Tag Archives: Architectural Warning

Learning from Pruitt Igoe

Modern Architecture Vuneral? Continue reading Learning from Pruitt Igoe

Advertisements

MEASURING FACEBOOK FROM IT’S TERRITORIALITY

MENAKAR FACEBOOK DARI SISI TERITORIALITAS

Bukan tanpa alasan dan dasar yang kuat, developer Facebook pasti telah melakukan riset teritorialitas pada sisi perilaku manusia untuk menciptakan layanan virtual yang menjadi representasi kehidupan nyata sebagai as built environtment, khususnya komunikasi, dengan berbagai pendekatannya. Ada yang perlu diketahui, apakah Facebook telah optimal dan mempertimbangkan diversifitas layanan dalam mendesain hal ini? Sebuah layanan tentu tidak bisa muaskan semua orang, pasti ada sisi kekurangan yang terlewatkan disamping banyaknya kelebihan yang dimiliki Facebook. Kali ini saya akan berusaha membahas sisi teritorialitas pada Facebook. Menggunakan buku referensi Arsitektur, agak aneh memang, tapi selama ada kaitan antara psikologi dan perilaku manusia, maka teori-teori dasarnya akan selalu berkaitan.  Buku yang saya jadikan referensi adalah “Arsitektur dan Perilaku Manusia” karangan Joyce Marcella Laurens dan “Psikologi Arsitektur” yang ditulis oleh Deddy Halim, Ph.D. Semoga apa yang beliau tulis, dan saya sarikan disini bermanfaat buat pembaca sekalian.

Seperti halnya ruang personal (suatu area dengan batas maya yang mengelilingi diri seseorang dan orang lain tidak diperkenankan masuk ke dalamnya, Robert Somer, 1969), teritorialitas merupakan perwujudan “ego” seseorang karena tidak ingin diganggu, atau dapat dikatakan sebagai perwujudan dari privasi seseorang. Jika kita amati lingkungan di sekitar kita, dengan mudah akan kita temui indikator teritorialitas manusia seperti papan nama, pagar batas rumah, atau papan yang menunjukkan kepemilikan atas suatu lahan. Ada suatu proses negotiating the shared space, ini yang menjadi permasalahan.

Julian Edney (1974) mendefenisikan teritorialitas sebagai sesuatu yang berkaitan dengan ruang fisik, tanda, kepemilikan, pertahanan, penggunaan yang eksklusif, personalisasi, dan identitas. Termasuk di dalamnya dominasi, kontrol, konflik, keamanan, gugatan, dan pertahanan.

Apabila ruang personal merupakan gelembung maya yang portabel, berpindah-pindah mengikuti gerakan individu yang bersangkutan, teritorialitas merupakan suatu tempat yang nyata, relatif tetap dan tidak berpindah mengikuti gerakan individu yang bersagkutan. Teritori berarti wilayah atau daerah dan teritorialitas adalah wilayah yang dianggap sudah menjadi hak seseorang. Misalnya, kamar tidur seseorang adalah wilayah yang dianggap sudah menjadi hak seseorang. Meskipun yang bersangkutan tidak sedang tidur disana dan ada orang yang memasuki kamar tersebut tanpa izinnya, ia akan tersinggung rasa teritorialitasnya dan ia akan marah.

Contoh lain misalnya bangku-bangku di kantin. Apabila ada seseorang yang menempati tempat tersebut, kemudian ingin pergi sebentar ke toilet, ia akan meninggalkan sesuatu seperti buku atau tas di atas meja. Orang lain yang melihat ada buku dan tas di situ diharapkan tahu bahwa bangku tersebut sudah menjadi teritorinya sehingga tida diduduki.

Dari uraian tersebut, teritorialits dapat diartikan sebagai suatu pola tingkah laku yang ada hubungannya dengan kepemilikan atau hak eseorang atau sekelompok orang atas suatu tempat.

Teritorialitas pada manusia mempunyai fungsi yang lebih tinggi daripada sekadar fungsi mempertahankan hidup. Pada manusia, teritorialitas ini tidak hanya berfungsi sebagai perwujudan privasi saja, tetapi lebih jauh lagi teritorialitas juga mempunyai fungsi sosial dan komunikasi.

Berdasarkan penggunaannya, tentu ada banyak kecenderungan unik dari pemanfaatan Facebook, mulai sekadar berkomunikasi, mengadakan kegiatan (mengundang), berjualan (bisnis), bahkan sampai kegiatan intelijen. Berikut paparan hasil statistik yang menggambarkan aktifita Facebook.

