang lebih sering berlebihan.

    Perlu diingat sejumlah kampus lain sudah menghentikan budaya seperti ini, karena memang tidak efektif dan bertolak belakang dengan budaya pendidikan. Bahkan di ITB ada ancaman DO buat oknum mahasiswa yang terbukti melakukan kekerasan dalam masa orientasi mahasiswa. Disana kalau gak salah ada istilah “swasta” or alumni versus panitia…

  3. Tiada yang lebih puitis selain bicara tentang kebenaran (Gie)

    mahasiswa sebagai agen of change harus bisa membuat sesuatu yang baru keluar dari kekacaun yang ada, membuat sebuah perubahan atas segala hal yang dianggap tidak pantas, dengan semangat idealisme yang tinggi mahasiswa bisa ciptakan sebuah perubahan besar, banyak yang mesti mahasiswa ubah…..banyak peer yang ditinggalkan orang-orang sebelum kita…….itu jadi tugas kita semua …………sebagi mahasiswa

    sebelumnya mohon maaf kepada temen2 KMA Kridaya serta panitia PAB saya tidak bisa mengikuti PAB, tapi alhambulillah temen2 dari angkatan saya bisa meluangkan waktunya untuk datang, dan saya mendapat beberapa review dari hasil PAB tersebut dari beberapa teman angkatan yang jelasnya tertuang dalam blog ini……

    Semangat perubahan organisasi mahasiswa tekbang (HMTB) menuju Keluarga mahasiswa Arsitektur Kridaya (KMA KRIDAYA) dilatar belakangi oleh sebuah keinginan untuk mereformasi Budaya HMTB, yang hanya melaksanakan rutinitas yang biasa dilakukan oleh kepengurusan-kepengurusan sebelumnya, tanpa mau berfikir ulang mengenai, manfaat, efektifitas, efisiensi, serta kebutuahn dari para anggotanya.(versi Saya.Red)

    ketika KMA Kridaya sekarang hadir harapannya KMA Kridaya saat ini bisa berubah, bisa tampil beda, dan berinovasi membuat yang baru, jangan hanya terpaku kepada sesuatu yang telah biasa terjadi, harus dipikir ulang dan direnungkan kembali, agar sertiap apa yang dilakukan tidak keluar dari apa yang diinginkan oleh angggotanya, (Sebagai Pemilik)

    PAB yang dilakuakn saat ini apakah ini memang produk dari KMA Kridaya saat ini? ataukah hanya warisan budaya? itu yang harus dipahami, oleh kita semua sebagai WARGA KMA KRIDAYA.tidak salah jika memang budayanya bagus tapi jika tidak mari kita pikir ulang…

    saya sepakat kepada tulisan teman saya diatas yang mencoba memberikan feedbeck dari kegiatan PAB saat ini, apa dan bagaimana manfaatnya apakah tujuan dari diadakanya PAB tercapai ? dan tentunya ditanyakan kepada Maru sebagai Konsumennya.

    kita coba buka mata, dunia ini luas HIMA itu banyak, coba kita study banding kepada himpunan lain bagaimana proses kaderisasi disanan mungkin ada yang lebih baik, lebih efektif, lebih terasa manfaatnya, minim negatifnya, dan tentunya lebih murah…..dari sudut pandang EKONOMI saya memandang lebih (COZ KADER KOPERASI)…..kita bisa manfaatkan dana yang segitu banyaknya untuk kegiatan PAB, untuk kegiatan lain yang lebih terasa manfaatnya oleh mahasiswa…… bikin seminar nasional terntang arsitektur misalnya ? panitianya dari mahasiswa baru…… Pengurus himpunan,mahasiswa angkatn atas, serta dosen dan JPTA arahkan mereka membikin acara yang sekretif mungkin, sebaik mungkin yang bisa mengangkat nama JPTA, dan UPI ke kancah nasional, kita alihkan point2 yang ingin dicapai memalui PAB melalui panitia ini, saya pikir lebih rasional, dan lebih intelektual…….dan aspek yang ingin dicapainya lebih megang ke leluruh aspek masalah yang diungkap( Psikologis, Militer (kalo saya lebih senang dengan Aspek ProFesional), Pendidikan, Arsitektur Spiritual, Hukum, Politik, Ekonomi,Budaya,Sosologi)jika acaranya sukses tidak menutup kemungkinan panitia (MAru) mendapat keuntungan berupa materil, bukankah saat ini kita perlu untuk mengenbangkan jiwa entrepterneur dikalangan mahasiswa agar tidak ada lagi sarjana yang bisanya mencari kerja dan membebani pemerintah dengan lapangan kerja.
    mungkin itu yang bisa disampaikan
    Semoga Semangat Berubah menuju lebih baik selalu tertanam dalam diri kita…..amin

  4. Ada tambahan contoh kasus, bahwa kemarin-kemarin di ITB ada seorang ketua himpunan yang di culik dan dipukuli, hilang dari peredaran selama 8 hari, dan akhirnya ditemukan di Tasikmalaya dalam keadaan linglung…Silahkan cek isu ini ke mahasiswa planologi ITB.

    Analisis yang berkembang, bahwa kejadian itu pada masa ospek, dan kalau di ITB ospek teh pas tingkat dua. Nah, di mungkinkan ada mahasiswa yang menggunakan kekuatan “mafia” nya di luar kampus untuk membalas aksi panitia ospek yang dinilai kelewatan.

    Nah???

  5. miph..seperti biasa, datanya lengkap dan akurat..
    jadi inget PAB dulu, direndem (emang cucian..) di danau yg ga jelas, padahal banyak kecebong, mana diriku wktu itu lagi datang bulan..heuheu..jijay bgt ya..T_T..

    nampaknya ya ini teh, pengaruh alumni yg terlalu besar, padahal alumni jaman antah berantah (baca: miing dkk..) itu eksis klo ada acara “pembantaian” doang.. panitia nya teh suka ga bisa mengendalikan alumni yg sudah bertindak diluar batas, wong senior, mana berani juga..

