Tag Archives: Ikatan Arsitek Indonesia

PENDIDIKAN ARSITEKTUR INDONESIA

Tuntutan, Tekanan dan Tergagap-gagap
[ Oleh: Yulianti Tanyadji ]

Union Internationale des Architectes (UIA), persatuan arsitek-arsitek internasional, menuntut kemampuan profesional seorang arsitek dengan kriteria kinerja profesionalisme yang tinggi. Kriteria ini terdiri atas tiga tingkat penguasaan dengan 37 tigapuluh tujuh butir materi. Ini diberlakukan mengingat pekerjaan arsitek yang lebih dari sekedar mendesain bangunan. Arsitek seringkali terlibat dalam semua tahap pembangunan suatu proyek; sejak perencanaan hingga penyempurnaan tahap akhir. Penting pula diingat bahwa terdapat hubungan yang erat antara karya arsitektur dengan lingkungan hidup serta kenyamanan dan keselamatan manusia.

UIA menentukan standar profesionalisme arsitek sebagai berikut: minimal lima tahun pendidikan arsitektur di universitas (di Indonesia dikenal sebagai program strata satu/S1), dilanjutkan dengan minimal dua tahun magang serta melewati kualifikasi kompetensi dengan penguasaan tiga belas pengetahuan dan kemampuan dasar arsitektur.

Hal semacam ini pulalah yang diberlakukan oleh Royal Institute of British Architects (RIBA), asosiasi arsitek Inggris, walaupun dengan cara yang agak berbeda. Di Inggris Raya, program pendidikan (full time course in architecture) dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama, apabila ditempuh secara normal, berlangsung selama tiga tahun dan mereka yang telah lulus tahap ini akan memperoleh gelar kehormatan, untuk selanjutnya meneruskan dengan satu tahun pengalaman magang.

Bagian kedua berlangsung selama dua tahun, dan peserta yang telah menyelesaikan tahap ini akan memperoleh gelar Diploma atau Bachelor of Architecture. Pada bagian dua ini, seringkali diberlakukan sela waktu antara tahun ketiga dan keempat bagi siswa untuk mengambil program magang pada biro arsitek yang terdaftar pada RIBA.

Pada bagian tiga, siswa menyelesaikan ujian praktik profesional (professional practice examination), yang seringkali berlangsung paruh-waktu selama periode kedua pemagangan. Pada akhir masa tujuh tahun ini, siswa diperkenankan mendaftar secara resmi sebagai arsitek melalui Architects Registration Council of the United Kingdom (ARCUK) dan mengajukan keanggotaan pada asosiasi profesional yang diakui RIBA.

Lain pula cara Amerika Serikat dengan American Institute of Architects (AIA) sebagai asosiasi profesionalnya. National Council of Architectural Registration Boards (NCARB) adalah dewan yang bertugas mengawasi anggota AIA dalam menjalankan tugasnya sebagai arsitek; serta menjaga keamanan, kesehatan dan kesejahteraan publik yang dilayani oleh arsitek. Gelar arsitek profesional diberikan hanya kepada lulusan sekolah arsitektur yang terakreditasi oleh National Architectural Accrediting Board (NAAB) atau Badan Akreditasi Arsitektur Nasional. Gelar profesional umumnya diperoleh melalui lima tahun program strata satu—Bachelor of Architecture. Beberapa sekolah menawarkan program Master of Architecture selama dua tahun bagi lulusan program arsitektur strata satu dan setara, atau tiga sampai empat tahun bagi lulusan disiplin ilmu lainnya. Untuk memperoleh lisensi profesi, diperlukan juga pengalaman kerja—dengan periode tertentu—serta melewati ujian yang diselenggarakan oleh Architect Registration Examination (ARE).

Pembahasan sistem dan metode yang digunakan oleh RIBA dan AIA menjadi penting, mengingat luasnya daerah “kekuasaan” mereka. Indonesia dikelilingi oleh negara-negara berbasis RIBA, seperti Australia dengan Royal Australian Institute of Architects (RAIA) yang tetap berakar dari RIBA, serta Singapura dan Malaysia. Tetapi tanpa pengakuan kompetensi internasional berupa sertifikasi oleh asosiasi setempat, seorang arsitek tidak memiliki hak untuk bekerja di negara lain. Bahkan dengan adanya architect act (undang-undang yang mengatur lingkup kerja arsitek) yang diberlakukan lokal, seorang arsitek tak dapat berpraktik tanpa sertifikasi setempat.