Untuk mempermudah melihat teritorialitas pada Facebook, ada klasifikasi teritori yang cukup terkenal yang dibuat Altman (1980) yang didasarkan pada derajat privasi, afiliasi, dan kemungkinan pencapaian.

Pertama, teritori primer. Adalah tempat-tempat yang sangat pribadi sifatnya, hanya boleh dimasuki oleh orang-orang yang sudah sangat akrab atau sudah mendapatkan izin khusus. Teritori ini dimiliki oleh perseorangan atau sekelompok orang yang juga mengendalikan penggunaan teritori tersebut secar relatif lebih tetap, berkenaan dengan kehidupan sehari-hari ketika keterlibatan psikologis penghuninya cukup tinggi. Misalnya adalah ruang tidur, pada Facebook dilihat dari fungsi komunikasi bisa diasosiasikan sebagai private message, mail box, atau inbox.

Kedua, teritori sekunder. Adalah tempat yang dimiliki bersama oleh sejumlah orang yang sudah cukup saling mengenal. Kendali pada teritori ini tidaklah sepenting teritori primer dan kadang berganti pemakai, atau berbago penggunaan dengan orang asing. Misalnya, ruang kelas, kantin kampus, dan aula. Pada Facebook ini identik dengan fasilitas Wall, dinding yang berfungsi sebagai fitur komunikasi yang lebih terbuka dibanding private message, namun lebih tertutup dari Home.

Ketiga, teritori publik. Adalah tempat-tempat yang terbuka untuk umum. Pada prinsipnya, setiap orang diperkenankan untuk berada di tempat tersebut. Misalnya, pusat perbelanjaan, tempat rekreasi, lobi hotel, dll yang terbuka untuk umum. Pada Facebook direpresentasikan sebagai Home. Saat seseorang mengupdate statusnya, maka status tersebut akan terlihat secara umum, dapat dibaca oleh semua orang yang telah menjadi friendlist orang tersebut. Sesaat, status kita akan mampir di ruang Home hingga akan bergantian sampai status berikutnya menggeser. Sekarang sudah dilengkapi fitur “View Feed” untuk mengurangi efek menjenuhkan dari status orang lain yang menurut kita offensif. Jadi yang ditampilkan adalah status-status orang yang paling sering berhubungan / sering saling berkomentar saja.

Ada beberapa poin yang menjadi catatan saya selama menggunakan Facebook sebagai sarana komunikasi, bahkan saya sendiri lebih banyak mebuka Facebook ketimbang ber sms, karena sensasi “published” itu memang menyenangkan. Walau kadang ada saja berbagai perilaku yang kurang “enak” ketika komunikasi tidak berjalan sesuai dengan yang kita inginkan. Karena ada faktor perilaku yang menjadi perhatian saya, dalam hal ini dominasi dan kontrol, lebih baik jika kita mengetahui pembagian ruang teritorialitas dalam desain arsitektur yaitu ruang publik, semi publik, semi privat, dan privat. Pada rumah, ruang publik adalah teras, semi publik adalah adalah ruang tamu, semi privat adalah ruang makan, ruang tv, dan taman di belakang rumah, sedangkan ruang privat adalah kamar.

Pada Facebook, komunikasi dibuat tanpa emoticon, akibatnya tidak sedikit pesan verbal yang sering tidak tersampaikan. Pesan yang di sampaikan melalui status pada Wall bersifat lebih statis, sangat berbeda ketika menggunakan fasilitas chatting, dimana komunikasi bisa lebih mengalir dan cenderung privat. Namun yang terjadi pada Wall adalah status atau pesan yang di-update akan muncul di Home untuk beberapa saat. Bagi sebagian orang, dilihat dari sisi dominasi dan kontrol, yang menganggap Home sebagai teritori primer akan dapat merasakan adanya invasi serta agresi dari status orang lain. Karena ada kerancuan antara Home (yang di anggap rumah) dengan fungsi Home yang lebih kepada lobby/teras sebuah rumah. Fungsi publik dan semi publik menjadi rancu karena tidak memiliki batasan yang tegas.

Di sisi lain, mungkin inilah strategi yang diterapkan Facebook, misalnya dari 500-an orang jumlah teman yang kita miliki, 50% diantaranya aktif,  dan250 orang tersebut aktif mengupdate status dan memberi dan menerima komentar sehari sekali, lalu 20% dari 250 tersebut lebih aktif lagi (alias pecandu), maka artinya setiap kita membuka Facebook dan masuk ke Home (masuk ke dalam rumah/teras rumah kita) akan selau ada 50-250 orang yang menunggu kedatangan kita di rumah kita. Di satu sisi menarik dan menyenangkan, tapi ada saatnya kita akan memerlukan privasi lebih tinggi. Bagaimanapun idealnya suatu rumah misalnya dihuni oleh tidak lebih dari 10 orang. Maka bagaimana jadinya jika “rumah” itu dihuni oleh 250 orang, akan ada 250 pikiran yang hadir setiap harinya. Tidak masalah jika dalam sebuah page group/fan, bahkan sampai 1 juta anggota, karena itu telah jelas fungsi “publik”nya.