    Sebaiknya acara PAB dihentikan saja/diganti dengan yg lebih ng-ARSITEK..
    heuheu..so iyey pisan..

    yu ah..semangat bwt yg masih muda2..

  6. hmm…ketinggalan berita hot nih gw tampaknya….dari kasus tentang prodi mpe PAB yang slalu sama betaon-taon….

    PAB..PAB..Pendidikan-Aksi Brutal,,,ho3 bener ga???dan kasusnya tiap taun slalu sama..ada Miing CS yang sok tua dan kuasa..walopun gw ga pernah ngikut PAB..atw cm liat maru dikerjain doang tapi kayanya gw nasteung aja klo tiap taun Miing CS slalu ngekor2 mulu…gada kerjaan laen apa tuh orang?? kontribusi dy sbg alumni sama kampus tuh jadinya cuma buat nyiksain anak baru doang??? what a foolish job…

    buat gw pendidikan mental bukan cuma disiksa dan ngerasain penderitaan2 para alumni zaman heubeul bwt dibebanin ma anak baru…pendidikan mental dibawah tekanan kaya zaman orba gitu udah ga mempan dipake anak sekarang…yang ada malah dendam yang membara yang berakhir dalam acara bermuram – durja(naon sih)…harusnya ada cara lebih efektif dalam bentuk simulasi2 laen daripada pendidikan model mi;iter gitu…emang kita wamil apah??? trus di luar dunia kampus emang berguna?yang ada malah mencetak preman2 cap kecoa model miing dkk…nyiksa orang ko yah bangga…sableng!

    gimana seh…katanya upi religius,beradab,,,,tapi praktek kekerasan masih merajalele…he3!kalo gitu mah laporin ajah ma polisi bilang ada praktek kdrt…ho3.ga ada perubahan sampe kapanpun klo orang2nya(dalam hal ini alumni dan senior) klo masih punya pikiran yang ortodoks..kapan lengser coba rezim Hitler n Lenin versi Miing CS klo qt ga reformasi?????
    well its need hard work….
    wassalam wr.wb

  7. Bismillah…

    Hm…makin rame aja blog nya kang🙂

    PAB…’Pembantaian’ Anggota Baru?Beruntung saya lahir di tengah-tengah proses ‘perceraian’ Sipil & Arsitektur, sehingga bisa bergabung di himpunan tanpa harus melewati proses ‘pembantaian’ tersebut. Tapi, walau belum pernah menjadi peserta PAB, saya pernah bergabung dalam kepanitian PAB ‘perdana’ KMA KRIDAYA.

    Jujur saja awalnya saya malas untuk bergabung di kepanitiaan tsb. Saya fikir pastilah kemasan acaranya gitu-gitu aja…seputar bentakan, tamparan, dan makian di session awal, lalu guyonan dan senyum serta kata-kata manis di session berikutnya. Kalau diibaratkan himpunan sebagai restoran, kayaknya gak bakalan laku tu restoran….tiap hari selalu menyajikan satu ‘menu’ yang sama, di LDKM… di PAB… Tapi, ada semacam perasaan bersalah sebagai anggota keluarga KRIDAYA, jika saya justru ‘lari’ dan membiarkan ‘awan hitam’ kembali menaungi rumah ini (KMA). Saya mencoba memandang KMA KRIDAYA sebagai sebuah ‘dunia’ baru yang siap tuk membangun ‘peradaban’ yang baru pula.

    Walhasil…PAB maru angkatan’07 usai, dan lagi-lagi!!! maru dibekali oleh-oleh yang sama dari tahun ke tahun….senior yang tersenyum lebar sementara dihadapannya puluhan maru dengan wajah-wajah ‘menghawatirkan’,tamparan, pukulan,….seolah PAB menjadi ajang pesta pora ‘srigala haus darah’. Tak hanya itu, hal yang paling mengecewakan adalah sulitnya melaksanakan sholat tepat waktu (udah mah harus sholat dengan pakaian kotor, ngaret pula sholat-nya…. Masya Allah…)padahal salah satu tema PAB waktu itu mengangkat tema religious.Meskipun sudah berusaha mengingatkan panitia lain, tapi…akh sudahlah…pada akhirnya saya cuma bisa menangis lahir-batin. Mudah-mudahan Allah mengampuni karna tidak mampu berbuat banyak saat itu…Astaghfirullah…

    Hm…mungkin itu cuma sedikit pengungkapan kekesalan yang sampai saat ini belum juga hilang. Saya harap kedepannya KMA KRIDAYA mampu belajar dari “umat-umat” himpunan terdahulu, sehingga tidak mengulang kesalahan yang sama, sistem kaderisasi yang sama (kalau boleh dibilang ‘kuno’). saya rasa hanya omong kosong saja jika kita enggan menghilangkan ‘premanisme’ dalam sistem kaderisasi kita dengan alasan mahasiswa baru nantinya ‘nglunjak’, and bla…bla…bla…
    Jika kita mengharapkan perlakuan ‘selayaknya’ dari para junior, tak usah pake kekerasan segala. itu mah pinter-pinter kita aja untuk ‘mengemas diri’, meng-Up grade otak dan keahlian hingga pada akhirnya, tanpa diminta para junior pun akan menghormati & menghargai para senior-nya, tul gak?!

