Tag Archives: Back to Basic

What’s Your Architecture IQ

Doug Patt @Youtube
Doug has worked as a registered architect in the building industry specializing in high-end residential architecture. He’s also been published in a variety of professional journals and magazines. He just finished a book called ‘How to Architect’ that will be published in 2012 with MIT Press.

13 Butir Kompetensi – Sertifikat KeahlianArsitek (SKA) IAI

Berikut ini adalah 13 butir kompetensi yang menjadi standar pemenuhan kualifikasi sertifikasi profesional arsitek. Setiap arsitek yang mengajukan sertifikat baru wajib menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar standar-standar ini, sebagai salah satu bukti pendalaman dan keterlibatannya dalam setiap proyek yang diajukan sebagai tolak ukur.

1. Perancangan Arsitektur

Kemampuan menghasilkan rancangan arsitektur yang memenuhi ukuran estetika dan persyaratan teknis, dan yang bertujuan melestarikan lingkungan (Ability to create architectural designs that satisfy both aesthetic and technical requirements, and which aim to be environmentally sustainable)

2. Pengetahuan Arsitektur

Pengetahuan yang memadai tentang sejarah dan teori arsitektur termasuk seni, teknologi dan ilmu-ilmu pengetahuan manusia (Adequate knowledge of the history and theories of architecture and related arts, technologies, and human sciences)

3. Pengetahuan Seni

Pengetahuan tentang seni rupa dan pengaruhnya terhadap kualitas rancangan arsitektur (Knowledge of the fine arts as an influence on the quality of architectural design)

4. Perencanaan dan Perancangan Kota

Pengetahuan yang memadai tentang perancanaan dan perancangan kota serta ketrampilan yang dibutuhkan dalam proses perancanaan itu (Adequate knowledge on urban design, planning, and the skills involved in the planning process)

5. Hubungan antara Manusia, Bangunan dan Lingkungan

Memahami hubungan antara manusia dan bangunan gedung serta antara bangunan gedung dan lingkungannya, juga memahami pentingnya mengaitkan ruang-ruang yang terbentuk di antara manusia, bangunan gedung dan lingkungannya tersebut untuk kebutuhan manusia dan skala manusia (Understanding of the relationship between people and buildings and between buildings and their environments, and of the need to relate spaces between them to human needs and scale.)

6. Pengetahuan Daya Dukung Lingkungan

Menguasai pengetahuan yang memadai tentang cara menghasilkan perancangan yang sesuai daya dukung lingkungan (An adequate knowledge of the means of achieving environmentally sustainable design.)

7. Peran Arsitek di Masyarakat

Memahami aspek keprofesian dalam bidang Arsitektur dan menyadari peran arsitek di masyarakat, khususnya dalam penyusunan kerangka acuan kerja yang memperhitungkan faktor-faktor sosial (Understanding of the profession of architecture and the role of architects in society, in particular in preparing briefs that account for social factors)

8. Persiapan Pekerjaan Perancangan

Memahami metode penelusuran dan penyiapan program rancangan bagi sebuah proyek perancangan (Understanding of the methods of investigation and preparation of the brief for a design project.)

9. Pengertian Masalah Antar-Disiplin

Memahami permasalahan struktur, konstruksi dan rekayasa yang berkaitan dengan perancangan bangunan gedung (Understanding of the structural design, construction, and engineering problems associated with building design.)

10. Pengetahuan Fisik dan Fisika Bangunan

Menguasai pengetahuan yang memadai mengenai permasalahan fisik dan fisika, teknologi dan fungsi bangunan gedung sehingga dapat melengkapinya dengan kondisi internal yang memberi kenyamanan serta perlindungan terhadap iklim setempat (Adequate knowledge of physical problems and technologies and of the function of buildings so as to provide them with internal conditions of comfort and protection against climate.)

11. Penerapan Batasan Anggaran dan Peraturan Bangunan

Menguasai keterampilan yang diperlukan untuk memenuhi persyaratan pihak pengguna bangunan gedung dalam rentang-kendala biaya pembangunan dan peraturan bangunan (Necessary design skills to meet building users requirements within the constraints imposed by cost factors and buildign regulations.)

12. Pengetahuan Industri Kontruksi dalam Perencanaan

Menguasai pengetahuan yang memadai tentang industri, organisasi, peraturan dan tata-cara yang berkaitan dengan proses penerjemahan konsep perancangan menjadi bangunan gedung serta proses mempadukan penataan denah-denahnya menjadi sebuah perencanaan yang menyeluruh (Adequate knowledge of the industries, organizations, regulations, and procedures involved in translating design concepts into buildings and integrating plans into overall planning.)

13. Pengetahuan Manajemen Proyek

Menguasai pengetahuan yang memadai mengenai pendanaan proyek, manajemen proyek dan pengendalian biaya pembangunan (Adequate knowledge of project financing, project management and cost control.)

[sumber]

Architects in The Tndustrial Scheme

Arsitek, dalam skema industri / Architects in the industrial scheme 
Reading nowadays phenomena in Indonesia   

15 Juli 2007   

Akhir-akhir ini, terbaca dari banyak media arsitektur, ada suatu upaya untuk mendukung kecenderungan konsumerisme yang dipicu oleh daya beli masyarakat yang meningkat, sebagai hasil dari membaiknya ekonomi. Para investor bermunculan dalam bidang property dan merambah dunia arsitektur dengan memberikan dana untuk membangun bangunan-bangunan berskala besar, atau bangunan kecil berdana besar untuk mendukung tingkat gaya hidup tinggi dalam masyarakat. 

Recently, as being read from many architecture media in Indonesia, there is an effort to support the consumerism which is triggered by the rising economy. Investors come in to the property world and give fund to build big scale buildings, or big budget small buildings to support high life style level in the society.

Bangunan-bangunan megah semakin banyak muncul, menandakan sebuah era baru arsitektur teknologi tinggi, demi keinginan akan bangunan-bangunan terbesar, terbaik, terindah, terkuat. 

  Big buildings are rising, showing a new era of high technology architecture, for the will to posses the biggest, best, most beautiful and strongest buildings. 

Media arsitektur turut serta membangun peradaban baru sebagai akibat dari perbaikan ekonomi ini, dengan menempatkan arsitek sebagai jembatan dari keinginan kalangan ‘high class’ mewujudkan keinginan akan bangunan terbaik, terbesar, termahal dan terindah yang bisa diimpikan atau didapatkan. Kafe-kafe, restoran, longue, bar, hotel, apartemen, mall dan sebagainya muncul sebagai akibat dari gaya hidup sebagian masyarakat yang semakin modern.

Architecture media has the role of building new civilization as the rising economy, by placing architect as a bridge for ‘high class’ society to create the best, biggest, most expensive, and most beautiful buildings ever dreamed of got. Cafes, restaurants, bars, hotels, apartements, malls and others arise as the changing society into modernism (The native society in Indonesia is being introduced to life style that they were not own before globalization).

Sebuah kafe dan klub, tempat dimana banyak orang mencari pengalaman ruang berbeda dari biasanya, untuk mendapatkan kesenangan dan kesegaran baru. 

A cafe and club, where many people tries to find new experience to get fun and freshness from everyday activity.

Sebagian masyarakat yang telah memiliki kehiidupan finanial yang baik saat ini menghendaki lebih dari sekedar sebuah tempat, mereka menginginkan ‘tempat yang bermakna’, atau suatu muatan lebih akan sebuah tempat. Hal ini dijembatani para arsitek dan desainer dengan membuat dengan desain-desain yang segar dan dinamis, berjiwa muda seperti mereka yang menggunakan fasilitas-fasilitas tempat bersenang-senang. 