Ini berarti bahwa program penambahan satu tahun tadi tidak dapat dielakkan. Toh harus diwaspadai agar penambahan ini tidak hanya sekedar penambahan tahun saja, tanpa menjamin kualitas arsitek yang dihasilkan. Tampaknya sudah saatnya IAI bersama dengan Badan Akreditasi Nasional (BAN) mulai mengakreditasi sistem pendidikan tinggi di Indonesia serta program-program “tambahan” yang akan atau telah berlangsung, agar pelaksana pendidikan arsitektur bisa lebih mawas diri dan tidak terjebak pada hitungan kuantitas saja.

IAI sendiri tampaknya telah cukup mempersiapkan proses sertifikasi dan penerbitan lisensi arsitek Indonesia— sebagai bekal menghadapi pesaing internasional. [sumber]

Advertisements

37 Butir Rekomendasi UIA

37 butir  rekomendasi Union Internationale des Architectes (UIA) bersama-sama dengan American Institutes of Architects (AIA) dan Architect’s Society of China (ASA) untuk pendidikan Arsitektur antara lain perlu mencakup pengetahuan dan keahlian:

1. Verbal
2. Grafis
3. Riset
4. Berfikir kritis
5. Dasar-dasar perancangan
6. Kolaborasi
7. Perilaku manusia
8. Keragaman manusia
9. Sejarah dan preseden
10. Tradisi nasional dan regional
11. Tradisi barat
12. Tradisi non-barat
13. Pelestarian lingkungan
14. Aksesibilitas
15. Kondisi tapak
16. Sistem keteraturan formal
17. Sistem struktur
18. Sistem penyelamatan dari bangunan
19. Sistem sampul bangunan
20. Sistem lingkungan bangunan
21. Sistem pelayanan bangunan
22. Integrasi sistem bangunan
23. Tanggung jawab hukum
24. Kepatuhan terhadap peraturan bangunan
25. Bahan bangunan dan penerapannya
26. Ekonomi bangunan dan pengendalian biaya
27. Pengembangan detail rancangan
28. Dokumentasi grafik
29. Perancangan komprehensif
30. Persiapan program
31. Konteks hukum praktek arsitektur
32. Organisasi dan manajemen praktek
33. Kontrak dan dokumentasi
34. Pemagangan
35. Wawasan peran arsitek
36. Kondisi masa silam dan kini
37. Etika dan penilaian professional

Sebelum terjun ke dunia profesional, setelah memenuhi 37 kualifikasi pengetahuan tersebut seorang Arsitek harus memiliki kemampuan praktis yang tercantum dalam  [ 13 Kompetensi ].

Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) menjadikan 13 butir kemampuan tersebut sebagai tolok ukur dalam penilaian karya para Arsitek anggota Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) yang ingin memiliki sertifikat. Cakupan 37 butir pengetahuan dan 13 butir kemampuan ini harus terkandung dalam kurikulum dan silabus pendidikan tinggi Arsitektur di Indonesia.

Persyaratan Sertifikasi IAI

Anggota biasa dapat meningkatkan status keanggotaannya menjadi anggota profesional, dengan mengajukan permohonan secara tertulis kepada pengurus setempat setelah memenuhi persyaratan kualifikasi dan administrasi.

Anggota Profesional (Corporate Members) adalah

1. Arsitek yang sekurang-kurangnya memenuhi ketentuan:

1. Lulusan D-3 teknik arsitektur atau sarjana teknik arsitektur (S-1) dari lembaga pendidikan tinggi arsitektur yang diakui organisasi dan memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan organisasi untuk kualifikasi Arsitek Pratama;

2. Sarjana teknik arsitektur (S-1) dari lembaga pendidikan tinggi arsitektur yang diakui organisasi dan memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan organisasi untuk kualifikasi Arsitek Madya;

3. Sarjana teknik arsitektur (S-1) dari lembaga pendidikan tinggi arsitektur yang diakui organisasi atau sarjana teknik arsitektur (S-1) yang telah menyelesaikan pendidikan tinggi strata lanjut profesi arsitek yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi arsitektur yang diakreditasi dan diakui organisasi dan memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan organisasi untuk kualifikasi Arsitek Utama; atau