    “Tidak ada sesuatu yg paling di sesali para penghuni syurga, kecuali atas satu saat yang pernah dilewati di dunia yang tidak mereka gunakan untuk mengingat ALLAH di didalamnya” (HR. Thabrani )

    For all…mari berjuang untuk perubahan. Ingatlah bahwa setiap langkah kita akan dipertanggungjawabkan pada akhirnya, tentunya kita tak mau menyesal di penghujung jalan kita bukan?!
    Mari saling mengingatkan, bahu membahu berikan ‘pendidikan’ terbaik bagi para junior hingga kita mampu mencetak generasi yang lebih baik,para ‘arsitek peradaban’, yang mampu mengeluarkan kita dari ‘zaman kegelapan’ (minadzhulumatin ila nuur)

    Maaf kalau ada perkataan yang keliru, yang gak berkenan di hati…
    Wassalam🙂

  8. Alhamdulillah, akhirnya ada respon dari adik angkatan, ini pisan yang ditunggu-tunggu. Semoga kita semua diberi kekuatan untuk meyuarakan kebenaran, menghabisi ketidakadilan, memperjuangkan sesuatu yang ideal, menjunjung langit tepat dimana kita berpijak, dan bekerja, mengisi aktifitas layaknya seorang mahasiswa yang benar-benar mahasiswa, dengan cara mahasiswa.

    Monggo, silahkan, mangga, blog ini terbuka buat seluruh mahasiswa JPTA, dan seluruh mahasiswa JPTA diundang untuk berdiskusi di sini. Jangan pernah ragu menyuarakan kejanggalan dihatimu, ketidaksesuaian dihadapanmu, sesuatu yang tampak mengganggumu, dalam proses perkuliahan dari A-z. Kita coba cari jalan keluar. Karena kata orang bijak, masa depanmu adalah “apa yang kau kerjakan hari ini”. Dan teori berkehidupan yang paling mendasar sesuai dengan pesan Nabi, “Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini“

  9. tolong jelaskan secara explisit apa maksud tokoh dan angkatan2 itu miphz…
    biar kita tahu peran2 mereka, dan berada di kubu mana mereka…
    hohohohohohohohohohohohohohoho…

  10. HAhahahaha….ternyata Miing dkk masih hidup….
    aku gak pernah ikut PAB dari dulu juga walaupun ditakut-takuti ga bakalan punya temen atau bahkan ga bakalan diakui sebagai anak Tekbang waktu itu (nah cara kaya gini biasanya yang dipake Senior untuk junior terpaksa ikutan PAB)….karna saya tau acara tu bakal jadi acara pembantaian (soalnya dari registrasi terus OSpek Fakultas dan LKDM aja saya dah dapet lebih dari 5o tamparan)…
    nyata nya teman saya tetap banyak dan panggilan anak Tekbang tetap saya miliki (taun berikutnya saya bisa jadi panitia PAB, dan hampir tiap tahun saya ikuti juga)….
    nah sebetulnya Panitialah yang bertanggung jawab atas penyiksaan yang terjadi jangan salahkan senior karena ga semua senior seperti itu, Panitia harus bisa menjaga supaya ga terjadi penyiksaan2 seperti itu lagi, tapi bagaimana caranya ya?
    coba berikan porsi yang cukup buat mereka sebagai pemateri mungkin, atau adain acara buat mereka reuni di PAB tuh kalo perlu bikin panitia penerimaan alumni di PAB, kumpulin mereka/isolasi aja sekalian wahahaha (soalnya yang saya tau mereka datang untuk reuni dan senang2)….,pokoknya jangan sampai tuh mereka ngejamah kegiatan PAB kalian kalo masalah dana minta aja ke mereka toh saya yakin mereka udah pada punya uang kok…
    gitu aja dah salam buat semua adik angkatan…

  11. [ http://dhimaskasep.wordpress.com/2009/02/09/meninggalnya-mahasiswa-itb-saat-ospek-tantangan-bagi-km-itb-ke-depan/#comment-5473 ]

    [ http://dwinanto.wordpress.com/2009/02/09/meninggalnya-mahasiswa-itb/ ]

    – Haruskah kasus seperti ini kembali terjadi akibat kekerasan yang dibayangi senioritas?

    – Bisakah kita menggunakan kekuatan intelektualitas jauh lebih besar dari pada kekuatan fisik untuk membentuk mentalitas?

    Selama tidak ada perubahan, maka tunggu saja kasus berikutnya, ini masalah budaya dan kebiasaan, jadi cara menyelesaikannya adalah dengan budaya dan kebiasaan baru, tidak cukup hanya dengan satu atau dua orang yang perlu masuk dan mendekam di balik teralis – maka masalah ini akan selesai – tapi harus ada gerakan bersama dan semua pihak terkait bekerja sama, dengan satu visi, perubahan budaya barbarian klasik menjadi budaya pembinaan mental yang baru.

    @Deri, tokoh2 itu hanya beberapa orang yang kita kenal dari beberapa angkatan senior, berkaitan dengan data-data intelijen kita, masih banyak kemungkinan analisis yang layak menjadi prioritas😉 Sejauh ini baru Mr.X itu yang dinilai sangat terkait dengan kasus ini… Kita lihat saja perkembangan kasusnya…

    @muxonated Iya nih, budaya bar-bar, pemikiran bar-bar, sikap bar-bar, perilaku bar-bar, dkk masih ada saja di sekitar kita…

  12. @Someone From Tekbang’98

    Wah, terimakasih ya sudah menanggapi, semoga para alumni yang lain juga bisa berperan nih untuk membimbing adik angkatannya menuju harapan ospek yang lebih baik. semua ini kita lakukan untuk kepentingan bersama, membangun sebuah institusi yang solid, agar dunia dosen, mahasiswa, serta alumni bisa terintegrasi dalam sebuah ikatan iklim TEKBANG yang indah, edukatif, ilmiah, dan tentu saja religius.😉

    Efeknya jika ini bisa terlaksana? Perbaikan dan peningkatan citra serta pengakuan pihak eksternal UPI atas JPTA/Tekbang akan semakin baik.

  13. setelah sekian lama, ternyata baru nemu blog yang isinya kayak gini. cool, man!
    Well, semuanya butuh proses yang panjang. Tahun-tahun selanjutnya selalu ada generasi penerus Miing dkk, tapi… jangan salah, bahwa penerus kaum orang2 yang berpikir juga akan tetap ada. Orang2 yang mau dan siap bekerja keras mengubah budaya nista tersebut.
    Pada akhirnya, hanya pada Allah lah kita memohon, sang Pemilik segala hati. Wallahu’alam. SEMANGAT!!! HANCURKAN BUDAYA MIING DKK!!!

