Meluruskan Paradigma tentang Ospek

Pikiran Rakyat – 20 Februari 2009

Oleh: Bobby Rahman

Tulisan ini dibuat untuk menanggapi opini yang ditulis Bung Sukron Abdilah berjudul “Ospek dan Relasi Tuan-Budak” (“PR”, 17/2). Bung Sukron menganalogikan kampus ITB sebagai kampus pembantaian (the death university). Saya menggunakan sapaan Bung untuk mengingatkan sapaan para pejuang kepada kerabat sesama pejuang. Seperti Soekarno disapa Bung Karno.

Jika menyimak apa yang disampaikan Bung Sukron dalam opininya, ia mengambil sudut pandang kampus pembantaian dengan menyamakan analoginya dengan buku Man Search For Meaning karangan Victor L. Frankle. Buku tersebut merupakan sebuah fakta sejarah dari kamp konsentrasi Nazi bernama Auschwitz. Menurut hemat saya, penyamaan atau penganalogian itu merupakan hal yang keliru. Kesenjangan fakta antara kondisi yang terjadi di ITB atau kampus-kampus lain dan buku tersebut amat jauh. Hal demikian hanya akan menimbulkan kekhawatiran yang berlebihan dari seluruh pihak yang terkait dengan institusi pendidikan baik civitas academica, orang tua, dan masyarakat karena menerima informasi yang tidak lengkap dan tepat. Jika institusi pendidikan saja tidak dipercaya, mana lagi yang bisa kita percaya untuk mengembangkan daya saing dan karakter manusia Indonesia?

[ Klarifikasi ]

Kita mengenal ospek sebagai orientasi studi pengenalan kampus. Di ITB, ospek sudah mengalami transformasi nama dan esensi menjadi OS atau orientasi studi dan sekarang menjadi kaderisasi. Nama dan konotasi kaderisasi lebih ringan diterima oleh masyarakat dan sebagai bentuk komitmen mahasiswa untuk mengubah citra OS di masa lalu. Ospek ITB dapat dibagi menjadi dua, ospek kampus dan OS jurusan atau program studi.

Kenyataan saat ini, transformasi yang dilakukan kawan-kawan benar-benar mengedepankan komitmen untuk menjadi mahasiswa seutuhnya yang memiliki kesiapan mental dan intelektual. Apabila terjadi sesuatu seperti saat ini ada kemungkinan akibat human error atau akibat ulah oknum tertentu. Tidak dapat dimungkiri ada oknum yang memanfaatkan ospek sebagai ajang senang-senang semata tanpa tujuan, itu yang dulu dikenal dengan perpeloncoan. Akan tetapi, saat ini perpeloncoan telah dihapuskan dengan mengembalikan kepada tujuan kegiatan ospek itu sendiri. Maka, kami menyebutnya sebagai tragedi.

Kejomplangan antara fakta yang terjadi di ITB dan kutipan dari buku Man Search for Meaning bisa dilihat dari korban yang jatuh. Korban yang jatuh karena kasus ospek merupakan sebuah hal yang dapat dikatakan tidak disengaja. Akan tetapi, apa yang terjadi di dalam buku tersebut merupakan sebuah hal yang sudah terstruktur dengan baik dengan kata lain memang sengaja dihilangkan nyawanya. Jadi, sungguh hal yang berlebihan jika menyamakan kedua hal tersebut. Apalagi pada kesimpulan akhirnya dengan mengatakan bahwa kampus ITB merupakan kampus pembantaian (the death university). Sungguh jauh dari kenyataan. Membayangkan ungkapan tersebut membuat orang menjadi merinding. Lembaga atau institusi pendidikan disamakan dengan lembaga pembantaian.