Part of the society has a well financial life lately, and they want something more than a place, they want a ‘meaningful place’, or a place with special value. This is recognized by architects and designers by making new and dinamic designs, with young spirit like they who use the building.

Tampaknya, kebutuhan untuk bersenang-senang menjadi tren yang makin besar dan tak terbendung, kecuali ada perubahan pola pikir masyarakat yang berkaitan dengan politik ekonomi. Tren ini, dapat segera terlihat dalam tahun-tahun mendatang secara merata meningkat di seluruh Indonesia, sebagaimana pertumbuhan tren yang terlihat sekarang telah cukup untuk memprediksikan tren kebutuhan bersenang-senang sebagai gaya hidup. Tren berada di kafe-kafe untuk bekerja, menemui klien atau sekedar ngobrol, mengeluarkan dana untuk bersenang-senang di tempat hiburan, akan segera berkembang menjadi industri terbesar yang menggerakkan arsitektur berperan lebih jauh. 

Seemly, the need to have fun has finally becoming a bigger trend, unless there’s a changing in society due to economical politics. This trend, will soon be clearer in years ahead in many parts in Indonesia. As the booming trend nowadays has been enough to predict that having fun will be a life style. The trends of being in cafes for work, meeting clients of just chatting, spending money for fun in entertainment places, will soon be developed as the biggest industry that moves architecture playing its further role.

Catatan pribadi Probo Hindarto
Siapa arsitek yang mampu membuat perubahan? 
Arsitek yang mampu membuat perubahan adalah arsitek yang berada dalam jalur dimana ia dapat bebas berkreasi. Arsitek yang berada dalam skema industri seringkali agak susah mendapatkan kebebasan untuk mewujudkan sebuah idealisme. Tentunya hal ini kembali kepada situasi dan kondisi dimana seorang arsitek dihadapkan, serta tingkat nilai ideal dari seorang arsitek, tentunya.

Private notes from Probo Hindarto
Who is the architect, able to make change?
Architect who can make change is the architect in someway he has the freedom of creation. Architect in the industrial scheme will find it a little bit hard to find the freedom to realize an idealism. This of course related to the situation and condition where an architect is faced to, and the level of his idealism.

Gaya hidup yang meningkat, seiring bertumbuhnya ekonomi, menjadikan kebutuhan baru yang membawa konsekuensi baru; tren sebagai gaya hidup.
Rising life style, as the growing economy, making new needs that bring new consequences; trend as a life style.

Secara tidak langsung, arsitek juga memegang peranan penting dalam menghadirkan opini dalam masyarakat, melalui komentar-komentar yang ditulis media. Arsitek merupakan pihak yang didengarkan bila berkata tentang tren, bangunan yang baik, dan sebagainya. Namun melihat evolusi yang terjadi, arsitek cukup banyak yang tidak dapat membendung arus minat masyarakat (terutama kalangan ‘high class’) terhadap tren yang muncul di masyarakat. Arsitek seringkali terpaksa berbicara dalam bahasa yang dapat dipahami oleh awam, demikian pula saat berkarya. 

Architects have a role in to shape the public opinion, by comments in media. Architects are one side being listened when talking about trends, good buildings, etc. But seeing the happening evolution, many architects do not have enough power to ban the flow of intentions for trends in society (especially in high class society). Architects are sometimes forced to speak in a language can be understood by public, also when designing.

Seringkali juga, arsitek masuk dalam skema besar industri dan mendukung keberadaan suatu tren, terlepas dari nilai-nilai yang dibawa sebuah tren, agar ia tetap survive dalam industri ini. Hal ini bisa dipahami sebagai evolusi pemikiran agar ia tetap hidup dalam cabang-cabang finansial yang tumbuh dari arus besar industri property. Wacana yang tumbuh adalah dalam rangka mendukung seluruh sistem industri property. 

Oftenly, architects got in to big industrial scheme and support the presence of a trend, aside of the questionable values of a trend, to survive in the industry. This can be understood as thinking evolution to survive in the financial part that grows in the mainstream of property industry. The paradigma that grows is in order to support the whole system of property industry. 

Tampaknya menguntungkan semua pihak bukan? Investor dan pembeli mendapat keinginannya, arsitek mendapatkan untung, meskipun dalam beberapa sudut, skema ini bisa memberikan ‘side effect’ dari proses industri. Sebagai contoh; penggusuran, penebangan pohon-pohon, penghilangan identitas arsitektur lokal, dan sebagainya. Side effect dari pembangunan yang cukup menyedihkan adalah hilangnya potensi sumber daya alam karena eksploitasi manusia. Selain itu side effect lain juga cukup banyak, misalnya sistem sosial dalam masyarakat sedikit terganggu karena superioritas segolongan manusia.

It seems to benefit every side, doesn’t it? Investors and buyers have what they want, architects have their profit too, even though in one perspective, this scheme can bring a ‘side effect’ of industrial process. For example; the damage of natural resources, lack of local architecture identity, social problems, and many others. One side effect from building developments is the loss of natural potentials because of exploitations. 

Skema ‘keuntungan semua pihak’/ The ‘benefit for all’ scheme
Dalam dunia evolusi beberapa mamalia, terutama yang bekerja secara berkelompok untuk mendapatkan makanan, misalnya seperti monyet, sebuah grup mamalia ini akan saling bahu membahu untuk bekerja mendapatkan makanan bersama. Arsitek dalam hal ini bisa berada dalam posisi mendukung tujuan kelompok, dimana tujuan kelompok tidak lain adalah keuntungan finansial. 

In some mammals evolution, especially those that work in groups to get food, like monkeys, this mammal group will work together to find food. Architect in this manner can be in position of supporting the will of a group, to get financial profit.

Dampak dari tujuan koloni melalui sistem yang digerakkan kapital sebenarnya sangatlah mengagumkan, dari sisi manusia sebagai mahluk kecil yang melihat raksasa-raksasa bangunan hasil pembangunan. Tingkat kesenangan mendapatkan atau menikmati bangunan dalam skala, proporsi, wujud yang hadir itu barangkali setara dengan kesenangan nenek moyang kita menemukan gua terbesar, terindah dan terbaik untuk menaungi hari-harinya didunia. Namun kita berharap, apa yang dikembangkan saat ini akan mengarah pada kehidupan yang stabil dan seimbang, dari segala sisi, baik sisi humanisme, sosial dan budaya. 

The impact of colonial purpose in a capital funded system is actually really amazing, from the side of human seeing giant buildings. The level of ‘fun’ to get or enjoy building in such a scale, proportion, and reality that presence might be of the enjoyment of when our ancestors found the biggest, most beautiful and best caves. But we hope, what we develop until now will point to a more stable and harmonious life, in every side of our lives.  

Bagaimana industri membantu arsitek membuat perubahan? / How Could industry help architect to make change?
Industri selain dapat digunakan untuk mempermudah kehidupan manusia dalam membangun dan berkarya, juga dapat digunakan sebagai jalan membuat perubahan. Kita semua tahu bahwa industri memiliki dampak baik dan buruk. Kabar baiknya, dampak baik dapat digunakan dan terus dipupuk sebagai media pembangun masyarakat lebih maju, lebih bertoleransi, dan sebagainya.

Industry, is something to make our lives easier, and also a way to make change. We all know that industry has good and bad impacts. The good news is, the good side can be used and developed as a media to develop higher level society, more tolerable, etc.

