DAMPAK PERKEMBANGAN INDUSTRI TERHADAP ARSITEKTUR

ARSITEK telah dikenal dan dibicarakan manusia sejak dulu. Arsitektur mempunyai berbagai pendapat, pandangan dan pengertian. Louis I. Kahn mengatakan, “Arsitektur adalah pemikiran yang matang dalam pembentukan ruang. Pembaharuan arsitektur secara menerus adalah disebabkan perubahan konsep ruang”. Wlliam Wayne Caudill, mempunyai pendapat lain mengenai arsitektur, yakni “Bentuk dan ruang adalah bukan arsitektur. Arsitektur terjadi hanya bila seseorang sedang menikmati bentuk dan ruang tersebut”.

Biasanya manusia mengukur pentingnya sesuatu berdasarkan besarnya dan indahnya bangunan yang diperuntukkan bagi nilai itu. Kita akan teringat masa abad pertengahan, ketika itu bangunan yang merupakan harta seni paling agung adalah gereja dan katedral, sebab iman adalah harta yang tertinggi bagi masyarakat abad pertengahan.

Melihat obsesi dari perkembangan arsitektur dewasa ini, kan terlihat berbagai masalah yang begitu luas dan kompleks. Asitek merupakan perancang dari tempat manusia berdiam. Tapi tempat kediaman manusia bukanlah semata-mata gedung, jalan atau pun kota. Melainkan, terlebih-lebih, tempat kediaman ini adalah keseluruhan permukaan bumi yang terdiri dari udara, air dan tanah, karena sistem yang inilah, yaitu biosfir memiliki unsur-unsur dasar pendukung kehidupan manusia.
Henryk Skolimowski, pernah mengatakan di depan konggres Royal of British Architecture (RIBA), “if you do want to change architecture, you can not limit yourself to architecture, or start with architecture alone”. Akhirnya tujuan yang paling penting ialah “kualitas hidup”. Masing-masing subsistem sebelumnya dapat saja baik, namun jika akhir tujuan “nilai tambah” yang fisik material dan mental spiritual tidak menyebabkan meningkatnya kualitas hidup, maka seluruh upaya dapat dikatakan gagal. Christhoper Alexander dan Chrithoper Jones yang menekuni dan mengajar metodologi perancangan akhirnya juga tidak ingin terlalu menekankan metode-metode desain sebagai suatu proses yang kaku dan mekanistik, apalagi jika cara ini menjadi mitos bagi para arsitek perancang.

Jika tempat kediaman merupakan fungsi utama arsitektur, kita tidak akan berharap banyak tentang adanya pengembangan yang khusus selain tempat kediaman. Demikianlah telah kita lihat hal-hal yang berlawanan akan pengaruh lingkungan yang dibuat manusia terhadap perilaku penghuninya. Satu rancangan arsitektur dapat mempengaruhi pola komunikasi di antara orang-orang yang hidup dalam naungan arsitektural tertentu. Bahkan Osmond (1957) dan Sommer (1969) membedakan antara desain bangunan yang mendorong orang untuk berinteraksi (sociopetal) dan rancangan bangunan yang menyebabkan orang menghindari interaksi (sociofugal).

Arsitektur adalah suatu aktivitas integratif yang lebih dipusatkan pada hal mempengaruhi masa yang akan datang dari pada menjelaskan peristiwa di masa lampau. Tidak terdapat hukum-hukum arsitektur yang akan memungkinkan kita meramalkan kepusan bagi penghuni bangunan, dalam cara bagaimana bangunan-bangunan yang dibentuk dengan proporsi yang harmonis mempengaruhi kita. Bangunan-bangunan tersebut mempengaruhi indera estetika kita, menyebabkan kita dapat merasakan hal-hal yang baik atau sebaliknya.
Apakah manusia akan hidup lebih berbahagia dalam rumah berbentuk bola dari pada di dalam rumah yang umumnya berupa kubus? Ahli pahat dan perencana industri di Den Bosch Dries Kreijkamp, mengiyakan dan karena itu merencanakan rumah bolanya. Bila dilihat dari sudut sejarah, baru saja manusia tinggal di rumah-rumah berbentuk kubus, ingatlah iglo, tempat tinggal dalam gua dan banyak macam rumah gubuk. Dari sudut energetis, bola adalah bentuk yang menarik permukaan luar sedikit, sehingga tidak banyak kalori yang hilang dibandingkan dengan permukaan bagian dalam yang relatif banyak.

Pada sisi lain, Richard Buckmister Fuller merupakan perencana yang besar pengaruhnya, yang sebelum perang sudah bereksperimen dengan rumah logam ringan dan tahun 1959 mendirikan rumah kubah. Dengan melodi lagu “Home, home on the ranch where the deer and the antilope play” ia membuat lagu puja atas masa depan rimah bola prefab.