  14. subhanallah ..akang teteh ruar biasa bisa..mengatakan isi hati yang sebenarnya tentang kebobrokan PAB…biar maru 2009 tau yang sebenarnya..orang yang mempunyai prinsiplah yang bisa melakukan perubah total…bukan semata-mata untuk kesenangan semata melainkan kemaslahatan bersama dan menghentikan tradisi yang kolot and kuno and tak beradab and tak manusiawi hehe…jika kita mau mencoba untuk mencuatkan semuanya dan berani berpikir tuk melakukan perubahan kita bisa pasti bisa. suatu saat nanti kita bisa merasakan perubahannya or memiliki komunitas yang beradab (Bisa)..memiliki komunitas yang selalu mengingatkan kebaikan,memperjuangkan HAM,Dan terasa manfaatnya hehe…
    KANG..Teh Mari BerSatu…LANJUTKAN!!
    BLOgnya DahSYat….

  15. Kang, saya bntar lg ikt PAB. Tgl 10-12 desember, d ciwidey. Setlh bc bl0g akang saya jd makin smangat, akan saya lawan para alumni2 tu dg pasal2 yg da d bl0g akang. D0’ain saya kang..
    Makasi bnyk..

  16. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW utusan Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam. Allah berfirman di dalam Al-Qur’an “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sehingga mereka mau merubah diri mereka sendiri.”

    jadi mulailah merubah dari dalam diri kita pribadi dan kita tularkan pada yang lain…
    sebenarnya kondisi seperti ini bisa kita rubah jika ada suatu komunikasi yang baik antara Panitia dan Alumni
    apakah pernah panitia mengundang para alumni untuk ikut serta dalam proses PAB ini?? baik hanya sekedar diskusi, sararan ataupun bantuan secara riil (dana maksad nyah)
    saya yakin bahwa para alumni ini pun adalah korban dari proses yang berkepanjangan ini (Ospek,PAB,LDKM, apapun nama nyah) dan tak ada yang berani untuk merubahnya. siapa tahu para alumni ini bisa lebih mengerti dengan kondisi yang akan dirasakan oleh panitia dan Maru. * semestinya mereka mengerti (harus mengerti), saya yakin setelah lulus dan bekerja (bagi yg sdh bekerja) mereka lebih bisa membagi pengalaman yang mereka lalui .

    If you never try you will never know *coldplay _fix you_X&Y

    jadi mari kita mulai dari sekarang untuk lebih bisa berkomunikasi, sok atuh para pengurus Himpunan coba adakan acara gathering ataw reuni atw apa sajah yang bisa melibatkan semua unsur (mahasiswa, dosen, alumni) kita buka forum diskusi….

    diantos ulemanna….

    Tempoer ’98

  17. Posting nya dah lama ya, tapi saya baru baca…
    Koment saya :
    1. Ralat : Saya (Hendri) angkatan 92, Ade Kamsidi ’93, Momod?? (gak tahu tuh..), Ehan, Deni Boy, Broki & Nuryanto angk. ’96 dan Fauji angk. 95.

    2. Saluts.. untuk gaya dan cara menuliskan posting ini KEREN banget..Tersusun, mudah dimengerti dan asik banget penggunaan katanya. Honestly, Saya Enjoy baca-nya..

    3. Sayang, gak jelas siapa dirimu sebenarnya? Angkatan berapa? Soalnya, nama saya disebut (meskipun di bagian koment). Bukan pengen nyulik yg posting, tp saya coba inget-inget saya masih ikutan gak pas MIPHZ PAB.. kalo gak salah terakhir saya dateng di PAB angkatan berapa ya.. angk. 00 kalo gak salah lupa lagi.. yg jelas lokasinya di Cicalengka.. waktu itu yg jadi SC adalah Ehan… Dan saya banyak komplain dg tema kegiatan yg gak memperhitungkan durasi waktu pelaksanaan. Yg menurut saya dapat berakibat pada tidak tersampaikannya tujuan utama dari PAB itu sendiri. Yg pastinya akan berakibat seperti ini. MaRu hanya merasa sebagai objek penderita tanpa tahu apa sih maknanya?

    Saya sepakat dengan tulisan Miphz, semuanya saya sepakat.
    Yang ada dalam benak saya adalah bahwa ini merupakan akibat dari salahnya ‘Mereka” yg seneng ‘tampil’ tapi gak ngukur kemampuan diri utk merefleksikan apa yg telah ‘Mereka’ ‘tampilkan’ kepada MaRu.
    ‘Finishing touch’ yang bener bisa menjadi sebuah obat penawar ‘kebingungan’ MaRu mendapatkan semua perlakuan yang mereka terima selama PAB.

    Saya tidak bermaksud melakukan ‘pembenaran’ dg semua tindak kekerasan di PAB. Saya sangat setuju bahwa kekerasan sudah tidak pantas lagi diterapkan di ormawa saat ini. Dan itu SALAH! Namun ada hal yang bisa kita lakukan utk menebus kesalahan besar tsb. Misalnya saja selama kita msh di lingkungan kampus, kita musti terus melakukan pendekatan ke angkatan termuda utk berbicara tentang banyak hal. Menurut saya itulah kaderisasi yang sebenarnya. Menggali potensi tiap junior yg telah melalui tahap ‘Perkenalan’, utk melakukan hal-hal yg bisa membuat mereka merasa dibimbing dg benar.

    Jadi, PAB bukan proses kaderisasi.. PAB hanyalah proses pengenalan atau orientasi Maru thd lingkungan di Jurusannya. Harus ada kesan dlm perkenalan tsb. Proses kaderisasi yg sebenarnya dilakukan terus menerus, sesuai dg minat dan bakat dari para junior…

    Saya sepakat utk melakukan PErubahan Besar dlm PAB.. dan saya siap utk diajak ngobrol tentang perencanaan PAB yg sama sekali Menjauhkan KEKERASAN dlm pelaksanaannya..
    Sok kapan??