Industri menyediakan bahan-bahan bangunan dan material yang lebih mudah didapatkan, lebih bersih, lebih banyak pilihan dan inovasi. Industri ini memungkinkan arsitek mengaplikasikan bahan material baru sebagai jalan menemukan pembaharuan dalam arsitektur. Dalam hal ini, hanya cara pandang industrialisme yang menjadi cara pandang baru meninggalkan yang lama (pelestarian), namun dari sisi pembaharuan ‘alat dan bahan’ dalam membangun, industri menyediakan sangat banyak pilihan. Karena itu industri tidak harus bertentangan dengan apapun bila ditempatkan dalam skema yang mendukung idealisme. 

Industry supply building materials which is not only easier to get, but also cleaner, and have more choices and innovations. Industry makes it able for architect to apply new building materials as a way to find new architecture. In this manner, industry is a new way to leave the old. New ‘tools and materials’ in building supply more choices. That is why industry doesn’t have to contradict anything as long as it is placed in a scheme to support an idealism.

11122

Cihampelas walk, the green mall

Dalam contoh Cihampelas Walk dalam website ini, industrialisme ketika bergandengan dengan ideal eco-architecture, dapat membawa perubahan pada cara pandang konvensional tentang sebuah mall, menjadi lebih hijau, lebih berwawasan lingkungan, dan lebih manusiawi tentunya. 

One example in this website is Cihampelas Walk, when industry helps eco-architecture, can bring changes in conventional thoughts about malls, becoming greener, more environmentally friendly, and more humanity, of course.

***

(Probo HIndarto)

 

Architectural drawing and Architectural plan

Architectural drawing is technical drawing of architecture and drawing for architectural projects. Architectural drawing are a means of communicating ideas, concepts and details, and require drafting skills in modern and traditional methods of architectural drawing.

The term Architectural plans is often used as synonym, but this term has other meaning as well. It can mean a Floor plan; more general any Scale drawing of a structure; the complete Documentation of a building project or the plan to implement an architectural project.

Architectural drawing can includes all architectural contracts and drawings such as plot plans, floor plans, elevations, sections, details, schedules, etc., and any architectural drawing that forms a part of the contract documents. Exceptions can include mechanical, electrical and structural drawings, as well as specialized data that are normally handled by specialists in those fields.

[  ]


An architectural plan is a plan for architecture, and the documentation of written and graphic descriptions of the architectural elements of a building project including sketches, drawings and details.

The term “Architectural plan” can have multiple related meaning:

  • Plan for an architectural project
  • Documentation of written and graphic descriptions of the architectural elements of a building project including sketches, drawings and details. This effort could also includes both the design of new buildings and other structures, as well as the planning for reconstruction of early historic structures.
  • Architectural design
  • Floor plan
  • Scale drawing of a structure. “the plans for City Hall were on file”.

This article will focuss on the general meaning of architectural plan as a plan and documentation for a building project.

An architectural plan is a type of plan for architecture to describe a place or object, or to communicate building or fabrication instructions. It can containing technical architectural drawings and documentation, and are drawn or printed on paper, but they can take the form of a digital file. Their purpose in these disciplines is to accurately and unambiguously capture all the geometric features of a site, building, product or component. Plans can also be for presentation or orientation purposes, and as such are often less detailed versions of the former. The end goal of plans is either to portray an existing place or object, or to convey enough information to allow a builder or manufacturer to realize a design.

[  ]

Technical Drawing

Technical drawing is the discipline of creating standardized technical drawing by architects, CAD drafters, design engineers, and related professionals. Technical drawing includes the various fields and technologies underpinning electronics, which has in turn revolutionized the art with new tools in the form of Computer Aided Design (CAD). A technical drawing or engineering drawing is a type of drawing and form of graphic communication, used in the transforming of an idea into physical form. This type of drawing is used to fully and clearly define requirements for engineered items, and is usually created in accordance with standardized conventions for layout, nomenclature, interpretation, appearance (such as typefaces and line styles), size, etc. The process of creating a technical drawing is called drafting or technical drawing. A person who does drafting is known as a drafter. In some areas this person may be referred to as a drafting technician, draftsperson, or draughtsperson. A technical drawing differs from a common drawing by how it is interpreted. A common drawing can hold many purposes and meanings, while a technical drawing is intended to concisely and clearly communicate all needed specifications of a created object or objects.

Mencari Sang Arsitek

Hanya  akal-akal  raksasa  yang  tercerahkan  wahyu  yang siap menjadi pimpinan proyek peradaban kehendak Allah. Dimana mereka sekarang?

birds-flying_mg1135

Tidak  ada  peristiwa  yang  lebih  mengharu-biru  kaum  Muslimin,  di sepanjang  masa  kenabian  dan  perjuangan Rasulullah Saw, selain saat dimana  beliau  menyampaikan  pidato dalam hajjatul wada’. Itulah haji pertama dan terakhir yang dilaksanakan Rasulullah saw sejak ibadah itu diwajibkan, menurut jumhur ulama, pada tahun keenam hijrah. Karena itu sebagian  besar  kaum  Muslimin  menyempatkan diri untuk berhaji tahun itu. Jumlah mereka sekitar 125 ribu orang.

Sementara   kaum  Muslimin  Merasakan  kegembiraan  mendengar  khotbah Rasulullah  saw,  Abu Bakar justru menangis tersedu-sedu. Ia menangkap dengan  jelas  isyarat yang tersimpan dalam kalimat-kalimat Rasulullah saw,  bahwa  masa  hidupnya  tidak  akan  lama  lagi.  Dan benar saja, Rasulullah  saw  kemudian  wafat  beberapa saat setelah hajjatul wada’ itu.  Itu seperti sebuah isyarat bahwa tugas beliau sudah akan selesai sampai  disini,  tapi  cita-cita  untuk  membawa  cahaya  Islam kepada seluruh umat manusia belum lagi selesai; dan adalah tugas para sahabat untuk melanjutkan risalah dakwah tersebut.

Kini, setelah lima belas abad kemudian, Islam menjadi fenomena sejarah sebagai sebuah peradaban terbesar yang pernah ada dan masih ada hingga saat  ini.  Islam tersebar di seluruh pelosok dunia, dari Aljir sampai Jakarta,  dengan  jumlah  pemeluk  sekitar  1,3  milyar  manusia, atau sekitar  seperlima  dari  total jumlah manusia yang menghuni bumi ini. Apabila  Rasulullah  saw  meninggalkan lebih dari 125 ribu orang, maka dari merekalah sesungguhnya Islam berkembang ke seluruh pelosok dunia. Tapi  dari jumlah itu, sebenarnya sebagian besar mereka masuk ke dalam Islam  justru  setelah  peristiwa  Fathu  Makkah  pada tahun kedelapan hijrah, atau 20 tahun setelah Rasulullah saw menjadi rasul.

