Korupsi Seorang Arsitek

Peringatan Hari Anti Korupsi Dunia yang berlangsung tanggal 9 Desember 2009 menarik perhatian sebagian besar masyarakat. Di seluruh kota besar di Indonesia diadakan aksi memperingati hari yang ditetapkan oleh PBB sejak 9 Desember 2003 di Meksiko tersebut.

Korupsi berasal dari bahasa latin “corruptio” yang berarti busuk, rusak, memutarbalik fakta adalah tindakan yang secara hukum memiliki unsur; perbuatan yang melawan hukum; penyalahgunaan kewenangan, kesempatan, atau sarana; memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi; dan merugikan keuangan negara.

Dari sisi industri konstruksi yang berkaitan dengan Arsitektur ada sebuah kisah menarik. Ceritanya begini, ada seseorang yang bernama Bunga (bukan nama sebenarnya) ia sudah lama memimpin sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa konsultasi desain Arsitektur. Suatu hari ia bergabung dalam sebuah proyek senilai 30 Milyar bersama 3 rekan bisnisnya. Diantara rekannya tersebut masing-masing adalah seorang dari pihak investor, seorang dari manajemen proyek, dan seorang lagi adalah pemilik atau owner.

Di suatu kesempatan Bunga bertemu dengan ketiga orang tersebut di sebuah restoran terkenal di Bandung. Bunga dalam pertemuan itu diminta mempresentasikan konsep umum untuk proyek tersebut. Sebut saja proyek perhotelan. Sang Owner sebagai pemilik hajat menyampaikan keresahan dalam berbagai hal diantaranya masalah perizinan. Sedangkan seseorang dari manajemen proyek/kontraktor berpikir berdasarkan pengalaman sebelumnya ketika gagal dalam mengikuti lelang atau tender. Sang Investor diam saja sambil berpikir dan menghitung kapan uangnya bisa kembali.

Tidak lama kemudian, dalam pembicaraan serius santai diantara mereka tersebut muncul sebuah nama, dia adalah orang penting yang memiliki jabatan penting di sebuah institusi penting yang memiliki banyak kewenangan penting serta jaringan penting di pemerintahan. Mereka berempat paham bahwa dialah orang yang mampu mem-back up kelancaran administrasi proyek. Di kesempatan yang sama mereka akhirnya sepakat untuk menyisihkan “investasi” sebesar Rp.300 juta yang dibagi empat atau masing-masing Rp.75 juta untuk ditukar dengan sebuah mobil sedan mewah untuk ditukar dengan kelancaran administrasi proyek.

Bunga (bukan nama sebenarnya) dalam hatinya ia merasakan kegelisahan. Tapi demi aktualisasi desain terbaiknya, demi anak-anaknya yang butuh uang kuliah, dan demi perusahaannya yang sedang berkembang, mau tidak mau ia merasa harus meng”iya”kan kesepakatan tersebut, tiba-tiba apa yang ia lakukan serta merta menjadi logika yang wajar.

Memberi atau menerima suap dalam hal ini adalah termasuk pidana korupsi. Arsitekpun dalam hal ini bisa menjadi salah seorang yang terdaftar dalam pihak-pihak yang terkait korupsi. Cerita seperti diatas menggambarkan salah satu kebusukan yang “biasa” terjadi dan dianggap “wajar” terjadi dan “lumrah” terjadi dalam industri apapun, termasuk konstruksi.

Akibat dari korupsi selalu pihak yang kecil, dalam suatu perusahaan jika Rp.300 juta tersebut terdistribusikan untuk seluruh karyawan maka kesejahteraan dapat terbagi secara lebih adil.

Inti dari korupsi adalah “nafsu”, keinginan yang extraordinary yang menimbulkan crime yang extraordinary, dan harus diberantas dengan cara extraordinary pula. Siapapun bisa memulai korupsi, bahkan sejak SD uang jajan anak-anak bisa digunakan untuk mendidik kejujuran atau sebaliknya. Hari ini dunia sepakat untuk merefleksi tindak korupsi, mari kita mulai sekurang-kurangnya dari diri kita.😉

7 thoughts on “Korupsi Seorang Arsitek”

  1. hmm,,,
    kalo orang yang berpikiran sempit, pasti nganggap itu wajar.
    gimana ngga? arsitek makin banyak, tapi lahan segitu-gitu aja.

    tapi, semoga arsitek yang kompetensinya bagus tapi punya moral yang baik, makin banyak..
    (semoga kita salah satunya, amin =D)

  2. Semangat menganggap budaya “wajar” mengambil keuntungan di luar hak dengan jalan pintas harus diberantas, dengan budaya anti korupsi, pendidikan moral sejak dini. Kata orang, “money changes everything”, ketika di lapangan kita akan sering dihadapkan dengan dua pilihan evils, and people always like to try the one they’ve never tried before, semoga budaya kejujuran mampu membendungnya.😉 Jangan beri ruang untuk tindak korupsi.

  3. kenapa korupsi semacam itu menjadi wajar, lumrah dan biasa? tersirat bahwa persoalan itu sudah terjadi dari sejak lama, sampai sekarang. Artinya tidak pernah terselesaikan akar masalahnya. Dimana akar masalahnya? Saya berkeyakinan di birokrasi dan pemerintahannya itu sendiri. Sehingga si Bunga dan Bunga2 yang lain, si investor, si pemborong dan owner menjadi korban, terjerumus untuk melakukan praktek korup itu. Apa persoalannya di birokrasi dan pemerintahan tersebut? Tentunya mereka memang punya prioritas dalam konteks pembangunan infrastruktur kota sehingga menjadikan ijin2 tertentu terkadang “sulit” karena tidak sesuai dengan prioritas mereka. Artinya bisa jadi bukan di substansi prioritasnya tersebut yang salah, namun bagaimana prioritas itu ditetapkan; yaitu proses keputusan prioritas tersebut yang point pentingnya adalah sejauh mana melibatkan masyarakat terkait (bunga, owner, investor, kontraktor) dan masyarakat luas di dalamnya. Pelibatannya pun harus diteliti, yaitu dijalankan dengan prinsip mekanismenya mampu mengakomodir kepentingan2 sebenar2nya dari seluruh unsur di atas. Dengan demikian, prioritas pembangunan didapat dan sekaligus prioritas tersebut akan sudah sekaligus mengakomodir juga kepentingan bunga, owner dkk tersebut bahkan untuk jangka waktu ke depan yang lebih panjang.

  4. Hello, you used to write excellent, but the last few posts have been kinda boring… I miss your great writings. Past few posts are just a bit out of track! come on!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s