  18. sae…sae..sae…great posting..Aduh ayi dina komen aya disebat nami2 anu diantawisna nyaeta sobat sareng lanceuk ku simkuring sanajan duka teuing anu dimaksad tokoh upi teh naon..? jiganamah sami sareng tokoh kartun, tokoh kuweh atanapi tokoh beusi meureunnyah…? perkawis postingan anjeun simkuring salaku alumnus (alumni teu lulus) ngarasa sedih yen kanyaah lanceuk ka adi teu ka hontal pamaksadannana malah nimbulkeun dendam anu sakitu ageungna…Yiiiii..upami sim kuring sareng reng rengan alumni ( anu lalulus ) palay ameng ningali adi-adina ka acara anu disebat kapungkurmah PAB ( Duka Teuing ayeuna nanahaon ? ) atanapi saukur ngalepas kasono ulin kakampus nu ayeunamah tos katingal asing nya bangunana nya jelemana nya bauna (barau parfum jeung abg GAOL tea..hehehe)… kumargi kadung maca posting ti anjeun jadi urung tur ngarengkog ( sieun disebat Miing DKK atanapi Tokoh UPI tea ) soalna dina posting anjeun teu milah milih..nu katampi ku simkuring nu namina alumni sadayana di sami ratakeun jeung ENG ING ENG… ayiii ti akang mah ngan hiji idealis teh ayeunamah SUSU BUDAK… sok sing soson-soson nerapkeun elmu pangarti kana kahirupan anjeun buktikeun anjeun boga cara nu leuwih hade batan pupuhu2 baheula… najan simkuring sedih..yen nyebutkeun ngaran jeung angkatan lanceuk wae anjeun saralah… teu jadi masalah etamah nu jadi masalah ayeunamah ‘ANGGEUR SUSU BUDAK’ lamun keur ngora wae geus loba ngeluh komo kahareup yiii…teuass…tos ah cekap di simkuring sakitu najan teu nyambung…nu penting SUSU BUDAK ayeunamah HIDUP SUSU BUDAK…!!!!
    ka dulur 98 di luhur anjeun sahanya ? da uing mah asa teu wawuh jeung angkatan salapan dalapan nu ngarana someone….aya somesoel….piiisss coy….!!

  19. brother miphz nulis angkatanya aja udah salah tuh………yang saya tau sebagian ni list nya :
    1. angkatan 89 wawan symsu rizal dkk
    2. angkatan 90 omod,okil,duday,odong dkk
    3. angkatan 91 soni, budi iyon dkk
    4. angkatan 92 hendri petet, abung hatta,ade wahid dkk
    5. angkatan 93 miing,sukayat dkk
    6. angkatan 94 budi bob,bejo,mosi, mita dkk
    7.angkatan 95 fauji, deni,duyeh dosen dkk
    8. angkatan 96 deni boy, ehan rohandi, opot, nuryanto dkk
    9. angkatan 97 holid, mpah, odang dkk
    10. angkatan 98 iho,pengpeng,injun dkk
    kadieunamah teu apal……….
    salah satu tujuan PAB adalah meningkatkan silaturakhmi tp memang kemasanya dan sistem hrus tetep di up grade………..karena memamng terutama mengandung banyak kelemahan.dan harus disadari memang bahwa ikatan alumni kita sangat sangat lemah sehingga alumni kita tercerai berai begitu saja………mangga selanjutnya adalah tugas dari rekan2 u memperbaikinya…..btw saya sendiri adalah angkatan 94 dan merasakan plus minusnya PAB….tolong kalo melihat persoalan dari berbagai sudut dikaji dan yang paling penting janganlah memaki orang tapi tataplah ke depan apa yang harus diperbaiki. ingat ketika menunjuk seseorang…sebagian besar jari kita terlipat menunjuk ke diri kita sendiri…terimakasih

  20. PAB…….?
    kenapa senior mau datang jauh2 mengikuti PAB?

    cik saha nu bisa ngajawab pertanyaan sayah eta?………… khusus buat anak2 yang pernah merasa menjadi korban…..

    mun geus aya nu ngajawab…… saya rek comment mengenai PAB…..

  21. tapiiiiiiiiiii…saya tetep ngga setuju kalo PAB dihilangkan.
    bagaimana dgn kaderisasi anggota muda?
    yg penting kan bgmn mengubah pola pikir tentang PAB sebagai ‘pembantaian maru’ atau ‘aksi balas dendam’ dll…

    kekerasan fisik yg terjadi dlm PAB di tahun-tahun lalu, itu hanya ulah OKNUM yg ga bertanggung jawab.
    *masih ingat kan, ada maru yg hidungnya berdarah setelah ditempeleng oleh ‘senior’. setelah diusut, sang pelaku penempelengan itu rupanya HANYALAH seorang kawan dari senior diluar almamater UPI yg kebetulan ikut2an dalam acara, tanpa sebelumnya mengikuti rapat2 koordinasi dan technical meeting. nah loh?

    satu hal lagi, sudah jadi aturan baku bahwa kekerasan fisik TIDAK DIPERKENANKAN dalam PAB. Kalaupun ada bentuk punnishment, itu hanya dapat dilakukan oleh panitia yg berwenang dan telah memperoleh diklat/pelatihan sebelumnya, yaitu hanya para anggota SIE ACARA dan SIE TARTIB. dan sekali lagi saya tekankan disini, itupun bukan berbentuk kekerasan fisik yg bisa mengakibatkan bahaya/kecelakaan

    hal-hal ini yg harusnya jadi pelajaran. disinilah peran panitia penyelenggara untuk mempersiapkan dan melaksanakan sebuah acara yg baik, tanpa bisa dimasuki/diboikot oleh pihak2 yg tidak bertanggung jawab, sehingga tujuan utama kaderisasi bisa tercapai, serta bisa terhindar dari hal-hal yg tidak diinginkan.

