Tag Archives: Information

Membidani Kreativitas Melalui Ruang Kota

Kompas – Minggu, 20 Desember 2009 | 03:17 WIB

M Ridwan Kamil

Pada suatu hari Minggu di Babakan Asih, sebuah kampung kota di Bandung, terlihat sekelompok anak remaja sedang berfoto dengan latar grafiti raksasa berwarna-warni. Gaya mereka sangat khas remaja zaman sekarang: kepala dimiringkan, mata dipicingkan, jari tangan membentuk huruf V, dan mulut sedikit dimajukan. Belasan jepretan foto pun diambil. Mereka ceria sekali.

Sebaliknya, di salah satu sudut kota di Kota Jakarta, seorang kakek yang berusia 70-an tahun terlihat duduk diam di rumahnya. Ia membaca koran lokal dan menonton siaran berita. ”Ini rutinitas saya yang membosankan,” keluhnya. Ia pun lanjut bercerita, tanpa bisa dihenti, tentang hobi masa mudanya jalan-jalan atau bersepeda menikmati kota. ”Itu dulu, sekarang saya takut. Takut terserempet mobil, macet, panas, dan ada rasa tidak aman keluar rumah sendirian,” ungkapnya dengan merengut.

Tidaklah heran jika Enrique Penelosa, mantan Wali Kota Bogota, mengungkapkan teori kecilnya. ”Kota yang baik adalah kota yang bisa merangsang warganya keluar rumah dengan sukarela dan ceria,” ujarnya.

Semakin banyak warga bergerak berinteraksi di ruang-ruang kota, baik kaya maupun miskin, itu mencirikan kota yang sehat. Sebaliknya, jika warga takut keluar rumah, khawatir macet, lebih senang menghabiskan waktu di mal, menikmati jalan-jalan selalu dengan mobil, itulah ciri-ciri kota sakit. yang stres dan sakit akan melahirkan generasi yang stres dan sakit. Pertanyaannya, sudah baik dan sehatkah kota kita?

Ruang publik, ruang inspiratif

Dalam konteks peradaban baru, yaitu peradaban berbasis ide atau kreativitas, keberadaan ruang-ruang kota yang positif pun sering terlupakan. Padahal, sejarah sudah membuktikan, ide-ide besar yang merevolusi dunia banyak lahir di ruang-ruang publik.

Ide-ide kreatif banyak lahir dalam perbincangan hangat sambil menikmati kota. Kehangatan keluarga hadir di taman-taman kota. Stres warga kota menghilang dalam langkah-langkah ceria di keteduhan jalur pedestrian nan lebar. Perayaan kebudayaan membahana di lorong-lorong jalan kota. Dan, ide-ide besar pun umumnya lahir di ruang-ruang inspiratif. Ketika kita bicara ekonomi kreatif pun sering kali kita sibuk dengan strategi berjualan produk dan melakukan rangkaian studi ekonomi. Kita senang dengan statistik peluang ekonomi kreatif, bahkan kita pun mencanangkan tahun 2009 sebagai tahun kreatif Indonesia. Namun, kita melupakan aspek pendidikan sebagai mesin penghasil manusia-manusia kreatif. Kita lupa menyediakan ruang-ruang publik yang menginspirasi lahirnya ide-ide brilian.

Ibaratnya, kita senang memanen hasil berlimpah, tetapi malas berinvestasi pada proses lahirnya benih-benih atau bibit-bibit unggulnya. Indonesia adalah bangsa besar. Indonesia hanya akan maju jika masyarakatnya bergerak bersatu membentuk kekuatan masyarakat madani atau civil society.

Perubahan tidak datang melalui pemberian. Perubahan hanya datang jika kita menjemputnya. Dalam konteks kota, kolaborasi masyarakat madani sebagai roh dalam mengubah peradaban kota adalah kuncinya. Itulah kenapa di Bandung lahir Bandung Creative City Forum (BCCF) untuk mewadahi aspirasi lintas komunitas kreatif yang ingin meninggikan hajat hidup dan memperbaiki kota melalui ide-ide kreatif berbasis kolaborasi. Dalam konteks ruang kota, kreativitas warga banyak diekspresikan di ruang-ruang negatif kota yang terbengkalai.

Ruang-ruang kota sendiri terbagi menjadi beberapa jenis: ruas jalan, titik simpul (seperti taman, hutan kota, atau perempatan jalan), koridor sungai, ataupun tepian/batas (seperti pantai/danau). Ruang-ruang ini menjadi negatif karena mereka hadir secara fisik, tetapi terbengkalai dan kurang didesain dengan baik. Akibatnya, umumnya ruang negatif akan melahirkan aktivitas kota yang negatif.

Inisiatif warga

Di Bandung, inisiatif membuat ruang-ruang positif dilakukan warga dalam beragam bentuk. Dalam rangka Helar Festival, Taman Cikapayang diberi sentuhan empat boks besar yang membentuk kata DAGO secara menarik. Taman yang sebelumnya jarang didatangi warga, tiba-tiba menjadi magnet baru bagi warga atau tamu kota yang ingin berfoto di sana. Ide-ide revitalisasi untuk mengoptimalkan taman ini pun sudah diusulkan kepada pemerintah kota, hanya sampai saat ini belum terwujud.

