Berkelana di Simbol Tahun Baru

[23:45] Malam itu sepasang manusia berkelana di pekat sang malam yang semakin riuh ditelan nuansa. Sang lelaki berbisik pelan kepada pujaan hatinya, “kasihku lihatlah, malam ini cerah sekali”. Tanpa harus menyuarakan mawar dan melati di kedalaman hatinya, sang wanita cukup menyimpul segurat senyum di bibirnya. Tangan keduanya saling bergenggam erat sebagaimana konteks di langit perasaannya.

[23.50] Seorang cucu Adam beserta karibnya membangun serangkai pesta. Mencipta rasa di tepian zaman, merakit malam berkalung emas perayaan, ritual arak melengkapi simbol segar dan harumnya senandung resepsi. Detik-detik semakin memuncak, singgasana di jejak peralihan itu bertabir gejolak.

[23.55] Gegap gempita redam. Konstanta di inti sesal menggetar seisi ruangan. Lirih, memeras air mata di setiap kain penghambaan. Mengharap nista diampunkan, mendoa supaya tumpukan noda di gugurkan. Padam, saat tangan, kaki, telinga, mata, lisan digetar perih menggigil ketakutan.

[01.55] Beberapa saling mencinta, bertelanjang di nafsu dunia. Beberapa menggelepar, menggeliat di mabuk sang malam. Beberapa menyembah Tuhan, bersunnah dikesucian malam mengingat pesan Sang Maha melalui gerhana parsial.

Bahwa, gerhana itu adalah kuasa-Nya, bukan selayaknya cinta dan mabuk dunia yang menguasai segala.

Miphz,

Permulaan Januari 2010

7 thoughts on “Berkelana di Simbol Tahun Baru”

  1. @gregarious: walhamdulillah…
    @anak indonesia: yes comment… :p
    @mobius faith: your welcome🙂
    @tarbiyatul banin: boleh-boleh🙂
    @agus purwoko: salam kenal kembali….🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s