4. Ahli yang setara dengan ketentuan dalam ayat ini serta keahliannya diakui organisasi.

2. Arsitek yang telah dan tetap mengikuti program pembinaan dan pengembangan keprofesionalan anggota secara berkelanjutan dan berkesinambungan, antara lain meliputi:

1. Penataran kode etik arsitek yang diselenggarakan Dewan Kehormatan IAI.

2. Program pengembangan keprofesionalan arsitek yang diakui organisasi.

Pendaftaran Menjadi Anggota IAI

  1. Anggota Biasa adalah sarjana atau lulusan D-3 arsitektur dari lembaga pendidikan tinggi arsitektur dan/atau yang setara, diakui dan sesuai dengan ketentuan organisasi, yang mempraktikkan atau menerapkan ilmu dan seni arsitektur demi pengembangan dunia arsitektur serta tidak bertentangan kepentingan dengan tujuan organisasi, dan sejalan dengan kode etik arsitek serta kaidah tata laku profesi arsitek.
  2. Anggota Mahasiswa (Student Members) adalah mahasiswa lembaga pendidikan tinggi arsitektur atau yang setara, telah diakreditasi oleh lembaga yang berwenang atau Dewan Pendidikan Arsitek, serta diakui organisasi dan sekurang-kurangnya telah menyelesaikan pendidikan tinggi arsitektur tingkat 3 (tiga) atau telah lulus 100 SKS, sesuai dengan ketentuan organisasi.

[ Penerimaan Anggota  IAI ]

Calon anggota IAI wajib memenuhi persyaratan sebagai berikut:

  1. Persyaratan kualifikasi keanggotaan IAI dan ketentuan organisasi
  2. Persyaratan administrasi dan tata cara penerimaan anggota, yang antara lain meliputi:

i. Mengajukan permohonan menjadi anggota secara tertulis dengan mengisi dan melengkapi formulir pendaftaran anggota yang diterbitkan organisasi, ditujukan kepada pengurus daerah/cabang tempat pemohon berdomisili
ii. Apabila di daerah atau kota tempat tinggal/domisili belum terdapat kepengurusan IAI, calon anggota dapat mengajukan langsung kepada kepengurusan IAI yang terdekat atau ke pengurus nasional
iii. Formulir pendaftaran dilengkapi dengan:

  1. Tanda bukti identitas diri dan/atau kartu mahasiswa disertai dengan pasfoto
  2. Salinan sah ijazah atau dokumen bukti tanda lulus pendidikan tinggi arsitektur sesuai dengan persyaratan kualifikasi, atau yang setara dan berkaitan dengan bidang arsitektur
  3. Melampirkan keterangan riwayat hidup (Curriculum Vitae) atau pengalaman praktik profesi dan/atau penerapan pengetahuan, ilmu, dan seni arsitektur dalam portofolio/foto-foto/gambar rekaman visual hasil karya.

Rekomendasi sekurang-kurangnya dari:

1. Organisasi profesi arsitek setempat yang menyatakan keanggotaan calon yang bersangkutan adalah sah, serta berkualifikasi sesuai dengan persyaratan; atau

2. Lembaga pendidikan tinggi arsitektur yang menyatakan status kemahasiswaan calon anggota yang bersangkutan adalah sah dan berkualifikasi sesuai dengan persyaratan; atau

3. Dua (2) orang anggota biasa atau profesional yang mengenal pemohon dan secara moral bertanggung jawab terhadap integritas calon anggota.

Anggota biasa dapat meningkatkan status keanggotaannya menjadi anggota profesional, dengan mengajukan permohonan secara tertulis kepada pengurus setempat setelah memenuhi persyaratan kualifikasi dan administrasi.

Anggota mahasiswa yang tidak lagi menjadi mahasiswa atau telah menyelesaikan kesarjanaannya pada lembaga pendidikan tinggi arsitektur, secara langsung status keanggotaan mahasiswanya gugur dan yang bersangkutan dapat mengajukan permohonan tertulis untuk menjadi anggota biasa sesuai dengan persyaratan kualifikasi.