Ini  berarti  bahwa  sahabat-sahabat beliau yang mempunyai peran besar dalam  penyebaran  Islam  dan  pembangunan  peradaban  Islam  tidaklah terlalu banyak. Jumlah ulama dari sahabat-sahabat Rasulullah saw dalam catatan  Ibnu  Qoyyim  al-Jauziyah  dalam  “I’lamul Muwaqqi’in”, hanya kurang  dari 110 orang. Dan diantara mereka yang terbesar ada 7 orang, diantaranya  adalah Umar bin Khattab, Ali Bin Ali Thalib, Abdullah bin Abbas,  Abdullah  bin  Umar, Abdullah bin Mas’ud. Sebagian besar ulama dan  pemikir  Islam  yang  lahir  kemudian,  dari kalangan Tabi’in dan Tabi’uttabi’in dan seterusnya, mengambil ilmu dari mereka.

coll

Otak Arsitek

Peradaban  selalu  bermula  dari  gagasan.  Peradaban-peradaban  besar selalu  lahir  lahir  dari  gagasan-gagasan besar. Dan gagasan-gagasan besar  selalu  lahir  akal-akal raksasa. Begitulah kejadiannya, jumlah sahabat  yang  ditinggalkan Rasulullah saw memang sedikit, tapi mereka semua  membawa semangat dan kesadaran sebagai pembangun peradaban, dan membawa talenta sebagai arsitek peradaban.

Kesadaran itu terbentuk sejak dini dalam benak mereka. Allah swt telah menciptakan  manusia  untuk  beribadah  dan mengelola serta menegakkan khilafah  di  muka  bumi.  Dan  untuk  itu Allah swt memberikan mereka “juklak”  (petunjuk  laksana) berupa al-Qur’an, dan menurunkan seorang rasul  sebagai  “komunikator”  Allah  Swt,  sekaligus  sebagai pemberi contoh laksana dalam kehidupan nyata.

Sejak  awal  mereka  menyadari  bahwa  al-Qur’an  bukanlah sebuah buku filsafat  kehidupan, yang kering dan rumit, atau pikiran-pikiran indah yang  tersimpan  di  menara  gading  dan  tidak  mempunyai  alas dalam realitas kehidupan. al-Qur’an adalah sebuah “manual” tentang bagaimana seharusnya  kita  mengelola  kehidupan  di bumi ini. Bumi adalah ruang kehidupan  tempat  kita “menurunkan” kehendak-kehendak Allah swt, yang termaktub  dalam wahyu, menjadi satuan-satuan realitas dalam kehidupan manusia  di  muka  bumi.  Bumi  adalah  realitas kasat mata yang harus dikelola manusia.

Maka  doktrin  Al-Qur’an  tentang  Allah, Rasul, manusia dan kehidupan sejak  awal menegaskan sebuah kesadaran yang integral; bahwa kehidupan yang  sesungguhnya adalah akhirat, dan bahwa misi manusia di dunia ini adalah  ibadah,  tapi  ruangnya  adalah  bumi.  Karena  itulah  mereka mempunyai  kesadaran  yang  kuat  tentang  ruang; ruang di mana mereka hidup,  ruang  yang  menjadi  wilayah  kerja  akal  mereka, ruang yang menjadi tempat mereka menumpahkan seluruh proses kreatif mereka, yaitu bumi;  dan bahwa ada ruang lain yang bukan wilayah kerja mereka, ruang dimana  akal  mereka tidak akan pernah sanggup menembusnya, ruang yang menjadi  hak  Allah  Swt  sendiri  untuk  menjelaskannya,  yaitu ruang kegaiban,   yaitu   ruang   metafisik  di  mana  Allah  swt  menyimpan hakikat-hakikat  besar  dalam kehidupan ini, tentang Dzat-Nya sendiri, dunia malaikat, kehidupan akhirat, dan lainnya.

Kesadaran  tentang  ruang  ini  telah  menanamkan sikap realisme dalam benak  mereka,  maka  mereka bergerak lincah dalam wilayah itu. Proses kreativitas  mereka  tumpah ruah disini; dalam semangat merealisasikan kehendak-kehendak  Allah  Swt di muka bumi, dalam semangat memakmurkan dunia,  dalam  semangat  membangun  peradaban. Kesadaran tentang ruang sejak  awal  membuat  peran  intelektual  dan  kerja  pemikiran mereka terpola  dalam  kerangka  sebagai  arsitek  peradaban; bumi ini adalah lanskapnya,  dan wahyu adalah kehendak-kehendak Sang Pemilik Kehidupan yang  harus  diolah  menjadi  sebuah  master  plan dan maket, darimana kemudian  satuan-satuan  kerja  mengelola bumi menjadi rumah peradaban tempat manusia menemukan kedamaian dan kesejahteraan hidup, dimulai.

Dan  begitulah  Rasulullah  Saw memberikan tamsil, bahwa silsilah nabi dan rasul yang turun ke bumi ini seperti sebuah bangunan dimana setiap nabi  atau  rasul  menyelesaikan  satu  tahap  pekerjaan,  hingga tiba saatnya   Allah  menutup  mata  rantai  kenabian  dimana  “Aku,”  kata Rasulullah Saw, “meletakkan batu terakhir.”

platinum1

Ijtihad: Mata Air Peradaban

Dalam  konteks  kesadaran  tentang ruang dan pemilihan peran subjektif sebagai pembangun peradaban, kerangka kerja intelektual manusia Muslim terpola  dalam fungsi-fungsi arsitektural dimana mereka bekerja sebagai  desainer, sebagai perancang, sebagai pembuat master plan. Dan begitulah  kemudian  sebuah  karya peradaban besar lahir ke bumi; satu milenium  lamanya  manusia  menikmati  sejarah mereka yang terindah di bawah  naungan  Islam.  Dalam fungsi arsitektural itulah metafor Iqbal menemukan   maknanya;   dimana   hutan-hutan   bumi   berubah  menjadi taman-taman kehidupan yang indah.

Dalam  fungsi  arsitektural  itu  juga  akal-akal Muslim tumbuh dengan kemampuan  berpikir  dan berkreasi yang luar biasa pada semua kategori dan  tingkatan kemampuan intelektual manusia; kemampuan memahami (daya serap),  kemampuan  menganalisa  (daya  analisis),  kemampuan mencipta (daya cipta).

Kemampuan  itulah yang misalnya terlihat dalam sejarah ekspansi Islam, khususnya  pada  masa  khulafa  rasyidin.  Dalam  bidang politik, masa ekspansi besar-besar yang terjadi selama 30 tahun masa keempat khulafa rasyidin    ini,   telah   disertai   dengan   peletakan   dasar-dasar ketatanegaraan;  bentuk  dan  sistem  pemerintahan  yang  berorientasi global  state  tapi  bersifat  desentralis, sistem pemilihan khalifah, sistem   administrasi   dan  keuangan  negara  yang  berkembang  pesat khususnya  dalam  pengelolaan wilayah-wilayah baru, manajemen konflik, dan  lainnya.  Dalam  bidang  keamanan  dan  geostrategi,  selama masa ekspansi  besar-besaran  ini  kita menyaksikan kejeniusan para khulafa dalam  pengokohan  integrasi teritorial dengan menjadikan jazirah Arab sebagai  basis,  strategi  ekspansi dan taktik perang dalam menghadapi dua kekuatan terbesar, Persi dan Romawi.

Kemampuan  akal-akal  Muslim  juga terlihat dalam perkembangan ijtihad dan  perkembangan  ilmu-ilmu  keislaman.  Usaha  menjaga kemurnian dan keotentikan  teks  al-Qur’an  telah  dilakukan melalui pengumpulan dan penulisan  mushaf pada masa Abu Bakar, dan standarisasi bacaannya pada masa  Utsman  bin  Affan.  Sementara  itu, usaha menjaga kemurnian dan keotentikan  Sunnah  telah  melahirkan satu metodologi baru yang tidak ada tandingannya dalam semua peradaban lainnya. Selanjutnya dari kedua sumber  itu  kemudian  lahir  berbagai  macam ilmu-ilmu keislaman yang struktur  dan content yang mandiri dan solid, khususnya ilmu fiqh yang menjadi induk pengetahuan keislaman ketika itu.

