OSPEK DAN RELASI “TUAN-BUDAK”

Oleh: Sukran Abdilah

Meninggalnya Dwiyanto Wisnugroho, seorang mahasiswa Geodesi ITB saat mengikuti orientasi studi pengenalan kampus (ospek) menyisakan duka mendung bagi dunia pendidikan. Kegiatan yang digelar Ikatan Mahasiswa Geodesi (IMG) ini sebetulnya termasuk ilegal karena sejak 1995 dilarang Kampus ITB. Mahasiswa baru ketika mengikuti kegiatan ospek (dipaksa) berjalan dari Dago menuju Desa Pagerwangi, Lembang. Nah, di tengah simpang siur penyebab meninggalnya korban, saya teringat buku Man Search for Meaning, yang ditulis Victor L Frankle untuk mengisahkan pengalaman pahit selama mendekam di kamp konsentrasi Auschwitz.

Kamp konsentrasi Auschwitz di Polandia dibangun Nazi pimpinan Adolf Hitler untuk mengonsentrasikan massa agar dapat dijadikan buruh kasar. Semenjak 1940-1945, Nazi menangkap setiap orang yang mengancam eksistensi Nazi dari seluruh penjuru Eropa untuk dibawa ke kamp kematian ini. Waktu itu, kamp konsentrasi Auschwitz mendapat julukan the death factory (pabrik pembantaian) karena dari bangunan ini terjadi proses pembantaian yang dilakukan secara efisien dan efektif layaknya kegiatan produksi di pabrik.

[ Kekerasan ]

Relasi antarmanusia mestinya berdasarkan atas pandangan membiarkan yang lain menjadi “si liyan” yang tidak bisa dikenali, didefinisikan, atau dimengerti sepenuhnya. Sebab, pemahaman memaksa atas yang lain mengakibatkan lahirnya penindasan. Inilah Emmanuel Levinas, hubungan manusia yang simetris, di mana hubungan dua insan atau lebih, terjadi timbal balik yang mendominasi antara satu individu dan individu lain.

Orang lain, dalam pemahamannya bukanlah dirinya dan sangat berbeda dengannya. Perbedaan itu lenyap, ketika seseorang berpikir bahwa ia dan orang lain adalah sama. Di dalam relasi simetris juga, seseorang bertanggung jawab atas eksistensi orang lain. Namun, tanggung jawab yang dipikulnya jauh lebih berat ketimbang hak dan kebebasannya untuk menjadi manusia merdeka dan bebas. Dengan tanggung jawab yang berat ini, individu atau mahasiswa tidak dapat memperlakukan diri setara dengan orang lain. Alhasil, terjadi hubungan dominan pada kegiatan ospek di setiap perguruan tinggi.

Misalnya, relasi mahasiswa baru dengan senior, dalam kasus ospek yang menelan korban jiwa, diselubungi praktik relasi subjek sadistis dan masokis. Mahasiswa baru posisinya bagai subjek masokis yang memahami kebebasan melalui kenikmatan didiskriminasi, (maaf) disiksa orang lain dan dikebiri kebebasannya. Sebab, dari dalam diri mahasiswa baru, realisasi kebebasan, otonomi maupun totalitasnya sebagai individu merdeka dikalahkan mahasiswa yang lebih senior. Sementara itu, mahasiswa senior sebagai seorang subjek sadistis bebas melakukan dominasi sampai pada tahap melakukan kekerasan kepada peserta.

Dalam praktik orientasi jurusan, mahasiswa senior lebih banyak mendominasi dengan melakukan kekerasan sebagai tanda superioritas. Kekerasan tersebut tidak hanya bersifat fisik. Tapi, bisa berupa melontarkan kata-kata kotor yang tidak sopan, merendahkan dan memberlakukan aturan ketat “berat sebelah” yang tidak boleh dilanggar peserta.

Hubungan dalam orientasi kampus, bagi Levinas, seharusnya setiap mahasiswa diperlakukan sama dengan melakukan relasi a-simetris. Dalam relasi ini, mahasiswa senior berbeda dengan mahasiswa junior, tidak setara dengannya, tetapi menyadari tanggung jawab etisnya. Dengan kesadaran ini, tanggung jawab tidak membebaninya, tapi kerelaan yang lahir dari kebebasannya membuat individu rela menyerahkan apa yang dimiliki bagi orang lain. Levinas, merumuskannya menjadi “saya-ada-untuk-yang-lain”.

