Teori Gestalt

Dalam teori Gestalt, hal yang perlu diperhatikan adalah konsep tentang form, yaitu suatu elemen yang terstruktur dan tertutup dalam pandangan visual seseorang. Hukum-hukum pada teori Gestalt antara lain:

  1. Proksimitas atau kedekatan jarak merupakan kondisi yang paling sederhana dari suatu organisasi. Menurut teori Gestalt, obyek-obyek yang memiliki jarak  yang lebih dekat cenderung dilihat lebih berkelompok secara visual.
  2. Similiaritas, bila elemen-elemen memiliki similiaritas atau kualitas yang sama dalam hal ukuran, tekstur dan warna, maka elemen-elemen tersebut cenderung akan diamati sebagai suatu kesatuan.
  3. Ketertutupan, unit visual cenderung membentuk suatu unit yang tertutup. Persepsi individu sangat tergantung dari fokus pandangannya, sehingga bagian yang terbuka pada suatu elemen akan otomatis dianggap sebagai suatu yang tertutup.
  4. Kesinambungan, hukum ini menyatakan bahwa seseorang akan cenderung mengamati suatu elemen yang berkesinambungan sebagai satu kesatuan unit.
  5. Bidang dan simetri, hukum ini menyatakan semakin kecil area tertutup dan simetris semakin cenderung terlihat sebagai suatu unit.
  6. Bentuk dan latar, bahwa sebuah obyek akan terlihat berbeda ketika sebuah bentuk memiliki latar yang kontras.

Esensi dari teori Gestalt adalah bahwa keseluruhan lebih penting daripada bagian-bagiannya. Teori Gestalt menjelaskan bahwa persepsi tidak berdasarkan pada respon yang terisolasi terhadap stimulus khusus, tetapi lebuh kepada reaksi terhadap stimulus total. Implikasi lain dari persepsi adalah adanya reaksi aktif terhadap lingkungan. Manusia secara aktif akan membuat struktur dan mengatur perasaan terhadap stimulus yang ada. (Deddy Halim, 2005)

Berikutnya adalah teori transaksional, teori ini menjelaskan tentang peranan pengalaman persepsi dan menekankan hubungan dinamis antara manusia dan lingkungan. Persepsi merupakan transaksi di mana lingkungan  dan pengamat saling bergantung satu dengan yang lainnya. William Ittelson (1960) mendefenisikannya sebagai berikut:

“Persepsi adalah bagian dari proses yang hidup, di mana setiap orang, dari sudut pandangnya masing-masing menciptakan dunianya dalam mencapai kepuasan”.

Persepsi adalah transaksi saling bergantung antara lingkungan dan pengamat (Deddy Halim, 2005). Informasi yang didapat seseorang dari lingkungan memiliki properti-properti simbolis yang memberi makna, kualitas ambient (tidak kasat mata), memunculkan respon-respon emosional, dan pesan-pesan motivasional yang menstimulus kebutuhan. Seseorang juga menempatkan nilai dan properti estetik terhadap hal tersebut. Karena manusia membutuhkan persepsi untuk  memahami lingkungan sebagai sebuah pola hubungan yang penuh makna, maka pengalaman masa lalu membentuk dasar-dasar pemahaman terhadap hal yang baru.

Kontribusi penting dari teori transaksional terhadap teori desain arsitektur adalah, pengalaman membentuk orang untuk memberi perhatian kepada lingkungan dan kepada apa yang penting bagi dirinya.

Salah satu aspek penting dari desain interior adalah mengenai jumlah privasi yang disediakan. Altman (1975) mendefenisikan privasi sebagai kontrol seleksi manusia untuk mengakses kepentingan diri sendiri dan kelompok. Defenisi ini mempunyai dua elemen penting; pertama adalah privasi sebagai kemampuan untuk memisahkan diri dari orang lain, dan kedua adanya ukuran-ukuran fisik dari ruang untuk mendapatkan privasi. Altman (1975) mengakui pentingnya aspek privasi ruang personal untuk menyajikan informasi mengenai diri seseorang. Karena privasi ini merupakan proses dinamis, sejauh mana orang itu terbuka atau tertutup dari orang lain. Ruang personal dan perilaku teritorial adalah mekanisme privasi yang setidaknya bisa diterima seseorang untuk mencapai tujuannya (Deddy Halim, 2005).

Setiap orang menginginkan adanya komunikasi dari aspek-aspek kepribadian mereka dengan orang lain yang mampu merefleksikan keterikatan mereka terhadap ruang. Sifat privasi dalam arsitektur cenderung dipersonalisasi dengan dukungan presentasi dan informasi dari lingkungan fisiknya.

Banyak penelitian tentang jarak proksemik yang telah dilakukan, varian yang didapat antara lain jarak intim (0-0,45m), jarak pribadi (0,45-1,2m), jarak sosial (1,2-3,6m), jarak publik (>3,6m),  jika dibagi menjadi subfase pada masing-masing jaraknya, akan didapat hal sebagai berikut:

Jarak intim

  • fase dekat (0-15 cm): perlindungan dan kasih sayang, pandangan tidak tajam, tidak perlu suara
  • fase jauh (15-45 cm): jarak sentuh, tidak layak di muka umum, pandangan terdistorsi, bau tercium, suara berbisik

Jarak pribadi

  • fase dekat (0,45-0,75 m): mempengaruhi perasaan, pandangan terganggu, fokus lelah, tekstur jelas.
  • fase jauh (0,75-1,2 m): pembicaraan soal pribadi, pandangan baik, suara jelas/perlahan.

Jarak sosial

  • fase jauh (2,1-3,6 m): melihat diri, formalitas.
  • fase dekat (1,2-2,1 m): dominasi dan kerja sama.

Jarak publik

  • fase jauh (>7,5 m): pembicara dengan audiens.
  • fase dekat (3,6-7,5 m): belum saling kenal.

Studi menunjukaan bahwa perbedaan individu dan situasi selain menentukan jarak personal juga mempengaruhi orienasi tubuh seseorang terhadap orang lain. Salah satunya adalah variabel jenis kelamin, misalnya laki-laki lebih menyukai posisi berhadapan (muka- muka)  dengan orang yang disukainya, sementara perempuan lebih suka memilih posisi bersebelahan.

Hal ini dibuktikan oleh penelitian Byrne, Baskett, dan Hodges (1971) yang melakukam eksperimen, dimana subyek lelaki dan perempuan dimasukkan ke dalam ruang yang memiliki posisi duduk bersebelahan dan berhadapan dan terdiri dari dua kelompok orang; yang disukainya dan yang tidak disukainya. Subyek perempuan memilh duduk bersebelahan dengan kelompok yang disukainya, sedangkan lelaki memilih berhadap-hadapan dengan kelompok yang disukainya.

Altman (1975) mengajukan suatu model yang menghubungkan privasi, ruang personal, teritorial, dan kesesakan dengan mengenggap “sesak” sebagai akibat dari kegagalan mencapai tingkat privasi yang diinginkan.

(Psikologi Arsitektur – Dedy Halim) Terngiang-ngiang Skripsi

About these ads

2 thoughts on “Teori Gestalt”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s