Selain   perkembangan   ilmu-ilmu  keislaman,  kita  juga  menyaksikan perkembangan   ilmu-ilmu  sosial,  khususnya  yang  bersifat  terapan. Misalnya ilmu jiwa yang berkembang secara terapan melalui perkembangan ilmu   suluk  dan  akhlaq.  Ilmu  politik  dan  ekonomi  yang  melalui serangkaian   ijtihad  politik  yang  timbul  sebagai  implikasi  dari perluasan   wilayah  Islam.  Ilmu  sejarah  dan  sosial  mungkin  yang berkembang  paling  pesat,  khususnya setelah pembauran berbagai etnis dan budaya selama masa ekspansi. Bahkan pengalaman panjang dalam jihad dan  perang telah diformulasi oleh kaum Muslimin menjadi ilmu strategi dan taktik perang.

Demikian  juga  dalam  bidang  teknologi. Teknologi maritim, misalnya, telah  berkembang  pada  masa Utsman bin Affan sejalan kebutuhan jihad untuk  menghadapi  Romawi  yang menguasai teknologi itu. Demikian juga industri  militer  lainnya  yang  berkembang  untuk memenuhi kebutuhan jihad.  Selain  teknologi  terapan, ilmu-ilmu eksakta, khususnya dalam bidang fisika dan kedokteran, telah berkembang pesat khususnya setelah kaum  Muslimin  menemukan  dan  mengembangkan metodologi empiris, yang hingga  kini  menjadi  sebab  perkembangan  ilmu pengetahuan di Barat, justru ketika Romawi menggunakan pendekatan teologi dan filsafat untuk ilmu-ilmu eksakta.

Apa  yang  ingin  ditegaskan  disini adalah bahwa, kemampuan akal-akal Muslim tidak hanya pada daya serapnya yang sangat besar terhadap semua jenis  ilmu  pengetahuan,  tapi  juga  kemampuannya  dalam mengkritisi ilmu-ilmu  baru yang sampai ke mereka, dan kemudian kemampuannya dalam merekonstruksinya  kembali,  dan  bahkan  kemampuannya  dalam mencipta ilmu-ilmu baru atau metodologi baru. Dalam konteks itulah kita melihat bagaimana konsep ijtihad dalam Islam telah mewadahi proses kreativitas akal-akal  Muslim,  dan karenanya, kemudian menjadi mata air peradaban Islam  yang tak pernah kering. Akal-akal Muslim itu, dengan kata lain, mampu  memahami  zamannya,  dan  sekaligus memberi sesuatu yang kepada zamannya.

15941_extralarge

Dimanakah Sang Arsitek Itu Kini?

Tapi dimanakah akal-akal besar yang pernah menggoncang peradaban dunia dengan  temuan-temuannya  itu?  Di  manakah akal-akal Muslim yang dulu sanggup  memahami zamannya dan kemudian memberi sesuatu yang baru bagi zamannya?

Inilah  masalah  kita.  Akal-akal  Muslim sekarang, bukan hanya tampak tidak  berdaya  memahami  zamannya,  apalagi memberi sesuatu yang baru bagi  zamannya,  tapi  bahkan  tidak sanggup memahami dirinya sendiri, tidak   sanggup  memahami  sumber  ajarannya  sendiri,  tidak  sanggup memahami  warisan  peradabannya  sendiri.  Akal-akal  Muslim  sekarang tampak mengalami kelumpuhan. Tapi apakah yang membuatnya lumpuh?

Ini bagian paling krusial dari keseluruhan problematika umat kita yang terkait  dengan  masalah  manusia  Muslim.  Lumpuhnya akal-akal Muslim telah  menyebabkan kita kehilangan mata air peradaban. Ketika generasi kemunduran  menutup  pintu ijtihad, maka mereka telah menutup mata air peradaban.  Dan  kekeringan  inilah  yang  kini  kita warisi dan belum sanggup  kita  selesaikan, sehingga kita menjadi komunitas global yang hanya  hidup di pinggiran sejarah, serta tidak mempunyai campur tangan dalam berbagai peristiwa dunia kecuali hanya sebagai korban.

Kebesaran  sejarah akal-akal Muslim yang telah saya sebutkan, bukanlah tempat  yang  baik  untuk  melindungi kelumpuhan akal-akal Muslim saat ini.  Tapi  apabila  Allah  Swt  telah  menetapkan bahwa Ia tidak akan merubah keadaan suatu masyarakat sampai masyarakat itu sendiri merubah dirinya  sendiri,  maka  sekarang kita mengetahui bahwa perubahan atas diri  sendiri itu harus dimulai dari sini; merubah cara berpikir kita, dan   merekonstruksinya   agar   ia   mampu   mengemban  fungsi-fungsi arsitektural  kembali,  agar ia mampu merubah hutan-hutan bumi menjadi taman-taman kehidupan yang indah.

Apa  yang  harus  kita  lakukan untuk itu adalah memperbaiki cara kita memahami  sumber-sumber  ajaran kita, Qur’an dan Sunnah, serta warisan intelektual  dari  peradaban  kita. Dengan begitu kita dapat menemukan sistem  dan  metodologi  pemikiran kita sendiri, untuk kemudian secara kritis  dan independen berinteraksi dengan realitas zaman kita, dengan segala  muatan  peradabannya,  dan  selanjutnya  menemukan jalan untuk merealisasikan kehendak-kehendak Allah Swt dalam kehidupan kita. Dalam di tengah jalan itulah kita menciptakan semua yang kita perlukan untuk sampai  ke  titik  akhir  tujuan kita; dimana ada hutan belantara yang menjelma jadi taman kehidupan yang indah.

(M Anis Matta)

Elegance

anthurium_-_elegance

Elegance is the attribute of being unusually effective and simple. It is frequently used as a standard of tastefulness, particularly in the areas of visual design and decoration.

Some westerners associate elegance with simplicity and consistency of design, focusing on the main or basic features of an object, its dignified gracefulness, or restrained beauty of style.

Visual stimuli are frequently considered elegant if a small number of colors and stimuli are used.

Synonyms: classy

9848-2006-bmw-m6

Closed to simplicity and consistency of design

Elegance is about the gratuitous (serampangan, asal-asalan) — or, rather, avoiding the gratuitous.  It’s true that sometimes people disagree about which of two or more things is the “most elegant”, but this arises from underlying assumptions rather than any true subjectivity of the principle. Each of us has a set of operating assumptions, some greater than others. Where something conforms to one’s expectations and assumptions, it is seen to not lack in elegance in that manner. Someone that does not have the same underlying assumptions might see the same thing as atrociously inelegant, but having a different set of assumptions would overlook similarly subjective.

14371

“Simplicity is the ultimate sophistication.” — Leonardo da Vinci (1452–1519)

“Things should be made as simple as possible, but not simpler.” — Albert Einstein (1879–1955)

“Dream big, simple act.” – Miphz 😉

Awaken the Giant Spirit Within

Karya seorang arsitek sering kali diidentikan sebagai sebuah massa bangunan yang dirancang dengan indah oleh seorang arsitek. Di dalam pandangan ini, arsitektur dilihat sebagai sebuah hasil atau produk atau tujuan akhir dari perancangan itu sendiri. Namun, apa yang saya pelajari dan pahami dari kegiatan yang dilaksanakan oleh Education Care Unit di sebuah Sekolah Dasar yaitu SDN 03 Guntur di Jalan Halimun, Jakarta Pusat, Sabtu, 13 Desember 2008, lalu, sungguh mengubah pandangan saya tentang karya arsitektur. Sebuah karya arsitektur yang berkelanjutan (sustainable architecture).