    salam,
    lutvi

  22. buat akang2 yg komentar diatas yg tdk bisa saya sebutkan satu per satu yg mungkin terkenal pd masanya tp maaf saya tdk kenal..dr komentarnya ko keliatan barbarnya yah??ga mau disebut barbar tp ko barbar (ups maaf..)kebakaran jenggot gara2 ada tulisan ini??oh..ga suka yah temennya disebut namanya,salutlah solidernya tinggi atau takut tdk punya kesempatan lagi utk menyalurkan hobi “mengkaderisasi” maru dg cara barbar nya??oiah saya kurang suka cara komentar akang2 tercinta (bebas berpendapat kan yah??)sudah bawaan lahir cara bicaranya seperti itu yah kang??sedikit komentar dulu maaf ga bisa komentar banyak2 skrg,lain waktu dilanjut..

  23. Kalakah mere puisi… Tp bae lah…
    Nu jadi catatan saya mah antum masih berstatus mahasiswa, artinya masih punya kesempatan besar utk berbuat seperti yang tertulis dalam ‘celotehan’ anda, gan…

    Gak perlu sembunyi di balik skripsi! Karena saya bikin skripsi sambil melakukan demonstrasi besar2an utk meruntuhkan Rezim Soeharto, coy! Plus TA! Lain cuman Skripsi! Biar agan MIPHZ tau aja, saya TA dan skripsi di masa perjuangan Reformasi lagi bergolak!
    Artinya, skripsi bukan berarti kegiatan yg menghaibskan seluruh waktu anda, Gan…

    Tolong camkan, anda tengah berdiskusi dg para Alumni, artinya kami telah melakukan apa yg tengah anda lakukan saat ini (skripsi maksud na mah.. bisi teu ngarti mah..)!

    Sok geura, KAPAN Mau Beraksi? Karena kami sudah siap tempur!

  24. Jika anda menulis dan tidak menyinggung kakak-kakak senior saya, mungkin saya akan diam saja. Atau paling memberikan masukan yang lebih baik pada substansi yang sedang anda bahas/tulis. Sayangnya anda menyinggung kakak-kakak senior saya, itu artinya anda secara tidak langsung menyinggung saya sebagai adik dan anak didik mereka. Sebelum berhadapan beradu argumentasi dengan kakak-kakak senior yang lebih daripada saya, anda harus berhadapan dulu dengan adik-adik mereka. Kang Miing, Mas Hendri, Kang Deni Boy, Kang Ehan, Kang Entod, Kang Itan, Kang Bob, Kang Iho, Kang Aji, Kang Deni Gembol, mereka punya tempat dihati saya, ketika salahsatu anda singgung dan anda tidak bisa mempertanggungjawabkannya, anda harus bersiap atas semua konsekuensi atas argumentasi yang anda publish dimuka umum. Saya Iden Wildensyah, tak perlu menjelaskan silahkan pake mesin pencari Google untuk mengetahui saya. Ketik iden wildensyah, anda harus siap bertanggungjawab. Kalau mau beradu argumentasi dalam kritik, baiknya anda belajar banyak. Sosok seperti anda semakin meneguhkan hipotesis saya bahwa generasi sekarang penakut, instan, epes meer, tak bertanggungjawab dan pundungan dlsb.

  25. saya mengikuti OSPEK dan PAB sampai geger otak ringan…….
    hal tersbut sampai memancing emosi, saya cari orang tersebut dan saya ketemu sama pelakunya, saya sempat nanya apa maksudnya? “dia minta maaf sama saya”….. dan dia bilang dia terbawa emosi suasana OSPEK pada waktu itu”…..seiriingnya waktu saya bisa memaklumi karena saya sendiri merasakan menjadi PANITIA OSPEK dan PAB pada waktu selanjutnya….. “Tapi saya tidak pernah melakukan balas dendam kepada adik-adik saya”, malah saya pada Kepanitiaan OSPEK 98 dinobatkan sebagai akang “paling baik dan akang paling favorit” oleh MARU 98″…… sampai ada MARU “perempuan” menampar saya pada saat acara terakhir OSPEK tersebut. Tentu saja saya kaget kenapa MARU tersebut nampar saya. Besoknya dia (MARU perempuan tersebut) mendekati saya terus, hari demi hari seperti itu, sampai setelah 2 minggu pendekatan dia pada saya, dia berkata “kang saya suka sama akang, sayang sama akang, pengen jadi pacar akang”….. waduh saya kaget kan ko sampe sebegitunya anak ini….. Cuman sayang pada waktu itu saya sudah punya pacar…. padahal dia itu cantik, montok, putih, anak orang kaya…… wah pokona mah edun we lah…… akhirnya saya tolak permintaan dia.
    sampe dia marah, mogok kuliah, tidak mau bersosialisasi sama yang lain, ga mau nanya sama saya meski saya sapa sampe hari ini saya belum pernah lagi disapa dia….
    hehehhe…..hampura curhat……… tapi itu salah satu cerita roman saat-saat OSPEK dan PAB……. saya yakin banyak yang merasakan hal romantis diseputar OSPEK………. banyak yang mendapatkan jodoh karena acara-acara tersebut artinya disamping banyak yang ga baiknya masih ada sisi lain yang bisa mendapatkan kebahagiaan…… artinya jika kita tidak setuju akan hal yang kita tidak sukai ada 2 yang harus anda lakukan :
    1. anda melakukan perubahan yang konkrit, berjuang dengan benar, kalau anda angota himpunan anda mempunyai hak penuh untuk meminta diadakannya sidang Istimewa “TOLONG LIHAT AD dan ART himpunan”, lakukan sesuai prosedur yang ada, jangan hanya mengecam, menyebarkan isu-isu, menghasut orang-orang “anggota sah”. minta pada saat sidang tersebut untuk merubah AD dan ART himpunan tentang PAB, karena PAB tersebut tercantum dalam AD dan ART himpunan.
    2. KELUAR dari keanggotaan, “ente moal cape hate”

    kami alumni bukan mau menyerang anda…….
    kami cuman menyayangkan statement anda yang terlalu belebihan dan seolah menyebarkan isu-isu yang mungkin kebenarannya memang ada tapi sedikitnya menghasut teman-teman yang lain….
    Jika anda dan teman-teman anda menginginkan perubahan tolong lakukan proses perubahan tersebut dengan baik dan kongkrit “jangan OMDO”, Saya BOB mendukung anti kekerasan…………