Kolom-kolom beton penyangga jalan layang Pasupati dibungkus oleh boks yang menampilkan foto-foto historis Bandung tempo doeloe. Dengan cara ini, ruang negatif yang memanjang tersebut menjadi lebih menarik ketimbang grafiti vandalisme atau poster-poster politik yang mengganggu sebelumnya.

Di seberang Taman Cikapayang hadir pula kursi tembok yang mewakili ikon .bdg (dot bdg) yang sering kali dipergunakan warga Kota Bandung untuk duduk istirahat dan berfoto. Di sepanjang 600 meter kolong jalan layang Pasupati yang membelah dua kampung, kelompok mahasiswa arsitektur dan BCCF juga mengusulkan ragam ide pemanfaatan ruang di kolong ini. Untuk tempat olahraga, berkesenian, ruang kaki lima, pertanian kota, sampai ide temporer untuk galeri pameran dari botol bekas juga pernah diusulkan. Juga di sepanjang tembok 300 meter di Jalan Tamansari yang membatasi Kebun Binatang Bandung, kelompok mahasiswa Seni Rupa Institut Teknologi Bandung melalukan intervensi visual berupa mural warna-warni bertemakan fauna. Jalan yang dulunya gelap dan depresif, tiba-tiba mendapatkan suntikan energi positif baru melalui seni mural dan desain grafis.

Di sebuah kampung kota bernama Babakan Asih, masyarakat, atas dukungan dana dari swasta, Bakrieland, bahkan membeli sepetak lahan untuk dijadikan taman bermain anak. Saat ini taman tersebut masih dalam tahap konstruksi. Dua bulan sebelumnya, dinding-dinding yang suram dan hitam di kampung ini diwarnai dan dilukis secara kolosal yang melibatkan warga dan komunitas kreatif Bandung. Penduduk kampung pun sekarang terlihat lebih ceria dan optimistis dalam keseharian mereka. Itulah efek energi positif dari ruang-ruang kota yang inspiratif.

Demi anak cucu kita, mari kita bergerak. Mari kita lahirkan kota-kota yang sehat. Mari kita ciptakan ruang-ruang inspiratif. Mari kita selamatkan Indonesia melalui kreativitas. Mari kita berkolaborasi.

M Ridwan Kamil Arsitek dan pemerhati kota; Ketua Bandung Creative City Forum – BCCF

Advertisements

11th International Bauhaus – Colloquium 2009

1263879734_architecture-in-the-age-of-empire

By Sebastian J — Filed under: Events , Bauhaus, Germany

On April 2-5, architectural theoreticians from around the globe will be coming to Weimar to debate the political and ethical challenges of globalization and how architecture responds to them.

In three plenary sessions 23 renowned international scientists will present their viewpoints. Among those invited are Philip Ursprung (Universität Zürich), M. Christine Boyer (Princeton University), Wolfgang Pehnt (Universität Bochum), Stanford Anderson (MIT), Philipp Oswalt (Stiftung Bauhaus Dessau) and Bill Hillier (University College London). The mornings are reserved for five workshops with a total of thirty presentations. The organizers wish to promote successful dialogue between established scientists and emerging scholars with this format.

The Bauhaus Colloquia, held in regular intervals since 1976, are the oldest and most esteemed conferences on architectural theory in the German-speaking world. Organized by the Chair of Theory and History of Modern Architecture at the Bauhaus-Universität Weimar, the colloquium is directed by Prof. Dr. Kari Jormakka and Prof. Dr. Gerd Zimmermann.

Opening Lectures on April 2, 2009, 10 a.m. at Bauhaus-Universität Weimar, Audimax, Steubenstraße 6, 99423 Weimar.

[ For more information, full program and registration, click here ]

[ Fiuh, berasa jadi arsitek lagi euy… ]

Earth sheltered

Earth sheltering is the architectural practice of using earth against building walls for external thermal mass, to reduce heat loss, and to easily maintain a steady indoor air temperature. Earth sheltering is popular in modern times among advocates of passive solar and sustainable architecture, but has been around for nearly as long as humans have been constructing their own shelter.

What a Green House

Definition: Earth sheltered, or underground, houses lie mostly beneath the ground surface. The surrounding soil provides natural insulation, making these houses inexpensive to heat and cool. The best location for an earth sheltered house is on a well-drained hillside. Windows facing the south or an overhead skylight will fill the interior with sunshine.

Designers of underground homes have developed several methods for regulating the interior temperature. Some underground homes depend entirely on the natural insulation provided by the walls and floors. Sometimes tubes are channeled through the earth to bring in air. And, sometimes a heat pump is used to regulate temperatures.

Earth sheltered homes are typically made of concrete. Construction costs can run 10% higher than that of a conventional house. However, enthusiasts say that the lower maintenance and energy costs make earth sheltered homes a good buy. But, I think it’s looks like an extreme/over “roof garden” for todays architecture.

Earth sheltered homes are not suitable for permafrost regions.

Are you wanna go back to the prehistoric cave living?

I think you should call and Architectural Psichologist

Call The Architectural Doctor Soon!

Hehe, just kidding! 😀