Apa yang dikerjakan oleh Education Care Unit (ECU) yang diprakarsai oleh dosen-dosen saya di Fakultas Teknik, Jurusan Arsitektur, Universitas Indonesia yaitu Bpk.Yandi Andri Yatmo PhD, Ibu Paramita Atmodiwirjo PhD dan Bpk. Didi Pramujadi, bukanlah merancang sebuah massa bangunan yang mereka sebut ’sustainable’. Mereka membangkitkan kesadaran dan merancang pola pikir anak-anak tentang kepedulian terhadap lingkungan mereka sendiri. Disini arsitektur bukan menjadi sebuah produk akhir, namun menjadi sebuah instrumen.

Isu-isu lingkungan lingkungan seperti kerusakan hutan, laut,energi, sampah, polusi dan lainnya hingga isu pemanasan global menjadi hal yang sangat diperbincangkan di berbagai kalangan di dunia. Hal ini bukan hanya terjadi di kalangan pemerhati lingkungan saja, namun juga mereka yang bergelut di lingkup arsitektur bahkan hingga kepala negara di hampir seluruh dunia. Peran arsitek untuk mengurangi dampak kerusakan lingkungan, selama ini, melalui desain-desain bangunan ramah lingkungan, zero waste, green building atau apa pun namanya, memang patut kita puji, terlebih apabila arsitektur dipandang hanya sebagai sebuah tujuan. Namun yang menjadi permasalahan utama saat ini dan masa depan, jauh lebih besar dari itu, yaitu semangat (spirit) dan kesadaran masyarakat akan pentingnya kepedulian terhadap lingkungan serta implementasinya. Dari titik inilah kemudian arsitektur dan segala ilmu dengan teknik yang ada di dalamnya dapat masuk ke masyarakat dan akan sangat berperan dalam mengurangi degradasi lingkungan, bukan sebagai sebuah tujuan, namun sebagai sebuah proses dan instrumen.

Di Indonesia, buruknya mutu pendidikan menjadi faktor paling kuat yang menyebabkan minimnya semangat kepedulian dan respons terhadap lingkungannya. Kurangnya pengetahuan menjadi alasan klasik saat menilai perilaku masyarakat perkotaan di Indonesia yang masih dinilai primitif bagi negara-negara maju dunia. Membuang sampah ke sungai, menimbun sampah plastik di dalam tanah dan sebagainya, merupakan contoh nyata yang dekat dengan keseharian kita. Mereka yang mengetahui bahwa  perilaku diatas merupakan jalan keluar yang kurang tepat pun sering kali tidak tahu harus berbuat apa. Hal ini agaknya membuktikan bahwa pendidikan yang diterima oleh masyarakat kita, sebagian besar belum menekankan semangat untuk menerapkan dan mengembangkan pengetahuan itu sendiri. Kurangnya kreasi, inovasi dan semangat berproduksi membuat pendidikan bahkan tidak mampu menciptakan sumber daya manusia yang mandiri.

Pendidikan yang berlangsung satu arah yaitu dari atas (otoritas guru) ke bawah (anak didik) bisa jadi merupakan penyebabnya. Sistem pendidikan seperti ini memang terlihat lazim di sekolah-sekolah di Indonesia, terutama pada tingkatan Sekolah Dasar. Padahal sistem pendidikan seperti ini hanya akan menjadikan siswa didik sebagai penerima ilmu yang diberikan oleh sang guru. Sering kali bahkan sang guru salah dalam menyampaikan ilmunya sehingga terjadi salah persepsi diantara siswa didik. Lebih parahnya lagi, ilmu yang yang disampaikan oleh guru acap kali dianggap sebagai harga mati yang kemudian mempengaruhi penilaian jawaban mereka saat ujian sekolah.

Sistem pendidikan semacam itu telah membuat anak-anak kehilangan kekritisan dan kreativitasnya, karena mereka takut salah. Mereka menjadi sangat bergantung pada ‘guru’, menunggu perintah, menunggu untuk diberitahu, disediakan, atau dengan kata lain, ‘disuapi’ sesuatu yang mereka tidak benar-benar mengerti. Padahal, kreativitas tidak datang dari sesuatu yang serba pasti, ia datang karena adanya kebebasan, keingintahuan, proses berbuat, dan tidak takut salah.

Pendidikan di tingkat sekolah dasar sering kali juga kurang tepat dalam menyampaikan konsep-konsep pemikiran dalam hubungannya dengan masalah sehari-hari. Sebagai contoh, ketika saya dulu duduk di bangku sekolah dasar, apa yang selalu dikatakan oleh guru adalah bahwa kita harus ‘membuang sampah pada tempatnya (tong sampah)’. Mengapa? Karena jika tidak akan menyebabkan kotor, banjir, penyakit, bau busuk dan sebagai macamnya. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana jika tong sampah (’tempatnya’ sampah) tidak ada. Anak-anak biasanya akan terus mencari dan ketika mereka putus asa, tempat apa pun akan menjadi ‘tempatnya’. Penyampaian pola berpikir terhadap penyelesaian masalah pada anak-anak sekolah dasar yang sering kali kurang tuntas telah membuatnya mudah sekali tergantikan oleh pola berpikir praktis. Alasan membuang sampah sembarangan sebagai penyebab banjir, akan menjadi omong kosong bagi anak-anak ketika hal itu tidak juga terjadi padahal mereka melakukannya setiap hari.

Dengan latar belakang inilah saya melihat hadirnya ECU dengan konsep pendidikan yang membangkitkan dan mengembangkan semangat kreativitas, kekritisan dan proaktivitas yang berkelanjutan sebagai sebuah inovasi dalam paradigma pendidikan. Dengan berbekal pengetahuan arsitektur yang telah saya dapatkan selama kuliah dan dengan pengarahan dosen, saya ikut merasakan sendiri metode baru pendidikan yang berupaya untuk menggali lagi semangat belajar, berkreasi dan berpendapat pada anak-anak kelas 4 SDN 03 Guntur. Saat itu, tim ECU membuat semacam lokakarya dengan tema rumah dan lingkungan yang sehat, saya menjadi salah satu fasilitatornya.

Kegiatan diawali dengan perkenalan antara pembimbing dengan anak-anak yang dibagi ke dalam beberapa kelompok berisi delapan anak, dengan satu sampai dua pembimbing di dalamnya. Perkenalan ini hal kecil, namun sangat penting. Di tahap inilah pembimbing (fasilitator) dengan anak-anak mulai saling membangun kepercayaan dan semangat mereka dalam melaksanakan pembelajaran ini. Tanpa keyakinan dan saling percaya, pembelajaran ini hanya akan menjadi formalitas semata.

Perkenalan kemudian berlanjut dengan diskusi di dalam masing-masing kelompok yang sebenarnya lebih menyerupai sharing, menceritakan mengenai keadaan rumah mereka. Ada yang panas, pengap, ada yang gelap, ada yang selalu bersih karena rajin membersihkan rumah dan sebagainya. Mereka juga tak segan-segan bertanya kepada saya mengenai kondisi rumah saya saat ini dan hal ini membuat saya yakin bahwa mereka adalah anak-anak yang cukup proaktif, sehingga akan lebih mudah bagi saya untuk membimbing mereka.