  26. mas miftah, saya amat setuju dengan mas hendri…jangan bilang lagi sibuk skripsi. kami semua juga pernah jadi mahasiswa seperti mas miftah…pernah mengalami masa-masa seperti yg saat ini mas miftah sedang kerjakan. skripsi TIDAK menyita seluruh waktu kita kok…
    percaya deh, perjuangan kuliah kakak-kakak kita ketika itu jauh lebih berat dibandingkan kita😉

    ayo bikin perubahan. apalagi dikau masih ‘hilir mudik’ di kampus. tuh kakak-kakak kita udah bersedia meluangkan waktu di tengah kesibukan mereka sekarang. mohon apresiasikan semua tanggapan mereka di atas dengan sebuah langkah nyata!

    PS : jangan nulis puisi lagi yah…ga nyambung😛

    salam,
    lutvi

  27. Sebagai perkenalan,saya Emma Handayani angktn 98,profesi guru SD. Saya sudah cukup membaca semua komentar2 mengenai PAB,dan cukup membuat saya tersenyum juga terharu. Untuk adikku miphz,saya tahu siapa anda dari adik2 angktn yg bekerja bersama suami saya ( Tubagus Adhi 97 ). Sama halnya dengan kang hendri,saya tidak mengerti arah dan tujuan anda menggelindingkan permasalahan PAB ini,tapi semoga dengan banyaknya yang berbicara,semakin membuka wawasan anda mengenai PAB. Tidak dapat dipungkiri oleh saya pribadi banyaknya manfaat PAB bagi saya,yang membuat bibir saya pecah-pecah,ditempeleng,direndam. Justru dari situ saya bisa banyak mengenal kakak2 alumni juga kakak2 angkatan,yang bisa saya pinjam bukunya,minta bantuan tugas kuliah,dan masih banyak lagi manfaatnya.
    @saya ingat banget pertama kali datang ke kampus,disuruh nyanyi ma kang hendri
    @kang boy bagi saya justru orang yg baik baik bgt
    @kang bob,weits inilah kakak favorit kami
    @pak haji,alhamdulillah tos sadar ayeuna mah hehe….
    @saya setuju dengan pendapat lutvi
    @gembol,jd seuri inget lagu eta
    Miphz…mari kita lihat sebab PAB seperti dalam pandangan anda,tolong jangan menjudge semau anda yg mungkin belum merasakan manfaatnya.
    Pak haji ntodd punya perusahaan,bnyak adik2 angktnnyanya bekerja bersamanya,ketika saya menjadi panitia PAB saya mendapat pembelajaran darinya,ntah darimana asalnya istilah BARBAR yg anda kemukakan,tp saat saya mendpt diklat dr pak haji tidak ada tuh perbuatan untuk menampar,menonjok,bahkan menginjak.
    KRIDAYA menjadi bayi kembali dan tidak dpt berbuat apa2,sy fikir mgkn karena yg sekarang kurang bersosialisasi dengan kakak2nya yg pernah membuat KRIDAYA menjadi amat baik,jgn lupakan Yudhi Gunardi 98,Tubagus Adhi 97,Asep Permana 97,Nuryanto 96,Fauzi 95,Evi 96,dan masih banyak lagi,cobalah berbicara dengan mereka.
    Kembali mengenai PAB,mari kita bersama-sama saling berbicara mengenai perubahan yg ingin dilakukan,jika anda ingat untuk mengundang kami para alumni,Insya Allah kami akan hadir.
    Betul kang bob,tahun 2008 bulan desember saya dan suami ikut PAB,padahal saat itu sy baru 2 bulan melahirkan,hanya ingin melihat bagaimana adik2 kami sekarang,silaturahmi.
    Bagi akang2,teteh2,teman2,jg adik2 yg tertulis di atas, kita ambil manfaatnya,ternyata kalian dikenal oleh miphz dan teman2nya,artinya eksis banget deh………..
    Jangan dilupakan dengan PAB,kita menjalin silaturahmi dengan kakak2 juga adik2.
    Miphz adikku,kamu akan merasakan ketika anda terjun ke dunia kerja.

