Menempuh Hati yang Mati

Tergeletak di semenanjung ilusi, setelah sekian lama ombak mengurai jiwaku di lautan yang keruh, yang menyeretku menyulam perjalanan tanpa penerangan. Yang ada kini, tak lagi ada wajah itu yang senantiasa meneteskan embun pengharapan, tak lagi ada saat-saat untukku merindu, merindu, hingga merindu. Zaman ketundukan itu telah lalu dan usang dimakan kisah, era yang terjaga itu telah usai ditelan usia dan terhenti dibungkam ironi. Aku tergeletak.

Aku kira, aku sudah mengukir cintaNya dalam-dalam, tapi ternyata aku hanya berpura-pura mengukirnya. Aku kira, aku sudah mengosongkan jiwa dari berbagai sifat tercela, tapi ternyata itu semua hanya sandiwara. Aku kira, aku sudah menghias jiwaku dengan macam-macam sifat terpuji, tapi ternyata aku hanya bersolek di topeng kesia-siaan.

Jika tangan, tak mampu menggenggam, jika mata, tak mampu melihat, jika telinga, tak mampu mendengar, begitupula hati, kematiannya mematikan fungsinya, tak lagi ada kuasa membuahkan dzikirullah di setiap sesuatu, tak lagi melantunkan ingat yang terpelihara, dan tak lagi ada syahwat (keinginan) yang senantiasa untuk kembali, kembali, hingga kembali. Untuk menyerahkan setiap langkah hanya kepada-Nya, hingga selaras dengan semesta, hingga sepadan dengan alam raya, bahwa apa-apa yang ada di langit, segala yang di bumi, yusabbihu ma fissamawati wal ardh, berdzikir di setiap kejadian.

Aku menabur benih dosa di hamparan dunia yang berkilauan, senantiasa ku tambahkan pupuk kemaksiatan agar tumbuh dengan subur, tak lupa ku sirami dengan kemunafikan supaya cepat berbuah. Buah-buahan yang lezat nan beracun, buah-buahan berkulit penyesalan yang akan kunikmati sesaat lagi di neraka.

Inilah rihlahku dari rombongan hamba-hamba yang merindu, dari kafilah para penerus wahyu, dari orang-orang yang berkumpul dan berpisah semata di jalan-Nya, semata di jalan-Nya, semata di jalan-Nya, semata untuk berpulang kepada-Nya, rihlahku ini rihlah yang terbelok, terbelah, dan runtuh. Rihlah berlebihan yang telah membuatku tersesat lagi di liku kehidupan, aku tak mampu menoleh ke belakang untuk menemukan harapan, hingga kikis sudah alasanku untuk merindu. Aku, yang berguguran.

Aku yang dari kedalaman batinku, berharap bertemu dengan pertama, sesosok hamba, Ia yang memiliki penglihatan tajam, bashirah, penglihatan mata hati. Yang memiliki kemampuan mengetahui aibnya sendiri, yang mempunyai kejelian melihat cacat di hatinya, sekaligus memahami bagaimana mengobatinya. Seseorang yang hampir tidak ada lagi di zaman sekarang. Kedua, aku juga berkeinginan mencari sesosok hamba, Ia yang jujur, sangat paham, dan kuat beragama, untuk menjadi pengawas mekanisme yang berlangsung di dalam diriku, karena aku pernah membaca, betapa Umar ra. kerap menuduh dirinya sendiri, Ia ingin sekali mengetahui aibnya, Ia pun bertanya kepada Khudzaifah, “Apakah engkau melihat dampak-dampak kemunafikan pada diriku?” Ketiga, aku memerlukan lisan para musuh untuk menguak aib-aib yang tak tampak oleh diriku sendiri. Aku percaya dan akan mengambil manfaat dari musuh-musuh yang dengan tulus dan jujur telah berpayah mengungkap segala keburukan yang wajib aku ketahui dan perbaiki, karena keburukanku pasti tersebar oleh omongan mereka. Ketimbang seorang teman biasa, yang penuh basa-basi, menyanjung, memuji, tapi menyembuyikan aib-aibku, yang membiarkan aku merana ditelan sifat tercela yang mengerikan. Keempat, aku ingin berinteraksi dengan masyarakat, wilayah tempatku merefleksi diri. Bahwa tabiat masyarakat tidak akan jauh berbeda dalam mengikuti hawa nafsu, bahwa sifat seseorang di dalamnya juga akan ada pada orang lain. Di mana sifat tercela di tengah masyarakat akan ternisbatkan pada diriku, maka aku terlibat dan turut mempertanggungjawabkan aib masyarakat yang menjadi bagian dari diriku.

Aku tergeletak, di semenanjung ilusi. Di secarik “tulisan religi”, yang bertabayyun.

8 thoughts on “Menempuh Hati yang Mati”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s