Kegiatan saling bercerita itu kemudian dipandu dengan sebuah lembar isian yang di dalamnya terdapat pertanyaan-pertanyaan seputar keadaan rumah mereka terkait dengan rumah sehat. Dalam mengisinya, mereka tak perlu saling menyontek, mereka hanya perlu menceritakan sebanyak yang mereka mau, sebaik yang mereka tahu, dan dengan bahasa mereka sendiri. Bahkan jika mereka kehilangan inspirasi dalam menjawabnya, mereka bisa bertanya kepada kami pembimbingnya agar dapat menggali lagi pengetahuan dan cerita mereka. Disini, mereka lah yang berkepentingan, mereka lah yang ingin tahu dan ingin mencari sebanyak mungkin jawaban. Kita memberikan mereka ‘ruang’ seolah mereka lah yang paling mengerti tentang lingkungan mereka sendiri, dan dengan mempercayai mereka, kita juga akan dengan mudah mendapatkan kepercayaan.

Hal kemudian berubah menjadi agak sulit pada saat diskusi ini mencapai tahap yang lebih lanjut yaitu pemetaan pikiran: menemukan alasan atau penyebab dari setiap masalah dan kemudian mencari solusinya. Misalnya, masalah ruang kamar yang panas / pengap, penyebabnya karena tidak ada atau kurangnya ventilasi, solusinya seperti yang disepakati para anggota kelompok ialah dengan membuat atau memperbanyak ventilasi, memakai kipas angin atau AC. Disini anak-anak mulai terlihat kesulitan dalam mencari keterkaitan sebuah masalah dengan penyebab dan penyelesaiannya. Mereka mulai banyak sekali bertanya karena kurang yakin dengan pemikirannya meskipun ternyata pemikiran mereka sangat masuk akal dan nyata. Mungkin ini adalah akibat dari sistem pendidikan yang serba satu sumber, satu pemikiran, satu kalimat dan satu gaya bahasa tadi.

Di akhir bagian yang disebut pemetaan pikiran tadi, anak-anak akhirnya dapat melihat hubungan yang ada, mengelilingi sebuah masalah yang sebelumnya mereka temukan sendiri di lingkungan dan rumah mereka. Mereka akhirnya tidak lagi melihat sebuah masalah yang hanya dapat diidentifikasi, namun kini mereka tahu apa yang dapat mereka lakukan dengan melihat pada penyebab dari permasalahan itu sendiri.

Setelah proses pemetaan pikiran selesai, anak-anak terlihat seolah-olah telah melakukan sebuah upaya yang baik, sebuah jawaban / pengetahuan yang sudah cukup untuk mengakhiri pertemuan pagi itu. Mereka pun bertanya, ” Habis ini kita ngapain, kak? Sudah selesai ya?”. Saya pun menjawab mereka,” Belum. Ada yang lebih seru!”. kegiatan selanjutnya ialah siswa diajak membuat sebuah maket kompleks perumahan yang sehat sesuai dengan hasil diskusi tadi.

Berbeda dengan proses diskusi dan pemetaan pemikiran yang agak sulit, proses pembuatan maket ini disambut antusias para siswa. Suasana gaduh yang muncul selama proses diskusi kini berubah menjadi keasyikan tersendiri, membuat sebuah rumah sehat impian. Mereka sibuk dalam aktivitas dan imajinasinya masing-masing, selain tentunya memasukan apa yang telah mereka pelajari dalam diskusi. Disini anak-anak diberikan kebebasan berimajinasi dan sekaligus menerapkan pengetahuannya sehingga mereka dapat memiliki sense of belonging terhadap apa yang mereka buat.

Dengan bahan yang sederhana mereka sibuk menggunting, mengelem, dan menyusun karton dan kertas yang dibagikan. Mereka meminta bahan terbaik pada kami sebagai bahan membuat rumah mereka. Mereka kemudian menggambarkan jendela-jendela dan ventilasi pada rumah yang berukuran 5×10 cm dan tinggi 5 cm tersebut. Pohon-pohon sebagai elemen penghijauan dibuat deangan kertas krep atau daun-daun dari halaman sekolah mereka.

Maket dibuat dengan sederhana, namun sesuai dengan pemahaman dan imajinasi anak-anak. Hal ini dimaksudkan agar maket tidak dibuat sebagai produk prakarya semata, namun lebih memiliki makna dan cerita. Di sini, sama seperti arsitektur, model bukan hadir sebagai tujuan atau produk akhir, namun hanya sebagai instrumen untuk mencapai tujuan yaitu merangsang semangat dan kreativitas anak-anak terhadap pengelolaan lingkungan di sekitarnya.

Proses berikutnya tak kalah penting yaitu membuat refleksi dari kegiatan yang telah dilakukan pagi itu. Disini mereka diminta untuk menyampaikan kembali apa yang telah mereka kerjakan dan apa yang mereka pelajari. Bagian ini sangat penting untuk melihat bagaimana anak-anak menyerap pembelajaran yang telah diberikan kepada mereka.

Pembelajaran seperti yang dilaksanakan oleh ECU ini dapat menjadi cara lain bagi mereka yang memiliki pengetahuan di bidang arsitektur khususnya untuk membantu mengurangi permasalahan degradasi lingkungan yang terjadi semakin parah beberapa dekade terakhir ini. Hal ini bukan terjadi karena buruknya kualitas lingkung bangun, karena hal itu hanya lah sebagian dari akibat. Permasalahan yang sesungguhnya adalah kurangnya kepedulian manusia terhadap alam yang selama ini mereka ‘eksploitasi’. Arsitek harus dapat berperan lebih, bukan hanya sebagai ‘pembantu’ (membantu klien yang peduli terhadap lingkungan), namun justru sebagai pembangun semangat (spirit) dan kepedulian terhadap lingkungan itu sendiri di tengah-tengah masyarakat, terutama anak-anak sebagai generasi penerus dunia.

Hidup dan lingkungan yang lebih baik adalah dambaan bagi hampir 3 miliar penduduk dunia. Mereka semua mempunyai spirit untuk mewujudkan itu. Spirit menjadi begitu penting karena ia menjadi kekuatan raksasa bagi hadirnya sebuah perubahan. Namun ketika harapan semakin menjauh dari kenyataan, spirit pun dapat perlahan menghilang. Disaat kondisi seperti ini, besar harapan perubahan bertumpu pada generasi mendatang, sebagai pembawa perubahan. Pada esensinya proses pembelajaran altrnatif ini berusaha untuk membangkitkan spirit dan memberikan pemahaman sejak dini tentang pengelolaan lingkungan yang baik dengan cara yang menyenangkan. Spirit dan pemikiran yang sudah tertanam dengan kuat diharapkan akan terus terbawa dan dikembangkan, hingga kemudian pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan dapat terealisasi.

[] taken from: everydayarchitecture.wordpress.com []

OSPEK DAN RELASI “TUAN-BUDAK”

Oleh: Sukran Abdilah

Meninggalnya Dwiyanto Wisnugroho, seorang mahasiswa Geodesi ITB saat mengikuti orientasi studi pengenalan kampus (ospek) menyisakan duka mendung bagi dunia pendidikan. Kegiatan yang digelar Ikatan Mahasiswa Geodesi (IMG) ini sebetulnya termasuk ilegal karena sejak 1995 dilarang Kampus ITB. Mahasiswa baru ketika mengikuti kegiatan ospek (dipaksa) berjalan dari Dago menuju Desa Pagerwangi, Lembang. Nah, di tengah simpang siur penyebab meninggalnya korban, saya teringat buku Man Search for Meaning, yang ditulis Victor L Frankle untuk mengisahkan pengalaman pahit selama mendekam di kamp konsentrasi Auschwitz.