    Tempoer ’98

  28. Ospek Memaksa Saya Berpikir Positif!

    Catatan ini adalah pengalaman mengikuti ospek tahun 1999, ketika saya pertamakali memasuki dunia mahasiswa. Sebelumnya saya tidak pernah berpikir bahwa memasuki dunia mahasiswa harus melewati masa ospek yang kejam tetapi memberikan banyak nilai berarti bagi saya.
    Dalam bayangan saya, memasuki dunia mahasiswa sama saja seperti masuk SMU. Ada penataran P4 lalu kuliah seperti biasa. Bedanya hanya saya bebas memakai baju apapun, tidak dibatasi seragam yang penting sopan. Ospek membuat saya berpikir filosofis, bukan karena saya. Tetapi karena senior yang menjejali pemikiran seperti itu. Kata mereka, ”Pikirkan bahwa proses hari ini akan berguna selama mengarungi masa kuliah bahkan sampai berkecimpung dunia mahasiswa. Kalau keras hari ini, jangan dianggap sebagai kekerasan yang sesungguhnya, karena dunia nyata lebih keras”. Artinya hanya orang yang bisa bertahan yang akan unggul. Saya mencamkan kata-kata senior yang positif ini. Selebihnya saya merasakan bahwa kesalahan junior yang kecil bisa menjadi petaka yang besar.
    Menjadi junior memang tidak mengenakan, segalanya diatur. Saya hanya bisa mengikuti aturan itu, saya berontak hanya mengatakan pada diri sendiri bahwa berusaha kuat dengan idealisme sendiri adalah kemenangan. Jika senior-senior yang pendek cara berpikirnya hanya bisa keroyokan maka mencari-cari kesalahan junior, lalu menghukum. Saya berani mengatakan bahwa senior yang seperti itu low education.
    Saya bertahan di acara itu, saya bertahan untuk menguji seberapa kuat saya melewati tekanan. Saya harus tahan, saya jangan stress, saya bisa melewatinya dengan baik. Yang saya percayai adalah proses hari ini hanya bagian terkecil saja dari proses panjang yang harus saya lewati kelak ketika saya menjadi mahasiswa. Mahasiswa harus berani, mahasiswa harus punya tekad kuat, dan mahasiswa harus tahan terhadap tekanan, demikian saya mengatakan pada diri saya sendiri.
    Saya melihat banyak juga senior yang positif mengarahkan pada cara berpikir yang benar, saya tahu mereka yang tulus berbagi ilmu dan pengalaman. Mereka pada akhirnya benar-benar meng-encourage saya dikemudian hari. Dari merekalah saya mendapatkan ilmu yang sama pentingnya yang tidak didapatkan dibangku kuliah.
    Saya melewati ospek dengan keyakinan bahwa suatu saat saya bisa membuktikan bahwa kata-kata positif yang keluar dari senior adalah benar, dan kata-kata negatif hanya godaan agar tetap kukuh pada pendirian juga pada idealisme.
    Saya sekarang tidak tahu bahkan cenderung tidak mau tahu tentang segala bentuk apapun yang berhubungan dengan Ospek. Zaman sudah berubah, anak mahasiswa sekarang berbeda dengan zaman ketika saya masuk. Zaman sekarang adalah zamannya facebook, jadi ospek mahasiswa sekarang lewat facebook saja.

    Iden Wildensyah

  29. Ospek yang tidak relevan!
    oleh Iden Wildensyah pada 02 September 2009 jam 13:13

    Saya melewati jalan suci, lalu jalan dipati ukur. Yah bulan ini Agustus, sebentar lagi september. Bulan ketika mahasiwa baru menginjakan kakinya di dunia kampus sebagai mahasiswa. Permulaan menjadi mahasiswa yang saya ingat adalah Ospek (orientasi studi dan pengenalan kampus).
    Percaya atau tidak, Ospek sekarang kalau tetap dilaksanakan dengan format lama, maka Ospek tersebut tidak relevan lagi. Format lama yang dimaksud misalnya memakai topi karton, papan nama, pita, kaos kaki warna-warni, tas karun terigu, kursi goyang dan lain-lain.
    Tidak relevan dengan budaya yang semakin konsumtif seperti sekarang ini. Bahan-bahan Ospek seperti bisa dengan mudahnya ditemui di emper-emper kampus. Saya temui ketika melewati kawasan dipati ukur, jalan setiabudi, jatinangor dan jalan suci. Penjual-penjual musiman seperti sudah mengetahui jadwal Ospek. Ketika bubar Ospek, para penjual ini rame menawarkan barang dagangannya. Sungguh membuat ironis senior-senior yang berpikir idealis.
    Idealnya ospek membuat peserta berpikir memecahkan teka teki bahan yang harus dibawa, tetapi coba saja lihat kenyataannya, tinggal kasihkan ke pedagang, semua materi sudah tersedia. Sediakan uang, maka tak perlu berpikir, dalam waktu yang cepat, tugas-tugas bisa langsung didapatkan.
    Sangat berbeda dengan kondisi ketika saya mengikuti Ospek, dimana setiap tugas harus benar-benar dicari, ditelaah dan dipecahkan bersama-sama dengan teman kelompok. Seingat saya, tugas tersebut bukan pada hasil tetapi pada prosesnya, karena kalaupun beda selama masih membawa tugas, kita tidak akan bermasalah.
    Bandingkan dengan ketika baru saja keluar kampus, semua sudah tersedia. Tidak usah berpikir banyak, tidak usah berpikir layaknya detektif memecahkan masalah, asal ada uang semua terjawab.
    Saya katakan sekali lagi, Ospek sekarang sudah tidak relevan lagi dengan zaman yang konsumtif ini. Kalau mau tetap mengadakan cari ide-ide lain, yang nilai-nilainya universal tetapi tidak ketinggalan zaman dalam pelaksanaannya. Nilai-nilai kebaikannya harus tetap ada, nilai-nilai kebersamaan, kekompakan dan kerja keras harus tetap dipertahankan agar mahasiswa mengerti bahwa satu sama lain harus memiliki rasa persatuan, rasa kebersamaan, sikap pantang menyerah dan kerja keras.

  30. heiiii…itu siapa yg nulis :

    lutvi says:
    13 January 2011 at 3:59 pm
    semakin rame saja ich

    itu bukan sayaaaa…sungguhhh…hik…dibajak nih nama sayah😦

  31. kang miftah….
    setelah menyimak posting dan coment2 yang ada…

    saya (dimas angkatan 2006) mengundang akang (miftah angkatan 2004) :
    besok (JUMAT, 14 JANUARI 2011) jam 4 sore di kampus FPTK lantai 2
    hayu kita ngobrol2….

    walaupun ini posting 2 tahun (lebih) yang lalu, tapi perlu follow up
    salah satu nya dengan ngobrol2 besok

    mudah2n kata ‘KELUARGA’ yang merupakan kepanjangan dari huruf pertama KMA-KRIDAYA bisa menjembatani maksud dan tujuan dari posting dan comment2 di halaman ini…

    nuhuns.

Comments are closed.