Berbagai fasilitas dan fitur yang ada akan terus mengakomodasi kebutuhan pemilik account, mulai dari setting privacy, blocking account seseorang, memilih informasi yang dapat kita share, dsb sampai menonaktifkan account. Karena sejatinya, komunikasi pasti akan menemui crash di tengah perjalanannya. Terlebih di dunia virtual yang setiap orang bisa bebas melakukan apa saja. Maka, personalisasi Facebook secara “teritori” memang perlu dilakukan.

11th International Bauhaus – Colloquium 2009

1263879734_architecture-in-the-age-of-empire

By Sebastian J — Filed under: Events , Bauhaus, Germany

On April 2-5, architectural theoreticians from around the globe will be coming to Weimar to debate the political and ethical challenges of globalization and how architecture responds to them.

In three plenary sessions 23 renowned international scientists will present their viewpoints. Among those invited are Philip Ursprung (Universität Zürich), M. Christine Boyer (Princeton University), Wolfgang Pehnt (Universität Bochum), Stanford Anderson (MIT), Philipp Oswalt (Stiftung Bauhaus Dessau) and Bill Hillier (University College London). The mornings are reserved for five workshops with a total of thirty presentations. The organizers wish to promote successful dialogue between established scientists and emerging scholars with this format.

The Bauhaus Colloquia, held in regular intervals since 1976, are the oldest and most esteemed conferences on architectural theory in the German-speaking world. Organized by the Chair of Theory and History of Modern Architecture at the Bauhaus-Universität Weimar, the colloquium is directed by Prof. Dr. Kari Jormakka and Prof. Dr. Gerd Zimmermann.

Opening Lectures on April 2, 2009, 10 a.m. at Bauhaus-Universität Weimar, Audimax, Steubenstraße 6, 99423 Weimar.

[ For more information, full program and registration, click here ]

[ Fiuh, berasa jadi arsitek lagi euy… ]

Are u an Architecture Student Enough?

Prove to me that u were an Architecture Student, because I don’t believe with your work!

Sir, it was day and night I’m , but I can’t make sure with my capability,

skill, and Please belive me, I can prove it!

Please sir! Please! 

It’s Just like my friend who need money to continue his life!

I donn’t wanna be like this! No…

But I believe this isn’t me!

And,  uhm... some day, lets everybody know who really u are, right!

Because life is just simple, we who always make it hard…

2009 Open Architecture Challenge

International design competition run by Architecture for Humanity and Orient Global — asks designers “to work with students and teachers to design the classroom of the future for a school of your choosing.”

Click the image above for more information. Registration deadline is May 1  – 2009, and the submission deadline is one month later.

[ Let’s get started ]

We are inviting you, the designer, to work with students and teachers to design the classroom of the future for a school of your choosing. Your design should address the unique challenges your school faces in trying to provide smart, safe and sustainable learning spaces. Students and teachers, here’s your chance to tell the world what you need to make your classroom more effective. Architects and designers, you’ll work one-on-one with students to translate those needs into better classroom design.

* Share your design expertise and inspire school students to re-imagine their classroom
* Help students learn about the built environment using a companion design curriculum
* Become an advocate for better classroom design in your community

If your design wins, your school will receive up to $50,000 in funding for classroom construction and upgrading. You will receive a grant of $5,000 to help them do it.

Becareful with Building Construction!

building-collapse

Concrete of Big Dig tunnel collapse kills one woman
July 11, 2006

At least 12 tons of concrete collapsed onto a car in a Big Dig tunnel, fatally crushing a passenger.

Railway tunnel collapses at Gerrards Cross
June 30, 2005

A 20-metre section of a partially completed railway tunnel at Gerrard Cross in Buckinghamshire collapsed last night.

Roof Collapses at Paris Airport
May 23, 2004

A 120-foot section of a new terminal at the Charles de Gaulle international airport here collapsed early Sunday, killing at least five people, injuring seven and burying an unknown number of others.

Four Construction Workers Died after Crane Collapse in Toledo, Ohio
February 16, 2004

Three iron workers were killed and five injured Monday afternoon in the collapse of a crane on a construction site outside of Toledo, Ohio.

[ m o r e c a s e h e r e ]