Bangunan pencakar langit bukan barang aneh lagi. Gedung-gedung megah bertingkat tinggi yang berselimut kaca, yang berdiri tegar seperti patok beton, sudah merupakan pemandangan biasa di banyak tempat di dunia ini. Di Jakarta saja kini sudah terdapat bangunan dengan 40 lantai.
Tentu saja tidak ada yang dapat menyangkal bahwa hal-hal dalam tertentu teknologi modern mencapai sukses yang gemilang. Sudah barang tentu, industri bangunan yang diproduksi besar-besaran itu merupakan suatu keunggulan teknologi tetapi Cuma sampai batas tertentu. Garis pemisah antara sukses dan kegagalan, adalah pintu pabrik. Selama industri dari seluruh komponen bangunan sedang dibuat, ia merupakan sukses teknologis. Berbagai bagian dirancang, dibentuk, dipasang-pasangkan dan seluruh perangkaian berhasil. Namun sekali bangunan tersebut ditancapkan di bumi, munculah berbagai macam persoalan, sesuaikah dengan alam lingkungannya, berapa besar pengaruh partikel-pertikel dinding-dinding asbes di dalam paru-paru penghuninya? Bagaimana dampak psikologis terhadap penghuni? Seberapa jauh sumbangan terhadap nilai arsitekturnya?, dan sebagainya.

Bila kita ingin berhasil sebagai penghuni dunia yang semakin berubah akibat teknologi dan industri, kita perlu untuk menilai kembali sikap kita terhadap dunia arsitektur yang dijamah oleh teknologi. Paradigma universal dari keberadaan industri haruslah menjadi kaidah filosofis yang melandasi penciptaan, penerapan dan penggunaannya. Le Coubusier dalam bukunya Versun architecture 1923) mengatakan, “industry (is) overwhelming us like a flood which rools on toward it’s destined end”. Perkembangan industri bangunan perlu pengendalian yang tepat dan teratur. Kalau kita lihat industri bangunan saat ini, barangkali memang hanya sebuah teladan dari sebuah mbisi pembangunan. Industri tersebut meluas dengan kerangka terpecah-pecah, investasi modal rendah dan sebagainya. Industri bangunan memang dihargai dan tidak ditentang, tetapi arahnya yang secara bertahap menggerogoti segala keindahan asli yang telah dianugerahkan alam kepada kita, ituah yang menjadi soal.

Kejujuran adalah bagian dari arsitektur, yang dapat dirasakan dan mengandung makna. Arsitektur timbul di dalam suatu konteks yang sangat luas meliputi, sosial, lingkungan, ekonomi, perilaku dan sebagainya. Arsitektur membantu kita memperdalam dan menjelaskan gagasan-gagasan baru dan menempatkannya dengan kokoh dalam cara yang paling mendasar dalam pikiran manusia. Pada industri bangunan kecenderungan logis menyusup ke setiap bidang kegiatan manusia termasuk di dalamnya pekerjaan, kesenangan, kebudayaan dn komunitas tentunya. Industri sendiri sebenarnya, adalah suatu istilah yang dapat diartikan sangat luas, yaitu semua kegiatan manusia untuk melengkapi segala barang kebutuhan yang diinginkan dan diperlukannya.

Bagaimanapun juga, kita tidak bisa menipu dengan “selera tiruan” dan “seler buatan” terhadap alam, lingkungan dan arsitektur kita, pengalaman yang penuh arti akan hilang dan kemampuan menghargai yang asli nantinya akan berkurang. Apakah akan mengisi sebuah taman yang baru dengan isi serba artifisial, beberapa tumbuhan dan bunga plastik ditempatkan di sana atas nama “mencintai alam”? Untuk hal semacam ini, Charles Reich dalam Greening of America mencela “pemiskinan secara subtitusi”, ini merupakan eksploatasi industri pada hampir seluruh nilai manusia.

Demikianlah bangunan-bangunan dapat dipahami ditinjau dari segi bagaimana industri bangunan tersebut berkaitan dengan manusia dan wadah-wadah alamiahnya, dan bagaimana hubungan-hubungan ini dapat berubah akibat kebudayaan dan perjalanan waktu. Seluruh faktor-faktor yang saling berkaitan inilah yang dapat menjelaskan wujud suatu hasil industri bangunan yang baik. Karena bagaimanapun merupakan kelembagaan dan dasar dari perwujudan kebudayaan. Kita dapat bertanya tentang tujuan industrialisasi, tidak hanya menciptakan industri bangunan saja, tetapi juga untuk memerangi keterbelakangan dan kemiskinan dalam menuju masyarakat adil dan makmur.

Tulisan ini telah dimuat dalam harian Suara Indonesia tanggal 28 Agustus 1986

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s