Kegiatan ospek di Kampus ITB bukan menempatkan harkat manusia pada posisi yang berbeda sehingga dapat ditarik kesimpulan “Tuan dan Budak”. Ospek yang keras dan long march yang dilakukan merupakan sebuah metode untuk mencapai tujuan tertentu. Tujuan yang ingin dicapai oleh organisasi kemahasiswaan berbeda dan cenderung sifatnya normatif dan memiliki karakteristik insan akademis. Hal ini berbeda sekali dengan apa yang telah diungkapkan oleh Bung Sukron. Poin yang perlu digarisbawahi di sini adalah rencana ospek tidak dapat lepas dari sebuah kekeliruan dan risiko sama halnya dengan setiap aktivitas manusia lainnya. Kekeliruan dapat terjadi dengan disengaja maupun tidak disengaja. Akan tetapi, dalam konteks ospek ini kekeliruan dilakukan oleh oknum baik disengaja maupun tidak.

Kita coba mengetengahkan persoalan ini dilihat dari sudut pandang perubahan. Saat ini, kalau boleh dikatakan, metode ospek di ITB sudah sangat jauh berubah dibandingkan ketika tahun 2004. Tahun 2004 dapat dikatakan sebagai mata rantai terakhir ospek dengan metode lama. Metode lama adalah sebuah bentuk perlawanan terhadap sikap represif dan otoriter pemerintah terhadap rakyat sehingga masyarakat dan mahasiswa sebagai insan akademis membutuhkan perlawanan baik secara intelektual maupun fisik. Dalam hal ini, mahasiswa menempatkan diri sebagai masyarakat, yaitu masyarakat intelektual. Akan tetapi, di dalam iklim demokrasi yang terpantau seperti saat ini, metode ospek berubah. Karena pada dasarnya metode ospek mengikuti tujuan yang ingin dicapai. Tujuan yang akan dicapai dikembalikan kepada organisasi yang memiliki visi dan kebutuhan kepada peran mahasiswa, salah satunya adalah Tri Darma Perguruan Tinggi. Tujuan normatif organisasi kemahasiswaan saat ini lebih kepada peningkatan daya saing melalui kompetensi dan pengabdian masyarakat.

Kita bisa saja berdebat dalam hal bahwa metode tersebut tidak manusiawi. Tetapi dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah metode mengikuti tujuan. Dalam kondisi ekstrem, seperti peperangan fisik, metode tersebut dapat digunakan dan oleh institusi yang tepat. Bukan berarti organisasi kemahasiswaan tidak berhak, tetapi apakah hal tersebut relevan dengan kondisi saat ini dan kebutuhannya?

[ Penutup]

Tulisan ini bukan ingin membenarkan kesalahan yang terjadi. Bukan pula melepaskan tanggung jawab pihak yang seharusnya bertanggung jawab. Tulisan ini untuk meluruskan dan mencegah keresahan masyarakat akibat informasi yang tidak utuh dan tepat.

Semoga tragedi yang menimpa saudara kami, Dwiyanto Wisnugroho mahasiswa Geodesi ITB, merupakan tragedi terakhir sekaligus menutup catatan hitam dari kegiatan mahasiswa. Ke depannya, kita harus percaya bahwa mahasiswa adalah insan akademis, adalah insan intelektual yang mampu menempatkan diri sebagai orang yang memiliki tanggung jawab memanfaatkan keilmuannya untuk hal yang produktif menghasilkan karya besar untuk bangsa ini.

Harapan besar juga disampaikan kepada seluruh masyarakat dan civitas academica ITB bahwa permasalahan ini harus ditempatkan pada posisi yang proporsional tidak memukul rata kepada setiap kegiatan mahasiswa. Yang perlu diberikan kepada mahasiswa adalah kepercayaan. Dari kepercayaan tersebut, akan timbul kedewasaan untuk bersikap dan mempertanggungjawabkan sikapnya tersebut. Maju terus mahasiswa Indonesia. Teringat kata-kata Soekarno, “Berikan aku sepuluh orang pemuda maka aku akan mengubah dunia.” Sedemikian besarnya potensi mahasiswa atau seorang pemuda. ***

Penulis, mantan Sekjen OS-KM ITB 2006, Menteri Dinamisasi Kampus Kabinet KM ITB 2008/2009.

Speak the truth, even if it leads you to your death!😉

4 thoughts on “Meluruskan Paradigma tentang Ospek”

Comments are closed.