Praktik ospek kalau mengadopsi gagasan Levinas berarti suatu kondisi, ketika seseorang memperlakukan orang lain lebih mulia dan terhormat melebihi apa yang dilakukan bagi diri sendiri. Itulah yang diistilahkan dalam Islam dengan “rahmatan lil-insaniyiin”, rahmat bagi seluruh umat manusia. Relasi “tuan-budak” di dalam kegiatan ospek mahasiswa, semestinya dikemas secara etis dengan memperlakukan manusia lain secara mulia dan terhormat. Jadi, eksistensi mahasiswa senior “ada-untuk-menjaga-kebebasan-mahasiswa lain” bukan “ada-untuk-mengeksploitasi-kebebasan-mahasiswa liyan”.

[ Pencegahan kekerasan ]

Saya pikir perguruan tinggi sebagai pencetak tokoh publik, sudah semestinya memahami pencegahan kekerasan berkedok kaderisasi atau ospek secara lebih aktif dan kontinu. Termasuk mengatasi agar tidak terulang lagi korban jiwa yang diakibatkan kegiatan mahasiswa berbau perpeloncoan. Dalam ospek, rawan terjadi semacam pemusnahan kebebasan dan nyawa mahasiswa. Kampus, dalam perspektif saya, bukan lembaga yang menelurkan manusia budak nonesensial, bahkan bukan juga lembaga yang mencetak manusia bermental tuan yang biadab. Dari lembaga pendidikan tinggilah semestinya lahir sekelompok manusia beradab.

Dalam bahasa lain, kampus tidak bisa dan tidak boleh disamakan dengan kamp pembantaian. Ya, lembaga perguruan tinggi bukan kampus pembantaian (the death university). Saya salut dengan pemecatan ketua jurusan oleh birokrat kampus ITB, karena ketegasan ini diharapkan ospek –sebelum dan setelah disetujui– bisa diawasi dan diarahkan kepada hal-hal positif. Utamanya, manipulasi dan kekerasan (baik simbolik maupun fisik) dapat dicegah secara efektif dan efisien.

Memang betul jika kegiatan ospek awal mulanya dilakukan perguruan tinggi dengan tujuan baik, yakni melatih kemandirian, menanamkan solidaritas, dan cara-cara belajar di perguruan tinggi. Akan tetapi, yang terjadi adalah sebaliknya, mahasiswa hasil godokan berubah menjadi mahasiswa tidak kritis, mandiri dalam melakukan kekerasan, tidak mementingkan orang banyak, dan prestasinya kian merosot. Dalam kasus kali ini, ada semacam kesalahan menerjemahkan metode pelaksanaan ospek di perguruan tinggi.

Misalnya, peserta ospek dituntut memeras tenaga sehingga kecapekan, kehabisan tenaga, napas, bahkan sampai menelan korban jiwa. Padahal metode pelaksanaan orientasi mahasiswa bisa dikemas dengan baik, misalnya, menyertakan permainan yang mengasyikkan. Outbound yang mengasyikkan adalah salah satu kegiatan yang bisa menumbuhkan kemandirian, kolektivisme, dan daya kritis mahasiswa. Dan, paling penting, outbound ini terlihat lebih manusiawi karena setelah selesai mengikuti orientasi, mahasiswa akan mendapatkan pengalaman berharga. Dengan metode ini juga setiap mahasiswa akan menjalin keakraban, keintiman, dan kemelakatan relasi antara satu sama lain, sehingga kedamaian tidak hanya basa-basi belaka. ***


Penulis: Editor lepas DAR!Mizan, aktivis Ikatan Mahsiaswa Muhammadiyah Jawa Barat, alumnus Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung.

Sumber: Harian Pikiran Rakyat, Selasa 17 Februari 2009

[ KLIK DISINI: LANJUTAN OPINI BELIAU TENTANG THE DEATH UNIVERSITY ]😉

[ JUGA: AGAR KEJADIAN SERUPA TIDAK TERULANGI KEMBALI DAN KEMBALI TERULANGI ]

One thought on “OSPEK DAN RELASI “TUAN-BUDAK””

Comments are closed.