Kamp konsentrasi Auschwitz di Polandia dibangun Nazi pimpinan Adolf Hitler untuk mengonsentrasikan massa agar dapat dijadikan buruh kasar. Semenjak 1940-1945, Nazi menangkap setiap orang yang mengancam eksistensi Nazi dari seluruh penjuru Eropa untuk dibawa ke kamp kematian ini. Waktu itu, kamp konsentrasi Auschwitz mendapat julukan the death factory (pabrik pembantaian) karena dari bangunan ini terjadi proses pembantaian yang dilakukan secara efisien dan efektif layaknya kegiatan produksi di pabrik.

[ Kekerasan ]

Relasi antarmanusia mestinya berdasarkan atas pandangan membiarkan yang lain menjadi “si liyan” yang tidak bisa dikenali, didefinisikan, atau dimengerti sepenuhnya. Sebab, pemahaman memaksa atas yang lain mengakibatkan lahirnya penindasan. Inilah Emmanuel Levinas, hubungan manusia yang simetris, di mana hubungan dua insan atau lebih, terjadi timbal balik yang mendominasi antara satu individu dan individu lain.

Orang lain, dalam pemahamannya bukanlah dirinya dan sangat berbeda dengannya. Perbedaan itu lenyap, ketika seseorang berpikir bahwa ia dan orang lain adalah sama. Di dalam relasi simetris juga, seseorang bertanggung jawab atas eksistensi orang lain. Namun, tanggung jawab yang dipikulnya jauh lebih berat ketimbang hak dan kebebasannya untuk menjadi manusia merdeka dan bebas. Dengan tanggung jawab yang berat ini, individu atau mahasiswa tidak dapat memperlakukan diri setara dengan orang lain. Alhasil, terjadi hubungan dominan pada kegiatan ospek di setiap perguruan tinggi.

Misalnya, relasi mahasiswa baru dengan senior, dalam kasus ospek yang menelan korban jiwa, diselubungi praktik relasi subjek sadistis dan masokis. Mahasiswa baru posisinya bagai subjek masokis yang memahami kebebasan melalui kenikmatan didiskriminasi, (maaf) disiksa orang lain dan dikebiri kebebasannya. Sebab, dari dalam diri mahasiswa baru, realisasi kebebasan, otonomi maupun totalitasnya sebagai individu merdeka dikalahkan mahasiswa yang lebih senior. Sementara itu, mahasiswa senior sebagai seorang subjek sadistis bebas melakukan dominasi sampai pada tahap melakukan kekerasan kepada peserta.

Dalam praktik orientasi jurusan, mahasiswa senior lebih banyak mendominasi dengan melakukan kekerasan sebagai tanda superioritas. Kekerasan tersebut tidak hanya bersifat fisik. Tapi, bisa berupa melontarkan kata-kata kotor yang tidak sopan, merendahkan dan memberlakukan aturan ketat “berat sebelah” yang tidak boleh dilanggar peserta.

Hubungan dalam orientasi kampus, bagi Levinas, seharusnya setiap mahasiswa diperlakukan sama dengan melakukan relasi a-simetris. Dalam relasi ini, mahasiswa senior berbeda dengan mahasiswa junior, tidak setara dengannya, tetapi menyadari tanggung jawab etisnya. Dengan kesadaran ini, tanggung jawab tidak membebaninya, tapi kerelaan yang lahir dari kebebasannya membuat individu rela menyerahkan apa yang dimiliki bagi orang lain. Levinas, merumuskannya menjadi “saya-ada-untuk-yang-lain”.

Praktik ospek kalau mengadopsi gagasan Levinas berarti suatu kondisi, ketika seseorang memperlakukan orang lain lebih mulia dan terhormat melebihi apa yang dilakukan bagi diri sendiri. Itulah yang diistilahkan dalam Islam dengan “rahmatan lil-insaniyiin”, rahmat bagi seluruh umat manusia. Relasi “tuan-budak” di dalam kegiatan ospek mahasiswa, semestinya dikemas secara etis dengan memperlakukan manusia lain secara mulia dan terhormat. Jadi, eksistensi mahasiswa senior “ada-untuk-menjaga-kebebasan-mahasiswa lain” bukan “ada-untuk-mengeksploitasi-kebebasan-mahasiswa liyan”.

[ Pencegahan kekerasan ]

Saya pikir perguruan tinggi sebagai pencetak tokoh publik, sudah semestinya memahami pencegahan kekerasan berkedok kaderisasi atau ospek secara lebih aktif dan kontinu. Termasuk mengatasi agar tidak terulang lagi korban jiwa yang diakibatkan kegiatan mahasiswa berbau perpeloncoan. Dalam ospek, rawan terjadi semacam pemusnahan kebebasan dan nyawa mahasiswa. Kampus, dalam perspektif saya, bukan lembaga yang menelurkan manusia budak nonesensial, bahkan bukan juga lembaga yang mencetak manusia bermental tuan yang biadab. Dari lembaga pendidikan tinggilah semestinya lahir sekelompok manusia beradab.

Dalam bahasa lain, kampus tidak bisa dan tidak boleh disamakan dengan kamp pembantaian. Ya, lembaga perguruan tinggi bukan kampus pembantaian (the death university). Saya salut dengan pemecatan ketua jurusan oleh birokrat kampus ITB, karena ketegasan ini diharapkan ospek –sebelum dan setelah disetujui– bisa diawasi dan diarahkan kepada hal-hal positif. Utamanya, manipulasi dan kekerasan (baik simbolik maupun fisik) dapat dicegah secara efektif dan efisien.

Memang betul jika kegiatan ospek awal mulanya dilakukan perguruan tinggi dengan tujuan baik, yakni melatih kemandirian, menanamkan solidaritas, dan cara-cara belajar di perguruan tinggi. Akan tetapi, yang terjadi adalah sebaliknya, mahasiswa hasil godokan berubah menjadi mahasiswa tidak kritis, mandiri dalam melakukan kekerasan, tidak mementingkan orang banyak, dan prestasinya kian merosot. Dalam kasus kali ini, ada semacam kesalahan menerjemahkan metode pelaksanaan ospek di perguruan tinggi.

Misalnya, peserta ospek dituntut memeras tenaga sehingga kecapekan, kehabisan tenaga, napas, bahkan sampai menelan korban jiwa. Padahal metode pelaksanaan orientasi mahasiswa bisa dikemas dengan baik, misalnya, menyertakan permainan yang mengasyikkan. Outbound yang mengasyikkan adalah salah satu kegiatan yang bisa menumbuhkan kemandirian, kolektivisme, dan daya kritis mahasiswa. Dan, paling penting, outbound ini terlihat lebih manusiawi karena setelah selesai mengikuti orientasi, mahasiswa akan mendapatkan pengalaman berharga. Dengan metode ini juga setiap mahasiswa akan menjalin keakraban, keintiman, dan kemelakatan relasi antara satu sama lain, sehingga kedamaian tidak hanya basa-basi belaka. ***


Penulis: Editor lepas DAR!Mizan, aktivis Ikatan Mahsiaswa Muhammadiyah Jawa Barat, alumnus Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung.

Sumber: Harian Pikiran Rakyat, Selasa 17 Februari 2009

[ KLIK DISINI: LANJUTAN OPINI BELIAU TENTANG THE DEATH UNIVERSITY ] 😉

[ JUGA: AGAR KEJADIAN SERUPA TIDAK TERULANGI KEMBALI DAN KEMBALI TERULANGI ]